Halo!

Dewa Naga - Chapter 02

Memuat...
Dewa Naga

Chapter 02

Berikut adalah teks novel yang sudah dibersihkan dan disesuaikan dengan EYD:

Tapak Maut tidak mengetahui bahwa ilmu Jubah Maut dapat digunakan untuk membalikkan serangan kepada pemiliknya. Dengan ilmu itu, Bayu dapat membalikkan serangan sebesar yang datang atau bahkan lebih besar. Akan tetapi, tadi Bayu tidak ingin membunuh lawan tanpa alasan kuat.

Dengan menahan rasa sakit, Tapak Maut meninggalkan tempat itu sambil berkata, "Bocah, anggap ini nasib baikmu. Akan tetapi, jika bertemu lagi, aku akan mencincangmu!"

"Akan kutunggu kesempatan itu, Tapak Maut," ujarnya dengan tenang sambil melangkah ke arah gadis yang terus memandanginya dengan penuh kekaguman.

"Bagaimana keadaanmu, Nona?" tanya Bayu.

"Aku hanya terluka ringan. Jika aku beristirahat sejenak, pasti akan sembuh."

"Baiklah kalau begitu, sekarang istirahatlah dulu. Aku akan menemanimu di sini."

"Terima kasih."

Setelah berkata begitu, gadis itu segera bersemedi untuk memulihkan luka-lukanya akibat pertempuran tadi. Bayu segera mencari tempat untuk duduk sejenak. Sambil memandang sekitar, ia memutuskan untuk beristirahat di bawah pohon yang letaknya tidak jauh dari tempat gadis itu.

Sambil memandangi gadis itu, Bayu bergumam seorang diri, "Semoga saja luka dalamnya cepat sembuh."

Tidak berapa lama kemudian, gadis itu selesai bersemedi dan badannya sudah sembuh. Kemudian, ia duduk di sampingnya dan berkata, "Terima kasih, tadi kau menolongku. Entah bagaimana nasibku sekarang."

"Itu sudah menjadi kewajibanku untuk menolong sesama. Kalau boleh tahu, siapa Nona ini dan mengapa sampai bertempur dengan lelaki itu?"

"Aku bernama Sekar Ayu, aku berasal dari Perguruan Macan Sakti," ujarnya sambil menghela napas. "Dan sebab aku bertempur, tadi sewaktu di kedai sebelum kau masuk, lelaki itu menggodaku dengan kata-kata kotor. Kemudian aku marah dan kutampar dia. Mungkin dia sakit hati. Ketika aku selesai makan, aku melewati tempat ini dan bertemu dengannya. Kelanjutannya pasti kau mengerti."

Dengan tarikan napas panjang, Bayu berkata, "Kenapa kau hanya sendiri? Itu sangat berbahaya, apalagi kau seorang gadis. Pasti banyak penjahat yang terpesona melihat wajahmu yang cantik."

Sekar Ayu yang mendengar pujian Bayu tadi, hatinya gembira sekali. Setiap gadis pasti akan senang jika dipuji oleh pria, apalagi pria seperti Bayu yang tampan dan berilmu tinggi.

"Aku sedang melaksanakan tugas dari perguruanku." Sekar Ayu berkata, "Perguruanku saat ini akan kedatangan Lima Setan yang terkenal keganasannya. Banyak tokoh dari golongan putih yang ingin membasminya, tetapi semuanya gagal dan mereka semua terbunuh. Bulan kemarin kami kedatangan seseorang yang mengaku utusan Lima Setan yang mengatakan bahwa dua bulan lagi mereka akan datang dan akan menghancurkan Perguruan Macan Sakti," kata Sekar Ayu sambil bersedih.

"Apakah gurumu tidak mampu menandinginya?" tanya Bayu.

"Guruku saat ini sedang menderita sakit. Mungkin jika sehat, guruku dapat melawannya. Maka, kami berunding untuk meminta tolong kepada pendekar untuk membantu kami menghadapi Lima Setan itu."

"Aku harus membantu Sekar Ayu sampai tuntas," batin Bayu.

"Sekar, aku akan membantumu," kata Bayu dengan mantap.

"Benarkah itu?" Sekar menatap Bayu dengan gembira, akan tetapi sesaat kemudian ia murung. "Tapi jika engkau sampai terbunuh oleh Lima Setan, pasti aku akan menyesal, Bayu!"

"Hidup dan mati manusia itu tergantung pada Tuhan. Seandainya nanti aku mati, aku akan menerima dengan tabah, Sekar."

"Baiklah kalau begitu, Bayu, aku tidak akan memaksamu," kata Sekar Ayu sambil menghela napas panjang.

"Masih ada setengah bulan lagi sebelum Lima Setan itu datang. Di mana letak perguruanmu itu, Sekar?"

"Di lereng Gunung Wilis, Bayu."

"Baiklah kalau begitu, mari kita berangkat. Tidak usah tergesa-gesa karena masih banyak waktu."

"Baiklah, aku menurut saja."

Keduanya pun mulai melakukan perjalanan menuju Gunung Wilis, tempat Perguruan Macan Sakti berada. Di sepanjang perjalanan mereka menikmati keindahan alam. Bayu dan Sekar bagaikan sepasang kekasih yang sangat serasi, meskipun mereka masih ingat akan kesopanan. Di dalam hati, Bayu menganggap Sekar Ayu adalah gadis yang cantik, polos, dan riang, meskipun dalam hatinya ia belum berpikir untuk mempunyai seorang kekasih. Tapi di mata Sekar Ayu, Bayu adalah pemuda yang sangat istimewa. Ia sangat mengharapkan bisa berada di samping Bayu selamanya dan akan berkorban apa saja demi Bayu, pemuda yang amat baik kepadanya.

Langit biru yang indah diselingi awan-awan putih yang bergerak beriringan menghiasi langit di atas Gunung Wilis. Di lereng gunung itu berdiri sebuah perguruan yang cukup besar. Perguruan itu bernama Perguruan Macan Sakti yang dipimpin oleh Ki Sanjaya atau dikenal dengan julukan Macan Sakti. Ki Sanjaya telah berumur tujuh puluhan tahun dan hanya mempunyai seorang anak perempuan yang bernama Rara Wulan. Rara Wulan berumur tujuh belas tahun, seorang gadis yang sangat cantik, lincah, dan keras kepala. Ibunya sudah lama meninggal. Sejak kecil ia sudah berlatih ilmu kanuragan dan dalam usia itu, Rara Wulan telah menguasai seluruh ilmu ayahnya. Apalagi Ilmu Macan Terbang yang membuat ayahnya terkenal telah ia kuasai dengan sempurna, hanya kurang tenaga dalam dan pengalaman saja.

Ki Sanjaya mempunyai murid sekitar lima puluhan. Murid yang tertua bernama Sima Lodra yang berumur tiga puluh lima tahun. Sima Lodra inilah yang memegang semua urusan selama gurunya sakit. Memang sejak lama Ki Sanjaya berniat menyerahkan jabatan ketua kepada Sima Lodra. Ia dan istrinya, yang bernama, merupakan murid yang paling tua. Semua orang di dalam perguruan itu dihantui rasa cemas karena akan kedatangan datuk hitam yang menakutkan, yaitu Lima Setan. Apalagi, gurunya sedang sakit. Di salah satu rumah yang berada di dalam perguruan itu, Sima Lodra dan istrinya tinggal.

"Nimas, semoga saja kita dapat bantuan dari pendekar untuk menghadapi iblis itu," ujarnya.

"Ya, Kang, semoga saja. Tapi bagaimanapun kita berusaha sekuat tenaga menghadapi masalah ini, hanya Tuhan yang bisa mengetahuinya."

"Benar, Nimas. Sudahlah, mari kita tidur. Malam sudah terlalu larut."

Pagi hari di Perguruan Macan Sakti, semua penghuni melakukan kewajibannya masing-masing, begitu juga Rara Wulan, putri satu-satunya Ki Sanjaya. Rara Wulan sangat rajin merawat ayahnya yang sedang sakit. Segala upaya telah ia lakukan untuk mengobati ayahnya, akan tetapi semuanya gagal. Sudah dua bulan Ki Sanjaya menderita sakit, tidak seorang pun tahu dia menderita sakit apa. Rara berjalan ke dalam bilik tempat ayahnya berbaring dengan membawa bubur hangat karena selama ayahnya sakit hanya makan bubur saja.

"Ayah, bagaimana keadaanmu?"

"Anakku, aku semakin lama semakin payah. Jika aku tidak segera dapat mengetahui aku menderita sakit apa, mungkin aku akan mati, anakku," kata Ki Sanjaya dengan napas terengah-engah dan menahan rasa sakit yang sangat.

Rara Wulan tidak sanggup menahan air matanya dan berkata, "Ayah, jangan kau menyerah! Aku akan berusaha sekuat mungkin untuk mencari obat agar Ayah bisa sembuh!"

"Rara, mungkin saat kedatangan Lima Setan nanti adalah pertempuran terakhirku, karena bagaimanapun aku harus melindungi perguruan ini dari iblis-iblis itu."

"Soal itu, Ayah tidak usah turun tangan. Kami sudah mencari bantuan untuk menghadapinya," katanya sambil menyeka air mata di pelupuk.

"Tidak, Rara, Ayah akan tetap menghadapinya."

"Ayah, seandainya dalam pertempuran nanti Ayah terbunuh, Rara akan sendirian di dunia ini. Hanya Ayah yang kupunyai."

"Aku pun begitu, Rara. Tapi kita sebagai manusia hanya dapat berusaha karena Tuhanlah yang menentukan semuanya."

"Sudahlah, Ayah, makanlah dulu selagi masih hangat. Masalah yang lain tidak usah dipikir, biarlah kami yang memikirkannya."

Dengan penuh kesabaran, Rara menyuapi makanan ke mulut ayahnya sambil menahan air matanya agar tidak menetes. Tidak berapa lama, akhirnya bubur itu pun habis.

"Ayah, beristirahatlah baik-baik. Aku akan melihat-lihat keadaan."

"Baiklah, Rara, berhati-hatilah," kata ayahnya.

"Baiklah, Ayah," sambil ia bangkit dan menjinjing bekas makanan yang telah habis. Ia menghela napas saat keluar dari kamar ayahnya. "Ayah, aku tidak ingin kau pergi meninggalkanku," batinnya dengan pedih.

Dengan wajah murung, Rara melangkah melihat keadaan di perguruan itu. Para murid yang melihat Rara kagum akan kecantikan putri gurunya, akan tetapi tidak seorang pun berani mendekatinya. Setelah puas berkeliling, Rara pun pergi ke sebuah telaga di belakang perguruan. Di situ ia berada jika hatinya sedang sedih. Ia berjalan ke sebuah batu besar tempat ia duduk dan melamun memikirkan ayahnya, "Semoga saja semuanya dapat terlewati dengan baik tanpa aku harus kehilangan Ayah dan perguruanku." Ditatapnya sekeliling danau yang sangat indah pemandangannya.

Setelah matahari agak tinggi, ia pun kembali ke Ayahnya. Di tengah jalan, ia bertemu dengan Ranggawuni, adik seperguruan Sima Lodra.

"Kakang, bagaimana dengan upaya kita mencari bantuan?" tanyanya dengan sungguh-sungguh.

Sambil menarik napas panjang, Ranggawuni berkata, "Sampai saat ini belum ada seorang pun yang dapat membantu kita. Semoga sebelum Lima Iblis datang, bantuan sudah tiba."

"Semoga saja," ujar Rara.

"Sudahlah, aku mau menengok Ayah."

"Silakan, Rara, semoga Guru pun cepat sembuh agar dapat membantu mengatasi masalah ini."

"Semoga saja."

Rara pun melangkah memasuki perguruan dan menuju ke dalam rumah tempat Ayahnya. Saat ia masuk ke bilik, ternyata Ayahnya sedang tidur. Rara pun keluar agar tidak mengganggu istirahat Ayahnya dan melangkah menuju biliknya sendiri. Setelah masuk, Rara langsung merebahkan diri. Lambat laun, ia pun ikut tertidur.

Saat ia bangun, di depan perguruan ada seorang kakek tua berbaju putih. Kakek itu sangat tersohor akan kehebatannya dan ditakuti oleh kaum hitam karena sepak terjangnya yang mengerikan saat berhadapan dengan kaum hitam. Ia tanpa segan-segan membunuh kaum hitam dengan sangat ganas. Di kalangan persilatan, ia dikenal dengan nama Hantu Putih. Ia mendapat julukan ini karena kecepatan geraknya sangat hebat, bagaikan hantu, dan jarang ada yang dapat menandinginya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment