Chapter 05
Tapi Yo An Jie, yang merasa belum puas dan ingin melampiaskan seluruh kemarahan yang membakar hebat di dalam hatinya, segera mengejar dan memukuli orang-orang yang masih dapat dicekalnya. Hal itu membuat Su Nio khawatir kakaknya akan menimbulkan perkara jiwa, sehingga ia bergegas mencekal tangan An Jie sambil berseru, "Koko, sabar dulu! Ingatlah bahwa jiwa manusia itu tak boleh dibuat permainan!"
"Tidak peduli!" bentak Yo An Jie dengan napas terengah-engah. "Aku tidak menyesal menukar jiwaku dengan mereka sekalian, jika aku telah membasmi mereka sesuka hatiku!"
Tidak lama kemudian, tampak seorang laki-laki berusia tiga puluhan berlari menghampiri kedua bersaudara itu dengan tergesa-gesa. Orang itu ternyata seorang berpangkat Tee-po atau agen polisi yang bersahabat karib dengan pemuda marga Yo tersebut.
"Yo Toako, lekas kabur!" kata orang itu. "Oleh karena hasutan Lauw Su-ya, kini Chianhui Thayjin hendak menyiapkan sepasukan tentara untuk menangkap kalian berdua. Maka sebelum bahaya besar yang mengancam tiba, aku nasihatkan supaya kalian berkemas dan segera melarikan diri ke tempat lain!"
Mendengar kabar itu, kegusaran Yo An Jie semakin berkobar. Ia berseru, "Akan kubunuh dahulu Chian-hu yang lalim dan Su-ya keji itu, barulah kemudian kabur ke tempat lain!"
"Aku bukan menganggap Toako takut terhadap mereka," Tee-po itu kembali menasihati. "Tetapi jumlah mereka jauh lebih banyak daripada dirimu, sehingga tidak mungkin kau berhasil melakukan pembunuhan itu. Kini waktunya sudah sangat mendesak. Segeralah turuti nasihatku dan lekaslah kabur dari sini sebelum terlambat."
Su Nio yang cerdik dan mengerti betapa berbahayanya kedudukan mereka saat itu, ikut membujuk kakaknya untuk menuruti nasihat Tee-po tersebut. Akhirnya, An Jie mau menurut dan menghela napas putus asa.
"Dua puluh tahun lamanya kita berusaha dengan susah payah, tetapi hancur lebur dalam waktu hanya sehari ini saja!" katanya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Lekaslah berkemas, Yo Toako!" kata si Tee-po dengan suara setengah memaksa. "Jangan pikirkan harta benda; keselamatan diri dan jiwamulah yang jauh lebih penting daripada itu semua. Jika kalian tidak lekas kabur, bagaimana cara aku menolak perintah Chian-hu untuk menangkap kalian?"
Su Nio tidak lupa mengucapkan terima kasih atas kebaikan hati Tee-po itu. Ia kemudian berkemas, membawa uang, barang-barang berharga, serta pakaian yang dibungkus menjadi dua bungkusan. Setelah itu, ia menyamar dengan mengenakan seperangkat pakaian laki-laki, membawa tombak, dan memasang pelana bersulam pada kuda kesayangannya.
Langkah tersebut diikuti oleh Yo An Jie. Setelah selesai berkemas, ia segera menyoren sebilah golok Tanto di punggungnya.
"Gubuk serta seluruh isinya aku serahkan kepadamu," kata An Jie kepada sahabatnya itu saat menuntun kuda dari istal. "Engkau boleh berbuat apa saja dengan itu semua. Selamat tinggal!"
"Selamat tinggal kuucapkan kepada kalian berdua!" kata Tee-po itu dengan raut wajah terharu. "Semoga Thian melindungi kalian, sehingga bangsa Kim yang menjajah negara kita dapat dibasmi dan diusir dari tanah air kita!"
Kemudian An Jie dan Su Nio menunggangi kuda masing-masing dan meninggalkan Kewedanaan Ektouw untuk merantau entah ke mana tujuannya. Ketika pasukan tentara Wan Gan Cek tiba, mereka merasa kecewa melihat gubuk kakak beradik Yo itu sudah kosong.
Dengan mengandalkan kuda yang dapat berlari sangat cepat, dalam waktu singkat An Jie dan Su Nio telah terpisah sejauh 20 atau 30 lie dari desa mereka. Tatkala melihat tidak ada tentara Chian-hu yang mengejar di belakang, Su Nio menahan tali kekang kudanya untuk beristirahat sejenak sambil bertanya, "Hendak ke manakah kita sekarang ini?"
"Entahlah," sahut An Jie sambil menghela napas panjang.
"Jika bukan engkau yang menimbulkan keonaran," kata Su Nio, "niscaya kita tidak sampai mengalami peristiwa yang tidak enak ini."
"Memang benar apa katamu, Adik," kata Yo An Jie. "Tetapi apakah di dunia ini ada manusia yang begitu sabar hingga tidak gusar jika dihina orang? Ingatlah, penghinaan dan pemerasan cara Chian-hu bedebah itu tak boleh didiamkan begitu saja. Sayang aku tak sempat mencincang badannya dan meminum darahnya. Kalau tidak, dia akan merasakan sendiri betapa tidak menguntungkannya bersikap tamak dan keji!"
Mula-mula Su Nio menyesalkan tindakan kakaknya. Namun, setelah berpikir lebih tenang, ia berbalik membenarkan tindakan tersebut dengan keyakinan bahwa Thian tidak buta. Barang siapa yang bersalah tentu tidak akan dibenarkan, demikian pula sebaliknya. Segala sesuatu yang telah terjadi, benar atau salah, tentu tidak dapat ditarik kembali. Namun, apa yang akan terjadi kelak harus dipikirkan dan ditimbang dengan masak. Demikianlah pertimbangan si nona atas kakaknya, satu-satunya orang di dunia ini yang menjadi pengganti ayah dan bundanya.
Selagi berembuk mengenai tujuan mereka, tiba-tiba dari kejauhan tampak seorang perempuan muda berbaju merah lewat di jalan yang sama dengan berkuda. Meski kemudian ia telah melewati mereka dan terpisah agak jauh, matanya yang bagus sesekali masih dikerlingkan ke arah kakak beradik marga Yo tersebut. An Jie yang melihat hal itu merasa dongkol dan mengomel, "Hah, sungguh genit sekali lagak wanita berandalan yang tak keruan asal-usulnya itu!"
Kata-kata itu terdengar oleh si perempuan muda. Seketika itu juga ia menahan tali kekang kudanya sambil melirik ke belakang dan mencibirkan bibir ke arah Yo An Jie. Merasa diejek, mata An Jie membelalak dan ia melontarkan kata-kata pedas, "Hai, rupanya dia itu penjelmaan kera liar yang baru kali ini menjumpai manusia. Tampaknya dia keheranan setengah mampus!"
Tatkala nona berbaju merah itu kembali mencibirkan bibirnya, Yo An Jie menjadi sangat gusar dan membentak, "Jika belum kuajar adat si kera liar ini, tentulah dia belum kapok mengejek orang!"
"Koko, lagi-lagi engkau hendak menimbulkan keonaran!" Su Nio menyesalkan sikap kakaknya.
"Tidak! Aku harus menghajar kera yang tidak mengerti sopan santun ini!" seru Yo An Jie. Ia lantas mengejar dan melompat untuk memukul nona berbaju merah itu. Namun, melihat tinju menyambar ke arahnya, si nona segera menepuk pantat kudanya sehingga kuda itu melompat ke muka secara tiba-tiba, dan tinju Yo An Jie hanya memukul angin.
Su Nio bergegas memeluk tubuh kakaknya sambil berkata, "Jangan mengumbar amarah tanpa maksud yang jelas. Ia berjalan menurut tujuannya sendiri, dan kita pun tidak memiliki urusan dengan nona itu. Apa yang hendak engkau perebutkan?"
"Aku sangat jemu melihat tingkah lakunya yang terlampau genit dan tidak sopan itu!" kata si pemuda.
Selagi mereka bertengkar, nona berbaju merah itu memacu kudanya masuk ke dalam rimba hingga lenyap di balik semak-semak sepanjang jalan yang sunyi itu. Setelah perempuan tersebut tidak terlihat lagi, amarah Yo An Jie mereda. Ia berkata, "Seandainya aku hendak dijodohkan kepadanya, niscaya akan kutolak mentah-mentah!"
"Eh, mengapa engkau marah-marah sendiri?" kata Su Nio yang mendadak tertawa geli. "Dia merdeka untuk berbuat menurut caranya sendiri, mengapa engkau mencampuri urusan orang lain?"
An Jie terbungkam dengan wajah memerah jengah. Ia menyadari bahwa ia baru saja asal bicara tanpa berpikir panjang. "Siapa juga yang sudi memberikan nona itu sebagai jodohku? Dasar mulut sialan, sembarangan mengucapkan kata-kata!" pikirnya dalam hati, gemas pada diri sendiri.
"Ya, mungkin juga akulah yang salah," katanya lemas.
"Ada kemungkinan dia mengerlingkan matanya kepadamu karena mengira kau seorang pemuda tampan! Dia tidak tahu bahwa kalian sesama jenis kelamin yang menyamar sebagai laki-laki!"
"Kalau benar dia jatuh hati kepadaku," kelakar Su Nio sambil tertawa, "aku pun bersedia menerima dia sebagai istri!"
"Mampus kau!" kata An Jie sambil tertawa terbahak-bahak.
Mereka berdua tertawa geli, kemudian melanjutkan perjalanan untuk mencari penginapan dan kedai guna melepas dahaga serta lapar. Petang hari itu, setelah makan dan bertukar pakaian, kedua kakak beradik itu masuk ke kamar yang mereka sewa di sebuah rumah penginapan di desa yang sunyi dan terpencil.
Namun, tidak lama setelah mereka merebahkan diri, tiba-tiba terdengar ringkikan kuda dari arah istal di belakang penginapan. Su Nio terkejut. "Di istal mungkin ada pencuri," katanya kepada kakaknya.
An Jie segera memasang telinga. "Itu suara ringkikan kudaku, Si Putih," kata Su Nio lagi.
"Benar!" An Jie membenarkan.
Su Nio segera merapikan pakaiannya dan melompat keluar jendela kamar dengan cepat. Ia menuju ke istal dan mendapati pelana kudanya yang bersulam indah telah lenyap.
"Kurang ajar!" gerutu si nona. "Dari manakah datangnya pencuri yang begitu berani mencuri pelana kesayanganku itu? Biar bagaimanapun, aku harus mengambilnya kembali!"
Di bawah sinar rembulan, ia melihat samar-samar sebuah bayangan manusia berpakaian malam berkelebat secepat anak panah. Su Nio sangat terkejut dan segera mengejarnya sambil berseru, "Bangsat, hendak ke mana engkau kabur?"