Halo!

Dewa Naga - Chapter 11

Memuat...
Dewa Naga

Chapter 11

Debu dan bebatuan berbagai ukuran memenuhi goa. "Lebih baik aku gunakan jurus pusaran badai saja untuk membersihkannya," pikirnya.

Dengan mengibaskan tangan perlahan, keluarlah angin kuat yang bergulung-gulung seperti angin puyuh mini. Angin itu membawa semua yang ada di dalamnya, yang dapat dikendalikan sesuka hati. Ia mengarahkan angin itu ke arah luar goa.

Sebentar saja, angin itu pun lenyap. Yang tertinggal hanya tumpukan batu bercampur debu yang terbawa angin. Hasilnya, di dalam goa tampak bersih seperti habis disapu. Bayu tersenyum puas melihat hasil pekerjaannya.

Rara kembali sambil membawa setumpukan ranting-ranting kecil yang banyak berserakan di sekitar tempat itu. Dibawanya ranting itu ke dalam goa dan diserahkan pada Bayu. Dengan mengerahkan sedikit inti apinya, ia membuat api. Sebentar saja, api membakar ranting-ranting itu dan menyinari ruangan dalam goa.

Bayu segera duduk bersila di sisi goa sambil memandang kekasihnya. Rara menghampirinya, tanpa malu-malu duduk di pangkuan Bayu dan langsung mencium kekasihnya dengan penuh gairah. Bayu membalasnya tak kalah panas. Semakin lama semakin ganas. Tangan Bayu mulai menjelajah tubuh kekasihnya.

Napsu keduanya semakin membara dan akhirnya mereka berhubungan intim. Rara menyerahkan keperawanannya yang berharga. Bayu memiliki inti rembulan, membuatnya perkasa. Tanpa terasa, mereka bergulat sampai pagi. Mereka pun tertidur pulas tanpa busana hingga matahari tinggi.

Bayu perlahan membuka matanya. Di sisinya terbaring kekasihnya yang cantik jelita, tanpa busana, manja, dan tampak matanya berbinar-binar walaupun letih. "Terima kasih, kekasihku," kata Bayu sambil mencium Rara dengan mesra.

"Aku bahagia karena selamanya kita akan bersama, walaupun mungkin kau punya istri selain aku. Aku pun rela asal kau dapat membahagiakan semua," ujar Rara.

"Masak boleh aku punya kekasih lain?" tanya Bayu seperti tidak percaya mendengar perkataan kekasihnya itu.

"Benar, kakang. Aku rela, karena aku yakin banyak wanita yang tergila-gila melihat ketampananmu, kakang. Dan satu lagi, kelak aku ingin jadi istri pertamamu, kakang."

"Aku berjanji, kekasihku. Sekarang pun aku sudah menganggapmu sebagai istriku. Sudahlah, ayo cepat berpakaian dan meneruskan perjalanan sambil mencari makanan."

Dewa Iblis Malam semakin lama semakin mencekam. Bulan yang sedang purnama tanpa tertutupi awan menyinari bumi dengan terang benderang. Bintang-bintang berkelap-kelip menghiasi angkasa raya. Sungguh elok ciptaan Tuhan.

Tiba-tiba, bulan purnama yang tadinya bersinar putih cemerlang perlahan-lahan berganti warna menjadi merah membara. Dari empat penjuru mata angin, meluncur dengan secepat kilat empat sinar berwarna merah kehitaman. Semuanya berkumpul menjadi satu. Lambat-lambat, dari kumpulan sinar itu membentuk sebuah kepala raksasa yang sangat mengerikan. Matanya berwarna merah menyala-nyala dan mukanya berwarna hitam pekat. Sungguh pemandangan yang sangat mengerikan, wajah itu seperti iblis.

Orang-orang yang melihat itu menjadi ketakutan. Berbagai anggapan menghantui pikiran mereka. Ada yang mengatakan jika waktu dekat akan terjadi bencana yang hebat, ada juga yang menganggap akan terjadi kiamat. Para pendekar mengartikan kejadian itu akan muncul iblis yang amat mengerikan dan membuat badai pembunuhan yang dahsyat.

Sesungguhnya, apa yang terjadi? Dan apa arti dari semua pertanda itu? Di sebuah rongga bumi yang letaknya jauh di dasar bumi, berdiri sebuah bangunan seperti istana yang kokoh, tetapi mengeluarkan hawa sesat yang dahsyat dan menakutkan. Istana itu disebut Istana Neraka, tempat penguasa kegelapan, yaitu Dewa Iblis.

Di ruangan rahasia dalam istana itu, berdiri sembilan sosok berpakaian merah semua. Kesemuanya adalah Sembilan Penjaga Neraka, bawahan yang paling sakti dan dipercaya oleh Dewa Iblis. Wajah mereka hanya tinggal tengkorak, matanya berwarna hitam menyeramkan, terlebih lagi tangan mereka yang hanya tinggal tulang dan kulit. Bisa dikatakan mereka adalah tengkorak hidup.

Selama lima ratus tahun mereka bertapa di tempat itu untuk menyempurnakan ilmu mereka yang bernama Jagad Neraka Iblis, sambil menjaga tempat bertapa junjungan mereka. Ilmu Jagad Neraka Iblis sangat mengerikan dan membuat pemiliknya haus darah. Tepat di tengah-tengah ruangan terdapat sebuah kuburan batu berwarna hitam, di situlah Dewa Iblis bertapa.

Lima ratus tahun lalu ia bertarung dengan Ki Samber Langit. Setelah bertarung tujuh hari tujuh malam, akhirnya ia kalah. Untung saja, ia masih dapat melarikan diri meskipun menderita luka yang sangat parah. Dengan susah payah ia kembali ke istananya untuk menyembuhkan lukanya. Itu butuh waktu yang amat panjang, selama seratus tahun. Empat ratus tahun ia bertapa dan berhasil menciptakan ilmu baru yang maha dahsyat bernama Ilmu Iblis Menaklukkan Khayangan. Ilmu itu berhasil dikuasainya sampai tingkat tertinggi, yaitu tingkat dua belas.

Perlahan-lahan, kuburan batu itu mulai retak. Batu-batu berubah menjadi merah berwarna dan menjadi debu halus. Dari dalamnya muncul sesosok makhluk yang lebih mengerikan dari kesembilan penjaga neraka itu. Matanya merah, mempunyai taring, dan satu mata di atas dahinya. Pancaran hawa sesatnya membuat kesembilan penjaga itu terpental ke belakang sampai membentur dinding dengan amat keras.

Tulang mereka terasa patah semua. Dengan susah payah mereka bangkit sambil menahan sakit. "Ha... ha... ha... Akhirnya aku berhasil! Sebentar lagi dunia ini akan bertekuk lutut di hadapanku. Ha... ha... ha?" teriak Dewa Iblis dengan suara amat mengerikan seperti suara kuntilanak. Suara Dewa Iblis itu membuat bebatuan di langit-langit berguguran semua karena pancaran tenaga dalam yang terpancar dari suara tadi.

Suara tersebut membuat penderitaan kesembilan penjaga itu semakin hebat saja karena getarannya merontokkan jantung. Mereka berguling ke sana kemari, hampir tidak tahan menahan sakit. "Cepat kalian bersila! Aku akan menurunkan ilmu baruku pada kalian." Dengan napas kempas-kempis seperti hampir mati, mereka berusaha untuk bersila.

Dari tangan kanan Dewa Iblis muncul bulatan sinar berwarna hitam, semakin lama semakin membesar dan dilontarkannya. Di tengah jalan, sinar itu memecah menjadi sembilan bagian dan masing-masing mengarah ke ubun-ubun. *Slep... Slep... Slep...* Tubuh mereka mulai dikelilingi kabut hitam.

Kabut hitam itu makin lama makin tebal saja. Setengah jam kemudian, kabut itu perlahan tapi pasti mulai memasuki tubuh masing-masing dan menghilang. Mereka akhirnya mengakhiri semedi. Keduanya membuka mata, dari mata mereka memancar hawa sesat yang lebih dahsyat dari sebelumnya. Itu menandakan jika kekuatan mereka telah meningkat pesat.

"Terima kasih, Yang Mulia," serempak mereka bersujud pada Dewa Iblis.

"Baiklah, sekarang kalian naiklah ke atas. Cari anak buah sebanyak-banyaknya. Jika sudah cukup kuat, aku akan memimpin mereka untuk menguasai bumi ini."

"Siap laksanakan."

Mulai saat itu, Sembilan Penjaga Neraka itu mengumpulkan anak buah dari golongan hitam.

Sementara itu, di tempat lain, sepasang muda-mudi, Bayu dan Rara, yang sejak tadi mengawasi bulan purnama merah yang sekarang mulai memudar. Sambil menghela napas, Bayu berkata, "Tampaknya Dewa Iblis sudah bangkit."

"Benarkah, kakang? Dari mana kau tahu?"

"Guru pernah meninggalkan pesan jika bulan purnama merah menandakan Dewa Iblis sudah bangkit dari semedinya."

"Kakang, apakah dalam dua bulan mendatang mereka mulai menghancurkan para pendekar?"

"Aku kira belum, soalnya paling sedikit membutuhkan waktu setengah tahun untuk mengumpulkan anak buah."

"Semoga saja pertemuan yang diadakan nanti berjalan sempurna, kakang."

"Semoga saja, karena aku yakin orang-orang yang kita kabari akan mengumpulkan teman-teman mereka secara langsung dan pastinya rahasia itu akan tetap terjaga."

"Sudahlah, kakang. Ayo kita tidur."

"Baiklah."

Ketiga orang itu berjalan tergesa-gesa memasuki sebuah padang rumput di pinggir hutan. Wajah mereka tampak gelisah, seperti sedang menghadapi masalah yang pelik. Sering kali mereka menoleh ke belakang, seolah ada yang mengejar. Siapakah mereka? Dan mengapa mereka begitu gelisah?

Ya, mereka adalah suami istri dan anak gadisnya. Yang pria bernama Ki Lukito, seorang pendekar berusia empat puluh tahunan. Yang wanita bernama Nawangsih, berusia tiga puluh delapan tahun, seorang murid perguruan Rajawali Putih. Ilmunya hanya sedikit di bawah suaminya. Anak gadis mereka yang berumur tujuh belas tahun, seorang gadis cantik yang baru mekar bernama Kumala Putih. Ia menguasai ilmu kedua orang tuanya cukup sempurna.

Kenapa mereka gelisah? Itu karena mereka membawa sebuah peti kayu kecil titipan seorang kakek yang ditemukan istrinya dekat kediaman mereka di kaki Bukit Angin dalam keadaan luka parah. Kakek itu dibawa pulang, walaupun Ki Lukito berupaya mengobatinya, nyawa kakek itu tidak tertolong. Sebelum meninggal, kakek itu sempat berpesan untuk menjaga peti itu agar tidak jatuh ke tangan orang jahat. Ki Lukito pun menyanggupinya, meskipun tidak tahu apa isi peti kecil itu.

Pada malam harinya, rumah mereka disatroni oleh orang yang tidak mereka kenal. Mereka berjumlah delapan, dan semuanya memakai topeng hitam. Mereka meminta peti yang diwariskan oleh kakek tua itu. Akan tetapi, Ki Lukito tidak menyerahkan peti itu karena ia tahu bahwa orang-orang yang menyatroni rumah mereka pasti orang jahat. Akhirnya terjadi pertempuran dengan kedelapan manusia bertopeng itu. Dengan dibantu istri dan anaknya, akhirnya mereka dapat mengalahkan mereka.

Ki Lukito dan istrinya segera berunding mengenai peti itu. Akhirnya, mereka memutuskan untuk mengungsi ke tempat perguruan istrinya, Perguruan Rajawali Putih, yang letaknya dua hari perjalanan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment