Halo!

Dewi Tombak - Chapter 09

Memuat...
Dewi Tombak

Chapter 09

"Sungguh tidak memakai aturan sekali!"

"Ya, memang aku tidak biasa memakai segala aturan!" seru orang itu dengan mata membelalak.

"Berikan dahulu uang jago sepuluh tael perak, barulah boleh ada damai."

Siauw Giok yang berwatak keras dan tidak mudah mengalah terhadap kekerasan, tentu saja tidak sudi menunjukkan kelemahan. Ia segera membentak dengan suara nyaring, "Kuda yang hendak kujual ini adalah kudaku sendiri, lalu apa sangkut pautnya dengan dirimu?"

"Kurang ajar!" kata orang itu dengan suara keras. "Engkau berani melawanku? Boleh, boleh! Jika engkau mampu menancapkan kaki di kota Pek-hou-tien ini, aku bersumpah tidak akan memakai nama Lauw Lo Houw lagi!"

Namun, sebelum ia selesai sesumbar, Siauw Giok telah mendahului menyerang dengan sepasang gaetan Houw-thauw-kauw di tangannya.

"Tidak peduli namamu si Macan atau si Naga," katanya bengis, "gaetanku ini akan mendobrak perutmu dan mengambil hati anjingmu tanpa ada damai pula!"

Lauw Lo Hauw yang bertangan kosong, saat melihat gadis itu menerjang bagaikan orang kalap, tentu saja terkesiap dan lekas-lekas kabur sambil berteriak-teriak, "Ong Kauw-thauw ada di mana? Ong Kauw-thauw ada di mana?"

Tidak lama kemudian, pengawal pribadinya yang bernama Ong Kauw-thauw melompat maju dengan sebilah golok Pok-to di tangannya.

"Lauw Chung-cu, aku datang!" kata pengawal pribadi itu. Sambil berkata demikian, ia segera menerjang Thio Siauw Giok, sehingga seketika itu juga mereka bertempur tanpa banyak bicara lagi. Selama pertempuran berlangsung, Ong Kauw-thauw menyaksikan betapa dahsyatnya permainan gaetan gadis itu, hingga dengan cepat ia bertanya, "Engkau ini berasal dari golongan mana?"

Namun, dengan ketus Siauw Giok menjawab, "Tidak usah engkau banyak bertanya. Sambut Houw-thauw-ku ini!"

Sementara itu, Lauw Lo Houw yang baru saja hampir celaka oleh gadis itu, lantas membentak dengan gemas, "Ringkus dia! Tidak usah banyak tanya lagi!"

Dengan menggunakan siasat Hengkang atau menyapu tiga sungai secara melintang, Ong Kauw-thauw mengibaskan gaetan Siauw Giok yang menyambar golok di tangannya. Sedangkan dengan tangan kiri, ia mencoba menyergap tubuh gadis itu dengan gerakan secepat kilat.

Thio Siauw Giok yang kalah tenaga tentu saja sangat terkejut. Begitu gaetannya terpukul jatuh, ia melihat Ong Kauw-thauw membentangkan telapak tangan kiri hendak mencekalnya, sementara ujung golok pengawal itu telah melukai paha kirinya. Oleh sebab itu, dengan cepat ia menggunakan ilmu Ceehong-ciang, tetapi sayangnya ia kurang cepat. Untuk menyelamatkan diri, ia terpaksa membuang diri ke samping sehingga tangan Ong Kauw-thauw hanya menangkap angin.

Tatkala guru silat bermarga Ong itu hendak menubruk kembali untuk menangkap sang gadis, tiba-tiba dari samping kirinya terasa ada angin yang menyambar dengan hebat dibarengi bentakan bengis, "Jangan lukai adik perempuanku!"

Sepasang gaetan berkelebat menyambar ke arah tangan Ong Kauw-thauw yang hendak mencekal tubuh Siauw Giok. Ia menjerit kesakitan dan goloknya jatuh ke tanah dengan suara berdenting karena membentur batu besar di tepi jalan.

Siapa gerangan orang yang baru datang itu? Dialah Yo Su Nio. Setelah memungut gaetan Thio Siauw Giok yang terjatuh, ia segera menghantam tangan Ong Kauw-thauw sehingga gagal membekuk adik angkatnya tersebut.

Lauw Lo Houw yang merasa penasaran melihat tukang pukulnya gagal karena dirintangi Yo Su Nio, menjadi sangat gusar. Ia segera memerintahkan anak buahnya yang berjumlah tujuh atau delapan orang untuk mengepung kedua dara perkasa itu. Dalam sekejap, Su Nio dan Siauw Giok telah terkepung dari segala penjuru.

Beruntung Su Nio sempat menyambar tubuh Siauw Giok yang luka di paha kirinya dan mengeluarkan banyak darah. Sambil memapah gadis itu, ia menerjang keluar dari kepungan, lalu melompat ke atas kuda Siauw Giok yang telah dilepas ikatannya. Dengan demikian, mereka berhasil meloloskan diri dari kepungan Lauw Lo Houw beserta anak buahnya.

"Kejar dan tangkap mereka semua!" Su Nio mendengar perintah si Harimau Lauw itu, tetapi mereka tidak mungkin bisa menyusul karena ia telah memacu kuda sambil membawa Siauw Giok yang terluka.

Dari rumah penginapan di Pek-hoa-tien, Su Nio mengambil bungkusan serta barang-barang mereka berdua. Ia kemudian mengajak Siauw Giok pindah ke penginapan lain di kota Soan-hoa-tien yang letaknya tidak jauh dari sana. Setelah menambatkan sepasang kuda, Su Nio memapah Siauw Giok menghampiri meja kasir penginapan tersebut. Ia meletakkan sebuah tusuk sanggul dari batu kumala di atas meja sambil berkata, "Aku minta disediakan sebuah kamar yang bersih. Tusuk sanggul ini aku titipkan sebagai jaminan. Esok hari akan kulunasi pembayarannya."

Kasir penginapan itu terbengong sejenak melihat keadaan kedua gadis tersebut, terutama karena paha kiri salah satunya berlumuran darah. Melihat kasir tidak segera menjawab, Su Nio mengerutkan alis dengan wajah tidak senang dan bertanya, "Bagaimana? Apakah engkau menganggap tusuk sanggulku ini hanya terbuat dari batu rongsokan?"

Kasir yang melihat sikap Yo Su Nio yang garang merasa ngeri. Dengan wajah berseri-seri ia menjawab, "Harap Nona jangan gusar. Kami bukan menganggap tusuk sanggul itu barang rongsokan, tetapi saat ini memang tidak ada kamar yang kosong."

Su Nio yang mengkhawatirkan keadaan Siauw Giok mencoba mendesak dengan halus, "Aku tidak meminta kamar yang mewah, cukup kamar biasa saja agar adikku yang terluka setelah bertempur dengan kawanan perampok tadi dapat beristirahat dan diobati."

Saat gadis itu berkata demikian, seorang perempuan berusia empat puluhan yang berpakaian mewah dan memakai riasan tebal—yang sedari tadi memperhatikan mereka—tiba-tiba menoleh kepada kasir yang juga pemilik penginapan itu.

"Jika adik Nona itu sakit, apa salahnya engkau menerima mereka menginap di sini? Nanti malam jika ada tamu yang berangkat, berikan kamar itu kepada kedua Nona ini," ujar perempuan itu.

Kasir yang mengenal baik wanita itu langsung mengabulkan, "Jika Lauw Heng-siu yang mengatakannya, aku tentu tidak dapat menolak. Mari Nona, kuantarkan ke kamar."

Dengan demikian, Su Nio dapat menitipkan kuda mereka kepada pelayan penginapan. Barang-barang dan senjata mereka pun dibawa ke dalam kamar. Di sana, Su Nio beristirahat sambil mengobati luka Siauw Giok akibat sabetan golok Ong Kauw-thauw.

Siapakah nyonya yang mengusulkan agar mereka diberi kamar itu? Ia adalah seorang mucikari atau dalam istilah yang lebih halus disebut "Heng-siu". Di daerah Shantung pada zaman dahulu, terdapat banyak rumah pelacuran, dan mucikari dikenal dengan sebutan Heng-siu atau biang para pelacur.

Perempuan berpakaian mewah itu adalah pemilik rumah pelacuran besar yang letaknya tidak jauh dari penginapan tersebut. Karena sering mondar-mandir mencari pelanggan di sana, ia mengenal baik sang pemilik penginapan. Lauw Heng-siu sendiri di masa mudanya adalah seorang pelacur, sehingga ia telah mengecap segala manis dan getirnya pengalaman hidup.

Tatkala melihat wajah Su Nio dan adik angkatnya yang begitu cantik sekaligus mahir ilmu silat, timbul pikirannya untuk memanfaatkan kecantikan mereka demi keuntungan besar. Oleh sebab itu, ia menganjurkan pemilik penginapan untuk memberikan kamar, bahkan bersedia menanggung resiko biaya penginapan jika mereka tidak mampu membayar.

Setelah selesai membersihkan dan membalut luka adik angkatnya, Su Nio meminta Siauw Giok beristirahat. Ia sendiri keluar untuk menyampaikan terima kasih kepada Lauw Heng-siu. Setelah saling menanyakan nama dan bercakap-cakap sejenak, Lauw Heng-siu pamit kembali ke rumahnya dengan rencana tertentu di otaknya.

Luka Siauw Giok sebenarnya tidak terlalu parah, tetapi karena mengeluarkan terlalu banyak darah, luka itu kini membengkak. Su Nio menjadi bingung. Ia bergegas menggadaikan anting-anting kumala hijaunya untuk memanggil tabib. Namun, nasib memang sering kali terasa tidak adil, terutama terhadap mereka yang sedang dalam kesulitan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment