Halo!

Dewi Tombak - Chapter 07

Memuat...
Dewi Tombak

Chapter 07

Namun An Jie, yang tetap memiliki prasangka buruk terhadap Siauw Giok, menegur adik perempuannya dengan berkata, "Adik, sampai kapan engkau hendak menyudahi obrolanmu ini? Ayo, mari kita pergi tidur. Hari esok kita perlu melanjutkan perjalanan kita!"

Su Nio merasa kurang senang melihat sikap antipati kakaknya terhadap Siauw Giok, hingga ia membentak, "Aku akan tidur atau tidak, itu tidak usah engkau pedulikan!"

Sementara itu, Siauw Giok yang melihat kedua bersaudara itu bertengkar karena dirinya merasa sangat tidak enak. Ia lalu berkata, "Sudahlah, Kakak boleh kembali ke sana! Aku juga hendak berlalu. Semoga kelak kita dapat bertemu kembali!" Sambil berkata demikian, ia mengangkat tangan memberi hormat dan bersiap untuk pergi.

Akan tetapi, Yo Su Nio yang merasa kasihan segera menahannya sambil berkata, "Adik, tunggu dulu!" Siauw Giok berhenti dan menoleh, menatap wajah Su Nio yang tampak bermuram durja.

"Hendak ke mana engkau?" tanya nona bermarga Yo itu dengan suara simpatik.

"Aku yang hidup sebatang kara ini," sahut Siauw Giok dengan perasaan pilu, "menganggap empat penjuru dunia sebagai rumah tanggaku."

Su Nio lalu memegang tangan Siauw Giok erat-erat dan berkata, "Adik, engkau dan kami berdua memiliki nasib dan penderitaan yang sama. Kami pun kini harus hidup merantau dan entah ke mana tujuan kami. Maka, jika engkau tidak keberatan, aku bersedia mengangkatmu menjadi saudara."

"Jika Kakak mengizinkan," kata Siauw Giok dengan perasaan gembira, "aku pun akan sangat senang dapat mengiringi ke mana pun kalian pergi!"

Oleh sebab itu, mereka berdua segera mengangkat saudara dengan disaksikan oleh An Jie. Meskipun dalam hati merasa kurang puas, An Jie tidak dapat berbuat lain selain menuruti kehendak adiknya. Siauw Giok kemudian menjura empat kali di hadapan Su Nio dan mengaku sebagai saudara yang lebih muda. Su Nio membalas penghormatan itu empat kali sebagai tanda menerima Siauw Giok sebagai adik. Sesudah itu, Siauw Giok menjura empat kali kepada An Jie sebagai tanda mengakui sebagai saudara tertua.

Mula-mula, An Jie yang pemarah itu hanya membisu. Namun, ketika Su Nio melirik ke arahnya dengan tatapan kurang senang, An Jie terpaksa membalas penghormatan Siauw Giok sambil berkata, "Adik kedua, aku bersedia menerimamu sebagai saudara kandungku yang kedua."

Hal tersebut membuat Su Nio girang. Ia lalu mengajak Siauw Giok bermalam di penginapan untuk kemudian bersama-sama merantau mengarungi dunia luas.

Keesokan harinya, sebelum berangkat, mereka bertiga berunding mengenai tujuan perjalanan mereka. Siauw Giok, yang memiliki lebih banyak pengalaman dalam perantauan, mengusulkan agar mereka pergi ke Kabupaten Teng-ciu di Provinsi Shandong.

"Di sana ada serombongan penyamun yang dikepalai oleh dua orang kakak beradik, Kwee Liat dan Kwee Kin," Siauw Giok melanjutkan. "Mereka berdua adalah orang-orang gagah yang jujur, namun terpaksa menjadi penyamun karena keadaan negeri yang terpecah belah. Tidak ada jalan lain untuk menjamin keselamatan dan penghidupan mereka. Mereka seolah-olah menjadi musuh besar bangsa yang berkuasa di sana. Maka, mengapa kita tidak ke sana saja untuk menggabungkan diri dengan mereka?"

Usul Siauw Giok diterima baik oleh An Jie dan Su Nio. Terlebih lagi, Siauw Giok memiliki seekor kuda tunggang yang baik serta bungkusan pakaian dan senjata yang dapat dipergunakan dalam pertempuran. Dengan cepat, ketiga orang itu segera melanjutkan perjalanan ke Teng-ciu untuk menggabungkan diri dengan rombongan penyamun Kwee bersaudara.

Bangsa Kim yang berkuasa di Teng-ciu pada masa itu memiliki sifat yang lebih kejam dan buruk dibandingkan masa ketika kabupaten tersebut dikuasai oleh pemerintah Song. Rakyat jelata diperas dan diperlakukan sewenang-wenang; anak, istri, serta harta benda mereka dirampas, sehingga akhirnya meletus banyak perlawanan dan tumpah darah secara besar-besaran. Sebagian besar rakyat yang mengerti ilmu silat segera melarikan diri ke gunung-gunung atau hutan belukar. Di sana mereka bersatu menjadi perampok dan bergerilya melawan pasukan bala tentara bangsa Kim.

Maka tidaklah mengherankan jika di perbatasan Provinsi Shandong dan Shanxi terdapat banyak orang gagah yang terpaksa berkomplot menjadi perampok untuk mencari nafkah sekaligus mengganggu kesejahteraan negeri yang dikuasai oleh bangsa Kim tersebut. Rombongan penyamun yang dikepalai oleh Kwee bersaudara kerap beroperasi di kewedanaan Ek-touw yang dikuasai oleh Wan Gan Cek. Mereka tidak jarang berkunjung ke tempat kediaman Yo An Jie, sehingga kedua belah pihak memiliki hubungan persahabatan yang sangat baik.

Namun, setelah sekian lama mencari dan bertanya kepada orang-orang yang mereka jumpai di tengah perjalanan, mereka ternyata tidak berhasil mendapatkan keterangan tentang letak sarang penyamun tersebut. Uang bekal mereka pun mulai menipis, sehingga hati mereka bertiga menjadi bingung. Setelah berunding, Yo An Jie mengutarakan pikirannya.

"Adik dan Adik kedua, kalian tunggulah dahulu di sebuah penginapan murah di desa Pek-hoa-tien, sementara aku sendiri akan pergi menyelidiki keberadaan Kwee bersaudara. Jika nanti mereka dapat kutemukan, aku segera kembali untuk menjemput kalian berdua. Dengan demikian, kita bisa menghemat ongkos sehari-hari."

Su Nio dan Siauw Giok sepakat dengan usul kakak mereka. Begitulah, setelah membagi dua uang bekal yang masih ada, An Jie segera berangkat dengan membawa bungkusan serta golok Ton-to yang jarang terpisah dari pinggangnya. Selama menumpang di penginapan kecil itu, Su Nio dan Siauw Giok selalu rajin berlatih ilmu silat. Nona Yo sangat tertarik dengan ilmu pukulan telapak tangan Siauw Giok yang bernama Cee-hong-ciang. Tanpa rasa malu, ia meminta adiknya itu untuk mengajarinya.

"Aku bukan seorang ahli," kata Siauw Giok merendah, "sehingga belum cukup cakap untuk menjadi guru. Namun, sekadar mengabulkan permintaan Kakak, marilah kita berlatih bersama dalam beberapa jurus."

Mereka berlatih hingga hari menjelang senja, barulah mereka berhenti untuk beristirahat. Dalam obrolan mengenai senjata kegemaran masing-masing, Siauw Giok memberitahukan kepada Su Nio bahwa ia biasa menggunakan sepasang kaitan berkepala macan, Houw-thauw-kauw, yang masing-masing berukuran satu elo panjangnya. Sesudah berkata demikian, ia mengambil senjata itu dari dalam bungkusan pakaiannya, lalu menunjukkannya kepada Yo Su Nio.

"Sedari kecil aku dikenal sebagai bocah perempuan yang nakal, keras kepala, dan malas! Kerjaku setiap hari hanya berlatih ilmu silat tanpa guru dan seadanya saja, meniru-niru cara tetanggaku yang memang sudah mahir. Namun, karena ia biasa berlatih secara sembunyi-sembunyi, aku hanya bisa mencuri ilmu dari kejauhan. Setelah berusaha sekian lama, aku membuat lubang pada dinding bilik rumahnya yang cukup untuk mengintip ke dalam tanpa disadarinya."

"Akan tetapi, asap sukar ditutup rapat. Begitu ia mengetahui aku kerap mengintipnya berlatih, ia marah bukan main dan mengadu kepada ayah bundaku, hingga aku mendapat hukuman pukulan yang cukup hebat dari ayahku. Malah yang lebih menjengkelkan, aku dipanggil keluar untuk meminta maaf kepada tetangga itu! Aduh Kakak, bukan main dongkol hatiku saat itu. Namun, justru itulah yang membuatku semakin giat belajar. Aku berjanji pada diriku sendiri, jika nanti aku sudah mahir bersilat, aku akan menantangnya bertarung tanpa syarat. Ia boleh memukulku sampai mati tanpa urusan apa pun, demikian pula aku boleh memukulnya sampai mati tanpa berurusan dengan hukum."

"Begitulah aku berlatih dari pelajaran yang kuperoleh dari tetangga itu. Aku sengaja mengubah beberapa bagian yang kuanggap dapat dipergunakan untuk menjatuhkannya. Kemudian, setelah merasa cukup sempurna, aku mulai mencari gara-gara secara halus. Aku sengaja membuat lukisan pada dinding bilik tempat ia berlatih dengan menggunakan arang. Corat-coret itu berbentuk lukisan dua orang yang sedang bertempur, dan salah satunya dipukul roboh. Pada orang yang roboh itu, kutuliskan nama si tetangga, sedangkan di sisi si pemenang, kutuliskan marga dan namaku sendiri!"

"Tidak perlu dikatakan lagi betapa gusarnya tetanggaku itu. Ia segera menduga siapa pelakunya dan berniat mengadukan hal tersebut kepada orang tuaku. Tatkala aku mencegahnya, ia bertanya apa maksudku. 'Engkau telah menghinaku dengan membuat lukisan di dinding bilik tempat kediamanku,' katanya. 'Oleh karena itu, aku hendak mengadukan hal ini kepada ayah bundamu.'"

"Aku lalu menertawakannya untuk memanaskan hatinya. Kukatakan padanya, 'Engkau pengecut jika berbuat demikian. Bukankah lebih baik jika kita melaksanakan maksud pertarungan itu dalam kenyataan? Kini, seperti halnya engkau, aku pun telah berlatih untuk mencoba sampai di mana kemahiranmu!'"

"'Bocah kurang ajar!' bentak tetanggaku itu sambil membelalakkan matanya. 'Engkau berani melawan seseorang yang usianya jauh lebih tua darimu?' Tanpa menjawab sepatah kata pun, segera kugerakkan telapak tanganku untuk memukul wajah orang itu, sehingga dengan gesit ia terpaksa mundur sambil memasang kuda-kuda. Namun, aku terus mendesaknya dengan menghujani pukulan menggunakan kedua telapak tanganku."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment