Chapter 10
Ia menjaganya di samping Rara sambil terus memandangi wajah kekasihnya yang cantik jelita.
Langit di ujung timur berwarna sedikit jingga. Embun-embun pagi membasahi daun dan rerumputan, dan kabut halimun yang menyelimuti bumi mulai menipis. Ayam jantan berkokok nyaring memecah keheningan pagi. Bersamaan dengan itu, Rara pun bangun.
Segera mereka mencari air untuk mandi secara bergantian. Sementara menunggu Rara selesai, Arya bersemedi sambil mengerahkan Ilmu Jagad untuk mencoba mencari keberadaan adik seperguruan Mahesa itu. Dalam penglihatan batinnya, tampak tempat persembunyiannya, yaitu di sebuah gua di puncak gunung yang letaknya di sebelah barat.
"Kakang, ayo gantian. Ternyata airnya dingin dan menyegarkan," terdengar suara merdu memecah keheningan saat itu.
Segera ia membuka mata dan tersenyum. Tampak di depan berdiri kekasihnya yang tampak segar sehabis mandi.
"Baiklah?" Sambil ia pergi melangkah untuk mandi.
Tak seberapa lama, Arya pun selesai dan kembali.
"Bersiap-siaplah, kita akan melanjutkan perjalanan kita. Ngomong-ngomong, bagaimana latihamu?"
"Baiklah, Kakang, tentang latihanku sudah lumayan."
"Besok jika sudah sempurna, semua akan aku berikan lagi. Aku tidak akan tanggung-tanggung memberikannya karena kau calon istriku. Akan tetapi, ilmu gaib belum aku berikan padamu karena batinmu belum cukup kuat, aku khawatir akan terjadi apa-apa denganmu."
"Ah, kau, Kakang!" seru Rara dengan malu-malu sambil memeluk kekasihnya erat-erat seolah tak ingin dilepaskan.
"Sudahlah, ayo berangkat!"
Pondok kediaman Ki Anjar Gunung Gede tampak seperti keadaan biasanya, seolah-olah tidak ada masalah di tempat itu. Ki Anjar sedang bersemedi dan Mahesa menyiapkan makanan untuk mereka berdua.
Dari kejauhan berjalan dua muda-mudi menuju ke sana. Tadi malam mereka memperoleh ancar-ancar kediaman Ki Anjar dari Mahesa, jadi mereka tidak begitu susah menemukannya.
"Kakang, tampaknya sepi di pondok itu?"
"Tidak, Rara, Ki Anjar dan Mahesa ada di dalam pondok itu."
"Bagaimana kau tahu, Kakang?"
"Itu rahasia. Kapan-kapan aku beri tahu."
"Ah, Kakang ini."
Di belakang pondok tampak Mahesa sedang membelah kayu. Di salah satu bilik di pondok itu, Ki Anjar sedang bersemedi. Sudah sejak fajar tadi ia bersemedi, itu sudah menjadi kebiasaannya sejak ia masih muda. Perlahan ia membuka matanya, tampak sinar tajam dan lembut memancar dari kedua matanya.
"Kelihatannya aku akan kedatangan tamu," batinnya.
Segera ia bangkit dan keluar dari pondoknya. Benar saja, dari kejauhan tampak dua orang yang mendatanginya. Tak lama akhirnya mereka sampai dan berhenti di hadapan Ki Anjar.
"Selamat pagi, Ki Anjar Gunung Gede. Maaf jika kami berdua pagi-pagi mengganggu ketenangan Ki Anjar," sapa Bayu.
"Tidak apa-apa, Anda berdua silakan masuk ke pondok kami."
Ki Anjar mengajak mereka masuk ke dalam pondoknya. Bersamaan dengan itu, dari ruangan belakang muncul Mahesa yang selesai membelah kayu. Segera ia menyapa Bayu dan Rara yang tadi malam ia temui di hutan.
"Mahesa, cepat sediakan makanan dan minuman untuk tamu kita!" perintah Ki Anjar.
"Baik, Guru," Mahesa pun segera pergi ke belakang untuk menyiapkan makanan.
"Maaf, Nak Bayu, apa maksud dan tujuan Anda berdua datang kemari? Tadi malam muridku mengatakan jika ada orang yang akan menemui aku tentang urusan penting," tanya Ki Anjar.
Bayu segera menceritakan tentang Dewa Iblis dengan organisasinya yang sangat rahasia itu, dan juga mengenai undangannya pada para pendekar di pinggir hutan larangan tiga bulan mendatang.
"Baiklah, kami akan ikut karena itu merupakan masalah yang sangat besar."
Mahesa keluar dengan membawa makanan dan minuman untuk tamunya. Ki Anjar mempersilakan tamunya untuk segera memakannya.
"Mengenai murid Ki Anjar yang tadi malam diceritakan Kakang Mahesa, saya sudah tahu di mana ia berada. Sekarang ia sedang berada di gua tersembunyi, letaknya di puncak gunung sebelah barat. Menurut perhitungan saya, ia akan berada di sana agak lama, jadi Ki Anjar tidak usah terlalu tergesa-gesa."
Ki Anjar dan Mahesa agak sangsi mengenai perkataan Bayu itu.
"Baiklah kalau begitu, nanti setelah matahari agak tinggi baru kita berangkat."
Puncak Gunung Gede terasa sangat panas. Di sebuah tebing yang tersembunyi tampak sebuah gua kecil yang tertutup oleh semak belukar. Di dalamnya tampak seorang pemuda yang sedang berlatih silat. Pemuda itu tak lain adalah Gajah Saloka yang sedang mempelajari ilmu dari Kitab Jagad Api milik gurunya yang ia curi.
Bersamaan dengan itu, tampak empat orang yang berdiri di atas tebing yang menghadap mulut gua. Mereka adalah Ki Anjar dan muridnya, serta Bayu dan Rara.
"Dia masih ada di dalam dan sibuk berlatih, ia tidak tahu kehadiran kita," seru Bayu dengan nada agak rendah.
"Baiklah kalau begitu, Mahesa, cepat seret adikmu yang murtad. Seandainya melawan, bunuh saja agar tidak menjadi bibit kejahatan di hari mendatang!" perintah Ki Anjar.
"Baik, Guru."
Mahesa segera menuruni bukit itu dan berdiri di mulut gua. "Gajah Saloka, keluar kau untuk menerima hukuman!" teriaknya dengan menggelegar.
Gajah Saloka yang sedang asyik berlatih terkejut mendengar teriakan tadi. Wajahnya pucat karena ia tahu jika Guru dan Kakaknya datang. Ia tak habis mengerti bagaimana mereka menemukan tempat itu. Dengan tubuh agak bergetar ia keluar. Dari dalam gua tampak berdiri Mahesa dengan wajah memerah karena kemarahannya yang memuncak.
"Gajah Saloka, cepat kembalikan Kitab guru!"
"Kakang, aku tidak akan mengembalikannya karena guru tidak adil. Kau mendapat ilmu yang lebih banyak dariku," serunya.
"Ha ha ha... Karena itu kau berkhianat? Apa kau mau mati?"
"Sudah aku katakan, kitab itu tak akan aku kembalikan kecuali aku sudah menjadi mayat!"
"Baiklah jika itu maumu."
Mahesa segera melancarkan pukulan ke arah Gajah Saloka dengan dahsyat. Gajah Saloka agak terkejut mendapat serangan secara tiba-tiba. Karena mereka seperguruan, maka dengan mudah mengetahui ke mana arah serangan dari kedua pihak. Pertempuran itu semakin lama semakin seru dan dahsyat. Debu-debu berterbangan, batu dan pohon di sekitarnya porak-poranda dan hangus karena terkena pukulan dari Mahesa dan Gajah Saloka yang panas melebihi api. Jurus demi jurus terlewati.
Peluh keringat dengan deras membasahi tubuh mereka. Mahesa unggul satu tingkat karena matang penguasaan ilmu dibanding Gajah Saloka yang baru belajar, akan tetapi ia tidak mudah mengalahkan Gajah Saloka.
Tiba-tiba dari atas tebing meluncur bayangan secepat kilat ke arah pertempuran. Tampak ia memisahkan pertempuran itu. Terpaksa mereka menghentikan pertempurannya. Di samping mereka berdiri Ki Anjar dengan gagah dan matanya memancar mengawasi Gajah Saloka.
"Hei, murid murtad! Bersiaplah karena akan kubunuh kau!" teriaknya sambil menahan kemarahannya.
Gajah Saloka sangat gelisah karena ia sadar jika dirinya tak akan mampu menghadapi gurunya. Tangan Ki Anjar perlahan berwarna merah membara, ia mengeluarkan puncak ilmunya yang bernama Tapak Lautan Api yang amat dahsyat. Gajah Saloka pun mengeluarkan ilmu yang sama. Walaupun kalah, segera ia menyerang gurunya dengan tiba-tiba. Ki Anjar menghadapinya dengan tenang. Serangan yang dilancarkan Gajah Saloka dapat dihindari dengan mudahnya. Serangan Gajah Saloka dilancarkan bertubi-tubi tanpa menghiraukan keselamatannya sendiri.
Ketika memasuki jurus kedua puluh, Ki Anjar melancarkan Tapak Lautan Api yang maha dahsyat ke arah Gajah Saloka. Tanpa ampun, serangan itu dengan telak menghantam dada Gajah Saloka dan menghancurkan semua organ dalamnya.
"Aaaahhhhh!" terdengar suara keluhan tertahan dari mulut Gajah Saloka dan tubuhnya terjatuh ke tanah. Tubuhnya diam tak bergerak karena nyawanya melayang ke alam baka sesaat ia berteriak.
Ki Anjar tampak bersedih mengawasi mayat muridnya. Sementara itu, Mahesa masuk ke dalam gua untuk mengambil kitab gurunya. Tak berselang lama, ia keluar sambil membawa kitab tipis yang sudah usang dan diserahkan pada gurunya.
"Kuburkanlah mayat ini dan segera kembali!"
"Baik, Guru."
Ki Anjar segera meninggalkan Mahesa yang ia tugasi menguburkan mayat. Ia menghampiri Bayu dan Rara yang sejak tadi melihat pertempuran itu. Ki Anjar mengajak mereka berlalu dari situ, meninggalkan Mahesa sendirian menguburkan mayat Gajah Saloka.
Matahari sore mulai masuk ke peraduannya. Kabut tipis mulai menyelimuti pegunungan. Hewan-hewan malam mulai keluar dari sarangnya untuk mencari makanan. Bukit-bukit yang memanjang dari timur ke barat berderet-deret seperti berhubungan, seolah-olah tak terpisahkan.
Di antara rimbunnya dedaunan Tiraikasih dan pohon-pohon yang berdiri kokoh dan menjulang tinggi seperti berlomba untuk sampai ke angkasa, tampak dua insan manusia berlainan jenis yang berjalan perlahan-lahan sambil bergandengan tangan, dimabuk asmara. Seandainya ada orang yang melihat, pasti mengira mereka adalah sepasang dewa-dewi yang turun ke bumi. Mereka menyusuri hutan yang cukup lebat itu tanpa menghiraukan jika siang telah berganti malam.
"Kakang, di mana kita akan tidur?"
"Kelihatannya di depan sana banyak tebing-tebing batu, pasti di sana ada gua."
"Kalau begitu, ayo lebih cepat! Kakiku rasanya sudah minta istirahat."
Tanpa banyak tingkah, pemuda itu segera menggandeng sang gadis dan diajak berlari menembus hutan dengan kecepatan luar biasa. Sebentar saja mereka tiba di sebuah tempat yang dikelilingi tebing batu yang menjulang tinggi tegak lurus.
"Kakang Bayu, apa benar di sini ada gua?" tanya gadis kepada pemuda yang bernama Bayu itu.
"Ada, aku sudah menemukannya. Ayo cepat, Rara!" ajak Bayu pada Rara.
Benar saja, di sela-sela tebing batu yang mereka tuju terdapat gua alam kecil.
"Aku masuk dulu dan membersihkan di dalamnya, dan kau coba kumpulkan ranting-ranting kering untuk api unggun."
"Baiklah, Kakang."
Bayu segera memasuki gua tersebut. Dengan ketajaman matanya, ia dapat melihat dengan jelas keadaan di tempat itu walaupun gelap gulita.