Chapter 29
"Tapak Langit Membentur Gunung?!" teriak Biksu Tapak Maut seraya mengebutkan kedua tangannya. Seketika gelombang udara sangat hebat menderu, mementalkan semua panah yang terkirim.
Ki Amangkurat dan semua pasukan tergagap hebat, melihat panah-panah itu berhamburan tidak lagi mengenai musuh.
"Semuanya siap! Serbu!" teriak Patih Gema Langit. Tak ayal, semua pasukan bergerak serentak menyambut serangan musuh. Dengan tetap menaiki kuda, dikibaskannya Gada Emas menghantam musuh yang ada di depannya. "Bangsat! Mereka benar-benar ingin mengakhiri perang sekarang! Panggil Pasukan Bimaskara dan Patih Wilyatikta untuk membantu, dan juga perintahkan Pasukan Layan Kusuma untuk datang kemari?" perintah Datuk Pengemis Nyawa pada Jalu, melihat pasukannya telah banyak yang tumbang karena serangan panah yang tidak diperhitungkannya.
Kembali gelombang serangan datang dari Pasukan Wilyatikta dan Bimaskara yang membuat perseteruan menjadi semakin ramai. Pasukan Layan Kusuma ada di belakang Datuk Pengemis Nyawa, sedangkan Nenek Peniup Dupa dan Bocah Setan Tua hanya terkekeh girang melihat mayat-mayat bergelimpangan.
Patih Gema Langit langsung menyambut kedatangan Patih Wilyatikta, musuh bebuyutannya itu. Patih Gajah Oleng melawan Macan Sedeng dengan semangat. Biksu Tapak Maut mengamuk di depan arena tanpa ada orang yang seimbang melawannya, hingga tapaknya membuat banyak pasukan Pajajaran tumbang. Panglima perang yang lain berusaha melawan panglima musuh yang sangat hebat, bahkan mereka dibantu pasukannya.
Sangat jelas jika kekuatan Pajajaran kalah jauh dibanding pasukan Ambangan yang mengamuk membabi buta tanpa ampun.
Datuk Pengemis Nyawa dan semua yang ada di sebelahnya tertawa senang. Tampak di khayalan mereka, dalam waktu singkat Pajajaran bisa mereka kuasai.
"Besok kau telah resmi menjadi Raja Layan!" tawa Datuk Pengemis Nyawa.
Disambut gelak tawa kepuasan lainnya.
Pertempuran berjalan dua jam, namun telah banyak pasukan Ambangan yang berhasil mendaki benteng, karena gerbang yang terbuat dari baja tertutup rapat, jadi untuk membukanya mereka harus mendaki dan membuka dari dalam.
Jika gerbang telah berhasil dibuka, jelas sudah kemenangan ada di depan mata. Kerajaan pasti bisa diduduki.
Datuk Pengemis Nyawa semakin tergelak menyaksikan pasukannya telah berhasil membunuh tukang panah di atas benteng.
Mereka bersorak girang mengangkat senjata dan panji pasukannya karena telah bisa menguasai atas benteng. Namun, perjuangan mereka tidak cukup sampai di sana. Pasukan Jalayuda yang ada di dalam benteng datang menyerang, hingga kembali peperangan terjadi dengan sengit di sana, tidak kalah dengan pertempuran yang ada di luar benteng.
Namun, Datuk Pengemis Nyawa hanya tersenyum kecut. Walaupun kegigihan Pasukan Jalayuda berusaha menghalangi penerobos, Pasukan Ambangan satu per satu menaiki benteng melalui tangga yang mereka bawa.
Dan pasukan Ambangan yang lain turut berperang melawan Pasukan Jalayuda yang hanya berjumlah lima puluh orang.
Di luar gerbang, pasukan Pajajaran semakin terdesak. Walaupun mereka berhasil membunuh banyak musuh, para panglima yang begitu hebat ditambah seorang biksu yang mengamuk membuat Pasukan Pajajaran mengalami kekalahan telak. Namun, mereka tidak bisa lagi mundur. Kalau mereka mundur, tentu harus membuka gerbang. Jika gerbang terbuka dengan bebas, musuh akan menerobos masuk.
"Kita hidup jika kerajaan kita utuh, dan jika kerajaan runtuh, lebih baik kita mati dengan bangga!" teriak Patih Gema Langit membakar semangat prajuritnya yang menurun, melihat kekalahan di depan mereka.
Tiba-tiba, semuanya dikejutkan oleh terpentalnya Pasukan Ambangan yang ada di atas benteng. Baik Patih Gema Langit maupun Datuk Pengemis Nyawa merasa heran jika Pasukan Jalayuda yang berperang di sana bisa membuat musuh yang begitu banyak itu terpental.
Namun kini mata mereka nanar melihat barisan orang yang berjejer di sepanjang benteng timur. Jumlahnya tidak kurang dari seratus orang dan mereka tidak mengenakan pakaian tentara. Tepat di atas gerbang, berdiri seorang pemuda berambut sedikit panjang mengenakan pakaian hijau dengan mantel warna merah di punggungnya. Semua orang yang berjejer di atas sana sama mengenakan sobekan kain warna merah di lengan kanannya. Mereka mengenakan senjata yang beraneka ragam.
"Dewa Iblis!" pekik Nenek Peniup Dupa, begitu juga Bocah Setan Tua. Datuk Pengemis Nyawa yang tidak pernah bertemu dengan sosok yang selalu mencarinya itu, yang telah membunuh dua muridnya Nyi Pelet Peteng dan Gatot Gurai, menoleh pada Jala dan Jalu. Mereka hanya mengangguk membenarkan pekikan Nenek Peniup Dupa.
"Ternyata Pajajaran juga dibantu pendekar?" geram Pengemis Nyawa. "Pasukan Pendekar telah datang!" teriak Patih Gema Langit dengan semangat mengibaskan gadanya. Prajurit Pajajaran yang hampir putus asa kembali bersemangat melawan pasukan musuh. "Yang punya tugas membantu prajurit, serang!" teriak Arya. Sekitar sembilan puluh pendekar melompat dari tembok benteng yang lumayan tinggi itu dengan gesit. Orang biasa tidak mungkin melakukan hal itu. "Lalu, bagaimana ini, Kyai?" tanya Arya pada Kyai Koneng yang berdiri di sampingnya.
"Seperti rencana semula, tugas kita hanya meringkus para pendekar yang membantu Ambangan. Aku lihat seorang biksu yang mengamuk di tengah pertempuran begitu hebat, dia harus dikeluarkan dari sana agar tidak banyak menelan korban prajurit." Arya menoleh, melihat sisa pasukannya yang ada di atas tembok. "Ki Joko Lawe, sepertinya Saudagar Peteng sudah kewalahan melawan pendekar yang lain. Bagaimana jika Tuan melawan Biksu itu?" tanya Arya, karena dia ingat pada rapat pertama Ki Joko Peteng meminta menghadapi Saudagar Peteng. "Baik?" ujar Ki Joko Lawe, melompat turun membabat beberapa prajurit dengan tongkatnya hingga terpental menuju Biksu Tapak Maut.
"Sepertinya anggapan kita di luar perkiraan, para senopati dan jenderal perang kerajaan bisa mengimbangi para tokoh silat jenderal musuh! Sedangkan yang paling penting adalah otak dari serangan ini, yaitu mereka?" tunjuk Mahesa pada deretan Pasukan Layan Kusuma yang masih di belakang Datuk Pengemis Nyawa. Di sana, selain Adipati Layan Kusuma, juga ada Nenek Peniup Dupa, Bocah Setan Tua, dan juga dua ninja kembar Jala dan Jalu.
"Ya, dan mereka tidak bisa dianggap remeh, kita harus mengubah strategi awal. Kita biarkan pertempuran di bawah sana diselesaikan oleh para prajurit dan para pendekar lainnya. Aku lihat mereka telah seimbang. Kita konsentrasi pada mereka saja," jawab Kyai Koneng.
"Kau tetap di sini, mengatur pasukan pendekar yang ada di bawah, dan mengabarkan informasi yang terjadi dengan terompet itu," perintah Arya pada Mahesa sambil menunjuk terompet yang tergeletak di lantai.
"Sedangkan yang lain ikut Kyai Koneng menggempur musuh yang ada di sana, aku masih mau membantu pasukan sebentar," perintah Arya pada Banjar Kalianget, Kirana, Bintang Kusuma, Golok Emas, Mandala, dan beberapa pendekar yang masih berdiri di sampingnya. Mereka hanya mengangguk dan berkelebat cepat melalui kedua sisi arena peperangan menuju seberang, agar gerakan mereka tidak tertahan.
"Bangsat! Mereka mau menyerang kita?!" bentak Datuk Pengemis Nyawa. Nenek Peniup Dupa hanya terkekeh senang. Arya masih melihat dari atas gerbang benteng, mencermati situasi yang lebih penting untuk dia bantu: apakah para prajurit itu atau para pendekar yang melawan kaum sesat yang sangat hebat. Arya melihat matahari yang condong ke barat. Sebentar lagi malam tiba, dan tidak mungkin peperangan diteruskan. Suasana akan gelap. Walaupun bisa dipastikan akan muncul rembulan yang sedikit terang, perang tidak bisa dilanjutkan di suasana temaram. Mereka tidak akan leluasa berperang, bisa jadi malah salah sasaran. Arya menatap prajurit yang bertikai di bawahnya. Jika para pendekar yang sudah terlatih dengan baik, tentu suasana temaram tidak akan berpengaruh pada pandangan mereka, tetapi prajurit-prajurit itu?
"Hiaaatt!" Kyai Koneng langsung menerjang Datuk Pengemis Nyawa.
Kirana memilih Jala dan Jalu yang dibantu Bintang Kusuma sebagai lawan tanding. Golok Emas, Mandala, dan Banjar Kalianget memilih Nenek Peniup Dupa dan Bocah Setan Tua, sedangkan pendekar lain seperti Kang Darman dan Anwar melawan Patih Layan Kusuma dibantu beberapa pendekar lain menggempur pasukan Adipati Layan. Pertempuran di sebelah timur lebih mengerikan daripada perang ratusan prajurit yang terjadi di depan gerbang benteng. Ledakan, teriakan, dan lentingan tubuh genting membuat bumi seperti gempa, hingga membuat prajurit dari kedua pihak terkejut dan menghentikan peperangan, kecuali beberapa orang yang telah diamuk emosi, seperti para pendekar. Keganasan ini membuat prajurit biasa berusaha menghindarinya, bahkan ada yang lari terbirit-birit melihat keganasan perang yang terjadi. Mereka tidak mengira jika perang yang terjadi di sana adalah perang antarpendekar. Yang mereka tahu, perang hanyalah adu ketangkasan menggunakan senjata, namun yang mereka lihat adalah perkelahian dengan tenaga dalam tinggi.
Prajurit dari Pajajaran menghentikan serangan dan menghindar mundur dari hentakan tenaga dalam yang sangat luar biasa. Begitu juga pasukan Ambangan yang berasal dari kelas prajurit, karena mereka tahu tata krama perang: jika matahari sudah condong ke barat, menang atau kalah, perang harus dihentikan dan dilanjutkan besok pagi.
Tetapi prajurit yang berasal dari kelas perampok dan perompak tidak mengenal aturan itu. Sehingga, Pasukan Pendekar di bawah pimpinan Arya tetap harus berjuang melawan keganasan mereka, juga para petinggi pasukan kedua belah pihak yang telah diamuk emosi.