Halo!

Dewa Naga - Chapter 04

Memuat...
Dewa Naga

Chapter 04

Tak berapa lama, muncul empat orang, yaitu Ki Sanjaya, Ki Suto, Rara Wulan, dan Sekar Ayu.

Begitu melihat mereka, Bayu segera memberi hormat.

Mereka pun saling memperkenalkan diri satu per satu, kecuali Sekar.

Ki Sanjaya memulai pembicaraan itu, "Kisanak..."

Tanpa menjawab, Bayu pun segera duduk, begitu pula yang lainnya.

"Sebelumnya saya minta maaf karena tidak bisa menyambut Anda sebagaimana mestinya. Kalau boleh tahu, Anda ini berasal dari mana?" tanya Ki Sanjaya panjang lebar.

"Tidak apa-apa, saya juga mengerti akan keadaan yang sebenarnya karena Sekar telah menceritakan semuanya kepada saya. Sejujurnya, saya berasal dari Pantai Naga," ujar Bayu dengan tenang.

Mendengar itu, Ki Suto dan Ki Sanjaya terkejut karena mereka tahu bahwa tempat itu adalah tempat yang sangat misterius, tak ada seorang pun yang mengetahui letaknya. Mereka seolah-olah percaya dan tidak percaya mendengar perkataan Bayu tadi.

Hantu Putih segera bertanya dengan mulut agak bergetar, "Kalau boleh tahu, siapa gurumu, Bayu?"

Mendengar perkataan ini, Bayu termenung sejenak karena ingat akan pesan kakeknya agar jangan sembarangan memberitahu siapa gurunya.

"Sebelumnya saya minta maaf, karena guru saya telah berpesan bahwa saya tidak boleh memberitahukan siapa guru saya itu, dan saya tidak berani melanggar pesan itu," kata Bayu dengan tenang.

"Baiklah, Bayu, aku mengerti akan kesulitanmu itu dan aku tidak akan mendesakmu," ucap Hantu Putih dengan sabar.

"Apakah kedatangan Nak Bayu kemari untuk membantu menghadapi Lima Setan itu?" tanya Ki Sanjaya.

"Memang benar," katanya singkat. Kemudian, ia melanjutkan kata-katanya tadi, "Saya akan membantu sekuat tenaga saya," katanya dengan hati mantap.

Sementara itu, Rara terus memandangi Bayu dengan penuh kekaguman. Entah bagaimana, hatinya merasakan perasaan yang aneh terhadap Bayu. Saat pertama bertemu, ia langsung jatuh cinta pada pemuda ini. Matanya sesekali menatap Bayu. Tindakan itu tidak lepas dari perhatian Sekar. Melihat itu, Sekar gembira karena tahu bahwa Rara punya perhatian khusus pada Bayu.

Setelah berbincang-bincang, mereka mempersilakan Bayu untuk beristirahat di tempat yang telah disediakan. Setelah masuk ke dalam bilik, lalu ia beristirahat sejenak agar rasa lelah dari perjalanan itu hilang. Di tempat lain, Rara mengajak Sekar untuk berjalan-jalan membicarakan mengenai perjalanan Sekar. Ketika berbicara mengenai Bayu, seketika itu wajah Rara memerah.

Dengan menggoda, Sekar berbicara, "Rara, kamu kelihatannya suka kepada Bayu, tidak perlu berbohong."

Dengan malu-malu, Rara menjawab, "Entahlah, aku juga tidak tahu. Entah rasa ini disebut jatuh cinta atau apa, aku pun tidak mengerti. Akan tetapi, aku sangat kagum terhadap Bayu itu."

Mendengar perkataan itu, Sekar Wulan tertawa lepas, "Hi...hi...hi, Rara, itu namanya kamu jatuh cinta pada Bayu. Di mataku, Bayu itu memang pemuda yang tampan, bermoral baik, apalagi berilmu tinggi. Walaupun aku tidak tahu seberapa tinggi ilmunya karena sepanjang jalan ia tidak pernah membicarakan tentang ilmu yang dia miliki."

"Sekar, aku mohon jangan kau beritahukan mengenai perasaanku ini kepada siapa pun, berjanjilah," mohon Rara.

"Baiklah, Rara, aku berjanji," kata Sekar.

Mendengar itu, Rara segera memeluk Sekar dan berkata, "Terima kasih."

Malam semakin lama semakin sepi. Setelah Bayu makan bersama Ki Sanjaya dan Ki Suto, Bayu pun mencari tempat untuk menikmati keindahan malam di pinggir kolam. Sambil termangu-mangu, ia mengagumi keindahan ciptaan Tuhan.

Rara yang melihat Bayu termenung sendirian, ia pun segera menyapa, "Mengapa malam-malam begini berada di sini?"

Tanpa menoleh pun, Bayu tahu bahwa yang berbicara itu Rara.

"Aku sedang melihat keindahan malam di tempat ini, Rara. Duduklah di sini, mari kita berbincang-bincang agar kita lebih akrab."

Mendengar perkataan itu, Rara segera duduk di samping Bayu dengan hati yang berbunga-bunga. Bagaimana tidak, karena pemuda yang di depannya telah menaklukkan hatinya saat pertama kali mereka bertemu.

Rara bertanya sambil tersenyum manis, "Apakah yang indah di tempat ini? Setiap hari aku melihatnya, tetapi tidak ada yang menarik!"

"Itu karena kau tidak melihat dan merasakannya dengan saksama. Coba kau lihat bintang-bintang yang berada di langit, alangkah hebatnya apa yang diciptakan oleh Yang Maha Kuasa," potong Bayu.

"Benar juga, selama ini aku tidak memperhatikannya dengan saksama."

Semakin lama, pembicaraan mereka pun semakin akrab, saling bercerita masa kecilnya. Ketika malam semakin larut, Bayu mempersilakan Rara untuk beristirahat dan Rara pun segera ke biliknya untuk beristirahat. Sedangkan Bayu masih berada di pinggir kolam. Dan pertengahan malam, akhirnya Bayu masuk ke kamarnya. Sesampainya di dalam, ia pun tertidur nyenyak karena tidak bersiaga, sebab merasa cukup aman. Hanya tinggal suara angin dan binatang malam yang keluar mencari makanan. Suara jangkrik yang bersahut-sahutan bagaikan irama musik yang mengiringi orang tidur dengan nyenyaknya sampai esok pagi datang.

Malam itu, tanpa sepengetahuan seisi perguruan, dua bayangan mengendap-endap mengawasi tempat itu. Setelah puas mengawasi keadaan, ia pun segera meninggalkan tempat itu. Bagai anak panah yang melesat, bayangan itu mengarah ke hutan yang tak jauh dari sana. Tak lama sampai di dalam hutan, bayangan pun berhenti. Sesaat kemudian, dari balik rerimbunan daun tampak empat bayangan mendekati bayangan pertama. Ternyata bayangan itu adalah Lima Setan yang akan menyerbu ke Perguruan Macan Sakti.

Wajah mereka sangat seram, menakutkan seperti tengkorak. Tubuhnya kurus seperti hanya tulang saja. Semuanya lebih mirip tengkorak hidup. Mereka terdiri dari Setan Kesatu, Setan Kedua, Setan Ketiga, Setan Keempat, dan Setan Kelima. Kelima setan itu selalu bersama-sama, tidak terpisahkan, karena semuanya adalah saudara seperguruan. Guru Lima Setan itu adalah momok bagi manusia karena ia sangat ganas, membunuh orang tanpa berkedip. Di dunia persilatan, orang itu dikenal dengan julukan Iblis Tengkorak. Iblis Tengkorak sudah lama tidak terdengar beritanya, entah masih hidup atau sudah mati. Karena gurunya sesat, maka murid-muridnya pun ikut sesat. Kejahatan bagi mereka seolah-olah makanan sehari-hari yang tidak boleh dilupakan.

"Bagaimana tugasmu, Setan Kelima?" tanya Setan Pertama, yang dianggap sebagai pimpinan karena ilmunya paling tinggi di antara semua saudara seperguruan.

"Semuanya beres. Tugas kita menghancurkan perguruan itu akan sangat mudah. Kita pasti akan mendapat kedudukan dari Yang Mulia kelak," kata Setan Kelima sambil tertawa keras.

"Bagus sekali, nanti di sana pasti banyak perempuan cantik, kita bisa bersenang-senang sepuasnya," ujar Setan Keempat.

"Benar katamu, Setan Keempat. Aku sudah tidak sabar lagi. Akan tetapi, aku tidak mau mendapat hukuman dari Yang Mulia," sahut Setan Kedua.

"Ha...ha...ha...ha, tunggu dua hari lagi, Setan Kedua. Itu tidak lama. Cobalah sabar sedikit," kata Setan Ketiga.

"Baiklah kalau begitu, mari kita pergi dari sini dan berkumpul di markas," ajak Setan Pertama.

Pagi yang cerah disinari oleh cahaya mentari yang indah. Burung-burung berkicau dengan merdu. Hari itu adalah hari di mana Lima Setan akan datang ke Perguruan Macan Sakti. Semua penghuni bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan. Murid-murid perguruan berjaga dengan senjata terhunus. Wajah mereka terlihat cemas. Dan tibalah saat yang dinantikan, dari kejauhan tampak lima orang berjalan ke perguruan itu. Mereka tak lain adalah Lima Setan yang sangat ganas. Dengan wajah tanpa emosi dan menakutkan, serta langkah yang tenang, seolah-olah mereka akan menang dalam pertempuran nanti.

Dengan suara nyaring, Setan Pertama berkata lantang dan menyeramkan, "Sanjaya, keluar kau! Malaikat mautmu datang dan seluruh muridmu akan kubasmi semua!"

Ki Sanjaya keluar bersama Hantu Laut, Bayu, Rara, dan murid tertuanya. Dengan tenang ia menjawab, "Lima Setan, mengapa kalian mau membunuh kami semua? Apa kesalahan kami padamu?"

"Tidak usah banyak tanya! Pokoknya kau harus mampus hari ini!" hardik Setan Kedua.

"Baiklah kalau begitu. Akan tetapi, kami bukanlah gentong nasi yang mudah kau gertak," kata Ki Sanjaya dengan tenang walaupun dalam hatinya cemas dan berdebar-debar.

"Baiklah, mari kita bertanding sebelum aku hancurleburkan tempat ini!" bentak Setan Pertama.

Bayu mendengar perkataan itu segera berkata, "Sungguh iblis yang menjemukan! Aku kira hebat, ternyata cuma pandai menggertak saja."

"Hei kunyuk, siapa kau? Berani-beraninya menentang kami? Bosan hidup?" Gertak Setan Keempat yang wataknya paling berangasan.

"Aku Bayu. Seandainya kau berani menghadapiku, silakan maju sekarang!" ujar Bayu dengan tersenyum sinis. Dengan langkah tenang dan mantap seolah-olah tidak ada bahaya di depannya. Begitu sampai di tengah, ia berkata, "Siapa yang mau maju? Atau mau maju semuanya juga boleh?" ejek Bayu.

"Aku yang menghadapimu," kata Setan Kelima.

"Baiklah, silakan kita bersenang-senang. Sudah lama aku tidak berolahraga sampai badanku pegal-pegal."

Mereka pun segera mulai bertarung. Mula-mula pertempurannya lambat, akan tetapi semakin lama semakin cepat, membuat angin menderu-deru.

Pertempuran semakin dahsyat. Setan Kelima mengempur sekuat tenaga karena ingin segera membunuh lawannya itu. Akan tetapi, Bayu melayani dengan seenaknya, seolah-olah mempermainkan lawannya.

"Wah, luput! Ayo, kurang cepat! Katanya mau memukul, tapi dari tadi tidak kena terus," ejek Bayu.

Orang-orang Perguruan Macan Sakti tersenyum geli mendengar ejekan itu. Setan Kelima tidak dapat menumbangkan Bayu yang masih muda itu. Bayu semakin lama semakin gemas. Ia mulai mengerahkan ilmu Jubah Sakti tingkat dua, dan akibatnya hawa sekitar tempat itu kadang panas, kadang dingin, karena ilmu yang digunakan Bayu. Dengan ilmu itu, semua pukulan Setan Kelima tidak satu pun yang mampu melukai Bayu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment