Chapter 04
"Ilmu tombak ini, meski hanya terdiri dari 13 jurus, dapat berubah-ubah menjadi 39, 78, hingga sekian puluh atau ratus jurus yang kerap membingungkan bagi siapa pun yang masih asing terhadap ilmu tersebut."
"Bohong! Keteranganmu itu hanya isapan jempol belaka!" sela Yo An Jie yang merasa tersindir dengan kata-kata tersebut. Dialah yang menganggap dirinya tersinggung oleh ucapan si orang tua.
"Aku bukan bicara takabur!" sahut Liok Kong yang kali ini sengaja mengejeknya. "Jika Su Nio mempelajari ilmu tombakku selama sepuluh hari saja, niscaya kepandaiannya akan melampauimu hingga sepuluh kali lipat! Maka janganlah engkau memandang rendah ilmu tombakku ini!"
Yo An Jie semakin mendongkol lalu membalas membentak, "Jika aku yang terlebih dahulu mengajari ilmu tombak kepadanya sampai benar-benar bisa dikalahkannya, aku bersedia menjadi murid adik perempuanku sendiri!"
Liok Kong tertawa terbahak-bahak. "Ya, ya, itulah tandanya bahwa kelak engkau akan menjadi cucu muridku!" kata orang tua itu.
Kali ini Yo An Jie, yang telah mengetahui betapa lihainya orang tua itu, hanya berani bersungut-sungut di dalam hati tanpa berani menantang bertanding lagi.
Demikianlah, untuk beberapa waktu lamanya, Liok Kong menumpang di rumah kakak beradik itu. Ia mengajarkan ilmu tombak kepada Su Nio, yang kelak membuat sang gadis terkenal di kalangan dunia persilatan sebagai Hoa-chio Yo Su Nio atau si Dewi Tombak.
Di bawah bimbingan Liok Kong—seorang pendekar tanpa nama yang sangat mahir dalam ilmu tombak—Su Nio yang memang berbakat dapat menguasai setiap siasat permainan tombak yang diturunkan oleh orang tua itu. Dalam waktu singkat, permainan tombaknya mengalami kemajuan pesat, bahkan sepuluh kali lipat lebih lihai dibandingkan beberapa hari sebelumnya.
"Tombak ini tergolong senjata bergagang panjang. Lebih menguntungkan jika digunakan dalam peperangan sambil berkuda daripada bertempur dengan berjalan kaki," jelas Liok Kong sebagai keterangan tambahan. "Dalam pertempuran di tempat sempit atau di dalam rumah, pengguna tombak sukar bergerak leluasa. Jika sampai terjadi pertempuran di tempat sempit, lebih baik segera melompat ke tempat terbuka daripada membiarkan diri dikepung di area yang kurang luas." Su Nio berjanji akan memperhatikan petunjuk tersebut.
Suatu hari, Liok Kong menghilang secara tiba-tiba. Sia-sia saja Su Nio dan kakaknya mencari ke mana-mana. Namun, di dalam hati mereka tetap percaya bahwa suatu hari nanti mereka akan berjumpa kembali.
Waktu berlalu secepat anak panah yang melesat dari busurnya. Sebulan telah lewat sejak Liok Kong meninggalkan rumah keluarga Yo diam-diam. Selama itu pula, Su Nio telah menguasai hampir seluruh siasat ilmu tombak milik orang tua aneh tersebut.
Suatu hari, ketika Yo An Jie sedang bepergian dan Su Nio sedang berlatih ilmu tombak dengan asyiknya, tiba-tiba tujuh atau delapan laki-laki bertubuh tinggi besar datang menyatroni tempat itu. Mereka dipimpin oleh seorang laki-laki setengah tua yang pandai bicara. Begitu melihat Su Nio berlatih dengan hebat, laki-laki setengah tua itu menghampirinya dengan sikap ceriwis dan cengengesan.
"Ahai, Nona manis, sungguh lihai ilmu tombakmu! Tapi bagaimanapun juga, kerlingan matamu jauh lebih lihai! Apakah engkau tidak keberatan mengikuti kami menemui Chian-hu Taijin untuk menjadi pelayannya saat minum arak?" sambung orang itu.
Su Nio yang tidak biasa diperlakukan kurang ajar seperti itu langsung membelalakkan matanya dengan alis berdiri. Ia membentak, "Tua bangka bermuka tebal! Ucapan kotor apa yang keluar dari mulutmu itu?"
Salah seorang dari rombongan kasar itu tertawa sambil berkata, "Ahai, sungguh tidak kusangka gadis yang lemah gemulai ini berperangai garang bagaikan kucing hutan! Hihihi!"
Ia berniat meraba dagu Su Nio, tetapi dengan cepat sang gadis mundur sambil melintangkan tombaknya. "Jangan coba-coba mendekat! Jika tidak, ujung tombak inilah yang akan menembusmu!"
Laki-laki kasar itu meremehkan tenaga Su Nio. Ia tetap menghampiri sambil bertanya, "Siapa marga dan namamu?"
Su Nio segera membalikkan gagang tombaknya dan memukulkannya ke tangan orang itu yang secara mendadak hendak menyentuh dadanya dengan tidak sopan. Si buaya darat itu pun mengaduh kesakitan.
"Nona, sungguh kasar perbuatanmu!" kata laki-laki setengah tua yang pandai bicara tadi. "Apakah engkau tidak tahu bahwa kedatangan kami membawa perintah Chian-hu Taijin? Lihatlah, semua tuan-tuan ini adalah pengawal pribadinya!"
"Jika kalian datang membawa perintah majikan kalian," sahut Su Nio dengan dongkol, "mengapa tidak segera mengatakannya, malah menunjukkan perilaku kurang ajar?"
"Nona manis, jangan gusar dahulu," kata laki-laki itu sambil bertingkah bagaikan cacing kepanasan. "Kami diperintahkan untuk membawamu ke gedung Chian-hu..."
"Coba terangkan apa maksudnya!" sela Su Nio tidak sabar.
"Engkau sudah besar, masakah tidak mendengar bahwa Chian-hu Taijin sangat mencintaimu?"
"Cis! Omongan apa itu, tua bangka gila!" Su Nio membentak sambil menudingkan ujung tombak ke arah dada orang itu. Si tua bangka terpaksa mundur.
"Nona jangan gusar. Aku hanya suruhan. Singkirkan ujung tombakmu, masih ada beberapa kata yang hendak kusampaikan..."
"Sudah cukup! Enyahlah kalian dari hadapanku!" kata Su Nio sambil memutar tombaknya. Laki-laki itu dan anak buahnya mundur ke halaman gubuk. "Jika kalian tidak pergi, aku terpaksa menggunakan kekerasan!"
"Perempuan ini rupanya bukan orang baik-baik!" kata si buaya darat yang tadi dipukul tangannya. Sebelum ia sempat melanjutkan bicaranya, Su Nio melompat maju dan menampar mulutnya hingga giginya copot.
"Pemberontakan! Pemberontakan!" teriak orang itu. "Lekas lapor kepada Chian-hu Loya bahwa di sini ada seorang pengacau yang berniat menggulingkan pemerintah!"
"Segera tangkap perempuan liar itu!" seru yang lain hampir bersamaan.
Su Nio yang sudah jengah segera memutar tombaknya secepat baling-baling untuk mengusir mereka. Pada saat itu, seorang pemuda bertubuh tegap datang menunggang kuda. Ia melompat turun dengan tergesa-gesa saat melihat adiknya dikeroyok. Mula-mula ia memukul salah satu dari mereka hingga terkapar, lalu menerjang ke tengah pertempuran sambil berseru nyaring, "Apa sebab kalian mengeroyok adikku? Rasakan tinjuku!"
Pemuda itu tak lain adalah Yo An Jie. Dengan gerakan secepat kilat, ia menghantam beberapa orang hingga mereka lari pontang-panting bagaikan daun kering tertiup angin. Ada yang kepalanya benjut, pipinya bengkak, atau giginya rontok akibat hantaman pemuda kasar itu.
Ia menuding laki-laki setengah tua itu dan memaki, "Hai, Su-ya jahanam! Dahulu aku sudah mengampuni perbuatan busukmu, tapi kali ini aku tidak akan tinggal diam! Terima tinjuku yang akan mencabut nyawamu sekarang juga!"
Laki-laki itu, yang ternyata adalah Lauw Su-ya, hanya pandai bersilat lidah tanpa kemampuan bela diri. Jika ia terkena pukulan Yo An Jie yang mampu mematikan seekor lembu, sudah pasti tulangnya akan hancur berantakan. Namun, anak buahnya segera mengepung Yo An Jie dengan golok dan toya, sehingga terjadilah pertempuran dahsyat di muka gubuk itu.
An Jie dan Su Nio tidak gentar menghadapi lawan yang jumlahnya jauh lebih banyak. Kakak beradik itu mengamuk bagaikan sepasang harimau di tengah kawanan domba. Jeritan ngeri terdengar dan darah berceceran di tanah. Lauw Su-ya yang cemas segera berseru, "Ayo, kita minta bantuan! Laporkan kepada Chian-hu Taijin bahwa orang-orang berbahaya seperti mereka tidak boleh dibiarkan!"
Maka, dalam sekejap, para anak buah itu lari pontang-panting mengikuti Lauw Su-ya yang telah melarikan diri terlebih dahulu.