Halo!

Dewa Iblis - Chapter 26

Memuat...
Dewa Iblis

Chapter 26

Beberapa orang melesat ke tempat persembunyian Arya, ingin tahu apa yang terjadi, apalagi mereka melihat Banjar Kalianget melesat sendirian ke arah yang tidak mereka pahami.

Arya pun memberitahu semua yang didengarnya, dan memerintah mereka untuk mengabarkan yang lain agar tidak penasaran.

Tidak berapa lama, Banjar Kalianget telah kembali, melapor pada Arya, "Di depan ada sebuah desa yang dijarah pemberontak. Mungkin mereka terpisah dari pasukan karena tergiur oleh harta yang ada di desa itu. Apakah di desa itu masih banyak warganya?" terang Banjar Kalianget, membuat Arya terkejut.

"Berapa jumlah mereka, Kakang?" "Tidak kurang dua puluh orang." Setelah mendengar laporan Banjar Kalianget, Arya keluar dari persembunyiannya. Ia yakin perampok itu tidak akan melewati tempat mereka. Arya memanggil seluruh pasukannya untuk keluar dan berkumpul, lalu memerintah Banjar Kalianget mengabarkan semua yang dilihatnya. Setelah Banjar Kalianget menyelesaikan keterangannya, Arya angkat bicara, "Tujuan asli kita adalah membantu pasukan kerajaan. Kita juga tidak bisa membiarkan kekejaman terjadi di hadapan kita, namun kita tidak mungkin mengulur waktu," terang Arya. "Biar saya yang mengatasi mereka..."

Pinta Banjar Kalianget. "Jangan sendirian, Banjar. Ajak serta tiga pendekar lain agar urusan di sini cepat selesai. Kami akan melanjutkan perjalanan dan menunggu kalian di Bukit Kuncir, tidak jauh dari daerah Jalu," tambah Kiai Koneng.

Banjar Kalianget mengajak serta Kang Darman dan dua murid padepokannya ikut serta, lalu langsung berkelebat ke tempat terjadinya perampokan itu.

Arya membawa seluruh pasukannya menggunakan jalan lain agar lebih cepat sampai di Bukit Kuncir.

Dia sebagai pimpinan sangat hafal seluruh jalan yang ada di Tanah Dipa, karena beberapa tahun ini dia berputar-putar mencari Datuk Pengemis Nyawa. Dengan kecerdasannya, dia bisa langsung ingat daerah yang pernah dilewatinya walaupun hanya sekali.

Patih Gema Langit tidak menyangka jika gerakan pasukan Ambangan begitu cepat sampai di daerah Jalu.

Dengan nanar, Gema Langit dapat melihat gelombang pasukan yang sangat besar, berjejer dari selatan hingga utara tempat itu. Patih Gema Langit dan seluruh pasukannya bergidik ngeri, menyadari mereka kalah jumlah dan kekuatan.

"Kalian jangan gentar! Sebentar lagi bala bantuan dari Kota Raja datang. Kita bertahan sekuat tenaga hingga mereka datang..."

"... "Buat formasi sayap burung!" teriak Patih Gema Langit. Seketika pasukannya membentuk barisan mengerucut ke depan, berlapis tiga, dengan tombak di tangan kanan menjulur ke depan dan perisai di tangan kiri melindungi tubuh yang jongkok rendah. Itu adalah formasi paling hebat yang dimiliki Pasukan Jalayuda.

"Hahahaha..."

"... "Gema Langit, jangan terlalu sombong!"

"... "Pasukanmu begitu kecil dibanding kekuatan kami?" teriak Layang Kusuma mencibir.

""Pertempuran tetaplah pertempuran! Sedikit dan banyak, pasti ada yang hidup dan mati. Kita buktikan, pasukan siapa yang lebih banyak mati..."

"... " teriak Patih Gema Langit dengan semangat tinggi walau musuh sangat melimpah.

""Patih Wilyatikta, bawa serta pasukanmu menumpas orang sombong itu!" teriak Datuk Pengemis Nyawa.

""Baik." Patih Wilyatikta membawa pasukannya, lebih dari dua ratus orang, meninggalkan barisan. Dia memiliki dendam kesumat pada Pasukan Jalayuda, sebab beberapa kali pasukannya dibuat kalang-kabut oleh pasukan yang dipimpin Patih Gema Langit itu.

""Seraaaang...!!" Patih Wilyatikta menghentak kudanya bersama serbuan seluruh pasukan pada pertahanan Jalayuda.

Pertarungan tidak bisa dielakkan. Serbuan Pasukan Patih Wilyatikta begitu hebat, dentingan senjata tajam pada perisai pertahanan Pasukan Jalayuda memekakkan telinga. Pasukan Jalayuda bukan hanya bertahan, namun juga mengirimkan balasan dengan menyodokkan tombaknya...

... hingga beberapa pasukan Patih Wilyatikta banyak yang terluka.

Melihat begitu kokohnya pertahanan formasi sayap garuda dan menyaksikan pasukannya banyak yang terluka, Patih Wilyatikta geram. Ia menggebrak kuda besarnya seraya memutar senjata tombak bermata golok besar, membabat bagian untuk formasi itu.

Pasukan Jalayuda terkejut, segera merapatkan perisainya. Namun, tenaga dalam yang terkirim bersama kibasan tongkat golok Patih Wilyatikta begitu hebat sehingga membuat tiga orang pasukan terjungkal.

Tetapi walaupun begitu, tidak mudah bagi Patih Wilyatikta menerobos formasi paling hebat Jalayuda. Pasukan lapis kedua melompat menutup celah formasi, lapis ketiga maju menempati lapis kedua, sedangkan yang terjungkal bangkit lagi ada di lapis ketiga. Begitu juga yang dilakukan pasukan lain ketika terjungkal oleh serangan pasukan Wilyatikta.

Hingga matahari lewat di atas ubun-ubun, tak satu pun pasukan Jalayuda yang cedera parah walaupun Patih Wilyatikta turun langsung. Hal itu berbeda dengan pasukan Patih Wilyatikta yang banyak bergelimpangan tertusuk tombak.

Melihat hal itu, Datuk Pengemis Nyawa geram.

Jelas jika pasukan Wilyatikta, walaupun lebih banyak, tidak mungkin menang melawan Pasukan Jalayuda, pasukan paling elite Kerajaan Pajajaran.

""Bimaskara, bawa pasukanmu membantu Patih Wilyatikta..."

"... " Seketika, ketua Partai Golok Beracun memerintah pasukannya yang semuanya menggunakan senjata golok, berhamburan menyerang tanpa formasi seperti pasukan Wilyatikta. Mereka menyerang dengan kalap, tanpa perlu dikomando ulang oleh Bimaskara. Hal itu membuat Pasukan Jalayuda terkejut, namun mereka cepat merapatkan barisannya. Pasukan Jalayuda seperti kelabang yang diserbu barisan semut. Serangan pasukan Patih Wilyatikta yang terangkai penuh perhitungan, ditambah serangan pasukan Bimaskara yang mengamuk tanpa aturan, membuat pasukan Jalayuda kelabakan. Mereka harus menyambut dua bentuk serangan yang berbeda.

Pasukan Jalayuda semakin kelabakan melihat keganasan serangan pasukan Bimaskara. Mereka bagaikan harimau yang tanpa aturan, bahkan beralih melompat ke atas barisan pertahanan Jalayuda. Ketika sang penyerang tertusuk tombak dan mati di atas pasukan Jalayuda, jasad itu malah dijadikan jembatan oleh penyerang lain untuk masuk ke tengah barisan pertahanan Jalayuda.

Kini sudah banyak penyerang yang bisa masuk dan berperang dengan barisan lapis ketiga di tengah. Lapis pertama terus mempertahankan barisannya, sedangkan lapis kedua kalang-kabut untuk menusukkan tongkatnya ke luar barisan dan ke dalam barisan pertahanan yang sudah penuh dengan musuh.

Beberapa pasukan Jalayuda sudah banyak yang meregang nyawa.

Gema Langit terbelalak hebat, tidak menyangka jika formasi hebatnya bisa ditembus musuh. Dia yakin formasi itu tidak akan mampu bertahan lama.

""Buat formasi Bunga!" teriak Gema Langit.

Seketika pasukan itu terpencar, membentuk kelompok lima orang yang saling adu punggung. Tombaknya dilepas, kemudian mereka mencabut pedang.

Setiap lima orang membuat formasi bunga, dengan perisai di tangan kiri menutup badan dan pedang di tangan kanan menjulur ke depan. Formasi itu, jika dilihat dari atas, seperti bunga yang mekar.

Patih Gema Langit, yang sejak tadi ada di tengah barisan pertahanan, kini sudah keluar dan harus terjun dalam kancah pertempuran.

Pertempuran berjalan begitu seru. Bunga-bunga itu diserbu lebah-lebah yang hendak menghisap madu berbentuk darah Pasukan Jalayuda.

Dari kedua pasukan, sudah banyak korban berjatuhan. Namun, karena jumlah pasukan Jalayuda memang sedikit, jatuhnya korban sangat merugikan pihaknya. Sedangkan dari pihak musuh yang sangat banyak, korban yang jatuh tidak memengaruhi serangan mereka.

Patih Gema Langit semakin kalap mengibaskan gada emasnya pada prajurit musuh. Begitu pun Patih Wilyatikta dan Bimaskara yang telah berhasil menjatuhkan banyak pasukan Jalayuda.

Pasukan Jalayuda tinggal empat puluh orang saat gelombang bantuan pasukan dari Kota Raja datang, berjumlah empat ratus orang, yang dipimpin dua jenderal.

Melihat bantuan kerajaan datang, Datuk Pengemis Nyawa tidak tinggal diam.

""Mahesa Kurawan! Parid Ganjar! Bawa pasukanmu!" teriak Datuk Pengemis Nyawa.

Mereka pun datang membantu Patih Wilyatikta dan Bimaskara. Empat jenderal membawa pasukannya menyerang pasukan kerajaan. Walaupun Kerajaan Pajajaran menambah pasukannya, namun jumlah mereka masih kalah banyak. Hanya pasukan dari empat jenderal musuh yang diturunkan, jumlahnya sudah melebihi semua pasukan kerajaan yang datang, padahal masih ada pasukan empat jenderal lagi yang belum turun tangan. Jelas jika pertempuran itu tidak imbang.

""Kenapa hanya sedikit yang diutus...!" bentak Patih Gema Langit pada kedua jenderal yang mendatanginya.

""Kerajaan konsentrasi menjaga pertahanan di benteng," jawab mereka. "Kami diutus ke sini hanya untuk menarik mundur pasukan Tuan ke benteng. Kita akan melayani kekuatan musuh di sana, apalagi kami juga sudah siapkan jebakan di sana," terang para jenderal itu.

""Jika musuh tidak dihentikan di sini dan peperangan terjadi di benteng, itu sangat rentan. Mereka bisa dengan mudah menerobos benteng, dan raja terancam...!"

"... "Kalian lihat pasukanku telah banyak mati sia-sia di sini. Kalau memang hanya untuk mundur, sejak tadi aku tahu dan pasukanku tidak mungkin separah ini!" bentak Gema Langit penuh amarah. "Tapi itu perintah Ki Amangkurat!" jawab mereka, membuat Gema Langit semakin kesal. Namun, dia tidak bisa menolak perintah Ki Amangkurat sebagai penasihat raja yang memang terkenal pintar strategi perang.

""Lalu bagaimana dengan bantuan Pasukan Pendekar?" "Mereka tidak bisa diharapkan, para pendekar memang angin-anginan!" bentak Gema Langit, kembali ke kudanya.

""KITA MUNDURRRR!" teriak Gema Langit. Semua pasukan kerajaan pun mundur, disambut sorak kemenangan para pemberontak.

Patih Gema Langit benar-benar geram. Telah banyak pasukannya yang menjadi korban untuk bertahan menunggu pasukan kerajaan agar pemberontak bisa ditumpas di daerah Jalu, ternyata dia malah diperintahkan mundur.

Arya dan pasukannya sampai di Bukit Kuncir tanpa halangan. Bukit itu dipenuhi tumbuh-tumbuhan besar, dan ada satu tumbuhan yang paling besar di tengah bukit, sehingga jika dilihat dari jauh, bukit itu seperti kepala dengan rambut dikuncir ke atas.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment