Halo!

Dewi Tombak - Chapter 14

Memuat...
Dewi Tombak

Chapter 14

Kwee Liat dan Kwee Kin, dua saudara, sedang mencari untuk menjumpai seseorang. Thio Siauw Giok, yang mendengar keterangan demikian, menjadi agak uring-uringan dan berkata, "Jika kamu berdua bermaksud hendak mencari orang, mengapakah kalian tidak siang-siang mengatakan demikian sehingga kita mesti melakukan pertempuran yang tidak berguna ini?" Yo Su Nio, yang baru mendusin bahwa mereka berdua adalah masih terhitung orang-orang sendiri, segera mempersilakan mereka masuk dan duduk sambil meminta maaf atas kesemberonoan adik angkatnya itu.

"Aku sama sekali tidak menyangka bahwa Kwee Ceecu dan saudara bisa tiba di sini," kata si nona pula. Tapi orang laki-laki yang berwajah agak kehitam-hitaman itu segera membeli hormat sambil berkata, "Kini aku Kwee Liat yang berkepandaian sangat rendah tidak lagi memimpin para liauwlo di atas gunung, tapi aku telah menyerahkan kedudukan Cee-cu di sana kepada Kok An Yong, Kok Toako." Siauw Giok tampak keheran-heranan mendengar jawaban Kwee Liat itu.

"She orang yang hidup di dunia ini memang tidak sedikit jumlahnya yang aneh-aneh," katanya, "Tapi tak pernah aku mendengar ada seseorang yang memakai she Kok itu." "Kok Toako ini sebenarnya bukan she Kok," kata Kwee Liat sambil tertawa, "Tapi she Han dan masih pernah sanak saudara dari kaisar Goan Leng Cong!" "Sungguh aneh sekali," nyeletuk Yo Su Nio. "Jika dia sendiri pernah sanak saudara dengan kaisar, mengapakah dia tidak pergi memerangi bangsa Kim dan malah rela menjadi kepala berandal?"

"Oleh karena tata tertib negara kalang kabut dan orang-orang yang pandai tidak mendapat kesempatan untuk bekerja pada negara," menerangkan Kwee Liat sambil menghela napas, "Maka Kok Toako terpaksa keliaran di luaran sebagai seorang petualang, meski ia sendiri bukan lain daripada kemanakan raja muda Peng-Goan-Kun Han Ciu. Oleh karena Han Ciu sebagai kepala perang kerap dikalahkan musuh, maka akhirnya ia telah dijatuhi hukuman mati oleh kaisar. Kok Toako yang melihat pemerintahan negeri kian hari kian bertambah buruk dan sewenang-wenang, maka akhirnya ia telah buron di luaran dengan mengganti she dan nama menjadi Kok An Yong, yang maksudnya sudah jelos yaitu Apakah gunanya negara!"

"Ilmu silat Kok Toako sangat lihay," Kwee Kin mencampuri bicara, "Hingga kami berdua tak sanggup mengalahkannya. Oleh sebab itu, kami telah menakluk dan menyerahkan kedudukan kami kepadanya. Kini Kok Toako di San-yang tengah mengatur suatu pekerdiaan besar untuk menumpas bangsa Kim dan menolong saudara-saudara kita yang ditindas oleh pemerintah bangsa asing yang menjajah tanah air kita ini. Maka untuk dapat melaksanakan maksud dan cita-citanya yang mulia itu, kami menganjurkan supaya saudara sekalian sudi membantu tenaga dan pikiran serta menggabungkan diri dengan Kok Toako di sana."

Justeru itu Yo An Jie pun telah pulang dari luaran, hingga Kwee Liat kakak beradik jadi sangat girang dan lalu menjelaskan maksud kedatangan mereka ke situ. Menurut keterangan Kwee Liat setelah Kok An Yong buron ke San-yang, di sana ia telah berhubungan dengan para hohan untuk mengatur gerakan perlawanan terhadap bangsa Kim yang menjajah Tionggoan dimasa itu. Dengan mengibarkan bendera Tee Thian Heng Too atau membantu Thian untuk menjalankan kebenaran, Kok An Yong telah memimpin pergerakan tersebut dengan mengumumkan larangan keras seperti berikut, 1) Dilarang keras berjina atau mencemarkan kehormatan kaum wanita, (2) dilarang keras untuk sembarangan membunuh orang tanpa mengetahui dahulu apa kedosaannya (3) dilarang keras menindas kaum kecil yang tidak berdaya, (4) dilarang keras mengatakan laporan tidak benar dengan secara membuta tuli, (5) dilarang keras mengkhianati cita-cita dan saudara sepergerakan sendiri, (6) dilarang keras mundur dalam medan peperangan tanpa diperintah atau mendapat perkenaan pihak pimpinan, (7) dilarang keras main mabuk-mabukan sehingga membuat kapiran pekerjan besar, dan, dilarang keras meninggalkan cita-cita setengah jalan.

Disamping itu, di muka pintu benteng gunung terdapat sebuah papan nama yang berbunyi, Hwan Kim Biat Song, Tie Po An Liang, atau Gulingkan bangsa Kim dan musnakan kerajaan Song, untuk menindas pihak yang jahat dar menjamin keselamatan pihak yang baik. Tapi tidak dinyana pada suatu hari ada seorang pemuda bersenjata tombak Lee-hoa-chio yang menyatroni San-yang untuk menantang bertempur Kok An Yong. Pemuda itu mengaku bernama Sin-chio Lie Chwan, atau Lie Chwan si Tombak Sakti. Dalam tiga kali pertempuran Kok An Yong telah menderita kekalahan, hingga pemuda itu timbul pikiran untuk mengangkangi kedudukannya sebagai pemimpin. Hal mana, sudah barang tentu, telah membuat Kok An Yong penasaran bukan kepalang.

Oleh sebab itu, ia telah mengutus Kwee Liat dan Kwee Kin akan pergi mengundang Yo Si Nio, agar supaya Dewi Tombak itu sudi membantunya turun tangan untuk mengalahkan pemuda Lie Chwan tersebut. Mendengar keterangan demikian, Yo An Jie jadi heran dan lalu balik bertanya, "Dari mana Kok Toako mengetahui, bahwa adik perempuanku Su Nio mahir ilmu tombak?" "Kami di San-yang telah berjumpa dengan seorang tua yang mengaku bernama Liok Kong," Kwee Kin mencampuri bicara, "Yang mengatakan bahwa adik perempuanmu sangat mahir ilmu tombak Lee hoa-chio, sehingga dalam dunia ini sukar dicari tandingnya. Nona Su Nio pasti akan sanggup mengalahkan Lie Chwan si Tombak Sakti itu," katanya.

"Oleh karena itu, Kok Toako telah mengutus kami berdua untuk mengundang Yo Toako kakak beradik untuk membantu beliau melawan orang she Lie itu." Tapi Yo Su Nio tampak agak ragu dan kemudian menganjurkan kakaknya saja yang pergi mengikut kedua orang kakak-beradik she Kwee itu ke San-yang, hingga An Jie lalu berkata, "Engkau sendiri yang diundang, tapi cara bagaimana engkau lantas menghaturkan aku yang akan menerimanya?" Kwee Liat kakak beradik jadi terbengong dan saling berpandangan dengan laku yang putus asa.

Tapi Thio Siauw Giok yang bertabiat aseran, selalu tidak suka mengalah terhadap seseorang yang gemar tantang menantang. Maka begitu melihat Su Nio seolah-olah tidak suka mengabulkan undangan Kok An Yang yang dianggapnya dinista oleh pihak Sin-chio Lie Chwan, dengan lantas ia tampil ke muka sambil berkata, "Jika Cie cie tak suka mengabulkan permintaan Kok Toako, maka akulah yang akan menerima undangan itu untuk melawan bertempur orang she Lie yang sombong itu! Aku ini meski bukan seorang ahli tombak, tapi sepasang gaetanku ini masih sanggup meladeni Lie Chwan bertempur sehingga beberapa ratus jurus lamanya!"

Kwee Liat yang berotak cerdik dan melihat ada kesempatan untuk meminta bantuan ketiga orang saudara itu dengan sekaligus, dengan wajah yang berseri-seri lalu berkata, "Jika nona Thio sudi turut kami naik gunung, niscaya remoongan kami akan bertambah lebih kuat dan Lie Chwan pasti akan dapat dikalahkan." Kemudian ia datang lebih dekat ke arah nona Siauw Giok dan berbisik, "Jika nona dapat membujuk Cie-ciemu untuk sama-sama naik gunung, tanggung Kok Toako akan memberikan dikau, kedudukan sebagai pemimpin keempat."

Siauw Giok tidak pernah mengetahui, bahwa para pemimpin dikalangan perampok mempunyai kedudukan yang bertingkat-tingkat, tapi dia yang selalu gemar bertualang segera menjadi gembira dan lalu berkata, "Baiklah, aku ada suatu akal untuk mengajak juga kakakku mengikut naik gunung untuk membantu Kok Toako di sana!" Sesudah berkata demikian, lekas-lekas ia menghampiri Su Nio dan berbisik di telinganya, "Apakah Cie-cie tidak berani melawan Lie Cwan karena ia bernama julukan Tombak Sakti, sedangkan nama julukanmu hanya Dewi Tombak saja, cobalah engkau bentahukan kepadaku dengan sejujurnya jika engkau mempunyai alasan yang kuat untuk menampik undangan Kok Toako, aku bersedia untuk meladeni bertempur si orang she Lie dengan berpura-pura menyebutkan namajulukanku Siauw Giok si Gaetan Sakti. Dengan demikian, Gaetan Sakti akan melawan Tombak Sakti, sama-sama sakti dan pasti akan merupakan pertempuran yang ramai sekali. Oleh sebab itu, engkau sendiri yang tak mengikutiku naik gunung, atau jika engkau mau coba menyusulku janganlah sampai engkau memberi kesan kepada siapapun juga, bahwa Dewi Tombak pun berada juga diantara rombongan kami."

Su Nio jadi agak kurang senang mendengar omongan itu. "Cara bagaimana aku mesti berlaku secara sembunyi, sedangkan nama julukan Dewi Tombak itu telah cukup dikenal orang dan telah diberikan oleh para kawan dikalangan persilatan terhadap diriku?" katanya penasaran. "Selain dari itu, Sin-chio Lie Cwan akan mengatakan aku gentar kepadanya, jika aku mengikut naik gunung dengan secara diam-diam. Apakah barangkali engkau juga menganggap bahwa aku sesungguhnya takut kepada si tombak sakti itu?" Siauw Giok yang melihat umpannya telah dimakan juga oleh kakak angkatnya, dengan lantas ia tertawa dan membelai-belai Su Nio sambil berkata, "Cie-cie, aku bukan mengatakan bahwa engkau takut. Harap Cie-cie jangan salah paham. Lebih-lebih karena aku sendiripun telah ketahui, bahwa engkau adalah ahli tombak kaliber besar dan seorang pemberani. Kalau tidak, niscaya sudah siang-siang engkau ditangkap oleh pasukan tentara bangsa Kim yang gagah-gagah dan tidak sedikit jumlahnya itu!"

Su Nio yang semula agak "dibanting" dan kemudian mendadak "diangkat" lagi, sudah barang tentu amarahnyapun kontan menjadi agak reda dan berbalik tanya, "Jika seumpama aku dapat mengalahkan Sin-chio Lie Chwan, hadiah apakah yang hendak kau berikan kepadaku?" Siauw Giok yang merasa siasatnya telah berhasil untuk memanaskan hati kakak angkatnya, dengan lantas menjawab, "Cie-cie boleh sebutkan sendiri, aku bersedia untuk memberikannya dengan ikhlas. Asalkan jangan kepalaku saja yang kau minta." Semua orang jadi bertepuk tangan dan tertawa riuh, hingga Su Nio pun jadi turut tersenyum sambil mencubit paha si adik yang nakal itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment