Chapter 01
Dalam kabupaten Ceng-ciu di propinsi Shoa-tang, pada jaman tahun kerajaan Kee-teng dari dinasti Song Selatan, terdapat sebuah kewedanaan kecil yang ramai sekali. Namun, pemerintahan pada masa itu sangat buruk, sehingga kewedanaan kecil itu telah menjadi daerah yang dikuasai oleh tiga pemerintah. Bangsa Kim sendiri telah menempatkan seorang bangsanya untuk memerintah daerah itu sebagai Cian-hu, suatu jabatan yang hampir sama tingkatnya dengan wedana yang mempunyai kekuasaan dalam kalangan ketentaraan.
Orang ini bernama Wan Gan Cek, seorang pembesar yang gemar minum minuman keras dan pelesir dengan perempuan-perempuan cantik. Tapi sebagai seorang pembesar yang sangat disegani oleh rakyat dan anak buahnya, Wan Gan Cek tidak menunaikan tugasnya sebagai seorang Cianhu. Ia malah setiap hari mengajak orang bawahannya keluyuran di luar atau keluar masuk rumah-rumah minuman yang terkenal dalam kewedanaan kecil itu.
Pada suatu hari, selagi ia asyik makan minum di atas loteng sebuah kedai arak dan dilayani oleh beberapa orang bunga latar, tiba-tiba dari kejauhan ia melihat seseorang mendatangi dengan menunggang seekor kuda putih yang dikaburkan bagaikan terbang cepatnya. Kuda tunggang itu selain berbadan tegap, di atas punggungnya tergantung sebuah pelana yang baik sekali, selain rajutan dan sulamannya indah, perhiasannya yang dibuat dari pada logam tampak berkilauan cahayanya karena tertimpa sinar matahari.
Wan Gan Cek yang bersifat tamak dan selalu mengiler melihat orang lain memiliki barang sesuatu yang lebih baik daripada punyanya sendiri, begitu melihat pelana yang dikenakan di punggung kuda putih itu, ia lantas bertanya kepada seorang penasehatnya, Lauw Su-ya yang duduk di sampingnya, "Siapakah penunggang kuda yang sedang mendatangi itu?" Lauw Su-ya yang telah sekian tahun lamanya hidup di Ek-Touw dan kenal tidak sedikit orang-orang yang menjadi para penghuni kewedanaan di situ, segera juga mengenali siapa adanya penunggang kuda yang berbulu putih itu.
"Oh, dialah Yo An Jie, yang membuka perusahaan kecil di See-ankie dan khusus membuat pelana," jawabnya dengan sikap yang sangat hormat. "Apakah Cian-hu Tayjin hendak membeli pelana?" Wan Gan Cek menggelengkan kepalanya. "Bukan," katanya. "Cobalah engkau panggil dia menghadap kepadaku di sini." "Aku segera pergi," kata Lauw Su-ya.
Tanpa diperintah satu dua kali, ia segera turun dari loteng dan melambaikan tangannya ke arah Yo An Jie. "Yo An Jie, Cian-hu Lo-ya memanggilmu!" Si pembuat pelana ketika tiba di muka kedai arak itu, segera menahan tali kekang kudanya dan lompat turun dengan wajah berseri-seri. "Apakah barangkali engkau hendak mentraktirkan minum?" katanya sambil tertawa. "Bukan aku," sahut su-ya she Lauw itu, "tapi engkaulah yang harus mentraktirku. Chian-hu Loya telah memerintahkan aku memanggilmu. Ini tentu berarti ada rejeki yang bisa kemudian menyasar ke kantongmu. Ayoh, lekas engkau pergi menghadap Cian-hu!"
Sesudah menambatkan kudanya di bawah pohon, Yo An Jie segera mengikut Lauw Su-ya pergi menghadap kepada Wan Gan Cek di atas loteng. Tatkala melihat Yo An Jie, Wan Gan Cek yang congkak segera bertanya, "Apakah engkau ini si pembuat pelana yang bernama Yo An Jie?" Yo An Jie mendongkol sekali melihat lagak Chian-hu bangsa Kim yang tengik itu, tapi sebagai seorang pedagang tak layak ia berlaku kasar, maka apa boleh buat ia segera mengiakan pertanyaan pembesar bangsa asing itu.
"Pelana yang dikenakan pada kudamu," kata Wan Gan Cek, "Bukankah dibuat daripada mantel bersulam seorang wanita?" "Pelana itu milik adik perempuanku Yo Su Nio," sahut Yo An Jie, "Sudah barang-tentu dibuat dan disulam dengan seindah-indahnya. Apakah barangkali Tayjin hendak memesan pelana yang serupa ini?" "Mana bisa aku bersabar sampai dibuatkan sebuah pelana lain?" Kata pembesar bangsa Kim itu sambil menyengir. "Begini saja, pelana itu kau antarkan ke rumahku, nanti kuberi kamu hadiah uang dua tiauw!"
Tatkala itu karena kuda Yo An Jie menderita patah pinggang dan tengah diberi istirahat di rumahnya, maka ia keluar dengan menunggangi kuda adik perempuannya Su Nio. Anak dara ini selain sedari kecil gemar ilmu silat dan naik kuda, iapun pandai sekali dalam hal menyulam dan ilmu surat. Tapi sungguh malang sekali ayah bunda mereka telah menutup mata sebelum usia mereka menjadi dewasa.
Begitulah dengan bekerja sama mereka berdua mencari nafkah dengan jalan membuka perusahaan kecil yang khusus membuat pelana di rumah mereka sendiri yang memakai merek See-an-kie. Hari itu Yo An Jie sama-sekali tidak menyangka, bahwa Wan Gan Cek akan memanggilnya dan meminta pelana milik adik perempuannya itu, maka dengan laku hormat ia menolak untuk memberikan itu dengan berkata, "Chian-hu Lo-ya, pelana ini adalah milik adik perempuan hamba, oleh karenanya tak dapat aku berikan kepada tuanku. Tapi jika Chian-hu Lo-ya menginginkan juga pelana yang serupa, nanti akan kuminta adik perempuanku membuatkan pula sebuah."
Wan Gan Cek yang menganggap diri sendiri sebagai raja di kewedanaan Ek-touw itu, belum pernah mendengar ada orang yang berani menolak segala permintaannya. Keruan saja ia menjadi kurang senang dan lalu membentak, "Hai, Yo An Jie, apakah sikapmu yang berbantahan itu berarti hendak melawan segala perintah dan kehendakku? Coba engkau katakan!" "Aku bukan membantah perintah atau kehendak tuanku," kata Yo An Jie yang memang kerap mendengar tentang perbuatan wedana bangsa asing yang lalim dan sewenang-wenang itu. "Sebagaimana telah kukatakan tadi, pelana ini adalah milik adik perempuanku, maka aku merasa tidak punya hak untuk memberikan kepada lain orang. Jika pelana itu milikku sendiri, sudah barang tentu akan kupersembahkan kepada tuanku dengan segala senang hati."
"Tutup bacotmu!" bentak Wan Gan Cek dengan mata mendelik. "Ini adalah buat pertama kalinya kehendakku ditentang orang! Masih bagus aku hanya minta pelana itu, tapi jika aku minta jiwamu, apakah yang hendak kau katakan?" Yo An Jie bukan seorang pengecut yang selalu suka manda saja dinista orang. Maka waktu mendengar kata-kata si wedana bangsa Kim yang kasar itu, kontan amarahnya jadi meluap dan segera menuding muka Wan Gan Cek sambil balas membentak, "Chian-hu jahannam! Bukannya engkau melakukan tugasmu sebagai bapak rakyat, tapi sebaliknya hendak meniru perbuatan pemeras dan perampok yang tidak mengenal peri kemanusiaan! Terhadap lain orang engkau boleh berbuat sesukanya, tapi aku Yo An Jie tidak bersedia diperkuda oleh segala pembesar bebodor seperti cecongormu ini!"
"Hai engkau berani melawan? Engkau berani memberontak terhadap seorang pembesar yang dilantik sendiri oleh Seribaginda?" Tuding Wan Gan Cek ke arah pemuda she Yo yang berdarah panas itu. "Aku takut karena salah tapi tidak sudi menyerah jika pihakku benar!" kata Yo An Jie sambil membalikkan badannya hendak segera turun dari atas loteng kedai minuman itu.
Wan Gan Cek jadi penasaran dan segera memerintahkan Lauw Suya dan anak buahnya untuk menangkap Yo An Jie yang dianggap hendak memberontak kepadanya. Tapi Yo An Jie bukan saja tidak menjadi gentar melihat anak buah wedana bangsa Kim yang bersenjata lengkap itu, malah sebaliknya ia lantas menuding kepada Lauw Su-ya yang mengepalai pengepungan itu sambil tertawa dingin dan berkata, "Lauw Su-ya, engkau dan aku sama-sama bangsa Han, tapi mengapakah engkau rela mengkhianati negara sendiri dan membantu bangsa asing menjajah dengan menggunakan tangan besi? Mengingat bahwa engkau adalah sesama bangsaku, maka aku nasihati supaya engkau segera mundur! Kalau tidak, tinjuku yang tak bermata ini akan membuat perhitungan terhadap siapapun tanpa memilih bulu!"
"Aiii, Yo An Jie, sungguh besar sekali nyalimu berani menggertak aku seorang tua?" bentak Lauw Su-ya sambil membelalakkan matanya. Kemudian ia menoleh kepada para pengawal Wan Gan Cek sambil berseru, "Ringkus dia!" Kata-kata itu baru saja keluar dari mulut si Su-ya, ketika si pemuda she Yo telah lompat maju dan segera menempeling muka penasihat she Lauw itu sehingga terdorong mundur dan jatuh terlentang sambil berseru, "Pemberontakan! Pemberontakan!" Kata-kata itu lalu disambung oleh Wan Gan Cek sendiri yang segera berbangkit dari tempat duduknya sambil memerintahkah anak buahnya mengepung serta meringkus Yo An Jie.
Tapi Yo An Jie yang mudah naik darah dan memang sudah sangat jemu melihat tingkah laku wedana bangsa asing yang sangat tengik itu, segera tangkap seorang serdadu yang hendak memukul dengan toyanya, kemudian dilemparkannya ke arah Wan Gan Cek, sehingga dengan menjerit kaget tercampur gusar ia jatuh terlentang kena ditomplok serdadu yang dilemparkan oleh An Jie. "Pemberontakan! Pemberontakan!" seru si pembesar bebodor.
Sementara Yo An Jie yang melihat gelagat tidak baik, segera menggerakkan kaki dan tangannya untuk memukul dan menendang para pengawal Wan Gan Cek yang hendak menangkapnya, hingga seketika itu juga di atas loteng telah terjadi pertempuran yang hebat sekali antara Yo An Jie dengan anak buah Wan Gan Cek yang dijumlahnya mencapai belasan orang banyaknya. Setelah berhasil dapat merampas sebatang toya dari salah seorang serdadu bangsa Han yang telah dirobohkannya, Yo An Jie telah mengamuk bagaikan singa yang haus darah hingga dalam sedikit saat saja beberapa orang pengawal pribadi Wan Gan Cek telah dapat dirobohkan.
Sedang Lauw Su-ya yang merasa sakit karena telah ditempeleng oleh si pemuda she Yo segera berlari-lari turun ke bawah loteng dan memanggil lebih banyak serdadu jaga untuk bantu mempercepat penangkapan itu.