Halo!

Dewa Iblis - Chapter 31

Memuat...
Dewa Iblis

Chapter 31

Setelah dirasa aliran darah kembali normal, Bintang Kusuma geram dan hendak membantu Kyai Koneng dan Banjar Kalianget yang kewalahan melawan Iblis Tua. Namun, Arya menahan mereka, "Kalian bantu pasukan yang lain, biar aku yang membantu Kyai Koneng." Arya melihat tubuh Bintang Kusuma dan Kirana yang penuh dengan luka dan lebam, "Kalian juga terluka, cepat bantu pasukan yang lain."

Kirana dan Bintang Kusuma tidak bisa menolak karena Arya adalah pimpinan mereka. Kirana masih sempat menoleh dengan khawatir, tetapi Arya tersenyum untuk menyakinkannya. Kesaktian Datuk Pengemis Nyawa yang dia lihat sekarang jauh berbeda dengan Datuk Pengemis Nyawa yang terbunuh di Rawa Lintah. Kyai Koneng dan Banjar Kalianget terdesak hebat oleh gempuran tangan kaki serta tongkat Jati Kayu Jati yang sedikit mengepulkan asap kehitaman.

Tapi jurus Datuk Peniup Dupa yang baru pulih berkat meminum darah perawan benar-benar menakutkan. Kaki dan tangannya menderu hebat mengeluarkan bau sangit yang menyesakkan, begitu juga tongkatnya. Kyai Koneng dan Banjar Kalianget banyak mengalami luka di beberapa bagian tubuhnya, namun mereka tetap gigih melawan Datuk Pengemis Nyawa yang menyeringai senang melihat lawannya kewalahan.

Walau tampak di wajahnya kehawatiran karena dua tokoh paling diandalkan melarikan diri mundur dari pertempuran, dia tahu jika ilmunya tinggi, namun di tengah gempuran pasukan pendekar di beberapa tempat yang menguasai peperangan bisa jadi malah mengeroyoknya. Kyai Koneng dan Banjar tersurut dua langkah menerima kibasan hebat tongkat Datuk Pengemis Nyawa, "RACUN SELAKSA!" Teriak Arya melompat mengibaskan tongkat Cendananya, larikan sinar berjumlah ratusan seperti jarum berwarna merah menerjang Datuk Pengemis Nyawa.

Pengemis Nyawa tersentak cepat-cepat memutar tongkat menangkis seluruh serangan Arya. Kyai Koneng terkejut bukan main, dia telah membasuh pengaruh racun di tongkat itu, tapi Arya masih bisa mengeluarkan racun berbentuk larikan sinar mematikan dari tongkat yang diyakini Kyai Koneng telah hampa racun. Tapi dia sadar, itu bukan racun biasa, tapi sebuah jurus yang mempunyai pengaruh seperti racun sehingga bernama Jurus Racun Selaksa.

Pengemis Nyawa mencium harum itu cepat-cepat menotok jalan nafasnya, karena menyangka racun. Melihat Pengemis Nyawa tergagap berusaha menyeka uap racun, Arya tidak tinggal diam, disodokkannya tongkat kayu cendana ke perut Pengemis Nyawa. Pengemis Nyawa surut dua langkah ketika serangan itu telak menghantam perutnya. Arya berdiri di depan Kyai Koneng dan Banjar Kalianget menatap dengan telak Pengemis Nyawa.

"Arya?" Pekik Kyai Koneng khawatir, jika sikap kalap Arya bangkit kembali saat berhadapan dengan musuh bebuyutannya itu. "Tenang saja Kyai, saya tidak akan membunuhnya, saya akan ringkus untuk diserahkan pada Kerajaan Pajajaran," jawab Arya untuk menghilangkan kehawatiran guru spiritualnya itu. "Kyai dan Kang Banjar bantu yang lain, suasana sudah gelap, tidak mungkin jika pasukan berperang lagi," perintah Arya.

Mereka hanya mengangguk lalu berkelebat membantu lainnya, kini dia bisa dengan leluasa menghadapi Pengemis Nyawa. Suasana sudah benar-benar gelap di berbagai tempat, hanya bulan kecil yang mengintip di cakrawala, kecuali arena pertempuran itu, karena banyak kayu-kayu terbakar terkena jurus beberapa pendekar, hingga pertempuran mereka tidak terhalang.

Gempuran Pasukan Pendekar semakin menjadi ketika banyak tokoh sakti kelompoknya datang membantu. Biksu Tapak Maut terpental hebat saat serangan Kyai Koneng menghantap punggungnya. Ki Joko Lawe dan Gajah Oleng tidak selesai ketika Biksu Tapak Maut tumbang, mereka berkelebat bersama Kyai Koneng menghantam musuh yang tersisa.

Parit Ganjar dan Mahesa Kurawan berhasil dibekuk, bersama Bimaskara dan Saudagar Peteng. Macan Sendeng harus meninggalkan nyawanya bersama beberapa anak buahnya, begitu juga Patih Wilyatikta yang pecah kepalanya terhantam Gada Gema Langit. Adipati Layan Kusuma remuk kepalanya namun masih hidup. Ronggo Wengi menghilang bersama beberapa sisa pasukan Ambangan yang lari terbirit-birit.

Beberapa pasukan Pajajaran yang hanya menyaksikan di samping kini berhambur dengan girang ke tengah medan perang memungut sisa peninggalan musuh dan menolong semua pasukan yang terluka juga membawa pasukan yang mati. Bantuan Kaum pendekar benar-benar punya pengaruh besar, bahkan dari Pasukan Pendekar yang meninggal dunia hanya sepuluh orang, di antaranya Golok Emas, yang lain hanya terluka.

Saat semua pasukan sibuk berebut sisa perang dan juga menolong pasukan yang terluka, para Pendekar tanpa merasa sakit terhadap lukanya membuat pagar betis menyaksikan pertempuran sangat hebat dua pendekar di kejauhan. Mereka tidak membuat gerakan, karena Kyai Koneng menghalanginya, dan pasti akan bertindak jika terjadi apa-apa pada Arya.

Bahkan Patih Gema Langit memerintahkan sisa pasukan Jalayuda bersiap dengan panahnya, Pasukan elit yang terkenal paling mahir menggunakan Panah dan formasi perang. Pasukan Pendekar dan juga Pasukan Kerajaan tidak ada yang berani mendekati arena pertempuran dua pendekar yang menciptakan gempa dan taufan di kejauhan.

Kilat-kilat dan lentingan tubuh begitu cepat silih berganti bertahan dan menyerang, bahkan hanya orang berilmu tinggi yang bisa menyaksikan pertempuran itu. Pendekar kelas rendah apalagi prajurit kerajaan melihatnya hanya sebuah bayangan berkelebat cepat dan kilatan-kilatan cahaya yang menciptakan ledakan dahsyat.

Beberapa kali Arya melepaskan Jurus Gada Buda, Sabit Bulan, dan Beliung Samudra, juga tak jarang melepas Jurus Racun Selaksa, namun musuhnya bisa bertahan dengan hebat. Dewa Iblis maupun Pengemis Nyawa sama-sama mengatur nafasnya yang memburu. "Aku tahu nafasku tidak bisa diselamatkan, karena teman-temanmu di sana telah menunggu menyerang, tapi aku harus membunuhmu pula?" bentak Pengemis Nyawa dengan nafas memburu, pakaiannya telah copong-camping terkena serangan Arya.

Dia tidak bisa menggunakan Jurus Pencabut Nyawa yang bisa menyedot organ dalam musuhnya, karena dia tahu Arya memiliki tenaga dalam sangat tinggi, dia pasti bisa bertahan begitu lama, dan saat itu dia tidak bisa melepas jurusnya jika pendekar lain menyerang. Arya juga mengatur nafasnya, sangat jelas bekas pukulan Bocah Setan Tua masih berpengaruh di tubuhnya, walau tak ada serangan Pengemis Nyawa yang mengenainya, darah segar mengalir di mulutnya oleh luka dalam yang semakin parah.

"Sekarang kau lihat dengan jelas, orang yang keluarganya telah kau bantai, baru aku saja yang mengharap nafasmu, bagaimana jika yang lain juga menuntut yang sama, nyawamu tentu tidak akan cukup," cibir Arya sambil menyeka darah di bibirnya. "Mulutmu sangat besar anak muda, kau tidak tahu dengan siapa berhadapan, kesaktianku sedang dipuncaknya karena baru saja melakukan upacara Bedah Bumi, dan biar kau lihat apa yang aku maksud itu?" bentak Pengemis Nyawa.

Tiba-tiba Pengemis Nyawa berteriak hebat menghadap ke atas, tubuhnya yang bungkuk tegak, Tongkat yang dia pegang jatuh. Seketika angin menghempas keras di sekitar tubuh Pengemis Nyawa hingga Arya harus sedikit melindungi matanya oleh debu yang bertebaran. Mata Arya terbelalak menyaksikan perubahan bentuk tubuh Pengemis Nyawa.

Urat-uratnya menegang dan membesar seperti kayu rotan, lengannya yang kurus membesar, paha dan kakinya juga tubuhnya berisi padat hingga pakaian yang dikenakan robek. Hanya kepala yang tetap Pengemis Nyawa. Kini Arya bisa melihat dengan nyata, tubuh Pengemis Nyawa kekar dengan otot-otot besar seperti kayu rotan, Pengemis Nyawa menyeringai menakutkan menatap Arya penuh amarah.

Semua yang melihat tersentak kaget, karena baru kali ini melihat perubahan bentuk tubuh Pengemis Nyawa yang mengerikan. "Apa bedanya tubuhmu sekarang dan yang tadi pengemis jelek?" ledak Arya membuat Pengemis Nyawa semakin geram. "Kau ingin tahu?" sambut ini? Weeeeeesssss... BUUUUUUKKKKKKKK! Tubuh Arya terpental seketika, dengan susah payah dia menahan laju lontaran tubuhnya dan hingga di tanah memegang dada yang terasa remuk.

Kini pengemis Nyawa menyeringai puas di tempat Arya semula berdiri. Arya tidak bisa menangkap kelebatan Pengemis Nyawa, dia benar-benar cepat, Arya menyeka darah yang semakin banyak keluar di mulutnya. Arya melompat, "SABIT BULAN...!" teriaknya melepas tendangan jarak jauh, seketika larikan cahaya seperti bulan sabit berwarna kebiruan sebesar tiga depa orang dewasa menderu ke tubuh Pengemis Nyawa.

Pengemis Nyawa hanya menyeringai tetap di tempatnya. TANGGGGGG... Dengan tenang Pengemis Nyawa menangkis serangan itu menggunakan lengan besarnya hingga terpental menghantam kayu besar. Arya terbelalak kaget, begitu mudahnya musuh menangkis serangan mautnya itu. "Gada Buda...!" Arya melepas pukulan berupa angin padat menderu ke tubuh Pengemis Nyawa, lagi-lagi Pengemis Nyawa hanya mengibaskan sebelah lengannya menghalang serangan Arya.

Belum puas keterkejutan Arya, kini dia kirimkan Beliung Samudra, berupa hembusan angin sangat kuat hingga beberapa benda yang ada di hadapannya terpental, namun Pengemis Nyawa hanya silangkan kedua lengan di depan tubuh, dan tidak bergeming sedikit pun oleh deruan taufan itu, membuat Arya semakin terbelalak. "Sudah seranganmu!" bentak Pengemis Nyawa.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment