Halo!

Dewi Tombak - Chapter 11

Memuat...
Dewi Tombak

Chapter 11

"Kali ini karena keadaan yang sangat memaksa untuk menolong adik perempuanku yang sedang sakit," katanya dengan suara perlahan, "maka aku telah mengambil keputusan untuk mengabulkan ajakanmu itu.

Tapi dalam pelaksanaan tugasku itu, aku hendak mengajukan syarat: menjual suara dan kepandaian silat, tetapi tidak bersedia menjual diri.

Tiga hari kemudian, setelah aku dapat mengumpulkan uang yang cukup, aku tidak akan datang lagi ke tempat kediamanmu ini." Lauw Heng-siu sangat gembira mendengar perkataan nona bermarga Yo itu.

"Syaratmu itu dapat kuterima dengan baik, Nona," katanya sambil tersenyum, "karena aku paham bahwa selama tiga hari itu, engkau pasti akan memperoleh banyak uang untuk merawat penyakit adik perempuanmu serta membantu seluruh kebutuhan hidup kalian berdua.

Tetapi karena engkau bukan termasuk golongan pelacur, maka aku akan mengakuimu sebagai kemenakan perempuanku dan memakai marga Lauw jika nanti ada tamu yang menanyakan nama keluargamu." Dengan demikian, bereslah syarat yang diajukan nona itu. Su Nio diizinkan memakai sebuah kamar untuk menyambut tamu, yang dihiasi dengan kursi, meja, dan pelbagai macam perabotan rumah tangga yang sangat mewah dan mahal, hingga kamar itu hampir menyamai kamar yang biasa dipergunakan oleh raja-raja muda atau para jutawan di masa itu.

Tanpa sepengetahuan Siauw Giok yang masih sakit, Su Nio diam-diam sering melayani para tamu untuk makan, minum, bernyanyi, atau menari demi menghibur mereka, tetapi ia sama sekali menolak keras untuk melakukan pekerjaan yang melanggar susila.

Bagaikan guntur di siang hari, dalam sekejap saja nama biduanita dan penari Lauw Su Nio menjadi tersohor di seluruh kota Soan-hoa-tien.

Pada suatu hari, Lauw Heng-siu meminta Nona Su Nio untuk melayani makan dan minum seorang pemuda tampan yang kaya raya, yang telah lama menjadi langganan mucikari itu.

Namun, berbeda dari para tamu lain yang biasanya datang berkelompok, kali ini nona itu diminta melayani tamu tersebut secara pribadi. Hal itu tentu saja membuat hati Su Nio berdebar dan agak ragu untuk mengabulkan permintaan tersebut.

Karena mengingat syarat-syarat yang telah diajukan semula, ia tidak lupa mengulangi syarat-syarat tersebut di hadapan Lauw Heng-siu sebelum melangkahkan kakinya ke ruang tamu itu.

Setelah si mucikari berjanji dan menyatakan telah menyampaikan syarat-syarat itu kepada tamunya, barulah Su Nio memberanikan diri berjalan masuk ke dalam ruang tamu sambil menundukkan kepala karena malu.

Tetapi begitu menginjakkan kaki di ambang pintu, tiba-tiba hatinya semakin berdebar-debar. Ia terpaku di situ dengan wajah yang terasa semakin panas. Ia berniat hendak mundur, tetapi Lauw Heng-siu mendorong tubuhnya perlahan dari belakang sambil berkata, "Orang muda ini bernama Lauw Yu, salah seorang sanak saudaraku sendiri.

Dia adalah seorang jutawan yang berdagang garam. Hari ini, karena mendengar orang bercerita tentang kecantikan dan kepandaianmu dalam hal bernyanyi serta menari, ia telah mengeluarkan banyak uang dan memintaku menyampaikan undangan kepadamu agar engkau sudi melayaninya makan dan minum."

Oleh karena itu, apa boleh buat, Su Nio terpaksa menebalkan muka dan maju memberi hormat kepada tamu itu. Di dalam hati, ia merasa sangat menyesal dan menganggap bahwa berkeliaran di luar sebagai seorang perampok jauh lebih baik daripada menjadi seorang perempuan yang berlindung di dalam sebuah rumah pelacuran.

Tetapi nasib malang telah memaksanya sampai ke situ, walaupun dia sama sekali tidak pernah bermimpi akan datang ke sana jika bukan karena Siauw Giok yang menderita sakit dan sangat perlu segera ditolong.

"Kemenakanku ini baru pertama kali datang ke sini," kata Lauw Heng-siu memperkenalkan si nona kepada tamunya.

"Maka kalau pelayanannya masih kurang memuaskan, saya sangat berharap Kong-cu sudi memaafkannya. Kini arak dan hidangan telah siap, serta para pemusik wanita telah disewa untuk mengiringi nyanyian dan tarian kemanakanku yang bernama Su Nio ini."

Lauw Yu manggut-manggut sambil tersenyum, menandakan puas dapat bertemu muka dengan Nona Su Nio yang sesungguhnya berwajah amat cantik itu. Setelah saling berkenalan sejenak dan menyaksikan tingkah laku pemuda bermarga Lauw itu yang sopan santun, diam-diam Su Nio merasa lega di dalam hatinya.

Terlebih lagi ketika mengetahui bahwa Lauw Yu tidak pandai ilmu silat. Jika seumpama ia berani berlaku kurang ajar, dengan mudah saja Su Nio akan dapat mengalahkannya.

Maka sesudah bercakap-cakap dan minum beberapa cawan arak, Lauw Yu membisikkan beberapa patah kata di telinga Lauw Heng-siu, yang kemudian manggut-manggut dan berkata, "Ya, ya. Sudah tentu boleh sekali."

Kemudian ia menoleh kepada Nona Su Nio sambil berkata, "Jika engkau tidak berkeberatan, Lauw Kong-cu akan merasa sangat senang jika engkau sudi membawakan tarian Hong-lay-tiauw (burung dewata datang menghadap) dengan iringan musik dari para pemusik wanita yang telah kami undang ke sini."

Yo Su Nio mengangguk dengan wajah memerah karena malu. Setelah para pemusik selesai memainkan lagu pembuka, Su Nio mulai membawakan tarian tersebut dengan gerak-gerik yang lemah gemulai, sehingga Lauw Yu tak henti-hentinya memuji sambil bertepuk tangan menyatakan kekagumannya.

Sementara Lauw Heng-siu yang turut menyaksikan tarian itu pun sangat memuji dan merasa puas dengan pelayanan yang diberikan oleh nona bermarga Yo itu. Di samping tamunya pasti akan merasa senang, ia pun dapat membayangkan sendiri berapa banyak uang tip yang akan diperoleh dari pemberian pemuda jutawan itu.

Tetapi sungguh tidak disangka, selagi tarian Su Nio masih berlangsung, tiba-tiba dari luar ruangan beberapa orang tamu menerobos masuk dan segera membuat keributan sambil memaki-maki, "Lauw Heng-siu! Sejak kemarin kami mendengar kabar bahwa di rumah pelacuranmu ini ada nona baru yang berwajah sangat cantik. Tetapi bukannya menyuruh dia datang melayani kami semua, kau malah memberikan kesempatan kepada pemuda sialan ini untuk memonopolinya!

Apakah engkau menganggap bahwa kami ini adalah orang-orang yang sering keluar masuk di sini tanpa membayar apa-apa?"

Lauw Heng-siu yang sudah berpengalaman dan bukan sekali ini saja mengalami kejadian serupa, tetap tenang. Dengan wajah berseri-seri, ia memberi hormat kepada mereka semua sambil berkata, "Tuan-tuan, harap kalian jangan gusar dahulu. Nona Lauw ini adalah kemanakanku sendiri dan sama sekali bukan seorang pelacur. Kini, atas undangan Lauw Kong-cu, ia di sini tengah berlatih tarian yang hanya disaksikan oleh kami sendiri.

Jika nanti ia sudah mahir betul dalam tariannya, niscaya ia akan menari juga untuk menghibur Tuan-tuan sekalian. Oleh sebab itu, aku berharap sudilah kiranya Tuan-tuan bersabar dan memaafkannya karena kali ini tarian diadakan secara tertutup."

"Omong kosong!" teriak salah seorang di antara tujuh atau delapan tamu yang telah mabuk karena pengaruh minuman keras itu.

"Jika dia membayar dengan perak atau emas, apakah engkau anggap kami berfoya-foya di sini dengan membayar memakai batu atau pasir, sehingga kami dianaktirikan seperti ini? Sekarang kami hendak mengajak nona ini untuk melayani makan-minum dan bersenang-senang dengan kami semua!"

Sambil berkata demikian, salah seorang di antara mereka hendak menarik tangan Nona Su Nio untuk diajak pergi. Namun, Lauw Yu segera menghalanginya sambil membentak, "Nanti dulu!"

"Siapa kau sampai bernyali begitu besar berani merintangi kehendak tuan besarmu?" kata orang itu sambil memukul wajah pemuda bermarga Lauw tersebut, sehingga Lauw Yu yang tidak mengerti ilmu silat terpaksa melompat mundur untuk mengelakkan pukulan.

Sementara itu, pelayan Lauw Yu yang merasa khawatir majikannya dilukai orang datang menolong, tetapi ia pun disambut dengan satu jotosan hingga terpaksa melompat ke samping untuk menghindar. Selain tidak mengerti ilmu silat, ia pun merasa ngeri berhadapan dengan beberapa tamu yang sedang kalap itu.

"Ayo, Nona manis, ikutlah dengan kami semua!" kata tamu yang tadi hendak memukul Lauw Yu sambil tertawa terbahak-bahak.

Tetapi orang itu ternyata salah perhitungan. Ia menganggap Nona Su Nio sama saja dengan para pelacur lain yang pernah mereka temui. Begitu orang itu mengulurkan tangan hendak meraba tubuh si nona, dengan sigap Su Nio menggunakan siasat *Sun-hong-la-jiu* (menarik perahu mengikuti angin). Ia mencengkeram tangan laki-laki mabuk itu lalu menariknya dengan keras hingga orang itu tersungkur ke lantai bagaikan buah kundur yang jatuh dari tangkainya.

Gedebuk!

"Aduh!" teriak orang itu kesakitan.

Sementara kawan-kawannya yang lain berteriak, "Hai, berani sekali Lauw Heng-siu memukul orang? Ayo, Saudara-saudara, jangan biarkan dia berlaku kasar terhadap para tamu yang terhormat!"

Begitulah, para tamu itu maju serentak mengepung Yo Su Nio, sehingga nona itu terpaksa memberikan perlawanan yang sengit. Seorang demi seorang dirobohkan oleh si nona dengan pukulan atau tendangan, sehingga dalam waktu sekejap saja tujuh atau delapan orang tamu yang mabuk dan membuat keributan itu lari tunggang-langgang sambil berteriak-teriak, "Lauw Heng-siu memukul orang! Lauw Heng-siu memukul orang!"

Dengan ini, jelaslah bahwa kata-kata Heng-siu dapat diartikan sama dengan mucikari atau pelacur.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment