Halo!

Dewi Tombak - Chapter 08

Memuat...
Dewi Tombak

Chapter 08

Tetanggaku itu bukan takut kepadaku, hal ini dapat kubaca dari raut mukanya. Ia hanya merasa malu hati kepada ayah dan bundaku seumpama ia benar-benar melayaniku bertarung. Lagi pula, usia orang itu hanya terpaut dua atau tiga tahun dari usia ayahku, sehingga ia berpikir tidak layak untuk meladeni seorang bocah yang masih pantas menjadi anaknya sendiri.

Namun, setelah aku menyerangnya berulang kali, ia tampak jengkel juga dan membentak, "Dasar bocah tidak tahu mampus!" Sambil berkata begitu, barulah ia balas menyerangku dengan siasat yang baru kemudian aku ketahui namanya sebagai Pek-tauw atau Rajawali Putih Menangkap Kelinci.

Gerakan ini sedemikian cepat dan berbahaya, sehingga aku hampir tidak sempat mengelakkan diri dari tangannya yang mencengkeram ke arahku. Aku tahu ia bermaksud mencengkeram dadaku untuk kemudian membanting atau melemparkan diriku.

Namun, siapa sangka ketika cengkeramannya tiba pada baju di bagian dadaku, aku telah membarenginya dengan melesat mundur sambil menendangkan kakiku ke tanah sekuat mungkin. Dengan begitu, aku berhasil meloloskan diri, walaupun bajuku robek terkena sentakannya.

Akan tetapi, selagi ia hendak mengulangi serangannya, tiba-tiba seorang Ni-ko atau pendeta perempuan tua yang tidak diketahui dari mana datangnya telah menghadang. Dengan sikap yang sangat tenang, ia mengibaskan lengan bajunya ke arah tetanggaku itu, sehingga orang tersebut terdorong mundur dan hampir jatuh terlentang. Beruntung ia segera menegakkan kuda-kuda dan memperberat tubuhnya dengan ilmu Cian-kin-tui atau Kaki Seribu Kati.

"Tua bangka masih saja suka meladeni anak kecil!" kata Ni-ko itu menyesali perbuatan tetanggaku.

"Tapi dia telah berani kurang ajar terhadap orang yang hampir patut menjadi ayahnya!" bantah orang itu sambil menuturkan sebab musabab kegaduhan tersebut kepada si Ni-ko tua.

Setelah selesai mendengar penuturan tersebut, Ni-ko itu berkata, "Sie-cu, jika demikian halnya, engkaulah yang terlampau mementingkan diri sendiri. Sama sekali engkau tidak mau memberi kesempatan kepada orang lain untuk mengikutimu belajar ilmu silat! Manusia tidak hidup sampai seratus tahun. Oleh karena itu, alangkah baiknya jika pelajaran yang bermanfaat bagi umat manusia diturunkan pula kepada generasi yang lebih muda, agar pelajaran itu tidak buntu hanya pada dirimu saja? Kita manusia harus hidup berlandaskan kerukunan dan kedamaian. Saling memaafkan dan saling mencintai satu sama lain merupakan tugas abadi bagi kita umat manusia di dunia ini."

Demikianlah nasihat Ni-ko tua itu kepada tetanggaku, sehingga akhirnya ia insaf dan mengakui kesalahannya. Sejak saat itu, ia menjadi kawan berlatihku hingga akhirnya ia gugur dalam perlawanan terhadap bangsa Kim yang mengacau tanah air kita dan merampas kekuasaan dari pemerintah Song yang buruk serta penuh dengan pembesar korup yang sangat merugikan rakyat dan negara.

Adapun Ni-ko yang telah kukatakan itu tidak lain adalah guruku sendiri. Darinyalah aku memperoleh ilmu pukulan telapak tangan yang bernama Cee-hong-ciang dan sepasang Houw-thauw-kauw yang ia serahkan kepadaku tatkala beliau pulang ke tempat kediamannya di puncak Pek-in-hong yang terletak di pegunungan Thian-san.

Demikianlah Siauw Giok menuturkan bagaimana ia belajar silat secara singkat, hingga Su Nio menjadi sangat tertarik lalu bertanya, "Siapakah nama atau gelar gurumu itu?"

Thio Siauw Giok hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Entahlah," sahutnya, "karena guru tidak pernah memberitahukannya kepadaku. Orang-orang yang pernah mengenalnya hanya memanggil beliau Lo-niko atau Ni-ko Tua."

Setelah itu, Su Nio diminta menceritakan perihal dirinya dan bagaimana ia belajar ilmu tombak sehingga kemudian mereka saling berjumpa seolah sudah ditakdirkan. Su Nio menuturkan riwayatnya dengan singkat namun jelas, tentang bagaimana ia dan kakaknya dikejar-kejar oleh pasukan Cian-hu bangsa Kim, lalu berguru pada seorang tua ahli tombak Gak-kee-chio (ilmu tombak keturunan Gak Hui), hingga dengan cepat namanya dikenal di kalangan persilatan sebagai Hoo-chio Yo Su Nio, atau Yo Su Nio si Dewi Tombak.

Orang yang kerap menghitung berputarnya waktu biasanya merasa tidak sabar dan merasa bahwa waktu berjalan sangat perlahan. Namun, bagi mereka yang kurang memperhatikannya, adakalanya mereka terkejut dan menganggap perputaran waktu melesat secepat anak panah.

Demikian halnya dengan Yo Su Nio dan Thio Siauw Giok yang semula menantikan kedatangan Yo An Jie dengan tidak sabar. Namun, mereka kemudian merasa terhibur dengan berlatih ilmu silat bersama setiap hari di halaman belakang rumah penginapan kecil yang mereka tumpangi.

Tanpa terasa, musim kemarau telah berganti dengan musim dingin, hingga Yo Su Nio dan Thio Siauw Giok yang hanya mempunyai pakaian tipis menggigil kedinginan. Lebih jauh lagi, tatkala memeriksa uang perak yang mereka miliki, ternyata sudah hampir habis ditukar dengan makanan dan biaya penginapan. Mulailah Su Nio menyesali kakaknya, An Jie, yang telah pergi begitu lama namun belum juga kembali.

Jika nanti perak yang masih ada itu habis terpakai, dari manakah mereka dapat membayar biaya penginapan hingga An Jie kembali menjemput? Su Nio merasa sangat bingung memikirkan urusan biaya ini.

Namun, Siauw Giok sekonyong-konyong tertawa dan berkata, "Cici tidak usah khawatir. Esok hari akan ada uang yang bisa kuperoleh!"

Su Nio, yang menganggap adik angkatnya itu tentu akan melakukan perampokan secara diam-diam, lantas mencegahnya sambil berkata, "Jangan engkau berbuat sesuatu yang tidak patut!"

"Bukan merampok atau melakukan sesuatu yang melanggar undang-undang negeri," kata nona Siauw Giok yang jenaka itu. "Esok hari Cici tentu akan mengetahui rencanaku!"

Su Nio kurang percaya bahwa adik angkatnya dapat melakukan sesuatu untuk meringankan kesulitan mereka. Ia menganggap Siauw Giok hanya berkelakar saja.

Keesokan harinya, ketika tersadar dari tidur, Su Nio terkejut melihat Siauw Giok telah keluar entah ke mana. "Dia biasanya bangun sesudah matahari terang menerangi bumi," pikirnya, "tidak kusangka pagi-pagi begini dia telah keluar dari penginapan!"

Segera ia keluar menanyakan kepada pemilik penginapan, "Ke mana perginya adik perempuanku itu?"

"Tadi pagi sekali Jie-khonio telah keluar membawa senjata dan berkuda," terang pemilik penginapan, "entahlah dia mau ke mana."

"Bersenjata dan berkuda," pikir Yo Su Nio. "Dia pasti hendak pergi merampok. Aku harus mencegah perbuatannya yang nekat itu!"

Kemudian ia mandi, bersisir, dan bertukar pakaian. Setelah itu, ia keluar sendiri untuk mencari ke mana perginya sang adik.

Sementara itu, Thio Siauw Giok berkuda menuju tempat yang ramai di arah timur kota Pek-hou-tien. Sesudah menambatkan kudanya di bawah sebuah pohon di tepi jalan, ia segera memberi hormat kepada orang banyak yang berkumpul di situ sambil menerangkan bahwa karena kehabisan biaya, ia berniat meminta sumbangan para dermawan dengan pertunjukan silat sebagai bentuk tanda terima kasihnya.

Sesudah berkata demikian, ia mulai bersilat tangan kosong, kemudian disambung dengan permainan senjata Houw-thauw-kauw yang mendapat sambutan sorak-sorai riuh. Namun anehnya, meski permainan silat sang nona tidak buruk, tidak seorang pun penonton yang memberikan sumbangan uang. Malah banyak di antara mereka yang hanya menghela napas sambil berlalu tanpa banyak bicara.

Oleh sebab itu, tidak heran meski hampir setengah hari ia menjual keahlian silatnya, tidak satu sen pun yang ia peroleh. Akhirnya timbul pikiran nekat di hatinya. Ia menghampiri kudanya yang ditambatkan di bawah pohon dan berkata dengan perasaan terharu, "Merah, sudah sekian lama engkau mengikutiku tanpa kekurangan suatu apa pun, tetapi kali ini aku terpaksa menjualmu sementara waktu untuk menolong kesulitan kami. Jika nanti Koko pulang membawa uang, aku pasti akan menebusmu kembali!"

Selagi Siauw Giok membuka tambatan kuda itu, tiba-tiba ada seorang laki-laki bertubuh tinggi besar dan beralis tebal mengamati sang nona dan kudanya. Namun nona itu tidak memperhatikannya, ia hanya menoleh kepada orang-orang yang berkumpul di tepi jalan sambil berkata, "Tuan-tuan, kudaku ini dapat menempuh perjalanan seribu li. Kini karena kehabisan biaya, untuk sementara waktu hendak kugadai seharga dua puluh tahil perak. Mohon Tuan-tuan sudi menolong diriku yang sedang menderita kesulitan ini."

Harga yang ditawarkan Siauw Giok untuk kudanya yang berasal dari luar perbatasan itu sesungguhnya sangat murah. Namun anehnya, tetap tidak ada seorang pun yang bersuara menyatakan minat untuk membeli kuda sebagus itu dengan harga semurah itu.

"Aii, ternyata para penduduk Shantung di sini adalah kaum miskin belaka!" kata si nona dengan perasaan putus asa.

Seketika itu juga, orang tinggi besar beralis tebal tadi menghampirinya sambil menunjuk dan membentak, "Engkau berani berjualan di sini tanpa meminta izin dahulu dariku? Bagus sekali perbuatanmu! Hendak kulihat siapa yang berani membeli kudamu itu!"

Siauw Giok belum sempat meminta penjelasan lebih lanjut ketika laki-laki itu secara tiba-tiba menyergap dengan jurus Yau-hut atau Dewa Siluman Menangkap Buddha. Nona itu bergegas menyampok tangan yang hendak mencengkeramnya sambil balas membentak, "Aduh!"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment