Halo!

Dewi Tombak - Chapter 02

Memuat...
Dewi Tombak

Chapter 02

Oleh karena kedatangan para serdadu jaga yang jumlahnya kian bertambah banyak, akhirnya An Jie merasa khawatir juga. Ia menganggap tidak mungkin bisa memenangkan pertempuran melawan para serdadu dan pengawal yang jumlahnya sudah hampir mencapai seratus orang.

Sambil membuka jalan dengan mengamuk bagaikan seekor banteng yang sedang kalap, mula-mula ia berniat turun dari atas loteng melalui tangga yang terdapat di situ. Namun, ternyata ia tidak mungkin melakukan hal tersebut karena para serdadu telah mencegatnya di mulut pintu yang menuju ke bawah loteng. Ia pun memutar haluan mendekati jendela loteng, lalu melompat turun bagaikan seekor burung layang-layang yang terbang keluar gua.

Gerakannya sangat gesit dan lincah, sehingga dalam sekejap ia telah berada di bawah loteng tanpa kurang suatu apa pun. Kemudian, setelah memukul mundur para serdadu jaga di depan kedai minuman itu, ia segera melompat ke punggung kudanya dan segera kabur menuju rumahnya sendiri. Dengan demikian, terbebaslah ia dari pengejaran para serdadu itu, yang ternyata lebih pandai makan daripada menangkap orang!

Sementara itu, Lauw Su-ya yang berhati keji mendadak memiliki pikiran busuk untuk mencelakai An Jie dengan mempergunakan tangan orang lain. Sambil mengusap-usap pipinya yang bengkak, ia mengadu kepada Wan Gan Cek. "Chian-hu Tayjin, bangsat Yo An Jie itu perlu sekali kita bekuk selekas mungkin. Pertama, untuk membalas rasa sakit hati Chian-bu Tayjin; kedua, untuk mencegah bibit pemberontakan di kemudian hari yang kemungkinan besar akan dipimpin oleh pemuda jahat itu!"

"Memang benarlah apa katamu," Wan Gan Cek menyetujui. "Karena jika dia tidak lekas dibekuk, kedudukan kita sendiri akan selalu terganggu dan tidak aman. Hai, para pengawalku!" Ia meneriaki para pengawal pribadinya. "Ayolah, kerahkan kawanmu untuk selekas mungkin membekuk pemuda berbahaya itu. Barang siapa yang dapat menangkapnya hidup atau mati, akan kuberi hadiah besar dan kenaikan pangkat!"

Para pengawal yang haus akan imbalan dan pangkat itu tentu saja segera menyanggupi dan tidak menunda lagi untuk melaksanakan perintah tersebut. Namun, saat mereka baru saja hendak berangkat, tiba-tiba Lauw Su-ya teringat akan sesuatu dan berkata, "Nanti dulu. Kalian jangan berangkat dulu!"

Kemudian ia membisikkan beberapa patah kata di telinga tuannya. "Lebih baik Chian-hu Tayjin jangan berlaku tergesa-gesa. Biarlah kita ampuni dahulu nyawa bangsat marga Yo itu untuk beberapa waktu. Karena jika kita membekuknya sekarang, orang pasti akan menyelidiki sebab musabab penangkapan itu. Akhirnya hal tersebut dapat merugikan nama baik Chian-hu Tayjin, karena dianggap hanya membalas dendam semata-mata karena menginginkan barang orang yang tidak seberapa harganya. Menurut pendapat hamba, lebih baik kita mengatur siasat dengan kepala dingin dan cara yang lebih licin, supaya tindakan kita bisa berhasil dengan sekali pukul!"

Karena saran Lauw Su-ya ini, Wan Gan Cek terpaksa membatalkan maksudnya untuk menangkap pemuda marga Yo yang berdarah panas dan tidak sudi dipermainkan orang dengan seenaknya tersebut. Wedana bangsa Kim dan anak buahnya segera meninggalkan kedai minuman itu setelah terlebih dahulu mengancam pemilik kedai dan para pelayannya agar tutup mulut dan tidak menyiarkan peristiwa memalukan yang telah ia alami bersama pemuda marga Yo itu.

Sementara itu, Yo An Jie yang telah lolos dari kepungan anak buah Wan Gan Cek segera pulang ke rumahnya. Ia memberitahukan hal itu kepada adik perempuannya, Yo Su Nio, yang tengah berlatih ilmu tombak di halaman rumah. Sambil memegang tombak Lee-hoa-chio yang bergagang panjang, Su Nio mendengarkan penuturan kakaknya dengan perasaan jengkel.

An Jie dan Su Nio, meski lahir dari rahim yang sama, memiliki sifat yang sangat berbeda. Sang kakak bersifat jujur, kasar, dan pemarah, sedangkan adiknya bersifat lemah lembut, ramah, murah senyum, dan tidak sombong. Hal inilah yang membuat para tetangga dan sahabat senang bergaul dengan kakak beradik tersebut.

Di samping mencari nafkah dengan membuat pelana, kedua saudara ini hidup rukun dan sama-sama menggemari ilmu silat. Di waktu luang, mereka kerap berlatih menggunakan senjata kegemaran masing-masing. Yo An Jie senang memainkan golok, sedangkan Su Nio sangat gemar menggunakan tombak Lee-hoa-chio yang dihiasi bunga-bungaan pada bagian ujungnya.

An Jie yang terkadang suka berkelakar tidak jarang menyerang adiknya secara tiba-tiba. Begitulah pada suatu hari ketika ia melihat Su Nio tengah berlatih memainkan tombak dengan asyiknya, tiba-tiba ia melompat maju sambil memainkan goloknya dan berseru, "Su Nio, lihatlah golokku! Engkau boleh mencoba seranganku ini!"

Sambil berkata demikian, ia segera menerjang adiknya. Su Nio lantas menyambut golok itu dengan tombaknya sambil berseru, "Waspadalah akan serangan balasanku!"

An Jie mempergunakan siasat Tay-peng-laktee (burung garuda turun ke tanah) untuk menebas tombak si gadis. Namun, Su Nio tidak kalah gesit dan cerdik. Ia segera memutar tombaknya dengan lincah sehingga seketika itu juga berhasil menindih bagian belakang golok kakaknya dengan tepat.

"Sungguh bagus sekali!" An Jie bersorak disusul gelak tawa nyaring yang membuat burung-burung gereja di atap rumah terbang berhamburan karena terkejut.

Su Nio merasa gembira karena telah berhasil menindih golok sang kakak. Ia segera menusukkan ujung tombaknya ke arah leher An Jie sambil membentak, "Lihat ujung tombakku!" Bersamaan dengan bentakan itu, ia meluncurkan tusukannya secepat kilat.

Beruntung An Jie memiliki mata yang sangat jeli. Begitu melihat ujung tombak berkelebat ke arah leher, ia segera menundukkan kepala agar tombak itu lewat di atasnya. Kemudian, dengan gerakan secepat angin, ia menangkap gagang tombak lalu menjepitnya di ketiak. Su Nio yang kalah kuat tidak berhasil membebaskan tombaknya.

Wajah Su Nio berubah merah karena jengkel dan penasaran. "Lepaskan tombakku!" bentaknya.

Namun An Jie yang gemar bersenda gurau hanya tertawa dan mengejek, "Ayo, Dik, hendak kusaksikan seberapa besar tenagamu! Akan kuhitung sampai tiga. Jika dalam waktu itu engkau tidak dapat menarik serta membebaskan tombakmu, itu tandanya engkau masih perlu berlatih selama sepuluh tahun lagi! Ha ha ha!"

Hal itu membuat Su Nio sangat kesal. Tiba-tiba ia mendorong tombaknya ke depan dengan sekuat tenaga. Kali ini An Jie sama sekali tidak menyangka bahwa adiknya akan menggunakan siasat meminjam tenaga lawan untuk merobohkan lawan itu sendiri. Ia hampir saja terdorong mundur dengan tubuh terangkat ke atas. Dengan terkejut, ia segera memperberat tubuhnya sehingga dapat berdiri tegak kembali dan tidak sampai terpental ke belakang.

"Ha ha ha!" An Jie menertawakan adiknya. "Ayo, habiskanlah tenagamu untuk mendorongku!"

Namun, siapa sangka saat ia tertawa terbahak-bahak, tiba-tiba ada sehelai daun yang melayang menukik dan menimpa tepat pada lengan An Jie yang sedang menahan tombak. Sentuhan daun itu membuatnya merasa kesemutan sehingga terpaksa melepaskan pegangannya pada gagang tombak. Seketika itu juga, Su Nio mundur ke belakang dan jatuh terlentang karena tidak sempat mempertahankan keseimbangan. Gadis itu merasa dirinya dipermainkan oleh sang kakak, sehingga wajahnya memerah karena dongkol.

Namun saat ia hendak memarahi kakaknya, tiba-tiba ada seseorang tertawa terbahak-bahak sambil berkata, "Ilmu silat Siauw-nio-cu sungguh lihai sekali!"

Tatkala Su Nio menoleh ke arah suara tersebut, tampaklah seorang tua yang rambut dan janggutnya sudah memutih semua. Namun, wajahnya tampak segar dan bercahaya, mirip dengan seorang dewa yang baru turun dari kahyangan. Su Nio tertegun dan menatap wajah orang tua itu dengan perasaan kagum.

Tetapi An Jie yang mudah naik darah merasa seakan-akan dipermainkan oleh orang tua itu. Ia menjadi gusar lalu memaki, "Hai, engkau orang tua yang sudah hampir mati, apa perlunya mengganggu kami yang sedang berlatih? Rasakan golokku ini!"

Dengan sekali lompat, ia menerjang orang tua itu dengan goloknya. Namun, alangkah gesitnya gerakan orang tua tersebut. Begitu ia menggerakkan tangannya ke atas, ia telah memegang sebatang ranting pohon yang segera dipergunakan untuk menangkis golok Yo An Jie.

"Sungguh menggelikan perbuatan orang tua ini," pikir pemuda marga Yo itu. "Apakah otaknya sudah miring sehingga ia berani melawan golokku hanya dengan sebatang ranting pohon? Baiklah, akan kulihat bagaimana kesudahannya nanti!"

Si tua itu tersenyum sambil mengelakkan bacokan Yo An Jie dengan hanya sedikit bergeser ke arah kiri. Kemudian ia menggerakkan ranting pohon di tangannya sambil berkata, "Anak muda, sekarang jagalah serangan balasanku!"

Tanpa bergerak dari tempatnya berdiri, ia segera menggerakkan ranting pohon itu dan mengetukkannya secara tepat pada bagian tengah golok Yo An Jie. Pemuda itu terkejut karena golok di tangannya seketika terpental hingga belasan kaki jauhnya. Di luar dugaan An Jie, ketukan ranting pohon orang tua itu ternyata kekuatannya hampir sama hebatnya dengan hantaman meja! Hal ini membuat An Jie marah bukan kepalang.

"Engkau ini siluman dari mana," bentaknya, "yang telah menghancurkan ilmu golokku dan membuat senjata itu terpental dengan ilmu silumanmu?"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment