Halo!

Dewa Iblis - Chapter 27

Memuat...
Dewa Iblis

Chapter 27

Semua pasukan beristirahat mengambil tempat masing-masing dan berbincang dengan kelompoknya. Namun, tidak bagi Arya. Dia langsung berkelebat ke atas pohon yang paling besar. Dari sana, dia bisa melihat daerah Jalu, namun alis Arya berkerut karena tidak menangkap kelebatan manusia di sana. Apakah informasi yang dia terima salah dan peperangan itu bukan di daerah Jalu?

Arya segera turun mendatangi Kyai Koneng, Banjar Kalianget, Kirana, Bintang Kusuma, dan Mahesa yang sedang duduk bersama.

"Sepertinya saya tidak menangkap adanya gerakan di daerah Jalu. Bintang, coba carikan orang untuk melihat keadaan di sana," ujar Arya.

"Baik," sahut Bintang Kusuma. Dia memanggil dua orang yang dibawanya dari Bukit Gembala dan mengutus mereka untuk melihat situasi di daerah Jalu, lalu kembali berkumpul dengan para sahabatnya.

Pendekar yang lain pun membentuk kelompok untuk mengobrol. Ada pula yang beristirahat, meregangkan tenaga dengan melatih beberapa jurus, serta mengasah senjata mereka.

"Bagaimana tindakan yang akan kita lakukan?" pancing Mahesa untuk mengajak diskusi.

"Kita tunggu kedatangan telik sandi dulu, setelah itu baru kita bicarakan apa yang akan kita lakukan. Apalagi Banjar Kalianget juga belum datang," ujar Kyai Koneng sambil duduk bersila dan tetap memutar tasbihnya.

"Arya, jika kita selamat dari pertempuran ini, apa yang hendak kau lakukan?" tanya Kirana. Pertanyaan itu membuat Arya terkejut karena keluar dari topik peperangan, tetapi saat ini memang tidak ada lagi yang bisa dibicarakan dalam urusan perang.

Beberapa pendekar bahkan banyak yang mengobrol santai sambil tertawa untuk menghilangkan rasa tegang.

"Tentu aku akan kembali ke Bukit Gajah Mungkur untuk belajar ilmu agama dan ilmu batin," jawab Arya.

"Tapi tidak selamanya kamu harus tinggal di Gajah Mungkur, kan?" tambah Bintang Kusuma.

"Ya, tentu saja. Jika jiwaku benar-benar sudah stabil, aku akan mendatangi Bukit Gembala untuk memenuhi janjiku yang tidak bisa kutepati ketika perkawinanmu. Aku juga mau minta maaf pada Racun Barat atas keonaran yang aku ciptakan pada acara pemilihan jodoh itu," terang Arya. Hal itu membuat Bintang Kusuma tergelak bersamaan dengan Arya, sedangkan yang lain tidak tahu apa yang sedang mereka tertawakan.

"Tapi tujuanmu setelah keluar dari Gajah Mungkur bukan hanya itu, kan?" tanya Kyai Koneng.

"Benar, Kyai. Saya berkeinginan mendatangi seluruh padepokan dan guru yang mengajari saya ilmu guna meminta maaf, serta menerima segala macam hukuman yang pantas saya terima."

Pernyataan itu membuat semua orang terkejut. Mereka tidak ingin Arya celaka karena harus menerima hukuman yang mungkin tidak setimpal. Arya yang polos pasti akan menerima semua hukuman yang dijatuhkan. Kyai Koneng teringat pada kematian Kyai Prana, saudara seperguruan kakaknya. Melihat semua kebaikan Arya selama ini, dia berniat membantu Arya memohon ampun pada keturunan Kyai Prana. Namun, bagaimana dengan padepokan lain yang tidak sealiran dengannya?

"Boleh aku ikut menyertaimu, Kakang?" tanya Kirana sedikit malu di sela rasa khawatirnya.

Arya terkejut mendengar itu. "Terima kasih atas niat baikmu, Kirana. Tapi perjalanan ini sangat panjang karena tempat aku belajar ilmu sangat banyak, lebih dari sepuluh tempat. Masing-masing tempat pasti memiliki hukuman yang berbeda dan bisa menyita waktu lama. Letaknya pun sangat jauh, seperti di Persia dan Tiongkok," terang Arya.

Semua yang mendengar ternganga. Pantas saja Jurus Dewa Iblis sangat hebat dan jarang terlihat; ternyata Dewa Iblis belajar pada begitu banyak guru hingga ke luar Tanah Dipa.

Banjar Kalianget tiba tanpa tiga santri yang menyertainya. Pakaiannya penuh darah dan napasnya memburu. Hal itu membuat semua pendekar yang tadi bersantai langsung menghampirinya, ingin mendengar kabar yang dibawanya.

"Mana santri-santri yang lain?" tanya Kyai Koneng khawatir.

"Urusan di desa itu telah selesai. Saya dan santri yang lain selamat, hanya saja lari mereka lebih lambat sehingga harus saya tinggalkan karena ada informasi penting yang harus segera disampaikan," ujar Banjar Kalianget di sela napasnya yang tersengal. "Saya mendengar kabar dari perampok itu bahwa jumlah Pasukan Ambangan sangat banyak, lebih dari seribu prajurit."

Kabar itu membuat semua orang terbelalak. "Yang tidak kalah mengejutkan, tokoh persilatan yang membantu Ambangan juga cukup banyak," tambah Banjar.

"Mari kita duduk dulu dan bicara dengan tenang," ujar Arya setelah Mahesa berbisik padanya. Sejak kemarin, Mahesa memang menjadi otak strategi; semua keputusan dan pembicaraan Arya selalu dibantu olehnya. Semua pendekar pun duduk untuk menyimak kabar penting itu.

"Siapa saja pendekar dan tokoh yang membantu Ambangan?" tanya Kyai Koneng.

"Ya, selain Datuk Pengemis Nyawa yang dikawal dua muridnya, Jala dan Jalu, ada juga murid Datuk Pengemis Nyawa yang menjadi jenderal perang, yaitu Ronggo Wengi." Banjar menghentikan bicaranya sejenak untuk mengatur napas. "Ternyata benar, dua sosok sakti bergelar Nenek Peniup Dupa dan Bocah Setan Tua ada di sana. Ditambah lagi Biksu Tapak Maut, guru Biksu Ling Pau yang pernah dikalahkan Arya di Rawa Lintah."

"Dan yang patut kita waspadai juga adalah para jenderal perang mereka yang kebanyakan memang pendekar dunia persilatan. Sebut saja Patih Wilyatikta yang membawa pasukannya, dua kepala pasukan Ambangan yaitu Mahesa Kurawan dan Parit Ganjar, serta ketua Partai Golok Beracun, Bimaskara. Selain itu, ada pula Saudagar Peteng, Harimau Sendeng, serta Adipati Layan Kusuma yang juga memimpin pasukan."

Banjar menyelesaikan laporannya. Semua orang terdiam berfikir. Jumlah pasukan mereka hanya sekitar seratusan orang; tidak mungkin melawan pasukan yang jumlahnya lebih dari seribu.

"Jumlah Pasukan Pajajaran juga banyak, bisa mengimbangi mereka. Alangkah baiknya jika urusan prajurit kita pasrahkan pada pasukan kerajaan. Kita sebagai pasukan pendekar lebih dikhususkan untuk melawan para pendekar mereka saja," usul Mahesa.

"Masuk akal. Jumlah pasukan mereka imbang, namun pasukan Pajajaran tidak akan menang jika para pendekar musuh ikut turun tangan. Kita fokus melawan pendekarnya saja," Kyai Koneng menguatkan usulan tersebut.

"Namun, kita harus bisa memancing mereka keluar dari barisan pasukan agar pertarungan tidak mengganggu peperangan antar-prajurit yang bisa berakibat salah sasaran," terang Arya.

"Bagaimana caranya kita memancing mereka keluar dari pasukannya?" tanya Bintang Kusuma. Pertanyaan itu membuat yang lain diam dan berpikir.

Tiba-tiba Mahesa mengambil sepotong ranting dan menggaris dua garis lurus di tanah. "Ini deretan Pasukan Pajajaran dan ini deretan Pasukan Ambangan. Jika kita muncul di belakang atau samping mereka, sudah jelas mereka akan terkepung oleh kita dan pasukan Pajajaran. Mereka akan bertahan di tempat dan tidak akan keluar," jelas Mahesa memberi gambaran. "Tapi kalau kita muncul dari arah Pasukan Pajajaran dan menyerang semua pimpinan mereka, kita pasti bisa memancing mereka untuk keluar dari arena pertempuran."

Semua yang mendengarkan manggut-manggut paham.

"Kita telah mempunyai cara untuk memancing mereka keluar. Sekarang, mari kita pikirkan bersama lawan tanding yang setimpal untuk masing-masing musuh. Pasti di antara kalian ada yang pernah menghadapi mereka sebelumnya dan tahu kemampuan mereka. Agar tidak salah pilih, lebih baik siapa yang merasa mampu melawan siapa, sebutkan saja. Supaya tidak saling berebut musuh," terang Bintang Kusuma.

"Dari semua pendekar musuh, kau memilih melawan siapa, Arya?" tanya Kirana. Arya hanya menoleh pada Kyai Koneng.

"Aku harap Arya tidak melawan Datuk Pengemis Nyawa. Aku yang akan menghadapinya," kata Kyai Koneng tegas. Dia masih khawatir jika Arya melawan Datuk Pengemis Nyawa, emosinya akan kembali labil.

"Aku siap menghadapi Golok Beracun," ujar Golok Emas mantap.

"Patih Wilyatikta pasti berhadapan dengan pamanku, Patih Gema Langit. Aku sendiri memilih Ronggo Wengi; aku punya hutang nyawa padanya," geram Bintang Kusuma.

"Aku yang akan menghadapi Bimaskara. Dia bekas kakak seperguruanku yang membelot," pinta Mandala.

"Aku sudah lama geram pada Saudagar Peteng. Biar aku yang menghadapinya," seorang kakek bertubuh cebol dan dekil meminta.

"Terima kasih, Ki Joko Lawe," ujar Kyai Koneng pada kakek itu. Dia melanjutkan, "Urusan Adipati Layan Kusuma dan kedua ketua pasukannya, Parit Ganjar serta Mahesa Kurawan, kita pasrahkan pada prajurit kerajaan. Kita konsentrasi pada para pendekarnya saja."

Arya masih diam karena tidak tahu mana yang harus dipilih.

"Aku akan menghadapi Harimau Sendeng," Kirana angkat bicara.

"Masih tersisa empat orang lagi: dua ninja Jala dan Jalu, serta Nenek Peniup Dupa dan Bocah Setan Tua yang sangat sakti itu."

"Saya ingin menjajal ilmu dengan Bocah Setan Tua, Kyai," ujar Kang Darman penuh semangat setelah tiba bersama dua temannya yang tadi tertinggal. Hal itu membuat Kyai Koneng terbelalak.

"Jangan sembarangan, Darman! Kau tidak tahu siapa yang kau pilih. Dia lebih hebat dari Datuk Pengemis Nyawa walau tubuhnya seperti anak-anak. Jika kau ingin memilih, lawan saja Ninja Jalu, tapi jangan sendirian. Kau tidak akan mampu. Berpasanganlah dengan Anwar dan Toyyib untuk melawannya."

"Saya yang akan melawan Ninja Jala," Banjar Kalianget mengambil pilihan.

"Kini tinggal Nenek Peniup Dupa dan Bocah Setan Tua. Siapa yang pantas saya pilih, Kyai? Atau saya lawan mereka berdua sekaligus?" tanya Arya.

"Aku tahu ilmumu sangat hebat, tapi mereka bukan pendekar berpasangan walaupun selalu bersama. Mereka dari aliran kesaktian yang berbeda. Jika kau mau, pilih satu saja, biar yang satunya dipilih pendekar yang merasa mampu," terang Kyai Koneng.

Suasana menjadi hening. Tidak ada lagi yang berani angkat bicara untuk memilih salah satu dari dua pendekar tua yang terkenal sangat hebat itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment