Halo!

Dewi Tombak - Chapter 06

Memuat...
Dewi Tombak

Chapter 06

"Tengoklah senjata rahasia milikku ini!" Namun, Su Nio merasa kecewa saat menyadari bahwa ia lupa membawa kantong piau yang biasa tersampit di punggungnya.

Sebagai pengganti senjata rahasia, gadis itu melepaskan salah satu cincin pualamnya, lalu melemparkannya ke arah bayangan merah yang tengah berlari. Sesaat kemudian, sosok itu roboh ke tanah setelah terdengar teriakan "Aduh!" yang sangat nyaring.

Alih-alih marah, Su Nio malah tertawa dan berkata, "Ahai, ternyata dia lagi!" Sementara itu, si pencuri yang ternyata adalah dara jelita yang pernah dijumpainya di jalan dan sempat bertengkar dengan kakaknya, tampak tertegun dan menatap wajah Su Nio dalam diam.

Su Nio melangkah ke depan sambil tersenyum dan bertanya, "Apakah Nona menyukai pelana sulamku itu? Nanti akan kubelikan satu untukmu!" Setelah terdiam sejenak, gadis berbaju merah itu balik bertanya, "Apakah kau punya banyak pelana serupa itu?"

"Aku justru membuka toko yang khusus menjual pelana," sahut Yo Su Nio.

"Kalau begitu," kata gadis berbaju merah itu sambil mengusap-usap pelana yang dicurinya, "pantas saja buatannya sangat indah." Su Nio melihat betapa senangnya gadis itu, sehingga dengan tulus ia berkata, "Jika kau menyukainya, terimalah pelana itu sebagai tanda persahabatan kita!"

"Namun, menurut aturan sopan santun, tidak baik bagiku mengambil barang milik orang lain," kata gadis berbaju merah itu. "Aku merasa sungkan menerimanya." Su Nio tertawa lalu menceritakan riwayat pelana bersulam tersebut kepadanya.

"Gara-gara pelana ini, rumah tanggaku berantakan. Kakakku tidak sudi memberikannya kepada pejabat bangsa Kim. Namun, kau adalah bangsa Han, lagi pula kita sesama rekan di rimba persilatan. Jika kau sudi, aku tidak berkeberatan memberikannya kepadamu. Siapakah nama Nona yang mulia?"

"Thio Siauw Giok," jawab gadis itu malu-malu. Saat Su Nio mengulurkan tangan untuk menjabatnya, Siauw Giok mundur dengan perasaan jengah. Namun, saat itu juga Su Nio melihat dengan jelas bahwa cincin pualam yang tadi ia lemparkan kini telah melingkar di jari manis Thio Siauw Giok.

"Apakah ini juga kau hadiahkan kepadaku?" tanya gadis itu. Sebenarnya, cincin itu sepasang, warisan dari mendiang ibu Yo An Jie dan Su Nio. Namun, karena terburu-buru, Su Nio menjadikannya senjata rahasia hingga akhirnya jatuh ke tangan Thio Siauw Giok. Kini, karena Siauw Giok juga menginginkan cincin warisan itu, Su Nio menjadi bimbang dan tidak tahu harus menjawab apa.

Thio Siauw Giok yang melihat Su Nio terdiam ragu akhirnya tersenyum dingin dan berkata, "Kalau begitu, biarlah kukembalikan padamu! Ini pasti hadiah dari gadis lain!" Namun Su Nio tidak menjawab dan menerima kembali cincin itu, lalu mengenakannya di jarinya sendiri. Hal itu membuat Thio Siauw Giok gusar.

"Kau menganggap cincin pualammu itu sebagai jimat? Lihat, aku juga punya!" Sambil merogoh ke dalam bajunya, ia tiba-tiba menggunakan jurus *Hay Thian Hoa Ie* (Hujan Bunga di Seluruh Angkasa) dan melemparkan sesuatu ke telapak tangan Yo Su Nio. Su Nio segera menyambutnya dengan gerakan *Hay Tee Lo Ciam* (Mengambil Jarum di Dasar Laut) sambil memuji, "Gerakan yang sangat cepat dan mengagumkan!"

Saat diperiksa, benda itu ternyata sebuah cincin pualam yang bentuknya hampir sama dengan miliknya. Su Nio heran dan bertanya, "Apakah cincinmu juga bisa digunakan sebagai senjata rahasia?"

"Jika milikmu bisa, mengapa milikku tidak?" sahut Siauw Giok gusar, sementara air mata mulai membasahi pipinya. Yo Su Nio semakin heran melihat sikap aneh Thio Siauw Giok. Ia bertanya-tanya apakah Siauw Giok adalah gadis nakal. Akhirnya ia menanyakan tempat tinggal gadis itu. Siauw Giok menjawab bahwa orang tuanya telah dibunuh oleh bangsa Kim, sehingga ia terpaksa melarikan diri tanpa tujuan yang jelas.

Mendengar penuturan itu, Su Nio merasa iba karena ia dan kakaknya mengalami nasib serupa; diperas dan dipermainkan oleh bangsa Kim hingga harus berpindah-pindah. Su Nio berpikir, daripada Siauw Giok berkelana sendirian, lebih baik ia ikut bersama mereka.

Sebelum Su Nio sempat mengutarakan niatnya, terdengar suara Yo An Jie memanggil, "Adik, kau di mana?"

"Di sini!" sahut Su Nio singkat. Ia lalu berkata kepada Thio Siauw Giok, "Hari sudah larut malam, maukah kau ikut bermalam di penginapan kami?"

Siauw Giok yang merasa tertarik pada Yo Su Nio merasa sangat gembira. "Apakah itu tidak mengganggumu?" Su Nio, yang lupa bahwa ia masih mengenakan pakaian pria, menjawab, "Sama sekali tidak. Kau boleh tidur bersamaku dalam satu ranjang!"

Meski Siauw Giok menyukai Su Nio yang ia kira seorang pemuda tampan, ia merasa tersinggung karena merasa dianggap wanita murahan. Ia membentak, "Sialan! Kau anggap aku wanita macam apa?" Su Nio yang berniat baik malah dibentak, menjadi dongkol dan membalas, "Jika tidak mau tidur denganku, ya sudah! Mengapa harus marah-marah?"

Yo An Jie yang baru tiba dan mengenali gadis yang pernah mengejeknya itu kembali merasa kesal. "Jika tidak mau, tidak ada yang memaksamu! Dasar perempuan tidak tahu budi!"

"Apakah rasa terima kasih harus dibuktikan dengan pengorbanan diri?" Kata-kata itu hampir saja terlontar dari mulut Siauw Giok, namun ia segera merasa jengah dan mengubah nada bicaranya menjadi tantangan. "Aku tidak takut pada kalian! Majulah bersama-sama! Ayo!"

Siauw Giok menyerang lebih dulu dengan jurus *Siang Hoa* (Sepasang Lentera Menahan Bunga) yang gerakannya tampak gemulai namun sangat berbahaya. Su Nio terkejut dan memperingatkan kakaknya, "Kak, hati-hati! Gadis ini menggunakan ilmu pukulan *Cee Gwa Soan Hong Ciang* atau Angin Puyuh di Luar Perbatasan!"

Yo An Jie yang menggigil terkena hawa pukulan Siauw Giok segera melompat mundur. "Sudah kuduga, dia ini budak perempuan yang ganas! Bagaimana mungkin orang baik-baik melawan siluman seperti dia? Ayo, jangan dilayani!"

Namun, Yo Su Nio yang ilmu silatnya lebih tinggi segera menahan serangan Siauw Giok. Pertarungan berlangsung sengit. Su Nio memuji kehebatan lawan dalam hatinya. Namun, karena Su Nio lebih ahli menggunakan tombak daripada bertarung tangan kosong, ia mulai terdesak oleh kecepatan jurus Siauw Giok.

Saat mendapat kesempatan, Siauw Giok memukul ke arah kepala Su Nio. Su Nio dengan gugup menghindar, namun ikat kepalanya terkena pukulan hingga terlepas. Rambutnya yang panjang dan indah pun terurai menyentuh bahu. Siauw Giok terkejut menyadari bahwa lawannya ternyata seorang wanita. "Siapa kau sebenarnya?"

Su Nio tertawa dan menjawab, "Aku adalah Yo Su Nio, pemilik toko pelana di bagian utara Ek-touw."

Siauw Giok terkejut. "Bukannya kau adalah *Hoa-Chio* Yo Su Nio?"

Su Nio tersenyum merendah. "Itu hanyalah julukan kosong dari kawan-kawan di dunia persilatan."

Thio Siauw Giok segera membungkuk hormat. "Sudah lama saya mendengar nama besar Kakak yang tersohor, namun baru hari ini kita bisa bertemu." Su Nio tersenyum dan membalas penghormatan tersebut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment