Halo!

Dewi Tombak - Chapter 03

Memuat...
Dewi Tombak

Chapter 03

"Engkau harus mengerti bahwa kami, kakak beradik Yo An Jie, tidak akan mudah menyerah kepada siapa pun!" Setelah berkata demikian, ia segera menggunakan kedua tinjunya sekaligus untuk memukul orang tua itu dengan sekuat tenaga.

Namun, Yo Su Nio sedari tadi memperhatikan gerak-gerik si orang tua yang berhasil menjatuhkan golok kakaknya hanya dengan sebatang ranting pohon. Jika dia bukan orang sakti, bagaimana mungkin dia melakukannya dengan begitu mudah?

Karena yakin bahwa orang itu adalah ahli silat yang sangat lihai dan tinggi ilmu kepandaiannya, ia segera melompat menghalangi kakaknya yang hendak memukul orang tua itu sambil berkata, "Koko, sabar dulu!" Kemudian ia menoleh kepada orang tua itu sambil memberi hormat dan bertanya, "Lotiang berasal dari mana? Siapa nama dan marga Lotiang yang mulia?"

Orang tua itu tampak sangat senang melihat sikap si nona yang begitu hormat. Sambil tersenyum, ia menjawab, "Nona, aku senang sekali melihat sikapmu yang begitu hormat. Sayang sekali, aku adalah orang tua yang sudah lama meninggalkan kampung halaman dan merantau sekian lama, sampai-sampai marga dan namaku sendiri pun telah kulupakan!"

"Jika demikian," kata si nona sambil tersenyum, "sebutan apa yang boleh kugunakan untuk memanggilmu?"

Orang tua itu mengangguk sambil tersenyum dan berkata, "Ya, benar apa katamu. Dalam urutan saudara-saudaraku, aku adalah anak keenam. Panggil saja aku Lo Liok."

"Tapi panggilan itu terdengar agak kurang sopan," kata si nona yang tetap ramah dan berseri-seri. "Oleh karena itu, izinkanlah aku memanggilmu dengan sebutan Liok Kong!"

Orang tua itu tertawa dan sepakat mendengar Su Nio memanggilnya dengan nama yang berarti "Kakek Enam" itu. "Engkau menyebut namaku demikian pun boleh," katanya. "Namun, yang sama sekali tidak kusangka adalah pertemuan kita hari ini. Ini benar-benar pertemuan yang berjodoh. Jika engkau tidak keberatan, maukah engkau bersahabat dengan aku, si orang tua ini?"

Yo An Jie yang masih kesal terhadap orang tua itu membelalakkan matanya lalu memotong pembicaraan, "Usiamu sudah sangat tua, bahkan pantas menjadi kakek adik perempuanku. Mana ada aturannya orang tua bersahabat dengan anak-anak?"

Lo Liok tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan itu. "Aku akan merasa sangat bahagia memiliki cucu seperti nona ini!" katanya gembira.

"Jika demikian," kata Yo Su Nio, "aku pun bersedia menjadi cucumu! Dengan ini, aku memberi hormat kepadamu seperti seorang cucu menghormati kakeknya." Setelah berkata demikian, nona itu menjura di hadapan si orang tua.

"Aii, tidak usah sungkan begitu. Tidak usah sungkan!" kata si orang tua berulang kali sambil membantu nona itu bangkit.

Melihat tingkah adiknya, hati An Jie semakin gusar. Ia mengomel, "Kalau begitu, buang saja marga Yo itu dan pergilah mengikuti si tua bangka Lo Liok ini!"

Su Nio mulai jengkel melihat sikap kakaknya yang kasar dan marah-marah tidak keruan. "Engkau sungguh keterlaluan," bentaknya. "Apakah engkau ingin menyaingi nenek bawel dan kakek pikun?"

An Jie tidak menjawab, tetapi pandangannya tidak sengaja beralih ke pipi orang tua itu yang tampak memiliki bekas cap sebagai orang buangan. Dengan senyum dingin ia mengejek, "Ternyata engkau ini bekas narapidana buangan? Hmm!"

Kata-kata itu menarik perhatian si nona. Ia segera memperhatikan pipi orang tua itu. Memang ada bekas cap di sana, tetapi sudah hampir lenyap karena sudah sangat lama.

Liok Kong tersenyum dan menjawab, "Benar. Sewaktu muda, aku memang pernah dibuang ke tempat lain. Rumah tanggaku berantakan karena fitnah pembesar yang zalim. Demikianlah riwayat hidupku yang singkat. Jika engkau tidak terbiasa bergaul dengan orang yang pernah menjalani hukuman, sebaiknya aku mohon diri saja."

Namun, Yo Su Nio segera menahannya sambil tersenyum. "Cucu tidak memiliki prasangka seperti itu. Harap Kakek jangan berpikiran yang tidak-tidak."

Liok Kong tertawa gembira. "Engkau benar-benar cucu perempuan yang sangat baik," katanya. "Aku tidak akan kecewa mewariskan ilmuku yang kuperoleh selama bertahun-tahun merantau di dunia persilatan. Namun, apakah engkau sudi menerima warisan pelajaranku?"

Yo Su Nio yang memang gemar ilmu silat tentu saja merasa sangat senang. Ia memberi hormat kepada Liok Kong dan berkata, "Cucu bersedia menerima warisan pelajaranmu yang berharga!"

"Ilmu ini adalah ilmu tombak Lee-hoa-chio," kata orang tua itu. "Engkau gemar ilmu tombak, dan aku pun mahir dalam ilmu tersebut. Namun, dari siapa engkau belajar ilmu tombak sebelumnya?"

"Tentu saja akulah yang mengajarinya!" sela Yo An Jie dengan suara kaku.

Liok Kong menghela napas. "Sayang sekali, ilmu tombak yang begitu bagus dimainkan dengan keliru, sehingga merusak keaslian ilmu asalnya."

"Jadi engkau menganggap ilmu tombakku jelek dan tidak layak dipelajari?" bentak Yo An Jie kesal. "Tahukah engkau dari mana ilmu tombak ini berasal? Ini adalah ilmu tombak keluarga Yo yang terkenal! Jika tidak percaya, mari kita bertanding untuk menguji keaslian dan kehebatannya!"

"Tidak perlu bertanding," kata Liok Kong tenang. "Sebab engkau pasti tidak akan menang. Tadi aku hanya menggunakan sebatang ranting pohon dan engkau tidak bisa mengalahkanku, apalagi jika aku benar-benar bersenjata tombak! Ah, itu tidak mungkin terjadi."

Mendengar itu, Yo An Jie merasa diremehkan. Ia semakin marah dan mendesak untuk bertanding ilmu tombak dengan orang tua aneh itu.

Akhirnya, Liok Kong bersedia mengabulkan permintaan pemuda itu dengan syarat: ia akan melawannya menggunakan sebatang bambu yang panjangnya sama dengan tombak. Namun, pada bagian ujung bambu yang tajam diikatkan sebuah *pit* (kuas tulis) yang telah dicelupkan ke dalam tinta.

"Cara ini terpaksa kuambil untuk mencegah kecelakaan," kata orang tua itu. "Bukan karena aku meremehkanmu."

An Jie tetap kesal dan tidak berkata sepatah kata pun. Liok Kong kemudian menyuruhnya mengambil tombak yang tadi digunakan oleh Yo Su Nio.

Setelah keduanya bersiap, Liok Kong memberi isyarat agar An Jie menyerang lebih dulu. Tanpa menunggu lama, pemuda itu berseru sambil menusukkan ujung tombaknya ke arah ulu hati Liok Kong, yang kemudian menangkisnya dengan bagian tengah bambu.

Kemudian, dengan gerakan yang sangat cepat hingga sulit dilihat, pada bagian dada baju An Jie tampak dua buah noda tinta. Itu adalah tanda bahwa jika Liok Kong menggunakan tombak sungguhan, pemuda itu sudah menderita dua tusukan dalam sekejap mata!

Namun, An Jie yang keras kepala membantah. Ia berdalih noda di bajunya bukan karena tusukan, melainkan karena percikan tinta saat bambu itu digerakkan.

Terpaksa Liok Kong melanjutkan pertempuran yang berlangsung lebih hebat. An Jie yang ingin segera mengakhiri pertarungan memperhebat serangannya hingga gerakan tombaknya menyerupai baling-baling yang diterjang taufan.

Sebaliknya, gerakan Liok Kong tampak seperti orang yang sedang bermain-main saja. Setelah pertempuran berlangsung sekitar sepuluh jurus, tiba-tiba mata Yo An Jie menjadi kabur dan ia jatuh tersungkur ke tanah tanpa sebab yang jelas.

Orang tua itu segera membantunya berdiri sambil tersenyum. "Apakah engkau terluka?" Yo An Jie terdiam bingung sejenak, lalu menggelengkan kepalanya.

"Jika engkau bertanding sungguh-sungguh denganku," kata Liok Kong, "sedari tadi engkau sudah menderita luka parah yang bisa menewaskanmu! Jika tidak percaya, periksalah berapa banyak noda tinta yang ada di pakaianmu!"

Yo An Jie yang keras kepala tetap membisu, tetapi di dalam hatinya ia mulai merasa ngeri terhadap orang tua itu.

"Ada 108 noda tinta di bajumu!" kata Liok Kong lagi. "Jika tidak percaya, tanggalkan bajumu dan hitung sendiri. Pasti tidak kurang dan tidak lebih."

An Jie menuruti perintah itu. Setelah menghitung noda-nodanya, ternyata benar jumlahnya 108! Tidak kurang dan tidak lebih.

"Ilmu tombak Kakek sungguh lihai!" puji Yo Su Nio kagum. "Harap Kakek segera mengajarkannya kepadaku!"

"Tentu, tentu," sahut Liok Kong gembira. "Apalagi aku sendiri yang telah berjanji untuk mewariskannya kepadamu. Ilmu tombak ini adalah warisan dari Gak Hui, jenderal kenamaan yang namanya tentu sudah kalian dengar."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment