Halo!

Dewi Tombak - Chapter 10

Memuat...
Dewi Tombak

Chapter 10

Sejak luka Siauw Giok diobati oleh tabib, keadaannya tidak kunjung sembuh. Rasa sakitnya justru kian bertambah, sehingga selama dua malam berturut-turut ia tidak dapat tidur.

Hal tersebut tentu saja membuat Su Nio menjadi semakin bingung. Kuda Siauw Giok terpaksa dijual untuk membayar biaya tabib, membeli obat, biaya makan, serta menyewa kamar. Namun, karena luka Siauw Giok belum juga sembuh, Su Nio mulai berputus asa dan tidak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya.

"Jika melihat gelagat ini," katanya dengan perasaan terharu, "Si Putih pun tidak dapat dipertahankan lagi dan harus dijual untuk mengatasi kesulitan yang tengah kita hadapi!" Namun, Siauw Giok yang sedang merintih segera memotong pembicaraan kakaknya, "Jangan, jangan! Si Putih jangan dijual. Jika dia juga dijual, bagaimana cara kita melanjutkan perjalanan nanti?" Su Nio menghela napas; kepalanya terasa pening menghadapi jalan buntu tersebut.

Tiba-tiba ia teringat bahwa saat berpindah ke penginapan itu, ia lupa berpesan kepada pemilik penginapan di Pek-hoa-tien agar memberitahukan keberadaannya kepada An Jie jika pemuda itu kembali mencarinya. Oleh karena itu, pada petang hari itu juga ia pergi secara diam-diam ke penginapan di Pek-hoa-tien. Ia menyampaikan pesan kepada pemilik penginapan yang baik hati itu, yang kemudian berjanji akan menyampaikannya kepada An Jie jika si pemuda datang menjemputnya.

"Waktu engkau meninggalkan penginapan kami," kata pemilik penginapan itu, "aku mendengar kabar bahwa Lauw Lo Houw dan anak buahnya mencarimu serta adikmu untuk ditangkap dan diserahkan kepada pejabat yang berwajib. Oleh sebab itu, berhati-hatilah saat berada di luar agar tidak mengalami hal yang tidak diinginkan." Su Nio mengucapkan terima kasih atas kebaikan pemilik penginapan itu, kemudian segera kembali ke Soan-hoa-tien dengan tergesa-gesa.

Suatu sore, saat Siauw Giok terbangun dan meminta teh untuk melepas dahaga, ia melihat Su Nio duduk di depan ranjang sambil menundukkan kepala dan mencucurkan air mata. Merasa sangat terharu, ia memegang tangan kakak angkatnya itu sambil berkata, "Cici, jika bukan karena aku, niscaya engkau tidak akan mengalami kesulitan seperti ini. Aku merasa sangat menyesal dan terpikir untuk mencoba memperbaiki keadaan kita. Bagaimana pendapatmu jika kita berpisah untuk sementara waktu? Engkau bisa mengambil jalanmu sendiri, sedangkan aku akan mengambil jalanku sendiri."

Mendengar hal itu, Su Nio tidak tahan dan menangis terisak sambil menutupi wajahnya di sisi ranjang. "Dik!" katanya kemudian, "Mana mungkin aku tega meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini? Kuharap jangan lagi mengusulkan hal yang bukan-bukan! Sekarang, jangan pikirkan apa pun yang dapat mematahkan semangat kita. Jika nanti Koko telah kembali, niscaya akan ditemukan pemecahannya."

Selagi kakak dan adik itu mencurahkan perasaan, mereka tidak menyadari bahwa di luar kamar ada seseorang yang tengah mencuri dengar pembicaraan mereka. Begitu Su Nio mengakhiri bicaranya, tiba-tiba pintu kamar diketuk perlahan diikuti sebuah pertanyaan, "Apakah Su Nio belum tidur?" Su Nio segera mengenali bahwa itu adalah Lauw Heng-siu yang datang berkunjung sore itu.

Siauw Giok yang tidak ingin terlihat habis menangis segera membalikkan badannya membelakangi pintu seolah sedang tidur. Sementara itu, Yo Su Nio menyapu air matanya dan segera membuka pintu sambil memaksakan senyum. Namun, Lauw Heng-siu melihat dengan jelas kesedihan di balik wajah nona yang manis itu.

Tatkala Su Nio mempersilakannya duduk, mucikari bermarga Lauw itu memegang tangan si nona sambil bertanya, "Nona, apakah kakakmu belum juga kembali?"

"Belum," sahut Su Nio sambil menggelengkan kepalanya.

"Jika engkau menghadapi kesulitan," kata Lauw Heng-siu, "segeralah katakan kepadaku, aku pasti bersedia menolongmu. Meski kita baru saja saling mengenal, hal itu tidak menjadi soal untuk menolong teman yang sedang membutuhkan bantuan."

Yo Su Nio, yang melihat sikap Lauw Heng-siu begitu manis dan baik hati, menceritakan segala kesulitan yang tengah dideritanya. Sambil tersenyum, sang mucikari berkata, "Nona, di zaman ini orang lebih menghina kemiskinan daripada pelacuran. Maafkan perkataanku yang mungkin tidak layak didengar ini. Namun, wanita secantik kalian berdua, jika sudi tinggal di tempatku, niscaya akan mendapatkan banyak pelanggan kaya yang menghamburkan uangnya bagaikan membuang sampah. Minta sepuluh diberi sepuluh, minta seribu diberi seribu. Dengan demikian, kalian tentu tidak akan kekurangan uang dan perhiasan untuk menutupi segala kekurangan."

Su Nio sama sekali tidak menjawab, meski di dalam hati ia sangat tidak setuju dengan filosofi mucikari itu. Namun, Siauw Giok yang semula berpura-pura tidur kini meluap amarahnya dan segera membentak, "Enyahlah! Kami berdua adalah wanita terhormat dan bukan pelacur murahan! Kami rela mati kelaparan daripada menodai nama baik leluhur kami!"

Wajah Lauw Heng-siu memerah padam setelah dibentak oleh Siauw Giok. Su Nio segera mengajaknya keluar sambil berkata, "Kuharap Lauw Heng-siu tidak gusar. Adikku ini masih kekanak-kanakan, ia hanya pandai memaki tanpa mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya."

Mendengar alasan tersebut, sang mucikari tersenyum dan berkata, "Jangan khawatir, aku tidak akan berurusan lagi dengan bocah itu. Namun, mengenai saranku tadi, pertimbangkanlah baik-baik. Jika sekiranya ada kecocokan, engkau boleh datang ke tempatku. Aku pasti akan menerima kedatanganmu dengan tangan terbuka."

Meski tidak berniat mengabulkan permintaan itu, Su Nio berpura-pura mengatakan akan memikirkannya terlebih dahulu agar tidak menyinggung perasaan sang mucikari. Namun, begitu Lauw Heng-siu berlalu, Su Nio mendapati tubuh Siauw Giok terasa dingin bagaikan es. Hal itu tentu saja membuatnya sangat bingung. Ia segera menemui pemilik penginapan untuk meminta tolong dipanggilkan tabib, tetapi pemilik penginapan itu menggeleng sambil berkata, "Tabib tidak akan mau datang jika tidak dibayar tunai!"

Dalam keadaan putus asa, Su Nio berkata dengan kesal, "Lauw Heng-siu baru saja mengatakan kepadaku bahwa jika aku memerlukan uang atau bantuan apa pun, aku bisa segera menyuruh orang untuk memintanya. Ia bersedia memberikan berapa pun yang kubutuhkan. Apakah pesan itu masih kau abaikan?"

Melihat Su Nio kini mempunyai penjamin yang kuat, pemilik penginapan tidak ragu lagi untuk memanggil tabib dan menyediakan uang guna membeli obat-obatan bagi Siauw Giok. Sore itu, Siauw Giok dapat tidur nyenyak setelah meminum satu resep obat godokan. Kemudian, tanpa berpikir panjang lagi mengenai apa yang akan terjadi nanti, Yo Su Nio terpaksa menebalkan muka dan segera mengunjungi Lauw Heng-siu untuk membicarakan tawaran yang telah diajukan sang mucikari.

Sesampainya di sana, Yo Su Nio menyadari bahwa rumah tinggal mucikari itu sangat mentereng dan mewah, hampir menyerupai istana seorang raja muda. Keadaan di dalamnya tidak begitu ia perhatikan karena pikirannya sedang kacau, kecuali keberadaan lima atau enam perempuan muda yang sedang melayani tamu dengan asyiknya.

Saat Su Nio tiba di depan pintu gedung itu, salah seorang pelayan yang kebetulan lewat menghampirinya dan bertanya siapa yang ingin ia temui. Setelah menyampaikan maksud kedatangannya, pelayan itu melapor kepada sang induk semang. Tak lama kemudian, Lauw Heng-siu muncul dengan wajah berseri-seri dan menjabat tangan Su Nio sambil berkata, "Aii, angin dari mana yang meniup Nona sampai ke sini?"

Su Nio tersenyum, lalu ia diajak masuk ke dalam sambil digandeng tangannya. Para pelacur lain yang menghuni gedung indah itu keluar memandangi Su Nio sambil berbisik-bisik dan sesekali menunjuk ke arahnya.

"Mereka semua kurang mengerti sopan santun," kata sang mucikari kepada Su Nio, "harap Nona sudi memaafkan mereka." Namun, Su Nio hanya tersenyum tipis dan mengabaikan basa-basi Lauw Heng-siu itu. Setelah berada di dalam rumah dan dipersilakan duduk, sambil menundukkan kepalanya, Yo Su Nio pun menerangkan maksud kedatangannya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment