Halo!

Dewa Naga - Chapter 09

Memuat...
Dewa Naga

Chapter 09

"Tenanglah, kisanak. Biar aku yang menghadapi orang itu. Mari kita tunggu saja dia," ujar Bayu.

"Terima kasih, kisanak," sahut Dawung.

"Kakang, hati-hati dengan racunnya," bisik Rara yang cemas melihat kekasihnya, karena ia takut jika Bayu terkena racun.

"Tenanglah, Rara," sahut Bayu.

Rara mana tahu jika Bayu sekarang bisa dikatakan rajanya dari segala racun.

Tak lama, akhirnya orang yang dinanti tiba juga.

Dengan wajah merah karena marah, Raja Racun membentak, "He, bocah! Mau lari ke mana kau? Jangan harap kau bisa lolos dari aku, karena semua orang perguruanmu akan aku bunuh semua!"

"Tenang, kisanak, jangan marah-marah, nanti cepat tua," ejek Bayu.

"Siapa kau? Berani-beraninya bertingkah di depan aku? Apa kau belum tahu siapa aku?" teriaknya.

"Aku tahu siapa kau. Kau orang yang dijuluki Raja Racun. Akan tetapi, aku tidak takut dengan racun murahanmu. Apakah kau mau bertanding racun dengan aku, walaupun cuma sedikit pengetahuanku mengenai racun?" tantang Bayu.

"Baiklah, jangan salahkan kau mampus oleh racunku!" sahut Raja Racun dengan jumawa, karena ia yakin dapat mengalahkan pemuda itu.

"Silakan kau mulai, langsung saja yang paling ampuh karena aku tidak punya banyak waktu!"

Raja Racun merasa terhina oleh Bayu. Dengan berteriak ia menyerang, "Rasakan Racun Ular Emasku ini! Hiyat!" Blumm!

Terdengar ledakan yang nyaring.

Tampak debu berterbangan menutupi tempat Bayu berada.

Rara dan dua orang tadi pucat bercampur cemas karena membayangkan Bayu mati dengan mengenaskan.

Raja Racun tertawa karena yakin pemuda itu pasti mampus.

Perlahan debu itu menghilang, akan tetapi, yang mengejutkan, Bayu masih segar bugar. Dengan tersenyum ia berkata, "Hmm, racun rendahan saja dipamerkan. Sekarang sambutlah racunku ini yang dinamai Racun Inti Bumi, sepuluh kali lipat lebih ampuh dari punyamu!"

Raja Racun terkejut mendengar nama racun tadi karena menurutnya racun itu sudah punah ratusan tahun yang lalu.

Dahulu, racun itu dimiliki oleh Iblis Racun Merah.

Tanpa berpikir panjang, ia segera berbalik untuk berlari meninggalkan tempat itu, akan tetapi terlambat.

Raja Racun merasa dari belakang ada angin yang lembut menyerang tubuhnya dengan kecepatan yang mengagumkan.

Angin pukulan Bayu itu berbau busuk yang sangat memuakkan.

Sebagai orang yang tahu akan racun, tak ayal Raja Racun insaf jika pukulan yang mengandung racun itu lebih mematikan daripada racunnya.

Terdengar suara tertahan dari mulut Raja Racun.

Perlahan tubuhnya roboh ke tanah, perlahan-lahan kulitnya berwarna kehijau-hijauan, dan napasnya pun berhenti.

Akhirnya tamatlah riwayat Raja Racun yang ganas itu di tangan Bayu.

Tiga orang yang sejak tadi menonton tanpa terasa bulu kuduknya merinding. Mereka membayangkan jika tubuh mereka yang terkena racun itu pasti nasibnya akan sama seperti Raja Racun tadi.

Bayu tampak menundukkan kepala, seakan merasa bersalah menurunkan tangan keji. Ia menganggap jika tindakannya terlalu kejam dan tidak manusiawi.

"Mari kita kuburkan mayat ini agar racunnya tidak menyebar ke mana-mana. Bolehkah aku pinjam pedangmu?" tanya Bayu pada dua murid Perguruan Awan Putih.

"Silakan, dan kami sangat mengucapkan terima kasih atas bantuan kisanak," kata Rangga. "Itu sudah menjadi kewajiban kita untuk saling tolong-menolong sesama, selama perbuatan itu baik," sahut Bayu dengan merendah.

Dengan berbekal pedang pinjaman, Bayu pun segera membuat liang untuk mengubur mayat Raja Racun.

Tak lama, akhirnya sebuah liang pun segera jadi dan segera Bayu menguburkan mayat itu.

Tak lupa ia mengembalikan pedang pinjamannya kepada pemiliknya.

"Masalah kisanak sudah selesai, kami akan melanjutkan perjalanan kami," sahut Bayu sambil memandang Rara yang sedari tadi diam, entah apa yang sedang dipikirkannya.

"Baiklah, kisanak, kami juga akan pulang ke perguruan kami. Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih," balas Dawung.

Akhirnya mereka pun segera berpisah untuk melanjutkan tujuannya masing-masing.

Bayu merasa heran melihat kekasihnya yang sedari tadi diam. Dengan pelan ia berkata, "Rara, kenapa kau? Semenjak dari tadi diam saja?"

"Aku masih membayangkan mengenai mayat mengerikan tadi," helanya.

Gunung Gede menjulang tinggi dan kokoh.

Hutan yang menghijau meliputi seluruhnya.

Di lembah Batu Hijau berdiam seorang tokoh persilatan yang berilmu tinggi, jarang ada tandingannya.

Ia dikenal dengan nama Ki Anjar Gunung Gede.

Ki Anjar memiliki dua murid, yang tertua bernama Mahesa, yang muda bernama Gajah Saloka.

Mahesa bersifat baik, pendiam, sedangkan Gajah Saloka licik, culas, dan kejam. Akan tetapi, ia pandai dan tak terkalahkan.

Mahesa dan Gajah Saloka mendapat ilmu-ilmu yang dahsyat dari gurunya.

Mahesa yang berbakat baik, dalam sepuluh tahun saja ia hampir menguasai seluruh kesaktian gurunya. Sedangkan Gajah Saloka yang biasa-biasa saja baru menguasai setengahnya. Itu yang membuat Gajah Saloka iri, karena ia menganggap bahwa gurunya pilih kasih terhadap muridnya.

Akhirnya ia merencanakan niat jahatnya, yakni mencuri Kitab Jagad Api milik gurunya.

Ia pun sedang mencari waktu yang tepat untuk meluluskan maksud jahatnya.

Waktu yang diharapkan akhirnya datang juga. Guru dan kakak seperguruan sedang meninggalkan pondoknya untuk menolong penduduk yang tinggal di kaki gunung yang terkena penyakit. Karena Ki Anjar tahu mengenai pengobatan, Gajah Saloka ditugaskan untuk menjaga pondoknya.

Dengan tersenyum licik, Gajah Saloka memulai pencarian kitab gurunya.

Diacak-acak semua barang yang ada dalam pondoknya.

Akhirnya pencariannya pun berhasil.

Segera ia membereskan semua barang miliknya untuk meninggalkan tempat itu. Ia berencana untuk pergi ke sebuah gua di puncak Gunung Gede yang tanpa sengaja ia temukan dua tahun lalu.

Dengan tergesa-gesa, ia pun meninggalkan tempat itu.

Sore harinya, Ki Anjar dan Mahesa pulang dari menolong para penduduk, terkejut melihat pondoknya yang porak-poranda.

"Tampaknya ada orang yang memasuki pondok kita. Biar saya yang membereskannya. Mungkin nanti ketahuan barang apa yang hilang," ujar Mahesa.

"Itu lebih baik sambil menunggu adikmu."

"Guru, semua barang-barang Adik Gajah Saloka tidak ada, Guru. Mungkin dia yang melakukan ini," seru Mahesa dengan cemas.

"Mungkin juga. Akhir-akhir ini aku lihat dia agak aneh. Aku tidak tahu pasti apa yang dipikirkannya," ujar Ki Anjar dengan kalem.

"Guru, kira-kira apa yang Adik Gajah Saloka perbuat demikian? Mengobrak-abrik tempat ini dan minggat?" kata Mahesa dengan gemas karena melihat tingkah adiknya yang kelewatan itu.

Ki Anjar berpikir sebentar. Tiba-tiba ia berkata, "Jangan-jangan ia telah mencuri Kitab Jagad Api!" teriak Ki Anjar dengan cemas sambil berlalu menuju tempat penyimpanan kitab pusakanya, diiringi oleh Mahesa di belakangnya.

"Bocah keparat! Beraninya kau mencuri kitab!" teriak Ki Anjar dengan marah besar.

"Tenanglah, Guru, aku akan membunuh muridmu yang murtad itu. Guru di sini saja, aku akan mencari jejaknya. Nanti malam aku kembali!" seru Mahesa.

"Pergilah. Seandainya kau tahu di mana dia berada, cepat kembali ke sini!" pesan Ki Anjar.

"Baik, Guru," kata Mahesa sambil berlari menerobos kegelapan malam.

Ki Anjar segera bersemedi sejenak untuk menenangkan pikirannya.

Sampai tengah malam, Mahesa terus mencari keberadaan Gajah Saloka di semua tempat. Walaupun hari sudah gelap, dengan ketajaman penglihatannya ia dapat memandang sekitar dengan leluasa.

Akan tetapi, tetap saja hasilnya sia-sia.

Tiba-tiba dari kejauhan tampak setitik sinar merah menerobos hutan.

Mahesa menduga cahaya itu pasti berasal dari api unggun.

"Mungkin murid keparat itu yang di sana," batinnya.

Dengan perlahan-lahan agar tidak menimbulkan suara yang mencurigakan, Mahesa mendekati asal api tersebut.

Dilihatnya tampak dua orang muda-mudi yang asyik memanggang kijang muda.

Bau daging itu terasa sangat sedap. Tanpa terasa Mahesa menelan ludah karena ia sangat lapar, sejak sore tadi ia berlarian terus.

Siapa dua muda-mudi itu? Mereka adalah Bayu dan Rara. Mereka bermaksud untuk mengunjungi Kediaman Ki Anjar Gunung Gede, akan tetapi karena hari telah malam, akhirnya mereka memutuskan untuk bermalam. Karena perut mereka lapar, Bayu pun segera mencari sesuatu untuk dimakan. Akhirnya ia mendapat kijang yang muda dan gemuk.

Dengan gembira, ia segera membawa ke tempat Rara. Ia pun segera membuat api dan Rara menguliti serta memberi bumbu.

Segera mereka memanggang daging kijang.

Telinga Bayu yang sangat peka mendengar tarikan napas seseorang. Segera ia pun waspada.

Ia diam saja tidak memberitahukan kepada Rara yang sedang asyik memanggang kijang.

Suara tarikan napas itu tetap di tempatnya. Bayu memutuskan untuk melihat siapa yang datang.

"Keluarlah, sahabat, jangan hanya bersembunyi di situ!" seru Bayu secara tiba-tiba sambil menoleh ke arah tamunya.

Mahesa tercengang karena pemuda itu tahu keberadaannya walaupun jaraknya cukup jauh. Itu menandakan ilmunya sangat tinggi.

Dengan malu-malu, Mahesa segera keluar.

"Maaf, kisanak, saya mengganggu Anda," ujar Mahesa.

"Kakang, siapa dia? Sepertinya orang baik," bisik Rara.

"Tenanglah, Rara, selesaikan dulu pekerjaanmu," balas Bayu dengan berbisik pula.

"Ah, tidak apa-apa. Maaf, kisanak ini siapa?" tanya Bayu.

"Saya Mahesa, murid Ki Anjar Gunung Gede."

"Saya Bayu dan ini Rara. Kebetulan sekali kami ingin bertemu gurumu, akan tetapi kami tadi kemalaman, akhirnya saya memutuskan bermalam dulu di sini," ujar Bayu.

"Maaf, ada urusan apa mencari guruku?" tanya Mahesa dengan penuh selidik.

"Masalah penting. Hanya Ki Anjar saja yang dapat memutuskan, akan tetapi, kau tidak usah khawatir. Kami tidak bermaksud jahat," sahut Bayu.

"Maaf, kalau boleh tahu kenapa malam-malam berada di hutan?" tanya Bayu.

Akhirnya Mahesa menceritakan mengenai tugas gurunya untuk mencari adik seperguruannya yang melarikan kitab.

Sementara itu, daging panggang pun matang. Mereka pun segera memakan bersama.

Mereka pun segera akrab. Bayu dan Rara berjanji membantu Mahesa.

Akhirnya Mahesa kembali ke tempat gurunya.

Bayu dan Rara segera memutuskan tidur.

Bayu membiarkan kekasihnya tidur dengan pulas.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment