Halo!

Dewi Tombak - Chapter 13

Memuat...
Dewi Tombak

Chapter 13

"Aku rela menghadiahkan binatang sialan itu kepadamu!" Karena ia percaya bahwa nona itu bukan saja tidak akan mampu menunggangi kuda itu, bahkan dia akan mencemoohnya habis-habisan jika nanti Siauw Giok pun dibanting oleh sang kuda.

"Apakah kata-katamu itu sungguhan dan bukan main-main belaka?" tanya Thio Siauw Giok dengan raut wajah penuh nafsu.

"Aku tidak akan mendustaimu," kata perwira yang baru saja dikalahkan oleh kuda binal itu. "Para rekanku di sini akan menjadi saksi bahwa apa yang kukatakan ini sungguh-sungguh dan tidak akan kupungkiri lagi jika engkau benar-benar dapat menunggangi kuda itu!"

Oleh sebab itu, Yo Su Nio lalu sengaja memasang muka cemas dan berpura-pura menasihati Siauw Giok supaya jangan terlalu besar hati mencoba menunggangi kuda itu. "Binatang itu terlalu liar dan tidak dapat dibuat permainan," kata sang nona. "Lagi pula engkau baru sembuh dari sakitmu. Jika engkau sampai dibanting oleh binatang itu seperti tuan-tuan ini tadi, niscaya aku tidak berani bertanggung jawab atas penyesalanmu nanti."

Tetapi Siauw Giok yang sudah paham akan maksud kakak angkatnya itu segera tertawa dan berkata, "Cie-cie, tidak usah engkau khawatir, aku pasti akan dapat menunggangi kuda itu menurut caraku sendiri."

Dan tatkala Su Nio tetap berpura-pura merintanginya, Nona Siauw Giok sudah lantas mencekal tali kekang kuda itu. Ia menunggangi kudanya sendiri sambil berpura-pura tidak dapat duduk dengan tetap di atas pelana, hingga perwira bangsa Kim yang telah dirobohkannya tadi diam-diam merasa girang dan bersiap-siap untuk mengejek dengan segala cara guna melampiaskan seluruh rasa dongkol yang dirasakannya.

Namun, sungguh di luar dugaannya, ia kemudian menyaksikan bahwa selain tidak jatuh dibanting, nona itu pun sanggup berdemonstrasi dengan membuat kuda itu berdiri dengan dua kaki dan melompat-lompat bagaikan gembala putri yang sedang melatih kuda liar. Setelah itu, ia memacu kuda itu berlari mengitari lapangan luas di tepi jalan dengan kecepatan bagaikan angin, hingga para perwira dan orang-orang yang berlalu lintas di situ tercengang dan kagum menyaksikan kepandaian Siauw Giok menunggang kuda.

Sewaktu si nona kembali dan menghampiri para perwira bangsa Kim itu, dengan bangga ia tersenyum dan bertanya, "Sekarang bagaimana? Apakah engkau tidak akan ingkar untuk memberikan kuda ini sebagai hadiahku?"

"Dasar sialan!" omel perwira itu dengan perasaan jengah, iri, bercampur mendongkol. "Ambillah kuda itu untukmu!" Kemudian perwira bangsa Kim dan kawan-kawannya itu segera berlalu sambil menggerutu di sepanjang jalan.

Tetapi begitu Siauw Giok dan Su Nio hendak berlalu, tiba-tiba ada seorang tua yang semula menonton di tepi jalan dan terpesona menyaksikan kepandaian si nona menunggang kuda, lekas-lekas berlari menghampiri sambil berkata, "Nona, tunggu dulu!"

Tatkala mereka menanyakan apa urusan orang tua itu, dia menerangkan bahwa kuda itu adalah miliknya yang hendak dirampas oleh perwira bangsa Kim. Oleh karena itu, sudah barang tentu ia merasa keberatan menyerahkan binatang itu sebagai hadiah. Siauw Giok dan Su Nio tertegun sejenak, kemudian salah seorang nona itu berkata, "Paman, pasalnya kuda ini adalah milik kami yang kemudian kami jual karena terpaksa oleh keadaan sukar. Bagaimana pikiran Paman jika kami menebus kuda itu dengan memberi uang penggantian kepadamu?"

"Karena tiada seorang pun yang dapat menungganginya," terang orang tua itu, "maka aku terpaksa hendak menjualnya kembali kepada siapa saja yang berminat untuk memilikinya. Barusan para perwira bangsa Kim itu berniat hendak merampas kuda itu dari tanganku, tapi ternyata tiada seorang pun di antara mereka dapat menungganginya, maka dengan lancang ia telah memberikan binatang itu kepadamu sebagai hadiah. Jika Nona bersedia untuk menebus kudamu ini, sudah barang tentu aku pun girang sekali untuk mengabulkan permintaanmu itu."

Dengan demikian, kuda Siauw Giok telah dapat ditebus kembali, hingga orang tua itu merasa gembira dan lalu berjalan pulang dengan hati lega.

Pada suatu hari, Yo An Jie telah tiba dari Pek-hoa-tien dan cepat menjumpai Su Nio serta Siauw Giok di tempat penginapan mereka yang baru itu. Dan tatkala menyaksikan kedua orang adik perempuannya itu berpakaian dengan bahan yang mahal, sedangkan ia sendiri berpakaian compang-camping, tentu saja ia menjadi heran dan bertanya, "Dik, apakah engkau telah memperoleh keuntungan besar selama aku meninggalkan kalian di Pek-hoa-tien?"

Siauw Giok yang memang pandai berbicara dan gemar berkelakar lantas menjawab, "Cie-cie telah memperoleh rezeki besar karena melakukan perampokan uang yang berjumlah tidak sedikit!"

An Jie terkejut dan menoleh kepada Su Nio sambil membelalakkan matanya. "Benarkah engkau telah merampok?" tegurnya.

Su Nio tersenyum dingin. "Kita datang ke sini memang menjadi perampok," katanya. "Demikian juga dengan halmu yang pergi mencari Kwee Liat kakak beradik ke atas gunung. Bukankah itu juga berarti bahwa engkau hendak menggabungkan diri dengan para perampok?"

An Jie yang diserang balik oleh adiknya jadi terbungkam dan tidak dapat menjawab sepatah kata pun. Sebenarnya sejak awal An Jie kurang senang dengan sikap Siauw Giok yang agak lancang dan pandai menggoda orang, tapi ketika melihat tingkah laku nona itu yang begitu hormat dan menyediakan air hangat untuk mencuci muka serta pakaian bersih untuk berganti, hatinya yang keras jadi agak lumer.

Ia kemudian berkata kepada kedua adiknya, "Kwee Liat kakak beradik ternyata tidak dapat kutemukan di daerah Teng-ciu. Oleh sebab itu, ke manakah gerangan kita harus menuju sekarang ini?"

Su Nio yang kini sudah mempunyai uang cukup tidak lagi berniat pergi naik gunung untuk menggabungkan diri dengan Kwee Liat kakak beradik itu. Ia memberitahukan kepada kakaknya secara terus terang bahwa ia tengah menantikan Lauw Yu yang telah berjanji akan menjemputnya dan mengajaknya pulang ke rumahnya.

Siapa tahu, waktu Yo An Jie yang bertabiat pemarah mendengar keterangan adiknya, tiba-tiba ia menjadi sangat gusar dan menggebrak meja sehingga terbelah dan runtuh seketika sambil berseru, "Ah! Sungguh bagus sekali perbuatanmu itu! Jika para handai taulan di dunia persilatan mendengar kabar bahwa adik perempuanku menjadi seorang pelacur, bagaimana aku dapat berkeliaran di kalangan Kang-ouw tanpa menjadi buah tertawaan, bulan-bulanan, dan hinaan mereka?"

Su Nio sendiri tidak pernah menyangka bahwa kakaknya akan menjadi sedemikian gusar. Dengan hati penasaran dan air mata bercucuran, ia membantah, "Engkau jangan salah paham! Aku hanya untuk sekali ini saja berlaku sebagai seorang pelayan untuk dapat membiayai perawatan serta pengobatan adik Siauw Giok yang telah menderita luka dalam pertempuran dengan para serdadu pasukan bangsa Kim yang lalim itu, tapi sama sekali bukan menjadi pelacur! Jika engkau tidak mau percaya ucapanku dan merasa terhina oleh perbuatanku, biarlah aku tinggalkan dikau dan membuang marga Yo kita!"

Ia membalikkan badannya hendak meninggalkan kamar, tetapi An Jie dan Siauw Giok lekas merintanginya dan mencekal tangan si nona untuk menenangkan hatinya.

"Moay-moay, sabar dulu!" kata Yo An Jie. "Semua ini adalah karena kesalahanku juga, sehingga engkau dan adik Siauw Giok terlunta-lunta begini rupa!"

"Semua orang tidak dapat luput dari kesalahan," sela Nona Siauw Giok. "Maka sudah selayaknya jika kita saling memaafkan!"

Oleh karena itu, barulah hati Su Nio menjadi lunak dan menyudahi pertengkaran mereka.

Pada suatu hari di waktu berhias di kamarnya, tiba-tiba Su Nio mendengar suara ribut-ribut dari Thio Siauw Giok yang mendamprat orang, "Enyahlah kalian dari sini! Kami kakak beradik adalah perempuan dari keturunan baik-baik, tidak patut sekali kalian jadikan kami bulan-bulanan perhatian kalian yang menyolok mata!"

"Kami berdua bukanlah orang ceriwis menurut sangkaanmu," balas membentak seorang laki-laki dengan suara mendongkol, "tapi kami hendak mencari salah seorang sahabat!"

"Jangan banyak bicara!" bentak Nona Siauw Giok dengan sengit. "Jika belum ketahuan, tentunya kalian sengaja hendak menghina kami kaum wanita!"

Bersamaan dengan berakhirnya bentakan itu, di luar kamar segera terdengar suara orang berkelahi dengan sangat seru. Tatkala Su Nio menjenguk keluar jendela, ia melihat dua orang laki-laki bertubuh tinggi besar usia tiga puluhan yang pada pauw-hok masing-masing digantungkan sebilah pedang panjang. Salah seorang antaranya tengah bertempur dengan Siauw Giok yang melancarkan serangan bagaikan seekor harimau betina haus darah. Su Nio sangat terkejut dan lekas-lekas berseru untuk menghentikan pertempuran tersebut.

Siauw Giok yang sedang bertempur segera melompat keluar dari kalangan pertempuran begitu mendengar seruan kakaknya dan berkata, "Cie-cie, orang-orang ini telah berlaku kurang sopan dan sedari tadi mengincarmu dari luar kamar! Oleh karena itu, mereka harus kuajar adat dahulu, barulah kemudian kita bicara!"

Sementara itu, salah seorang laki-laki itu tatkala menoleh ke arah Yo Su Nio lantas bertanya, "Nona, bukankah engkau ini bernama Yo Su Nio?"

Su Nio tidak kenal siapa kedua orang laki-laki itu, sehingga ia tertegun keheranan tanpa dapat berkata sepatah pun.

"Apakah An Jie Koko ada di sini?" tanya laki-laki itu pula.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment