Chapter 12
Lauw Yu yang baru menyadari bahwa Yo Su Nio bukanlah perempuan sembarangan, lekas-lekas maju memberi hormat sambil berkata, "Nona, ternyata engkau adalah seorang perempuan gagah yang terpaksa masuk ke rumah pelacuran ini karena keadaan yang sukar! Oleh sebab itu, sudikah kiranya Nona memaafkan aku jika aku telah berbuat atau mengucapkan kata-kata yang kurang sopan atau menyinggung perasaanmu."
"Tetapi amat disayangkan aku telah beristri. Jika tidak, sudah pasti aku akan melamarmu sebagai istriku. Kini karena peristiwa ini kita telah saling mengenal, maka timbullah keinginan dalam hatiku untuk mengangkatmu sebagai adik perempuanku. Namun, aku belum tahu bagaimana pendapatmu?"
Su Nio terdiam sejenak. Namun, semangatnya yang luhur membuatnya merasa tidak ingin hidup atas belas kasihan orang lain. Dengan suara mantap, ia menjawab, "Aku adalah seorang perempuan yang lahir dari keluarga miskin. Oleh karena itu, tidak mungkin bagi Kong-cu untuk bersaudara dengan perempuan seperti diriku ini."
Lauw Yu segera bangkit dari tempat duduknya dan memberi hormat kepada Nona Su Nio sambil berkata, "Tidak peduli apakah Adik sudi menerimaku sebagai saudara atau tidak, aku tetap akan mengakuimu sebagai adik perempuanku."
Su Nio menjadi gugup dan lekas-lekas membalas penghormatan itu sambil berkata, "Kong-cu, aku sesungguhnya tidak dapat menerima pengakuanmu itu! Aku terlalu rendah dan tidak pantas menjadi saudara perempuanmu!"
Tanpa menghiraukan perkataan nona itu, Lauw Yu berkata lagi, "Aku harus mengajak Adik pulang untuk menjumpai adik kandung perempuanku yang lain di rumah. Mari, Adik. Segeralah ikut denganku dan janganlah menolak."
Su Nio tampak ragu. Ia terdiam sambil berpikir agar jawaban yang diberikannya tidak menyinggung perasaan atau merendahkan martabatnya sendiri. Setelah berpikir sejenak, ia menjawab, "Karena adikku masih sakit, saat ini aku belum dapat mengabulkan permintaan Kong-cu. Tetapi jika nanti adikku sudah sembuh, tentu aku bersedia memenuhi permintaan itu."
Lauw Yu kemudian memberikan banyak uang kepada sang nona agar ia dapat mengobati adiknya dengan sebaik-baiknya. Su Nio merasa sangat berterima kasih atas kebaikan pemuda bermarga Lauw itu. Ia berjanji akan berkunjung ke rumah Lauw Yu jika Siauw Giok telah sembuh total. Ia kemudian berpamitan kepada pemuda itu dan mucikari Lauw Heng-siu untuk kembali ke penginapan guna menjenguk adiknya.
Tatkala Siauw Giok yang masih bersifat kekanak-kanakan melihat Su Nio kembali membawa banyak uang, ia segera bertanya dari mana kakaknya memperoleh uang sebanyak itu. Su Nio menjawab bahwa uang itu diperoleh dari sumbangan kawan-kawan di dunia persilatan. Mendengar itu, Siauw Giok berkata dengan manja, "Cie-cie, belikanlah aku baju baru. Baju yang kukenakan ini sudah hampir robek. Lihatlah ini."
Su Nio tersenyum sambil menjabat tangan adiknya dengan penuh kasih sayang. "Bukan hanya baju," katanya, "aku pun akan membeli kuda sebagai pengganti kudamu yang terpaksa dijual untuk biaya pengobatanmu."
Siauw Giok girang bukan main, hingga rasa sakit pada lukanya seketika terasa hilang separuhnya. Demikianlah pengaruh uang terhadap seseorang yang tengah menderita; khasiatnya langsung terasa begitu uang tiba di tangan.
Setelah beberapa hari dan Siauw Giok telah sembuh total, ia mengajak Su Nio keluar untuk berjalan-jalan. Mengingat Siauw Giok sudah lama terkurung karena sakit, Su Nio pun mengabulkan permintaan saudara angkatnya itu. Begitu keluar dari penginapan, Siauw Giok melihat sekelompok orang di kejauhan tengah mencoba menunggangi seekor kuda berbulu merah. Ternyata, tidak ada seorang pun yang mampu menaklukkan kuda yang sangat liar itu. Siauw Giok yang mahir menunggang kuda dan sudah lama tidak melakukannya sejak sakit, merasa tertantang untuk mencobanya.
Mereka berdua menghampiri beberapa tentara bangsa Kim yang sedang mencoba menunggangi kuda liar tersebut. Namun, satu demi satu dari mereka terlempar hingga jatuh terguling dan menderita luka-luka ringan atau babak belur. Tiba-tiba Siauw Giok berhenti dan berkata, "Cie-cie, bukankah kuda merah itu adalah milikku yang terpaksa dijual dulu?"
Su Nio memperhatikannya sejenak lalu menjawab, "Benar. Tapi bagaimana bisa kuda itu ada di sini?"
Siauw Giok tidak peduli mengapa kuda itu ada di sana, ia segera berkata, "Cie-cie, mari kita tebus kudaku itu."
Sebelum Su Nio menjawab, seorang perwira bangsa Kim menghampiri rekan-rekannya sambil tertawa, "Dasar kalian semua tidak berguna! Saksikanlah bagaimana aku menundukkan kuda jahat ini!" Ia menarik tali kekang kuda tersebut dan melompat ke punggungnya sambil berseru, "Goblok!"
Begitu ia duduk di pelana, kuda merah itu meronta dan berdiri dengan dua kaki belakangnya, mengibaskan sang perwira hingga pegangannya terlepas. Detik berikutnya, ia jatuh terguling ke tanah bagaikan dahan pohon yang tumbang ditiup angin topan. Hal itu memicu gelak tawa riuh dari rekan-rekannya yang juga pernah dijatuhkan.
Perwira itu merasa sangat malu karena ditertawakan. Ia melampiaskan kemarahannya kepada binatang itu dan membentak, "Dasar binatang sialan! Engkau tidak layak hidup lebih lama lagi di dunia ini!" Ia segera menghunus goloknya dan hendak membacok kuda itu.
Namun, dengan sebuah tangkisan yang dahsyat, golok perwira itu terpukul jatuh ke tanah. Sebuah suara nyaring membentaknya, "Kawan, sabar dulu! Engkau sendiri yang tidak mampu menunggangi kuda itu, mengapa malah marah kepada binatang yang tidak berdosa?"
Ternyata Siauw Giok telah menepis tangan perwira itu sebelum Su Nio sempat mencegahnya. "Kurang ajar!" gerutu perwira itu. Ia segera memungut goloknya dan menebas ke arah pinggang Thio Siauw Giok sambil berseru gemas, "Rasakan golokku!"
Siauw Giok yang waspada memiringkan tubuhnya untuk menghindari bacokan tersebut. Ia kemudian mengibaskan tangan kirinya untuk menotok pergelangan tangan musuh, sementara telapak tangan kanannya menampar wajah orang itu.
Plok! Dengan jeritan ngeri, perwira itu terhuyung dan jatuh tersungkur dengan muka mencium tanah. Hidungnya berdarah dan dua giginya copot karena terbentur batu. "Hai, budak jahanam!" teriaknya. "Engkau berani mempermainkan dan menghina tuanmu? Engkau harus menanggung akibatnya nanti!" Ia kemudian memerintahkan rekan-rekannya untuk meringkus Siauw Giok.
Su Nio yang lebih tenang segera maju menengahi. "Nanti dulu! Ada yang ingin kusampaikan kepada kalian!"
"Katakan!" jawab perwira itu dengan tidak sabar.
"Sebenarnya tidak ada permusuhan di antara kita," kata Su Nio merendah. "Biarlah kita selesaikan ini secara damai. Tadi adikku tidak sengaja memukul Tuan karena Tuan hendak membunuh kuda itu. Adikku juga mencela karena Tuan tidak bisa menungganginya. Sekarang, bagaimana jika kita biarkan dia mencoba menunggangi kuda itu? Aku ingin melihat apakah kemampuannya memang lebih unggul daripada Tuan."
"Itu saran yang bagus," kata salah seorang perwira Kim. "Kami yang laki-laki saja tidak mampu, apalagi perempuan kecil sepertinya. Bisa mati dia kalau berani mencoba!"
"Boleh! Biarkan dia merasakan akibat dari kecongkakannya sendiri!" rekan-rekannya setuju.
Perwira yang dirobohkan Siauw Giok tadi, karena tidak sanggup membalas sendiri, akhirnya mengabulkan permintaan Su Nio. "Biar dia mati dibanting kuda sialan itu!" umpatnya dalam hati. "Jika engkau memang mampu menunggangi kuda itu," katanya kemudian.