Halo!

Dewi Tombak - Chapter 15

Memuat...
Dewi Tombak

Chapter 15

Sebelum Su Nio mengutarakan pikirannya, Siauw Giok telah mendahului, menoleh kepada Kwee Liat dan Kwee Kin sambil berkata, "Tuan-tuan, Cie-cieku kini telah mengabulkan permintaan Kok Toako untuk naik gunung melawan bertempur pada Sin-chio Lie Cwan itu. Kalian boleh saksikan dengan mata kepala sendiri, cara bagaimana Dewi Tombakku ini akan menaklukkan si pemuda yang congkak itu!"

Tapi, ia melanjutkan sambil menoleh ke arah Yo Su Nio, "Bilamanakah kita berangkat ke San-yang?" Sambil berkata demikian, Siauw Giok berpura-pura menengadahkan kepalanya ke udara sambil seolah-olah berkata-kata pada dirinya sendiri, "Hari masih pagi dan masih banyak waktu untuk kita berangkat..." Su Nio yang mendengar omongan itu segera mendusin kemana maksudnya pembicaraan sang adik, hingga dengan spontan ia katakan, "Kita boleh berangkat pada hari ini juga!"

Itulah yang memang dimaksudkan Siauw Giok, hingga Kwee Liat kakak beradik jadi sangat girang dan segera menyatakan kesediaan mereka untuk melayani segala keperluan yang dibutuhkan Nona Su Nio disaat itu. Dan setelah berkemas-kemas serta membayar rekening penginapan mereka, Su Nio, Yo An Jie, dan Thio Siauw Giok lalu menunggang kuda masing-masing untuk berangkat ke San-yang dengan diantar oleh Kwee Liat kakak beradik sebagai penunjuk jalan.

Di sepanjang jalan, kedua saudara Kwee dan Siauw Giok sengaja saban-saban memanasi hati nona Su Nio, hingga nona itu diam-diam jadi mendongkol dan segera bertanya, "Apakah letak daerah San-yang masih jauh?" "Sudah tidak berapa jauh lagi, sudah tidak berapa jauh lagi," sahut kedua saudara itu.

Pada suatu senja, pelana Siauw Giok telah patah. Oleh sebab itu, terpaksa mereka mencari rumah penginapan dalam sebuah chung atau desa yang lingkungannya masih terletak di muka perjalanan mereka. Sesampainya di muka gerbang desa tersebut, segera mereka melihat ada sepasang tengloleng besar yang masing-masing dituliskan sebuah huruf HEE yang cukup besar untuk dapat dilihat orang dari kejauhan.

Maka Yo An Jie yang melihat begitu, dengan lantas ia berkata, "Inilah desa Heekee-chung. Marilah kita coba menanyakan kepada chung-teng atau ronda desa di sana, kalau-kalau kita boleh menumpang menginap di dalam desa ini." Sesudah berkata demikian, An Jie segera turun dari kuda dan mengetok-ngetok pintu. "Apakah di dalam ada orang?" katanya. "Kami orang-orang perjalanan yang telah kemalaman di sini minta bertemu dengan Hee Tha Kong."

Tidak antara lama dari sebelah dalam chung itu terdengar suara orang yang menjawab, "Tengah malam buta, cara bagaimana kalian dapat berjumpa dengan Hee Thay Kong yang telah tidur nyenyak sejak tadi? Lebih baik nanti besok saja kalian kembali pula kesini!" "Kami sekalian hanya berniat hendak menumpang menginap," kata Yo An Jie. "Harap Toako sudi melaporkan kepada induk semangmu."

Di waktu pintu desa itu dibuka dengan dibarengi oleh gerutuan yang tidak terdengar jelas, dua orang ronda desa tampak keluar dan memperhatikan Yo An Jie dari kepala sampai di kaki, kemudian dari seorang perhatian mereka telah dialihkan kepada orang-orang yang lainnya, di antara kelima orang pelancong yang telah kemalaman itu. "Jika kalian hendak menumpang menginap," kata salah seorang antara kedua chungteng itu, "Ada kemungkinan induk semangku takkan merasa keberatan apa-apa. Silahkan kalian masuk."

Yo An Jie dan kawan-kawan jadi girang dan lalu mengikut pada kedua chungteng tersebut sambil menuntun kuda masing-masing. Sesampainya di bagian dalam desa itu, tiba-tiba ada seorang-orang yang terdengar bertanya, "Siapa itu?" Chungteng tadi lalu menerangkan kepada induk semang mereka, bahwa petang hari itu ada beberapa orang pelancong yang kemalaman hendak menumpang menginap di situ.

Tatkala An Jie dan kawan-kawan dipersilahkan masuk ke ruangan pertengahan, lebih banyak lampu lalu dipasang untuk membuat ruangan itu jadi semakin terang, sedang seorang pemuda tampak muncul dengan diiringi oleh 8 atau 9 orang pengawal pribadinya. "Orang ini tentulah Chungcu dari desa ini," pikir Yo An Jie dan kedua saudara Kwee itu, hingga mereka segera maju memberi hormat sambil berkata, "Kami sekalian karena kemalaman, maka sangat mengharap supaya Chungcu sudi mengabulkan kami menginap di sini untuk semalaman ini."

Begitulah selanjutnya mereka telah berkenalan dan memberitahukan she dan nama masing-masing, hingga An Jie dan kawan-kawan baru mengetahui, bahwa pemuda itu bukan lain daripada Chungcu muda dalam desa itu dan bernama Hee Cwan Hoa. Ketika Hee Cwan Hoa membalas pemberian hormat para tamunya, Kwee Liat kakak beradik jadi bergidik dan segera mendusin, bahwa si pemuda telah mempergunakan ilmu khie-kang untuk menjajal sampai dimana kemampuan mereka berdua.

Tapi karena mereka berdua khawatir akan tak sanggup menandingi Chungcu muda itu, maka apa boleh buat mereka tidak membalas mendorong balik tenaga dalam Hee Cwan Hoa yang telah dimajukan terhadap diri mereka berdua itu. Sementara Hee Cwan Hoa menyaksikan bahwa ilmu kepandaian mereka belum tergolong sebagai ahli-ahli silat kelas satu, sudah barang tentu dalam hatinya timbul sifat menghina dan lalu bertanya, "Tuan-tuan sekalian termasuk pada golongan mana?"

Kwee Liat kakak beradik yang ingin dianggap bahwa diri mereka cukup "besar" untuk dihargai orang lain dengan congkak lalu menjawab, "Kami sekalian adalah para komandan dari pasukan Hong-auw-kun atau rombongan jaket merah." Hee Cwan Hoa yang mendengar keterangan demikian segera memberengut dan membentak, "Lekas tutup pintu desa dan ringkus semua orang ini!" Kwee Liat kakak beradik jadi sangat terkejut dan lekas bertanya apa sebab musababnya.

"Kami memang telah berniat untuk meringkus orang-orang dari Rombongan Jaket Merah untuk mencari pahala!" sahut orang she Hee dengan tersenyum dingin. Sambil berkata demikian, ia segera memberi isyarat untuk anak buahnya menutup pintu dan menangkap kelima orang itu. Tapi si orang she Hee tak pernah menyangka, bahwa Su Nio dan kawan-kawan bukan orang-orang lemah yang selalu suka mandah saja diperlakukan dengan seenaknya saja.

Maka diwaktu melihat mereka berlima melakukan perlawanan dengan serentak, Hee Cwan Koa segera mengambil tombak Hong-thian-hoa kek yang biasa dipergunakannya dari tangan salah seorang pengawalnya kemudian ia memerintahkan supaya para pengawalnya melakukan pengepungan dan melepaskan anak panah untuk melumpuhkan perlawanan kelima orang itu. Kwee Liat lekas menghunus pedangnya untuk melawan musuh, sedang Yo An Jie dan Kwee Kin dengan serentak maju menghambat para chung-teng yang hendak mengepung mereka dari segala jurusan.

Sementara Yo Su Nio yang tidak keburu mengambil tombaknya yang diselipkan pada pelana kudanya terpaksa menghunus pedang yang disoren di pinggangnya untuk membantu Kwee Liat kakak beradik melepaskan diri dari kepungan Hee Cwan Hoa dan anak buahnya itu. Tapi karena Su Nio tak biasa bertempur dengan bersenjata pedang, maka tidaklah heran jika perlawanannya itu tak dapat dikatakan istimewa atau menakjubkan orang.

Syukur juga permainan gaetan Houw-thauw-kauw Thio Siauw Giok cukup lihay dan lincah, sehingga para chung-teng tak berani sembarangan menyerang nona itu dari dekat jikalau mereka tidak mempergunakan alat senjata bergagang panjang seperti pentungan, tombak atau anak panah guna menyerang dari jarak yang agak jauh. Hee Cwan Hoa yang sangat mahir mempergunakan tombak Hengkek, sudah barang tentu dengan sekejap saja telah berhasil mendesak mundur Kwee Liat yang bersenjata pedang, hingga Kwee Kin terpaksa meninggalkan para chung-teng untuk membantu kakaknya melawan si orang she Hee.

Tapi Yo Su Nio yang melihat gelagat tidak baik bagi pihaknya sendiri, dengan lantas ia terjang tiga orang chungteng yang mencegatnya sehingga mereka bertiga lari kalang kabut, kemudian menyarankan supaya kawan-kawannya segera melarikan diri. Yo An Jie dan Kwee Liat kakak beradik segera mundur sambil menerjang para chung-teng yang tidak sedikit jumlahnya.

Tapi dikala Siauw Giok kembali dengan menuntun empat ekor kuda masing-masing untuk kabur dari desa Hee-kee-chung, Kwee Liat jadi terkejut tidak melihat bayangan adiknya. Dan tatkala melihat para chungteng telah mulai melepaskan anak panah, Yo Su Nio lalu berseru, "Lekas kabur, kemudian kita boleh kembali untuk menolong Kwee Jie-ko!"

Oleh karena keadaan yang sangat memaksa, maka apa boleh buat semua orang segera cemplak kuda masing-masing dan kabur dari desa Hee-kee-chung bagaikan burung yang terlepas dari sangkarnya, hingga dalam waktu sekejap saja mereka telah berhasil dapat meloloskan diri dari dalam desa itu. Dan setelah para pengejar mereka sudah tidak kelihatan pula batang hidungnya, barulah mereka berembuk cara bagaimana akan menolong Kwee Kin yang ada kemungkinan telah kena ditawan oleh Hee Cwan Hoa beserta anak semangnya.

Yo An Jie yang terlebih siang telah mengetahui hal ini, lalu mengusulkan supaya sekalian kawan-kawannya melakukan penyelidikan dahulu ke desa Hee-kee-chung sebelum mereka menerjang ke sana dengan secara membuta tuli. Karena di samping menolong Kwee Kin serta mencari tahu dimana ia ditahan, merekapun perlu juga mengetahui, siapakah sebenarnya Hee Cwan Hoa itu. Kawankah atau lawankah dia itu?

Petang hari itu mereka terpaksa bermalam di dalam rimba, dengan membentangkan pakaian luar di atas rumput dan mempergunakan pelana sebagai bantal. Pada keesokan harinya setelah mencari makanan di dalam desa yang terdekat dan kembali dengan diam-diam ke desa Hee-kee-chung, di tengah jalan mereka telah bersua dengan seorang tukang kayu, yang bertubuh tinggi besar.

Mula-mula Siauw Giok hendak tampil kemuka untuk coba minta keterangan tentang siapa adanya Chungcu dari Hee-kee-chung yang bernama Hee Cwan Hoa itu, tapi karena menganggap bahwa nona itu terlampau getas dan mudah naik darah, maka tidak mungkin ia dapat berurusan dengan secara taktis. Oleh sebab itu, Su Nio segera maju memberi hormat sambil pura-pura bertanya, "Kakak, aku numpang tanya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment