Halo!

Dewa Iblis - Chapter 32

Memuat...
Dewa Iblis

Chapter 32

"Blarrr!" Lagi-lagi tubuh Arya terpental jauh dihantam oleh tubuh Pengemis Nyawa yang bergerak sangat cepat. Arya berusaha bangkit. "Blarrr!" Kembali tubuh Arya terpental jauh.

Pengemis Nyawa terkekeh puas melihat musuhnya tidak bisa berbuat apa-apa, seolah menjadi permainan kucing-kucingan bagi serangannya. Pasukan Jalayuda melepaskan panah ke arah Pengemis Nyawa. Alih-alih menghindar, ia membiarkan panah-panah itu dihantamkan ke tubuhnya yang kebal. Ia hanya menangkap beberapa panah yang lewat di atas kepalanya, lalu mengembalikannya kepada mereka. Seketika, beberapa anggota Pasukan Jalayuda terjungkal terkena panah yang dikembalikan oleh Pengemis Nyawa.

Semua mata bergidik ngeri, bahkan takut untuk turut membantu Dewa Iblis mengalahkan Pengemis Nyawa. Arya berusaha bangkit sambil menahan rasa sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya.

"Arya! Serang kepalanya!" teriak Mahesa yang berada di barisan prajurit.

"Bangsat!" teriak Pengemis Nyawa sembari melepaskan pukulan jarak jauh ke arah Mahesa. Semua orang terkejut, tidak menyangka jika Mahesa akan diserang. "Blarrr!" Tubuh Mahesa terjungkal jauh hingga menghantam tembok benteng, lalu merosot kaku meregang nyawa seketika.

Kiai Koneng dan yang lainnya berhambur menangkap tubuh Mahesa. Arya terbelalak nanar melihat nasib temannya itu. Ternyata benar apa yang disampaikan Mahesa; hanya kepala Pengemis Nyawa yang tidak berubah. Bahkan ketika ada serangan panah, Pengemis Nyawa seolah hanya melindungi bagian kepalanya saja.

Pengemis Nyawa tersenyum sinis melihat nasib Mahesa. Tiba-tiba ia tersentak ketika merasakan hawa panas dari sampingnya. Sebuah larikan cahaya berbentuk bulan sabit yang cukup besar menderu ke arahnya. Ia hanya tersenyum sembari mengibaskan tangan, namun ia heran karena tidak melihat sosok penyerangnya.

Ternyata tubuh Arya melayang di udara. "Racun Selaksa!" teriak Arya. Ratusan sinar sebesar jarum menderu cepat susul-menyusul, membuat Pengemis Nyawa kelabakan. Karena tangan kanannya sedang menangkis jurus Sabit Bulan, ia hanya bisa menggunakan tangan kiri untuk mengibas serangan ratusan cahaya berbentuk jarum tersebut.

"Crasss! Srasss! Crasss!" Walaupun beberapa jarum berhasil dipentalkan, tak pelak jarum-jarum lain telak menusuk wajahnya yang tengah mendongak. Wajah itu terasa seperti tertusuk jarum yang sangat panas, bahkan mata kirinya pecah. Pengemis Nyawa berteriak hebat seiring tubuhnya yang mengempis kembali ke bentuk semula.

"Jurus Pencabut Nyawa!" teriak Pengemis Nyawa sembari mengarahkan tangannya pada Arya yang masih mengambang. Arya tidak menyangka jika Pengemis Nyawa akan menggunakan jurus mautnya itu. Tak pelak, tubuhnya terlonjak seketika. Isi dadanya seolah tersedot keluar dengan cepat. Ia tidak kuat menahan serangan itu hingga jatuh terjungkal ke tanah. Darah segar muncrat dari mulutnya.

"Serang!" teriak Kiai Koneng memberi komando pada puluhan pendekar dan petinggi kerajaan. Serempak mereka berhambur cepat menuju Pengemis Nyawa yang masih belum melepaskan jurusnya pada Arya. Tak ayal, para pendekar dan petinggi kerajaan membantai tubuh Pengemis Nyawa hingga luluh lantak tidak berbekas dan mati mengenaskan.

Sementara itu, Arya telentang dengan napas memburu di tanah. Matanya menatap langit yang penuh bintang, tubuhnya kaku dengan darah segar mengalir dari mulutnya. "Arya!" teriak beberapa pendekar dan juga Kirana yang meneteskan air mata melihat nasib pujaannya.

Kiai Koneng yang melihat hal itu segera mengibaskan tangan kepada beberapa pendekar yang mengerumuni Arya. Hal itu membuat mereka terkejut, namun mereka membiarkan saja apa yang dilakukan Kiai Koneng. Kiai Koneng mengangkat tubuh Arya hingga duduk. "Pegang tubuhnya agar tidak jatuh!" perintah Kiai Koneng.

Dua orang yang berada di sebelah Arya memegangnya. Kiai Koneng bersila di belakang Arya dan menempelkan kedua tangannya pada punggung pemuda itu. Pendekar yang lain tersentak dan mengerti apa yang dilakukan Kiai Koneng. Mereka pun dengan cepat bersila dan menempelkan tangan ke punggung Kiai Koneng, sementara yang lain menempelkan tangan ke punggung orang di depannya. Hawa sejuk keluar dari telapak tangan sekian banyak pendekar, mengalir melewati tubuh pendekar lainnya hingga bermuara di tubuh Arya.

Kirana hanya menyeka darah yang keluar dari mulut Arya dengan linangan air mata. "Ugh!" Arya memuntahkan beberapa gumpalan darah beku sebesar jempol tangan hingga napasnya kembali normal. Ia pun bersila dan merapalkan mantra, menerima aliran hawa murni dari para pendekar.

"Sudah cukup!" pinta Arya.

"Tapi lukamu sangat parah!" ujar Kirana.

"Kalau tenagaku masih ada dan aku dalam keadaan sadar, tenaga dalamku tidak hanya menyedot hawa murni, tetapi juga tenaga dalam lainnya," terang Arya.

Hal itu membuat yang lain terkejut dan segera menghentikan kiriman hawa murni. Pantas saja mereka merasa ada hawa lain yang menyedot tenaga dalam mereka secara samar.

"Itu Hawa Penyedot Setan Akhirat!" pekik Kiai Koneng. Namun Arya tidak menanggapinya; ia tetap memusatkan tenaga dalam untuk memulihkan kondisinya.

"Siapa Setan Akhirat itu, Kiai?" tanya Bintang Kusuma.

"Tokoh sesat sakti mandraguna yang tidak bisa dikalahkan pada zamannya, dan tidak bisa mati sebelum tenaga dalamnya dikirim pada orang lain. Namun, setahuku, Setan Akhirat berhasil dijebak oleh guru Kiai Banjar dan dipasung di suatu tempat yang tidak diketahui siapa pun. Jika Arya memiliki Hawa Penyedot milik Setan Akhirat, berarti...?" Semua mata terbelalak melihat sosok pemuda yang kini masih memulihkan tenaganya itu.

"Pantas saja ia dua kali terkena jurus Penyedot Nyawa namun tubuhnya tetap bisa bertahan dan cepat pulih!" pekik Kiai Koneng, merasa semakin terkejut pada sosok yang masih duduk bersila itu.

"Beruntung Dewa Iblis telah menjadi orang baik dan berada di pihak kita. Kalau tidak..." bincang pendekar lainnya. Mereka pun berbincang hangat tentang sosok Dewa Iblis yang mereka kagumi, apalagi ketika Bintang Kusuma turut serta bercerita.

"Aku selalu melihat jurus yang berbeda setiap kali ia mengalahkan musuh. Waktu di Rawa Lintah, ia mengalahkan Biksu Ling Pau dengan jurus Gada Buddha. Lalu ia mengalahkan Pendekar Kelelawar Hitam dengan jurus Beliung Samudra. Begitu juga ketika di Bukit Gembala, ia mengalahkan Nyi Pelet Peteng dengan jurus Sabit Bulan. Barusan, aku melihat jurus lain lagi untuk mengalahkan Pengemis Nyawa, yaitu jurus Racun Selaksa. Entah ia masih memiliki jurus simpanan apa lagi, yang jelas sangat hebat," cerita Bintang Kusuma yang membuat mereka semakin asyik memperbincangkan Dewa Iblis daripada hasil perang yang telah mereka lalui.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment