Halo!

Dewa Iblis - Chapter 30

Memuat...
Dewa Iblis

Chapter 30

Para prajurit dari kedua belah pihak yang telah menghentikan perang hanya menyaksikan pertempuran hebat itu dengan heran. Mereka tidak menyangka bahwa perang ini seolah tanpa aturan dan tanpa jam istirahat. Meski beberapa di antara mereka telah terluka, saat pemimpin mereka tetap berperang, para prajurit itu enggan turun tangan, apalagi hal tersebut tidak melanggar tata krama perang.

Ternyata pasukan Ambangan yang berasal dari kelas prajurit hanya sedikit; lebih banyak yang berasal dari kelas perampok dan perompak yang tidak kenal aturan. Akibatnya, jumlah musuh yang mengundurkan diri hanya sedikit. Sementara itu, dari pasukan Pajajaran, semuanya menghentikan serangan kecuali para petingginya yang saling bahu-membahu bersama Pasukan Pendekar melawan sisa pasukan musuh yang sangat banyak. Walaupun para pendekar memiliki kesaktian yang mumpuni, menghadapi musuh yang begitu banyak dan membabi buta membuat mereka kewalahan juga.

Melihat hal itu, ada pula yang kembali terjun berperang, namun jumlahnya sedikit. Tiba-tiba, semua prajurit yang menyaksikan terbelalak, bahkan ada yang mengucek mata karena tidak percaya pada penglihatannya. Seorang pemuda yang sejak tadi hanya menyaksikan dari atas gedung tiba-tiba melayang di udara bagaikan kapas diterpa angin. Mantel berwarna merah yang dikenakannya berkibar-kibar seperti sayap.

"Pasukan, mundur!" teriak Arya dari udara, membuat pasukannya terkejut dan melompat mundur menjauhi lawan.

"Pukulan Gada Buda! Tendangan Sabit Bulan!"

Seketika dari kedua tinjunya menderu angin yang sangat kuat dan panas. Begitu juga dari tendangan kakinya, melayang larikan sinar hijau yang cukup terang dan besar di tengah suasana temaram.

BLARRRR! BLARRRR!

Arya terus berputar sembari melepaskan pukulan dan tendangan jarak jauh dari udara hingga pasukan musuh terpental satu per satu. Bahkan Patih Ngurai dan Macan Sendeng ikut terpental terkena serangan itu. Patih Gajah Oleng yang sedang melawan Macan Sendeng segera berhambur membantu Ki Joko Lawe yang kewalahan melawan Biksu Tapak Maut. Perseteruan antara Ki Joko Lawe yang menggunakan tongkat ditambah Patih Gajah Oleng dengan parang besarnya membuat Biksu Tapak Maut semakin waspada dan mengerahkan segenap kemampuannya. Sekarang bukan lagi ambisi untuk memenangkan pertempuran, melainkan usaha untuk mempertahankan napas dari serangan kedua pendekar tersebut.

Patih Wilyatikta tersurut beberapa langkah saat menahan pukulan jarak jauh Arya dengan tongkatnya. Saat sudah berhasil berdiri sempurna, tanpa dia sadari, gada Patih Gema Langit menghantam kepalanya. Namun, dia cepat mengelak ke samping saat Ronggo Wengi membabatkan trisula kembar di kedua tangannya. Ronggo Wengi berhasil menumbangkan dua pendekar, namun di sela napas yang memburu, dia harus melawan Patih Gema Langit dengan keganasan gadanya.

Keganasan Arya dalam melancarkan pukulan dari udara semakin menjadi, apalagi tidak seorang pun yang mengganggunya. Hanya beberapa panah yang berseliweran di samping tubuhnya, bahkan ada pula yang terpental kembali dan merenggut nyawa si penyerang.

Tiba-tiba tubuhnya oleng dan menderu keras turun ke bawah. Secepat kilat dia bersalto guna menjaga keseimbangan tubuh agar tidak menghantam bumi dengan telak. Dia heran karena jurusnya tidak berfungsi lagi. Bahkan, setiap kali dia berusaha menggunakan jurus itu, dia justru semakin cepat tersedot oleh sebuah kekuatan yang sangat besar. Dia pun menginjakkan kaki di tanah dengan waspada, lalu menendang tiga orang prajurit yang hendak menyerangnya.

Kini dia tahu siapa yang membuat jurusnya tidak berfungsi: seorang bocah berusia sepuluh tahun yang memusatkan kedua tangannya seperti orang menarik benang layangan padanya. Arya juga terbelalak kaget melihat Golok Emas tergeletak tidak berdaya di samping bocah itu.

"Hehehehe, ternyata kau memiliki jurus Cakra Ngambang yang sudah lama punah, Anak Muda. Sebenarnya siapa gurumu?" Bocah itu tersenyum lucu, membuat Arya terbelalak. Dia yakin sosok di depannya adalah Bocah Setan Tua. Bukan hanya bisa mementahkan jurusnya, bocah itu juga mengenal jurus yang Arya sendiri tidak tahu namanya.

"Cakra Ngambang?" tanya Arya.

"Jurus aneh milik Setan Akhirat. Apakah kau keturunannya, Anak Muda? Tapi kenapa kau membantu aliran putih?" bentak Bocah Setan Tua.

Arya teringat pada pemberi jurus yang tanpa sengaja diterimanya di dasar jurang yang sangat dalam. Dia terjatuh ke sana ketika melarikan diri dari Padepokan Kyai Prana. Tiga hari tiga malam dia berada di dasar jurang tanpa tahu cara keluar. Saat rasa putus asa menghinggapi hatinya, tiba-tiba dinding jurang bergerak dan terdengar kekeh orang tua yang kaki dan tangannya menempel di dinding batu oleh akar kayu cendana. Ternyata kakek itu sudah puluhan tahun terpasung di sana oleh guru Kyai Prana ketika masih muda.

Ketika kakek itu tahu bahwa Arya telah membunuh Kyai Prana, dia sangat senang. Tiba-tiba tubuh Arya tersedot menempel ke tubuh si kakek, dan tanpa bisa ditolak, aliran tenaga dalam yang sangat hebat menembus seluruh urat-uratnya. Dia berteriak karena kepanasan dan rasa sakit bagaikan ribuan jarum masuk ke tubuhnya. Penyaluran tenaga dalam itu berlangsung selama lima hari lima malam. Awalnya aliran tenaga dalam itu begitu menyiksa, namun lambat laun menjadi sejuk dan dingin. Setelah menyalurkan seluruh hawa murninya, sang kakek tertawa puas dan kemudian meninggal di dinding batu tersebut. Baru setelah itu tubuh Arya terlepas.

Sehari semalam tubuhnya menggigil oleh tenaga dalam yang melimpah. Dia berusaha mengendalikan tenaga dalam itu. Setelah ledakan tenaga dalam besar yang dialirkan si kakek bisa dikontrol, ternyata tubuhnya menjadi ringan, bahkan bisa mengambang. Setelah menguburkan si kakek dengan layak, Arya keluar dari jurang tersebut dengan luapan tenaga dalam. Berkat tenaga dalam itu pula, dia bisa menyerap dengan mudah seluruh ilmu yang dipelajari dari beberapa tokoh.

Dari Bocah Setan Tua itulah dia tahu nama kakek yang memberikan tenaga dalam tersebut; ternyata berjuluk Setan Akhirat dari golongan sesat yang dipasung oleh guru Kyai Prana, yang juga merupakan guru Kyai Banjar Banyu Bening. Dari bocah itu pula dia tahu nama jurus Cakra Ngambang yang dikuasainya. Arya menatap Bocah Setan Tua dengan tajam. Jika bocah itu tahu pemilik jurus Cakra Ngambang dan bisa mementahkannya, tentu usianya setara dengan Setan Akhirat.

"Tubuhmu saja yang kecil, Kakek Tua. Kau sudah tidak pantas ada di dunia ini. Dunia ini sudah milik pemuda seperti aku," ledek Arya.

"Hahahaha! Besar juga mulutmu, Anak Muda. Sama seperti gurumu, Setan Akhirat, yang ternyata kalah di tangan Ki Ambarawa," sahut Bocah Setan Tua sembari mencibir sambil menepuk-nepuk pantatnya.

Satu informasi lagi ditangkap Arya, bahwa guru Kyai Prana dan Kyai Banjar bernama Ki Ambarawa.

"Sudahlah, Bocah. Malam telah tiba, lebih baik kau tidur saja, nanti dimarahi ibumu! Atau dijewer nenekmu itu!" Arya semakin meledek sambil menunjuk Nenek Peniup Dupa yang sedang meladeni serbuan Bintang Kusuma dan Kirana setelah Jala dan Jalu tumbang. Sementara itu, Banjar Kalianget membantu Kyai Koneng menggempur Datuk Pengemis Nyawa, dan Layan Kusuma bertempur melawan Mandala.

Mendapat ledekan Arya, Bocah Setan Tua terbakar emosi juga. "Dia istriku, tahu! Walau kami tidak menikah!" bentak Bocah Setan Tua, membuat Arya terbelalak kaget.

"Hahahaha! Bocah dekil kawin dengan nenek peot? Suatu pasangan yang serasi! Hahahaha!" Arya tergelak, membuat wajah Bocah Setan Tua memerah, begitu juga Nenek Peniup Dupa. Namun, sang nenek tidak bisa berbuat apa-apa melawan dua penyerang yang sangat hebat. Nenek Peniup Dupa tersentak kaget.

"Hehehehe, tidak aku sangka, sekian lama mengasingkan diri, ternyata di dunia persilatan bermunculan tokoh muda yang hebat," seringainya sambil mencabut Cakram Bintang—senjata rahasia Bintang Kusuma—dari lengannya. Kirana dan Bintang Kusuma mengatur napas mereka yang memburu. Kekompakan serangan mereka sudah terjalin sejak melawan Si Buta Sadis.

Bocah Setan Tua menggeram sangat hebat hendak menyerang Arya. "Bocah Setan Tua! Kita mundur!" teriak Nenek Peniup Dupa sembari berkelebat menjauhi Kirana dan Bintang Kusuma. Melihat istrinya melompat menjauh, Bocah Setan Tua pun melakukan hal yang sama.

"Awas kau, Anak Muda!" teriak Bocah Setan Tua seraya mengibaskan tangannya ke depan. "Pedang Akhirat!"

"Awas!" Kirana terpekik melihat kilatan cahaya berwarna merah berbentuk pedang besar menderu ke arah Arya yang sedang tidak siap.

Mendengar teriakan Kirana, Arya tergagap melihat cahaya merah menyala berbentuk pedang menderu ke arahnya. Dia tidak akan sempat menghindar maupun mengumpulkan tenaga dalamnya guna menangkis. Secepat kilat ditariknya Tongkat Cendana yang terselip di pinggangnya untuk menghalangi serangan itu.

TRAAAAANNGG! CAASSSS! CAASSSS!

Sungguh dahsyat serangan Bocah Setan Tua. Bagaikan pedang tajam dan kuat menghantam senjata Arya. Arya terseret ke belakang dan kakinya menembus tanah guna menghentikan gerakan, namun dia terus terdorong hingga beberapa pohon sebesar paha orang dewasa tumbang dihantam punggungnya. Gerakan itu melambat seiring menghilangnya sinar kemerahan di senjatanya.

Senjata Arya yang sekuat baja tergores cukup dalam. Arya jatuh terduduk menahan sesak di dadanya. Darah segar keluar dari ujung bibirnya. Mantel yang dikenakannya compang-camping karena tersangkut pepohonan, dan punggungnya pun terasa sakit. Sekitar tiga tombak di depannya, terlihat dua garis tanah yang cukup dalam hingga ke ujung kakinya.

Dia berusaha mengalirkan hawa murni guna menyembuhkan luka dalam. Dia bergidik ngeri membayangkan jika Kirana tidak memperingatkannya. Serangan mendadak itu membuatnya tidak bisa mengeluarkan tenaga dalam secara maksimal hingga dia terluka.

"Kau tidak apa-apa, Kang?" Kirana bertanya khawatir, menghampirinya bersama Bintang Kusuma.

"Tidak apa-apa..."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment