Halo!

Dewa Naga - Chapter 08

Memuat...
Dewa Naga

Chapter 08

Tidak ada yang tahu jika Ki Linggajaya adalah tokoh persilatan yang berjuluk Raja Pedang Pembelah Langit, seorang pendekar berilmu sangat tinggi. Sudah delapan belas tahun ia tak ikut campur dalam persilatan semenjak ia menikah dengan Kumala Dewi.

Istrinya bukan gadis sembarangan.

Dulu ia dikenal dengan julukan Si Dewi Pedang, yang merupakan adik seperguruan Ki Linggajaya.

Suami istri ini dikaruniai seorang putri berusia tujuh belas tahun yang bernama Ayu Dewi.

Seorang gadis yang cantik jelita, idaman setiap laki-laki, akan tetapi juga berilmu tinggi karena sejak kecil digembleng ilmu silat oleh orang tuanya.

Keluarga mereka sangat bahagia, tidak pernah ada percekcokan.

Dengan usaha perdagangan, mereka dapat menghidupi keluarganya. Pada suatu hari, di depan rumahnya tampak dua orang laki-laki dan perempuan. Siapa lagi kalau bukan Bayu dan Rara?

Di samping rumah, tampak seorang gadis yang sibuk merawat bunga.

"Permisi," kata Bayu dengan nada yang cukup keras.

Gadis itu menoleh dan segera berlari menemui tamu tadi.

Wajahnya tampak terpesona melihat dua orang tadi. Yang satu cantik dan yang satunya sangat tampan.

"Ada apa, kisanak?" Tanyanya dengan ramah.

"Apakah ini rumah Ki Linggajaya?" kata Bayu.

"Kami ingin bertemu dengan Ki Linggajaya. Apakah ada di rumah?"

"Ada, silakan tunggu sebentar. Akan saya panggilkan," jawab gadis itu dan segera berlari masuk ke dalam rumah.

Tak berselang lama kemudian keluarlah si gadis bersama ayahnya.

Ki Linggajaya masih tampak muda seperti umur tiga puluh tahun, akan tetapi umur sebenarnya adalah empat puluh tahun.

Sejenak ia memandang dua orang tamunya.

Saat ia melihat mata Bayu yang biru menyala itu, ia berpikir bahwa pemuda itu bukanlah lawan yang mudah dikalahkan.

"Maaf, Andika berdua ini siapa?"

"Saya Bayu dan yang ini Rara. Tentang masalahnya mengenai ini," kata Bayu sambil mengeluarkan lencananya yang bernama Lencana Para Dewa.

Ki Linggajaya terkejut melihat lencana itu karena ia telah mendapat pesan dari gurunya bahwa secara turun-temurun gurunya sangat menghormati orang yang membawa lencana itu karena dahulu pemiliknya adalah seorang yang sangat sakti.

"Oh, silakan masuk, Andika berdua," kata Ki Linggajaya.

Mereka pun segera masuk ke ruang tamu, dan anak gadisnya ke belakang menyiapkan camilan. Lama kemudian ia keluar sambil membawa camilan dan minuman, lalu ikut duduk di samping ayahnya.

Bayu pun mengutarakan kedatangannya, "Begini, Ki, apakah Anda sudah tahu akan lencana tadi?" "Sudah, dulu guru saya pernah berpesan mengenai lencana itu. Jika pemilik lencana itu membutuhkan sesuatu, maka kami diharuskan membantu," kata Ki Linggajaya.

Segera Bayu menceritakan tentang Dewa Iblis dan organisasinya yang sangat rahasia itu.

"Oleh karena itu, saya memohon bantuannya," kata Bayu.

"Baiklah, kami sekeluarga akan membantu sekuat tenaga karena ini bukan hanya menyangkut dunia persilatan, akan tetapi juga masyarakat seluruh Jawa," katanya dengan mantap.

"Baiklah kalau begitu, saya ingin Ki Linggajaya sekeluarga pergi ke Lembah Abadi di dalam Hutan Larangan dua bulan lagi. Apakah Ki Linggajaya pernah dengar mengenai hutan ini?" tanya Bayu.

"Aku tahu, dulu ketika berkelana aku pernah menjelajah sampai di sekitar tempat itu," ujarnya.

"Kalau begitu, kami sangat berterima kasih sekali," kata Bayu.

"Tidak usah begitu sungkan, kalian berdua istirahatlah dulu di sini barang satu hari," kata Ki Linggajaya.

"Benar, Kisanak berdua tidak usah sungkan lagi, apalagi kita harus saling membantu daripada kalian berdua mencari penginapan. Lagi pula, kami masih ada kamar kosong untuk Andika berdua," lanjut Ki Linggajaya.

Bayu yang mendengar itu tidak enak hati untuk menolak. Sejenak ia memandang ke arah Rara meminta persetujuan, dengan anggukan kepala Rara pun mengangguk setuju. "Terima kasih, kami malah yang merepotkan Aki sekeluarga."

Akhirnya Bayu dan Rara berada di rumah Ki Linggajaya sehari.

Selama itu Ayu selalu mengajak Rara dan Bayu untuk berkeliling ke tempat yang indah di kota Pahuripan.

Ayu, seorang gadis yang riang, selalu gembira saat bertamasya.

Akhirnya, pagi harinya, mereka bermaksud meninggalkan tempat itu.

Ayu bersedih karena harus berpisah dengan Bayu dan Rara.

Setelah berpamitan, mereka pun segera meninggalkan kota itu.

Arah yang mereka tuju adalah daerah pesisir utara untuk mencari seorang pendekar yang berjuluk Si Tongkat Sakti untuk dimintai bantuannya.

Karena tidak mempunyai banyak waktu, maka Bayu pun memutuskan untuk menunggang rajawalinya agar cepat sampai tujuan.

Karena baru pertama kali terbang, Rara sangat ketakutan.

Dengan memeluk erat kekasihnya, ia pun terbang. Lama-kelamaan rasa takutnya hilang, diganti dengan gembira karena merasakan bagaimana terbang di angkasa.

Bayu yang melihat kekasihnya itu pun tertawa lepas.

Dengan merebahkan tubuhnya di dada Bayu, Rara menikmati terbang.

Di atas puncak sebuah gunung karang yang menjulang tinggi dan sangat terjal berdiri sebuah pondok yang sederhana.

Walaupun di atas gunung batu-karang, tanahnya sangat subur.

Di tempat itu ditanami sayuran untuk kebutuhan sehari-hari.

Di rumah itu tinggal dua orang, yaitu orang tua yang berumur enam puluhan tahun dan seorang pemuda yang berumur dua puluh lima tahun yang merupakan murid Si Tongkat Sakti.

Di halaman belakang, tampak murid Si Tongkat Sakti sedang berlatih silat, sedangkan gurunya duduk di bawah pohon. Ia tampak puas melihat latihannya itu.

Sekonyong-konyong dari angkasa tampak dua orang mendongak ke angkasa dan melihat bayangan menuju ke tempatnya.

Tak lama bayangan itu semakin dekat. Ternyata bayangan itu adalah dua ekor burung rajawali emas dan perak, di atasnya tampak dua orang muda-mudi.

Dengan perlahan-lahan burung itu mengepakkan sayapnya dengan pelan agar penunggangnya melompat.

Dengan saksama Si Tongkat Sakti memperhatikan tamunya itu.

Muridnya yang melihat ada tamu segera menghampiri dan berdiri di samping gurunya.

Dengan ramah Si Tongkat Sakti menyapa, "Maaf, siapa Andika berdua ini, dan apa maksud dan tujuan kemari?" tanyanya dengan ramah.

"Maaf, saya Bayu dan ini Rara. Apakah saya berhadapan dengan Si Tongkat Sakti?" tanya Bayu.

"Benar, aku Si Tongkat Sakti," ujarnya.

"Maaf jika saya mengganggu ketenangan Anda," balas Bayu sambil mengeluarkan lencananya dan melanjutkan, "Apakah Aki tahu tentang barang ini?"

Si Tongkat Sakti terkejut melihat Bayu mengeluarkan lencana itu karena ia tahu siapa pemilik lencana itu, karena dulu ia diberitahu oleh gurunya.

Dengan heran bercampur terkejut ia berkata, "Ya, aku tahu tentang barang itu, akan tetapi apa tujuan Anda kemari?"

Segera Bayu menceritakan tentang Dewa Iblis, mengenai ia mengumpulkan para pendekar di Hutan Larangan.

Si Tongkat Sakti mengangguk-angguk sambil berkata, "Baiklah, aku dan muridku akan membantu sekuat tenaga, karena ini bukan masalah yang kecil."

Segera Si Tongkat Sakti memperkenalkan muridnya yang bernama Suro kepada Bayu dan Rara.

Karena sifat Bayu yang riang dan aneh, maka dalam waktu sebentar saja mereka pun akrab.

Sedangkan Rara segera berkeliling menikmati keindahan pantai yang indah dari tempat ia berdiri.

Setelah berbincang-bincang sampai sore hari, maka Bayu pun meninggalkan kediaman Si Tongkat Sakti bersama Rara.

Bayu dan Rara pun segera menaiki rajawalinya dan menghilang di angkasa.

"Sungguh anak muda yang hebat," gumam Si Tongkat Sakti sambil melihat ke arah lenyapnya Bayu itu.

Suro segera bertanya, "Kenapa, Guru?" "Pemuda itu ilmunya sangat tinggi, mungkin sepuluh kali lipat dari kepandaian aku. Lagi pula, ia tampaknya bukan keturunan sembarangan," kata Si Tongkat Sakti. "Sudahlah, mari kita masuk dan berkemas karena besok kita akan pergi ke Hutan Larangan itu."

"Baiklah, Guru," sahut Suro.

Akhirnya, mereka pun masuk dan beristirahat karena besok akan meninggalkan tempat itu.

Karena tidak banyak yang dibawa, sebentar saja akhirnya selesai.

"Kang Rangga, ayo cepat lari! Jangan sampai Raja Racun itu mengejar kita, kita harus sampai ke tujuan kita!" seru kawannya.

"Aku sudah tahu, jangan kau berteriak-teriak, Dawung!" teriak Rangga.

Mereka berlari secepat-cepatnya agar tidak terkejar musuhnya.

Tampak di belakang, seorang lelaki berumur sekitar empat puluh tahun mengejar kedua orang tadi.

Raja Racun sangat marah karena muridnya mati dikeroyok orang-orang dari Perguruan Awan Putih.

Dia terlambat menyelamatkan nyawa muridnya. Dengan marah ia mengamuk, sebentar saja dua puluh lawannya mati dengan mengenaskan karena keracunan.

Tinggal dua orang yang nyalinya sudah pecah, dan mereka pun segera melarikan diri.

Ia sudah berniat untuk membalas dendam atas kematian muridnya dengan membunuh semua orang Perguruan Awan Putih.

Rangga dan Dawung berlari sekuat tenaga, peluh keringat membasahi seluruh tubuhnya, napasnya pun terengah-engah.

Akhirnya mereka sampai di jalan yang lumayan besar, mereka berharap ada orang yang mau membantunya.

Kebetulan Bayu dan Rara sedang melintasi tempat itu. Mereka baru saja dari Kota Waru Gede, setelah meninggalkan tempat Si Tongkat Sakti, akhirnya mereka tiba di sebuah kota yang lumayan besar, dan memutuskan menginap di kota itu.

Pagi harinya mereka meninggalkan penginapan setelah sarapan.

Tujuan mereka adalah Gunung Gede untuk bertemu orang yang berjuluk Ki Anjar Gunung Gede.

Karena letaknya lumayan dekat, mereka memutuskan untuk berjalan kaki saja.

Secara tidak sengaja mereka bertemu dengan murid Perguruan Awan Putih yang dikejar Raja Racun tadi.

Bayu yang curiga segera menghentikan mereka sambil berkata, "Maaf, Kisanak, tampaknya Andika berdua seperti ketakutan."

"Benar, Kisanak, saya Rangga dan ini Dawung. Kami murid Perguruan Awan Putih. Kami sedang dikejar oleh Raja Racun karena kami membunuh muridnya. Dua puluh saudara kami mati karena keracunan. Apakah Kisanak dapat membantu kami?"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment