Chapter 03
Hantu Putih tidak punya tempat tinggal, sehingga sulit untuk mengetahui keberadaannya.
Penjaga di gerbang itu segera menyapa Hantu Putih dengan sopan, "Maaf, siapa kisanak ini dan apa keperluan Anda datang kemari?" Dengan wajah ramah, ia pun menjawab, "Aku Suto, aku datang kemari untuk bertemu dengan Sanjaya, gurumu."
"Maaf, akan tetapi guru kami sedang sakit. Mungkin kisanak bisa bertemu lain waktu."
"Katakan dulu kepada gurumu, karena aku datang jauh-jauh kemari hanya untuk bertemu dengannya."
"Kisanak jangan memaksa saya untuk berbuat kekerasan, lebih baik kisanak pergi dari sini," kata penjaga itu.
Kebetulan Rara melintas di depan gerbang dan melihat kakek itu sedang berbicara dengan penjaga. Dengan wajah gembira, ia segera berlari ke gerbang karena ia mengetahui siapa kakek itu.
"Eyang... Eyang!" teriak Rara.
Hantu Laut segera memandang ke arah suara dengan penuh heran.
"Eyang, apa kau lupa denganku? Aku Rara, Eyang, Rara!"
"Rara, cucuku, ternyata kau sudah besar. Sudah lebih dari sepuluh tahun aku tidak melihatmu. Ternyata kau cantik melebihi ibumu," kata Hantu Laut penuh kegirangan. Kemudian ia menoleh ke arah penjaga dan berkata, "Ia adalah ayah dari ayahku. Sudahlah, teruskan penjagaanmu."
Wajah penjaga itu pucat. Dengan terbata-bata ia berkata, "Kami... saya mohon maaf atas ketidaksopanan tadi kepada Eyang."
"Sudahlah, Ngger, aku mengerti akan tugasmu. Sudahlah, jangan engkau masukkan dalam hati. Teruskan tugasmu, aku akan masuk ke dalam bersama cucuku," kata Hantu Laut.
"Terima kasih, Eyang. Silakan."
Dan penjaga itu mundur, memberikan tempat agar Eyang Rara masuk ke dalam. Dengan wajah berseri-seri, Rara berkata, "Bagaimana Eyang bisa kemari dan dapat oleh-oleh apa?" tanya Rara dengan manja.
"Entahlah, cucuku. Tiba-tiba saja aku teringat akan ayahmu dan kau. Tentang oleh-oleh, aku tidak punya. Akan tetapi, sebagai gantinya aku akan menghadiahkan ilmu baru yang kusempurnakan untuk kau pelajari."
"Benarkah, Eyang?"
"Benar, Rara. Tapi kata penjaga tadi ayahmu sedang sakit. Sebetulnya ayahmu menderita apa?"
"Entahlah, Eyang. Sudah dua bulan Ayah sakit dan tidak tahu apa obatnya."
Kedua orang itu segera menuju ke dalam rumah tempat ayah Rara terbaring. Sesampainya di sana, Rara masuk lebih dahulu dan berkata kepada ayahnya, "Ayah, coba tebak siapa yang datang kemari?" Ki Sanjaya menatap heran wajah anak gadisnya itu.
"Entahlah, Rara, aku tidak tahu," kata ayahnya.
"Sebentar lagi Ayah pasti akan tahu. Aku akan memanggilnya masuk ke dalam."
Sesaat kemudian terdengar suara, "Ayah!"
Hantu Putih tersenyum melihat itu dan berkata, "Sudahlah, Sanjaya, tidak usah kau bangun. Berbaringlah agar sakitmu itu cepat sembuh."
"Ada gerangan apa Ayah datang kemari? Tidak biasanya jika tidak ada persoalan yang amat penting Ayah tidak menemui aku."
Hantu Putih memandang sejenak ke arah anak dan cucunya, kemudian ia berkata, "Benar, memang ada sesuatu yang membuatku harus datang kemari. Baiklah, akan aku katakan secara perlahan-lahan. Ketika aku bersemedi di atas Gunung Arjuna, dalam semediku aku ditemui seorang wanita yang amat cantik. Wanita itu mengaku bernama Dyah Prameswari. Beliau adalah penguasa tertinggi di alam gaib. Ia berkata bahwa aku harus menemui seorang pemuda yang akan menjadi penguasa dua dunia, yaitu alam gaib dan alam nyata. Dan aku harus menurunkan ilmuku kepada anak itu. Kemudian aku bertanya, "Bagaimana aku dapat mengenal pemuda itu? Bisakah disebutkan ciri-cirinya?" Ia mengatakan ciri-ciri pemuda itu bermata biru dan memiliki rajah merah di kedua telapak kakinya. Entah berapa lama kemudian, aku tersadar dari semediku. Kemudian aku memutuskan untuk kemari agar dapat membuktikan itu."
Ki Sanjaya dan Rara Wulan heran dan tidak percaya mengenai cerita itu.
"Tapi, Kakek, seandainya hal itu terjadi, bagaimana?" tanya Rara.
"Aku akan menuruti perintah itu, akan tetapi aku harus mengetahui bagaimana sifat dari pemuda itu."
"Sudahlah, jangan dipikirkan hal itu. Yang paling penting, bagaimana keadaanmu, Sanjaya?" tanya Hantu Putih. Hantu Putih segera memeriksa tubuh anaknya. Dengan dahi berkerut, ia menarik napas dalam-dalam.
"Bagaimana, Eyang, apa bisa diobati penyakit Ayah?" tanya Rara dengan penuh kecemasan.
"Ayahmu menderita penyakit aneh. Seumur hidupku aku belum pernah melihatnya. Semoga saja ada keajaiban yang dapat menyembuhkan penyakit ayahmu. Berdoalah terus, cucuku, agar ayahmu segera sembuh," kata Hantu Laut dengan suara yang tenang.
Ki Sanjaya mendengar hal itu hanya dapat pasrah akan takdir yang digariskan Ilahi kepadanya.
"Sudahlah, Rara, benar kata Eyangmu itu. Kita hanya bisa pasrah kepada Tuhan Yang memberi kita hidup."
Hantu Putih pun tersenyum melihat keadaan itu. Ia tahu akan kepasrahan nasib yang diderita anaknya. Ia pun tahu bahwa anaknya siap menghadapi kematian.
"Ayah, apakah kau akan tinggal di sini?" tanya Ki Sanjaya.
"Entahlah, itu tergantung keadaan," kata Hantu Putih.
"Ayah, saat ini kami sedang menghadapi masalah yang pelik. Seminggu lagi perguruan ini akan didatangi Lima Setan yang berilmu sangat tinggi dan sangat kejam."
Dan ia pun menuturkan semuanya mengenai utusan Lima Setan dan tentang usaha untuk mencari bantuan dari pendekar demi melawan para iblis itu.
Ki Suto mendengarkan cerita anaknya. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya dan berkata, "Mengenai masalah itu, aku akan membantumu sekuat tenaga. Bagaimanapun juga, para durjana itu harus dilenyapkan agar tidak mengganggu kesejahteraan umat manusia."
Dengan kesanggupan itu, Ki Sanjaya mengucapkan terima kasih.
"Sudahlah, kau istirahatlah. Aku mau mengajak cucuku untuk melihat-lihat tempat ini."
"Baiklah, aku akan beristirahat sebisa mungkin, Ayah," ujar Ki Sanjaya.
Hantu Putih pun mengajak Rara keluar dari kamar itu. Rara pun dengan wajah gembira mengikuti kakeknya. Sesaat kemudian Ki Suto berkata, "Rara, ayo cari tempat yang sunyi sebab aku ingin melihat seberapa tinggi ilmu yang kau pelajari."
Mendengar hal itu, Rara berkata, "Bagaimana kalau kita ke lembah belakang? Soalnya tempat itu jarang didatangi orang."
"Baiklah kalau begitu," kata Ki Suto.
Rara pun mulai bersilat. Mula-mula gerakannya lambat, semakin lama semakin cepat. Rara berusaha menunjukkan semua hasil latihannya selama ini. Saat ia mengeluarkan Ilmu Macan Sakti, ia bagaikan seekor harimau yang sedang bertarung dengan ganas. Pukulan, tamparan, dan tendangan menghasilkan angin yang menderu-deru di sekitar tempat itu. Kakeknya melihat itu dan tersenyum puas akan kepandaian cucunya.
"Cukup, Rara. Kau sudah menguasai semua, tapi kurang pengalaman saja. Sekarang aku akan memberikan ilmu baruku. Ilmu ini dinamakan Ilmu Kabut Putih, yang terdiri dari 18 jurus. Jika sudah sempurna, maka tubuhmu akan terlindung dari segala pukulan dan senjata. Perhatikan baik-baik!" kata Kakeknya.
Dan Ki Suto mulai memperlihatkan Ilmu Kabut Putih. Mula-mula tubuhnya terselimuti kabut yang samar-samar, tapi semakin lama semakin tebal. Setiap jurus yang dimainkan diulang sampai tiga kali. Jurus ke-18 pun telah usai. Ki Suto menyudahinya.
"Hebat, Kek!" kata Rara dengan senang karena memperoleh ilmu yang hebat.
"Rara, apa kau sudah mengingat semua yang aku ajarkan tadi?" tanya Kakeknya.
"Sudah, Kek," ujar Rara.
Dan Ki Suto menerangkan teori-teori bagaimana membangkitkan ilmu Kabut Putih itu. Setelah panjang lebar sampai ke detail-detailnya, akhirnya selesai juga. Ki Suto pun mengajak cucunya kembali ke dalam perguruan. Dan mulai hari itu, Rara mulai berlatih keras agar menguasai ilmu Kabut Putih dengan sempurna. Dengan bakat yang hebat, tidak susah ia melatih ilmu itu.
Perjumpaan Pertama. Suatu pagi yang indah di bawah Gunung Wilis, tampak dua orang manusia: laki-laki dan perempuan. Mereka berjalan santai sambil menikmati pemandangan. Kedua orang itu adalah Bayu Samudra dan Sekar Ayu. Mereka berjalan menuju Perguruan Macan Sakti yang berada di lereng gunung. Di perjalanan itu, kedua orang itu bersenda gurau. Setelah beberapa hari bersama, mereka semakin akrab. Dan Bayu pun tahu jika Sekar Ayu telah bertunangan. Ia pun senang mendengar hal itu karena ia sudah menganggap Sekar sebagai saudara sendiri. Selama perjalanan, mereka tidak menemui hambatan apa-apa. Setelah berjalan selama dua jam, akhirnya tujuan mereka pun terlihat. Dari kejauhan, Perguruan Macan Sakti tampak kokoh dan angker. Di sekelilingnya dibangun dinding setinggi tiga meter. Kecuali mereka yang berilmu sangat tinggi, jangan harap bisa melompati dinding itu.
Bayu dan Sekar akhirnya tiba di pintu gerbang. Kebetulan yang sedang menjaga tempat itu adalah Arya Tejo dan seorang temannya. Arya Tejo adalah tunangan Sekar Ayu. Melihat kekasihnya datang, Arya Tejo segera menyambutnya.
"Nimas, syukurlah kau kembali. Aku sangat mengkhawatirkan dirimu," kata Arya.
"Aku baik-baik saja, Kakang. Tapi seandainya tidak ada Bayu, entah bagaimana nasibku," kata Sekar. Kemudian ia menceritakan bagaimana ia ditolong oleh Bayu dari Si Tapak Maut.
Mendengar hal itu, Arya Tejo segera berkata kepada Bayu, "Terima kasih atas pertolonganmu kepada tunanganku ini."
"Itu sudah menjadi kewajibanku menolong sesama, dan kebetulan saja aku melihatnya," kata Arya.
"Sudahlah, Kakang, aku mau mengajak Bayu bertemu dengan guru," kata Sekar.
"Baiklah, Sekar, kalau begitu, silakan," tukas Arya Tejo.
Bayu dan Sekar pun mulai berjalan memasuki kompleks perguruan itu. Dengan wajah kagum, Bayu melihat keadaan di dalam tempat itu.
"Sekar, pasti kamu betah tinggal di sini. Soalnya, tempat ini bagus," kata Bayu.
"Benar sekali, aku sangat senang berada di sini. Apalagi aku sudah tidak punya orang tua, jadi aku tidak punya tempat tinggal lagi kecuali di sini," kata Sekar.
Tak lama mereka berjalan, tibalah di sebuah ruangan yang lebar dan cukup mewah. Ruangan ini berfungsi sebagai tempat menerima tamu perguruan ini. Sekar Ayu menyuruh Bayu agar menunggu sejenak karena ia akan menemui gurunya. Dengan penuh kagum, Bayu melihat ruangan itu. Kursi dan meja diukir sangat indah. Dindingnya penuh dengan hiasan-hiasan yang antik.