Chapter 07
Maka Bayu pun segera menerangkan teori semedi dengan sedetail mungkin.
"Segeralah bersemedi di sini saja, aku akan menjaga kalian bertiga agar tidak ada gangguan."
Mereka pun segera bersemedi sesuai ajaran Bayu, terasa badannya panas seperti di dalam tungku, dari bawah pusar mengalir hawa hangat dan berkumpul menjadi satu.
Tak terasa lima jam usai, perlahan-lahan mereka membuka mata, terasa tubuhnya menjadi lebih segar dan ringan.
Terlebih lagi Ki Sanjaya merasa penyakitnya punah sama sekali.
Segera mereka berterima kasih kepada Bayu.
Akhirnya mereka mengajak Bayu untuk makan bersama.
Akhirnya mereka pun selesai, segera Bayu mengajak Rara ke telaga.
Dengan perlahan-lahan mereka berdua berjalan.
Tanpa terasa, mereka sampai di pinggir telaga.
Mereka pun bercerita panjang lebar sambil berkasih-kasihan melepas rindu.
Mereka berpelukan erat sekali seolah-olah tidak ingin dilepaskan.
"Kakang, katanya mau memberi aku ilmu, kapan itu?" tanya Rara dengan manja.
"Tenang, Rara, besok aku berikan. Bersabarlah, jangan terburu-buru karena harus menunggu supaya tenaga dalam yang kau dapat tadi menjadi lebih sempurna mengalir dari dalam tubuhmu. Karena ilmu yang akan aku berikan padamu membutuhkan landasan tenaga dalam yang sangat tinggi, jadi baiknya nanti malam kau tidur sambil semedi," ujar Bayu panjang lebar.
"Baiklah, aku menurut saja," kata Rara.
Tanpa terasa, malam pun mulai datang.
Obor pun mulai dinyalakan.
Kabut tipis pun datang membuat udara menjadi lebih dingin.
Bayu pun mengajak Rara untuk kembali ke rumah.
Sinar matahari mulai menerangi jagad yang luas. Sinar yang kuning menerobos celah dedaunan, para makhluk hidup mulai berlomba mencari makan.
Bayu sejak subuh sudah bangkit dari pembaringannya walaupun semalam tidak tidur karena sedang membuat jurus pukulan dan jurus pedang untuk Rara.
Membuat jurus baru bagi Bayu adalah hal yang mudah karena telah menguasai inti sari ilmu.
Tibalah waktu untuk sarapan bersama Ki Suto, Ki Sanjaya, dan tak ketinggalan Rara.
Ki Sanjaya yang sudah sembuh tampak lebih muda beberapa tahun.
Setelah usai makan, Bayu mengutarakan pikirannya, "Ki Suto dan Ki Sanjaya, bukannya saya sok hebat, akan tetapi saya ingin memberikan beberapa ilmu kepada kalian berdua karena keadaan yang akan datang sangat membahayakan.
Karena kalian berdua menggunakan unsur api, maka yang akan saya berikan yaitu Jurus Sembilan Naga, Cakar Naga Merah, Ilmu Sambung Suara, Ilmu Alih Raga, dan Langkah Seribu Dewa. Langkah ini dapat digunakan untuk menghindari serangan lawan yang paling hebat sekalipun, walaupun langkah ini bukan yang paling hebat karena ini membutuhkan kecerdasan otak. Ilmu Sambung Suara dan Ilmu Alih Raga tadi dapat digunakan untuk berbicara pada orang lain sejauh apa pun, dan ilmu alih raga untuk pergi ke mana saja dengan sekejap," kata Bayu panjang lebar.
Ki Suto lah yang menjawab, "Ngger, kami sekeluarga sangat berterima kasih atas pemberianmu tadi. Memang dalam waktu dekat kita akan menghadapi musuh yang sangat rahasia dan hebat."
"Tidak, Ki, maksud saya menurunkan ilmu tadi agar saya mengetahui keadaan kalian berdua dan seandainya ada berita atau hal yang penting mengenai Dewa Iblis dengan cepat. Lagipula, jika dalam keadaan bahaya, saya bisa membantu dengan sekuat tenaga."
"Memang benar, Bayu. Baiklah kalau begitu, jika kau butuh bantuan kami, kami sekuat tenaga akan membantu," jawab Ki Sanjaya.
"Terima kasih atas kesediaannya.
Dan hampir saya lupa, saya ingin mewariskan ilmu untuk perguruan ini yaitu Silat Badai Menggulung yang dapat digunakan dengan tangan kosong dan senjata apa pun."
Segera Bayu memainkan ilmu itu dengan perlahan dan gamblang. Karena kedua orang tua itu sudah kenyang dengan pengalaman dan punya ilmu yang tinggi, maka sebentar saja mereka dapat paham.
Setelah usai semua, perlahan Bayu mengeluarkan sebuah gulungan. Ternyata gulungan itu adalah pedang yang tipis. "Ini untukmu, Rara, namanya Pedang Daun Bambu. Ini cocok untukmu," ujar Bayu sambil memberikannya pada Rara. Dengan senang hati si gadis pun menerima dengan gembira, "Terima kasih banyak, Kakang."
"Karena dasar tenaga apimu belum tinggi, maka aku akan menambahkan unsur air dan rembulan. Sedangkan yang ingin aku berikan padamu sementara adalah Jurus Bidadari Menaklukkan Langit, Jurus Bidadari Seribu Pedang, Langkah Seribu Bidadari. Nah, perhatikan baik-baik," tutur Bayu.
Dengan penuh konsentrasi, Rara mencoba mengingatnya.
Sinar matahari tampak mulai suram, sang mentari pun sudah berada jauh di ujung barat.
Di telaga tampak tiga orang yang sedang berlatih.
Mereka adalah Ki Suto sekeluarga yang seharian berlatih. Dengan peluh keringat yang membasahi tubuh mereka, akhirnya dapat menguasai dengan baik.
Mereka pun segera menghentikan latihan dan kembali ke dalam perguruan. Walaupun sehari penuh mengeluarkan tenaga, akan tetapi di wajahnya tidak tampak lelah.
Tak lama, tibalah mereka di rumah dan segera mandi serta berganti pakaian.
Mereka pun makan malam bersama di ruang tengah sambil bercakap-cakap dengan ramai. Tanpa terasa, sudah dua jam mereka bercakap-cakap mengenai keadaan sekarang.
"Ki Suto dan Ki Sanjaya, ada satu permintaan yang ingin saya sampaikan, entah Anda berdua menyanggupinya atau tidak," kata Bayu dengan nada yang cemas.
"Katakanlah, Bayu. Tidak usah sungkan, kau sudah kami anggap sebagai keluarga kami," jawab Ki Sanjaya.
"Begini, sebelum saya pergi ke atas gunung, saya pernah menyanggupi untuk mengajak Rara berkelana. Oleh karena itu, saya ingin meminta persetujuan kalian berdua."
"Ayah, Kakek, izinkanlah aku keluar dari sini melihat dunia luar bersama Bayu," rengek Rara.
"Baiklah, kami memang sudah menduga dan kami sepakat mengizinkannya."
Di ujung jalan Desa Watu Belah tampak sepasang manusia berjalan menelusuri jalan setapak yang berdebu.
Udara sangat panas karena matahari bersinar dengan teriknya, akan tetapi anehnya keduanya tidak tampak berkeringat.
Mereka adalah Bayu dan Rara.
Mereka baru saja meninggalkan Gunung Wilis, rumah Rara.
Dengan hati gembira dan sedih, Rara pun berkelana bersama Bayu, kekasihnya.
Dia gembira karena pertama kali melihat dunia luar, apalagi bersama-sama dengan Bayu. Sedihnya, karena harus meninggalkan ayahnya, akan tetapi setelah kakeknya memutuskan untuk menetap di situ, hati Rara sedikit lega.
Dengan diiringi dua burung rajawali emas dan perak, mereka pun memulai petualangannya.
"Sebaiknya kita singgah di kedai untuk sekadar minum," kata Bayu.
"Baiklah, memang, sebenarnya aku cukup haus," balas Rara.
Akhirnya mereka pun segera mencari kedai di desa itu. Tak lama tampaklah sebuah kedai yang cukup besar. Segera mereka memasuki tempat itu.
Saat itu kedai sepi. Di dalamnya hanya terdapat empat pengunjung saja. Mereka adalah empat orang lelaki yang bertampang seram dan berpakaian kasar. Kelihatannya mereka bukan orang baik-baik.
Kedatangan Bayu dan Rara sangat menarik perhatian empat orang tadi, apalagi Rara yang seorang gadis cantik jelita seperti bidadari.
Bayu cuma melirik sepintas ke arah mereka.
Akhirnya Bayu dan Rara memilih tempat di pojok dekat jendela.
Tak lama kemudian seorang pelayan mendatangi mereka, "Ki Sanak, mau pesan apa? Di sini makanannya enak-enak."
"Kami pesan wedang sereh saja," jawab Rara dengan cepat.
"Baiklah, silakan tunggu sebentar," kata pelayan itu sambil pergi ke belakang menyiapkan pesanan.
Tak lama keluarlah pelayan itu sambil membawa dua mangkuk minuman.
Empat orang itu menyelesaikan makannya, segera membayar makanan, dan pergi dari tempat itu.
Bayu melihat itu tersenyum-senyum sambil berkata, "Nanti akan ada pertunjukan menarik."
"Apa itu?" tanya Rara.
"Tenanglah, nanti kau juga akan tahu," kata Bayu yang masih tersenyum gembira.
"Baiklah kalau begitu," ujar Rara yang keheranan melihat tingkah aneh kekasih tercintanya itu.
Akhirnya mereka pun selesai dan membayar.
Walaupun udara masih tetap panas, akan tetapi mereka tetap semangat melanjutkan perjalanannya. Tak lama mereka keluar dari desa itu, sampailah di tepi sebuah hutan yang lumayan lebat.
"Bersiaplah, kau, mungkin ini pertunjukan bagus untukmu," kata Bayu.
"Ah, kau masih tidak mau memberi tahu, memang apa yang akan terjadi?" tanya Rara.
"Bersabarlah, kau," kata Bayu. Tepat pada saat itu dari balik pohon muncul empat orang yang tadi berada di kedai.
Sambil berbisik Bayu berkata, "Ini yang aku maksud pertunjukan menarik untukmu. Kesempatan ini dapat kau gunakan untuk menjajal ilmu kamu."
Sambil tertawa manis Rara berkata, "Wah, tebakanmu hebat, Kakang! Baiklah, nanti aku yang menghadapi mereka, kau menonton saja."
"Hei, Ki Sanak, cepat serahkan hartamu dan perempuan itu jika kau ingin selamat!" bentak salah satu lelaki yang kelihatannya adalah pemimpinnya.
Dengan kocak ia menjawab, "Hartaku semua ada pada temanku. Jika kau sanggup, mintalah pada temanku ini, aku tak akan ikut campur."
"Jika kau mampu, cepat ambillah, jangan cuma hanya berkoak-koak saja!" ejek Rara.
Bayu melangkah ke bawah pohon yang ada di belakangnya sambil berkata, "Silakan ambil. Aku duduk di sini saja."
Ia yakin kalau Rara dapat menyelesaikan dengan mudah.
"Kakang, biar aku saja yang meringkus perempuan ini," sela lelaki lainnya.
"Silakan, Suro, tapi hati-hati, agaknya perempuan ini punya pegangan," kata pimpinan itu kepada lelaki. Muka Rara semakin merah karena marah. Dengan tiba-tiba ia menyerang bagian perut Suro itu secepat kilat.
Suro tidak tahu apa yang terjadi. Tiba-tiba ia merasa gelap dan tidak ingat lagi karena pingsan.
Teman-temannya yang melihat itu terkejut. Tanpa dikomando, mereka mencabut senjata dan menyerang bersama.
Rara pun menggunakan Langkah Seribu Bidadari untuk menghindari serangan dan membalas dengan secepat kilat pada anggota tubuh yang lemah, dan sekejap saja semua jatuh pingsan.
Kota Panguripan merupakan kota yang cukup besar. Di sini adalah pusat perdagangan, maka tak heran jika banyak toko-toko.
Di Desa Wulung Sari, sebelah selatan Kota Panguripan, terdapat sebuah rumah yang cukup besar. Rumah itu adalah tempat kediaman Ki Linggajaya.