Halo!

Dewa Iblis - Chapter 28

Memuat...
Dewa Iblis

Chapter 28

Tiba-tiba mereka dikejutkan kedatangan utusan Bintang Kusuma untuk melihat situasi di Daerah Jalu. Arya menyambut kedatangan mereka bersama pendekar yang lain. "Apa yang kau lihat?" tanya Arya langsung. "Pertempuran di Jalu telah selesai, banyak pasukan yang meninggal di sana baik pasukan musuh maupun pasukan kerajaan. Namun, dari pasukan kerajaan yang kami lihat hanya mengenakan pakaian Jalayuda, tak kami temukan jasat pasukan kerajaan lainnya?" terang mereka, membuat semuanya heran. "Sepertinya pasukan musuh bergerak ke Kota Raja, terlihat jelas bekas perjalanan mereka ke arah sana, dan melihat bekas mereka, pasukan musuh sangat banyak?" tambah mereka, semakin meyakinkan laporan Banjar Kalinget bahwa jumlah pasukan musuh mencapai seribu orang.

"Mungkin pasukan kerajaan mundur dan berkonsentrasi ke benteng pertahanan," tebak Mahesa. "Kita harus cepat bergerak pula. Urusan Nenek Peniup Dupa dan Bocah Setan Tua, biar saya yang menghadapi. Kalau tidak mampu, mohon bantuannya. Dan yang tidak kebagian tugas melawan Pendekar Musuh, tolong bantu pasukan Pajajaran," perintah Arya, disambut deruan sorak semangat pasukan yang lain. Merekapun bergerak dengan cepat menuju Kota Raja, mengambil jalan memutar agar tidak bertemu dengan pasukan musuh di jalan. Mereka akan bergabung di benteng bersama pasukan Pajajaran.

Dengan pasukan yang sangat banyak dan keyakinan mantap terhadap kemampuan serta kehebatan Ambangan, mereka bergerak langsung bersamaan menuju Benteng bagian timur. Mereka yakin dengan lautan manusia yang mereka bawa bisa meluluhlantakkan Pajajaran bagaikan ditelan gelombang. Benteng bagian timur merupakan area paling luas dari kedua benteng lainnya. Benteng barat langsung bersebelahan dengan sungai cukup besar. Benteng bagian utara diapit oleh dua bukit, sehingga tidak cocok untuk area pertempuran besar. Bagian selatan langsung tembok besar yang bersebelahan dengan gunung. Sesungguhnya dengan banyaknya pasukan yang dimiliki, Ambangan bisa membagi serangan menjadi tiga, melalui tiga gerbang yang ada, agar konsentrasi pertahanan Pajajaran pecah. Namun, Datuk Pengemis Nyawa mempunyai pendapat lain. Pasukannya yang terdiri dari berbagai golongan tidak bisa dipisahkan, karena banyak di antara pasukan yang tidak memiliki kemampuan strategi perang. Jika dipecah, dikhawatirkan hanya menguntungkan pihak musuh, apalagi mereka datang ke daerah musuh di mana mereka punya pengalaman menguasai medan, jadi pasukan Ambangan harus tetap dalam komandonya.

Hal itu sesungguhnya sangat menguntungkan pihak Pajajaran, sehingga kekuatan yang mereka miliki bisa terpusat di benteng timur. Dengan menyisakan beberapa pasukan di benteng barat dan utara, takut ada serangan yang tidak disangka. Walaupun seperti itu, kehadiran para pendekar yang cukup banyak di pihak musuh menjadi pertimbangan yang tidak bisa dianggap remeh. Patih Gema Langit masuk ke dalam benteng bersama beberapa sisa pasukannya yang terkuras tenaga dan banyak yang terluka. "Kalian konsentrasi bertahan di dalam benteng..." perintah Patih Gema Langit. "Tapi Tuan Patih... kami tetap ingin berjuang bersama dengan tuan, menuntut balas atas kematian sanak famili dan saudara-saudara kami di Jalu?" tolak mereka. Membuat Patih Gema Langit salut pada semangat prajuritnya yang telah tinggal separuh. "Aku tahu, tapi pulihkan dulu kesehatanmu, dan sembuhkan yang terluka. Kalian ada di dalam benteng bukan tidak punya tugas untuk bertempur, kalian harus mampu menghalangi musuh yang telah berhasil masuk benteng. Kalian merupakan benteng terakhir pertahanan Pajajaran..." suara Patih Gema Langit sangat berwibawa, membuat mereka berkobar kembali semangatnya, menyadari tugas yang diberikan Patih Gema Langit sangat besar walaupun tidak berada di luar benteng.

Patih Gema Langit kembali keluar benteng melihat persiapan pasukan Pajajaran berbaris rapat dengan jumlah yang banyak. Dia teringat bagaimana pasukannya bagaikan anak ayam di kerumunan para elang di daerah Jalu, dan mereka asik berdiri di sini. Namun, kemarahannya harus mampu diredam karena deretan pasukan itu sebentar lagi juga akan menghadapi gelombang pasukan musuh. Patih Gema Langit terus bergerak menuju barak yang cukup besar dan masuk ke dalamnya. Di sana sudah ada beberapa jenderal dan patih, serta Ki Amangkurat ada di depan. "Bagaimana dengan pasukanmu, Patih?" tanya Ki Amangkurat. "Aku tidak mau membicarakannya, yang jelas pasukanku tinggal separuh..." ujarnya dengan geram dan duduk di mejanya dengan kesal. "Kau sendiri yang tidak memberitahu kami jika akan menghadang mereka di Jalu..." tegur Patih Gajah Oleng. "Kita tidak usah saling menyalahkan, semua yang kita lakukan di sini sama untuk mempertahankan Pajajaran. Jasa Pasukan Jalayuda juga tidak sedikit, karena menurut informasi yang aku terima telah banyak pasukan musuh yang tumbang oleh pasukan Jalayuda..." puji Ki Amangkurat, namun hal itu tidak membuat Patih Gema Langit melupakan kekesalannya hingga dia tidak mengeluarkan suara.

"Bagaimana dengan bantuan para pendekar...?" tanya Ki Amangkurat. "Aku tidak melihat batang hidungnya..." kesal Patih Gema Langit. "Menurut tilik sandi, mereka melihat ada empat pendekar dari Gajah Mungkur sedang mengusir beberapa pasukan musuh yang menjarah di Desa Kulon," terang salah satu Jenderal Perang. "Ada juga masyarakat yang melihat gerombolan manusia yang berlari cepat dengan beberapa orang menunggang kuda menuju timur..." terang jenderal yang lain, membuat semuanya terkejut. "Itu pasti pasukan Pendekar! Tapi mau ke mana mereka?" tanya Ki Amangkurat heran. "Dasar Pendekar, tidak bisa diharapkan, mereka bergerak menurut kemauan sendiri... padahal perang di sini..." geram Patih Gema Langit.

"Mungkin mereka menuju Jalu!!" tebak Patih Gajah Oleng, membuat Patih Gema Langit terkejut. Dia ingat kembali informasi yang dia sampaikan sendiri ketika ada di Gajah Mungkur, bahwa peperangan akan terjadi di Jalu. Mereka tidak akan tahu jika arena peperangan dipindah ke Gerbang Timur. "Ada apa, Patih?" tanya Ki Amangkurat melihat wajah Patih Gema Langit pucat. "Benar apa yang disampaikan Gajah Oleng, mereka menuju Jalu. Aku yang menginformasikan pada mereka bahwa peperangan akan terjadi di Jalu, mereka tidak akan tahu bahwa peperangan dipindah ke sini?" Semua terkejut dan lemas seketika. "Berarti kita tidak bisa mengharapkan kehadiran mereka secepatnya. Kita kerahkan semua kemampuan untuk melawan musuh?" perintah Ki Amangkurat.

Saat matahari sudah menunjukkan jam tiga sore, terompet besar menggema saut-menyaut di luar barat, menandakan bahwa pasukan musuh sudah datang. Semua patih dan jenderal dengan sigap keluar barak mengambil kudanya dan bergegas menuju pasukan masing-masing, kecuali Patih Gema Langit yang meninggalkan pasukannya di dalam benteng. Patih Gema Langit yang menjadi pimpinan Pasukan Elit Pajajaran memegang komando semua pasukan yang ada. Dia berjalan di depan barisan pasukan, diikuti Ki Amangkurat dengan kudanya. "Pasukan sekalian?" teriak Patih Gema Langit. "Telah lama kita menikmati kedamaian dan ketenangan di bawah Raja Pajajaran yang baik dan bijak. Jika kita mati di sini, itu lebih baik dari pada tunduk di bawah pemberontak yang aslinya adalah perampok. Buat apa kita hidup jika kita terus tertindas dan dihantui kekejaman mereka..." bakar Patih Gema Langit. "Tapi kita harus berusaha mempertahankan nafas kita, demi keluarga kita, demi teman-teman kita, demi anak cucu kita agar bisa bernafas dengan baik. Untuk itu, kita harus membunuh musuh di depan kita, kita pertahankan hak kita, kita pertahankan kerajaan yang kita cintai ini?" Patih Gema Langit semakin membakar semangat prajuritnya. Semuanya bersorak sambil mengangkat senjata tinggi-tinggi.

Di barisan musuh telah berjejer dengan rapi seperti ketika di Jalu. Walau kini yang ada di belakang Patih Wilyatikta dan Golok Beracun pasukannya berkurang, namun semangat mereka untuk menumbangkan pasukan Pajajaran masih berkobar. "Guru... waktu telah sore... sebentar lagi malam tiba, tidak mungkin melakukan peperangan, apalagi pasukan Patih Wilyatikta dan Golok Beracun banyak yang terluka... mereka butuh istirahat..." "Aku tahu... tapi waktu yang sedikit ini masih punya kesempatan untuk mengurangi jumlah musuh. Perintahkan pasukan Wilyatikta dan Pasukan Golok Beracun ditambah pasukanmu untuk mencari lokasi peristirahatan dan mendirikan tenda... yang lain akan bertempur di waktu yang sempit ini?" seringai Datuk Pengemis Nyawa. "Patih Layan Kusuma, laksanakan tugas itu." "Macan Sendeng, Mahesa Kurawan dan Parit Ganjar... kirim pasukanmu ke medan perang?" perintah Datuk Pengemis Nyawa. Sekitar lima ratus orang di bawah pimpinan tiga panglima menghambur mengirim serangan. Pasukan Pajajaran masih di tempatnya menunggu perintah, membuat Datuk Pengemis Nyawa terkejut. Dia mengira Pajajaran akan mengirimkan pasukan yang imbang pula. Kalau seperti itu, tidak mungkin jika pasukan ketiga jenderal itu mampu menembus barisan pertahanan musuh yang sangat banyak.

"Ronggo Wengi, Saudagar Peteng, bawa pasukan kalian pula?" perintah Datuk Pengemis Nyawa. Tiga ratus pasukan disusulkan di belakang lima ratus pasukan, jumlah itu setimpal dengan jumlah pasukan Pajajaran. "Serbu..." teriak Mahesa Kurawan yang ada di barisan paling depan. Pasukan Pajajaran masih di tempatnya, tidak membuat gerakan, namun mereka sudah bersiap pula. "Lepaskan panah?" teriak Ki Amangkurat, membuat semua pasukan musuh tersentak, begitu juga Datuk Pengemis Nyawa. Tiba-tiba dari atas benteng keluar lebih seratus pemanah yang melepaskan panah terus-menerus. Tak ayal pasukan paling depan musuh banyak yang bergelimpangan. Mahesa Kurana dengan sigap menangkis panah-panah yang akan menembus tubuhnya. "Bangsat?" teriak Biksu Tapak Maut, melompat dari kudanya dan berjalan dengan ringan melewati kepala-kepala para pasukan Ambangan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment