Chapter 05
Sambil tersenyum, Bayu berkata, "Orang Lima Setan hanya begini saja, pantasnya jadi tukang sulap di pasar saja. Ayo semua maju bersama agar aku cepat berkeringat. Tidak usah malu-malu, akan kujamin bahwa maju satu per satu tidak akan menang melawanku."
Keempat Setan itu memang sejak tadi mengetahui jika seorang diri tak akan mampu menandinginya.
Tanpa dikomando, mereka pun menyerbu.
Orang-orang perguruan sangat mengkhawatirkan Bayu. Lain halnya dengan Ki Sanjaya dan Hantu Putih yang tahu bahwa Bayu belum tentu kalah melawan lima orang itu karena ia belum bersungguh-sungguh menggunakan Ilmu Kakeknya.
Tak ayal lagi, Bayu mengerahkan Inti Naga Api dan Inti Naga Es. Hawa panas dan dingin semakin terasa.
Akibatnya, Lima Setanlah yang sangat menderita karena silih berganti terserang oleh hawa panas dan dingin yang sangat hebat.
Bayu tak ingin berlama-lama dalam membunuh setan itu. Ia pun mulai menggunakan Jurus Penakluk Iblis yang amat dahsyat. Alhasil, Lima Setan terdesak hebat.
Walaupun hanya 18 jurus saja, tetapi hebatnya bukan kepalang.
Sambil menghirup napas panjang, Bayu mengerahkan tiga bagian tenaga dalamnya untuk mengakhiri pertempuran itu.
Dengan teriakan yang nyaring, pukulan itu ia lancarkan.
Terdengar suara ledakan yang memekakkan telinga.
Bersamaan dengan itu, terdengar suara jeritan. Sesaat keadaan sunyi tanpa ada yang bersuara. Hawa pukulan perlahan-lahan sirna dan debu yang berterbangan pun menghilang.
Terlihat lima sosok mayat terkapar dengan keadaan mengenaskan. Sebagian mayat itu hangus terbakar dan yang lain membeku seperti es.
Melihat itu, Bayu termenung dan hatinya merinding melihat hasil dari pukulan yang ia lancarkan.
Semua orang yang melihat akhir pertempuran itu bersorak gembira karena Lima Setan telah kalah dan mati.
Segera Bayu menghampiri Ki Sanjaya, Hantu Putih, Rara, dan Sekar. Dengan menghela napas ia berkata, "Berakhir sudah semuanya," ujarnya dengan lirih.
Hantu Laut yang sejak tadi hanya diam segera menjawab, "Sudahlah, Bayu, mari masuk ke dalam. Kau harus istirahat setelah pertempuran tadi."
Ki Sanjaya segera memerintahkan muridnya untuk mengurus jenazah Lima Setan. Kemudian mereka pun masuk ke dalam.
Setelah mereka duduk, Ki Sanjaya segera berkata, "Terima kasih atas bantuanmu, Bayu. Seandainya tidak ada kau, entah bagaimana keadaan kami sekarang."
"Tidak usah berterima kasih, karena itu hanya kewajibanku untuk menentang kejahatan," ucap Bayu dengan merendah.
Setelah bercakap-cakap dan makan minum, mereka pun segera meninggalkan tempat itu. Sementara itu, Bayu mengajak Rara untuk bercakap-cakap di bawah pohon di samping rumah.
"Sekarang sudah aman, Rara. Kau tidak usah cemas lagi."
"Benar, Bayu," kata Rara.
Dengan hati berdebar-debar, Bayu berkata, "Rara, sebenarnya aku... aku suka padamu, Rara."
Hati Rara pun sangat gembira karena ia pun juga mencintai Bayu.
"Aku juga cinta padamu," sambil tersipu malu.
Setelah berpelukan agak lama, Bayu pun menatap Rara dengan penuh cinta kasih. Demikian juga Rara.
Kemudian mereka berjalan ke arah telaga yang sepi. Di tempat itu, Bayu segera mencium Rara.
Tindakan itu membuat Rara terkejut karena tidak tahu akan dicium.
Dan mereka pun segera berkasih-kasihan.
Arti Mimpi
Hari itu, matahari bersinar dengan teriknya. Suhu udara sangat panas.
Di salah satu sudut Perguruan Macan Sakti, tampak dua orang sedang berbincang-bincang.
Lelaki yang pertama sangat tua, sedangkan yang satu masih muda.
Kedua orang itu adalah Bayu dan Ki Suto, atau Hantu Putih.
Ki Suto menceritakan tentang pertemuannya dengan wanita yang bernama Dyah Prameswari dan ia harus menurunkan ilmu kepada Bayu.
Mendengar hal itu, Bayu tercengang karena apa yang didengar sangat aneh.
Ki Suto sejenak menatap Bayu. Ia pun mengerti apa yang dipikirkannya.
"Saat pertama kali aku sadar dari semediku, aku juga bingung. Setelah aku pikir-pikir, aku mencoba membuktikannya dan ternyata benar apa yang dikatakan wanita itu."
"Entahlah, Ki, aku tidak pernah mendengar orang yang bernama Dyah Prameswari itu." ujar Bayu.
"Sudahlah, Bayu, mungkin kelak kau akan tahu siapa dia itu. Tapi yang penting sekarang, aku akan menurunkan ilmuku kepadamu sesuai pesan orang itu."
"Apakah Ki Suto yakin bahwa kelak ilmu yang diturunkan tidak akan kugunakan untuk kejahatan dan aku merasa bahwa tidak pantas menerima itu?"
"Aku yakin mengenai itu," kata Hantu Putih.
Bayu termenung sesaat kemudian berkata, "Baiklah, Ki."
Dan Ki Suto menurunkan semua ilmu simpanannya.
Tiga macam ilmu yang diturunkan yaitu Ilmu Cakar Macan Sakti, Jurus Penakluk Setan, dan Ilmu Inti Bumi, yaitu kekuatan yang mengambil dari bumi.
Dengan kecerdasan otak Bayu yang sangat hebat, dalam waktu sebentar saja ia sudah dapat memainkannya dengan tepat.
Melihat itu, Ki Suto sampai tercengang karena jarang ada orang yang dapat menguasai ilmu sekali diterangkan.
Setelah semua selesai, mereka pun kembali ke dalam bilik masing-masing untuk istirahat karena tadi banyak menguras tenaga dan pikiran mereka.
Dalam waktu sebentar saja, Bayu sudah tidur terlelap. Dalam tidurnya, ia bermimpi bertemu dengan Dyah Prameswari dan ia mengatakan bahwa Bayu harus naik ke puncak Gunung Wilis dan berdiam di sana selama setengah tahun.
Tiba-tiba Bayu membuka mata karena terkejut akan mimpi itu, karena orang yang di dalam mimpi itu adalah Ki Suto.
Arti Mimpi - 2
Setelah membereskan pakaiannya, ia berencana menemui Ki Suto untuk menceritakan mimpi itu.
Di depan rumah, ia secara kebetulan bertemu dengannya. Segera ia mengajak Ki Suto untuk duduk di bawah pohon.
Ia segera menceritakan mimpinya itu.
Ki Suto pun menyimak dengan saksama. Kemudian ia berkata, "Bayu, lebih baik kau coba saja datang ke tempat itu. Mungkin ada sesuatu yang ingin ditunjukkan kepadamu."
"Baiklah, Ki, memang saya tadi sudah memikirkan hal itu, akan tetapi kemudian saya meminta pertimbangan Aki, dan Aki pun sama dengan pemikiran saya," ujar Bayu dengan serius.
"Dan kapan kau akan berangkat, Bayu?" tanya Ki Suto. "Rencananya nanti sore, Ki. Saya kira semakin cepat, semakin baik," kata Bayu.
"Baiklah, sekarang kau pergilah bersiap-siap pergi ke gua itu, tetapi harus pamit dulu pada anak dan cucuku," kata Ki Suto sambil tertawa.
Setelah berbincang sebentar, Bayu pun segera pergi dari tempat itu dan menuju ke telaga tempat Rara berlatih ilmunya.
Tak lama kemudian, ia pun sampai di tempat tujuan. Dari kejauhan tampak Rara yang berlatih dengan keras selama seminggu ini. Gerakannya seperti kupu-kupu yang elok tetapi mematikan.
Karena tidak mau mengganggu latihan Rara, Bayu pun berhenti dan menunggu sampai selesai.
Tak lama kemudian, latihannya pun selesai. Segera ia menyapa Rara.
Mendengar suara yang memanggilnya, ia pun menoleh. Melihat kekasihnya datang, ia pun segera berlari ke arah Bayu dan memeluknya.
Setelah berpelukan sejenak, Rara melepaskan pelukannya.
Kemudian mereka bercakap-cakap ria.
Dan Bayu menerangkan tentang mimpinya barusan, serta ia berencana untuk berada di puncak gunung.
Mendengar hal itu, Rara pun sedih dan ia berkata, "Kakang, aku ikut boleh tidak? Aku tidak ingin selalu bersamamu."
"Tidak, Rara, kau harus di sini berlatih serta menjaga ayahmu. Mungkin setelah aku turun nanti, kau boleh ikut aku berkelana."
"Tapi atas izin ayahmu. Bagaimana?" tanya Bayu dengan penuh pengertian.
Sesaat mereka pun terdiam dalam pemikiran masing-masing.
"Baiklah, Kakang, aku menurut saja, tetapi kau harus janji begitu selesai, harus mengajakku berkelana."
"Baiklah."
Goa Dewa Seribu Tahun
Senja telah tiba dan kabut malam mulai menyelimuti hingga tampak remang-remang.
Di lembah yang terjal di bawah puncak Gunung Wilis, tampak sesosok pemuda yang berjalan ke arah puncak gunung.
Dia adalah Bayu.
Ia akan mendaki puncak gunung untuk membuktikan tentang mimpinya.
Sore tadi, ia meninggalkan tempat Rara, kekasihnya.
Ketika ia memandang sekitarnya, tiba-tiba terdengar suara perempuan yang merdu, "Anakku, turunilah jurang itu dan carilah gua yang paling besar, lalu masuklah."
Bayu mendengar itu terperanjat karena suara itu mirip dengan suara perempuan yang ada di mimpinya.
"Siapa? Keluarlah!" teriak Bayu. Akan tetapi, tidak ada jawaban. Ia mengulanginya berkali-kali, tetapi hasilnya nihil.
Setelah berpikir sejenak, akhirnya ia mencoba menuruti perkataan tadi.
Setelah mencari di sekitar jurang itu, akhirnya ia menemukan jalan turun. Karena di dalam semak belukar, jalan itu sangat sulit untuk dilihat dari luar.
Bayu pun mulai menuruni jurang itu. Jalan sangat sukar dituruni. Namun, karena Bayu berilmu tinggi, maka tidak begitu sukar baginya.
Tinggi jurang itu kira-kira dua ratus meter.
Tak lama kemudian, ia sampai di dasar jurang.
Di dasar jurang itu hanya terdapat beberapa pohon saja yang usianya ratusan tahun.
"Akhirnya sampai juga. Dalam juga jurang ini. Baiklah, aku cari gua sekarang," kata Bayu sambil memandang sekitar.
Benar saja, di bagian ujung tebing terdapat gua yang besar seperti perkataan perempuan tadi.
Dengan perlahan-lahan, ia pun mulai menuju gua itu.
Dengan jantung berdebar-debar, ia pun memasuki gua itu. Begitu masuk, tercium bau yang kurang enak.
"Mungkin ada kelelawarnya," batin Bayu.
Ternyata gua itu tidak begitu dalam dan akhirnya Bayu sampai di ujung gua.
Ketika melihat sekelilingnya, terdengar suara perempuan lagi, "Putar batu yang di pojok itu ke kiri tiga kali, Anakku."
Tanpa pikir panjang, Bayu pun segera menuju batu yang di pojok itu.
Ia memutar tiga kali ke kiri.
Terdengar suara keras di salah satu dinding gua itu. Karena mengira tempat itu akan runtuh, segera ia melompat mundur sejauh mungkin.
Goa Dewa Seribu Tahun - 2
Tampak lorong yang terang di dalam lubang itu. Bayu pun dengan penuh percaya diri masuk.
Dengan penuh kekaguman, ia pun melangkah.
Pintu gua tiba-tiba tertutup. Bayu yang melihat itu agak gugup, akan tetapi setelah ia berpikir, lebih baik melanjutkan masuk.
Lorong itu panjangnya kurang lebih seratus meter. Tibalah ia di sebuah ruangan yang terang oleh mutiara yang menyinari tempat itu. Di dekat pintu masuk terdapat tulisan. Bayu yang melihat itu pun langsung membacanya.