Halo!

Dewi Tombak - Chapter 16

Memuat...
Dewi Tombak

Chapter 16

Kami telah berniat untuk berkunjung ke desa Heekee chung, tapi karena ingin mengetahui orang macam apa yang menjadi Chungcu di situ, maka tidak salahnya jika kami mencari tahu lebih dahulu sebelum datang kesana. Tukang kayu itu tidak segera menjawab pertanyaan orang, tapi terlebih dahulu meneliti orang dari kaki hingga kepala, kemudian menoleh ke arah tiga orang yang lainnya.

Sudah itu barulah ia manggut-manggut sambil berkata, "Sekarang aku baru paham apa maksudmu. Hee Cwan Hoa itu adalah seorang kaki tangan bangsa Kim, dan ia diberi tugas yang khusus dari induk semangnya untuk menangkap para pengkhianat." "Tahukah kamu siapa yang dicap kaum pengkhianat oleh bangsa Kim?" Siauw Giok nyeletuk dengan secara tiba-tiba. "Sudah barang tentu orang-orang yang hendak menggulingkan mereka keluar dari daerah Tionggoan!" sahut tukang kayu itu.

"Lebih-lebih kita sekalian bangsa Han, yang selalu dicurigai oleh pihak kaum penjajah sebagai orang-orang berbahaya dan dapat memberontak terhadap mereka disembarang waktu!" "Ya, benarlah apa katamu!" kata Yo Su Nio. "Tapi belum tahu jika ia menangkap orang-orang yang menurut pendapatnya agak mencurigakan, kemanakah orang tawanannya itu ditahan? Apakah di desa Hee-kee-chung terdapat rumah tahanan yang khusus untuk menahan orang-orang yang dicurigai atau kawanan pemberontak terhadap bangsa Kim itu?" "Sebegitu jauh yang aku ketahui," kata tukang kayu itu pula, "Di sana hanya ada rumah tahanan sementara.

Karena begitu ada seorang atau beberapa orang yang mereka tangkap orang tawanan itu segera diangkut ke asrama tentara Kim dengan mempergunakan gerobak-gerobak orang tahanan. Pada kemarin malam di desa Hee-kee-chung telah kedatangan kawanan pengacau, tapi mereka semua telah dipukul mundur oleh Hee Cwan Hoa dan anak semangnya, sehingga mereka lari pontang-panting dan salah seorang antaranya telah kena dilukai dan dibekuk oleh para chungteng di sana, yang kini kabarnya telah dimasukkan ke gerobak orang tahanan untuk dikirim ke asrama tentara.

Maka karena mendengar pertanyaanmu tadi, di dalam hatiku segera timbul pikiran, kalau orang yang tertawan itu adalah kawanmu sendiri. Hanya belum tahu apakah dugaanku itu benar atau salah?" "Ya, benar!" Siauw Giok mendadak menjawab. Tapi kata-kata yang telah diucapkan sudah barang tentu tak dapat ditarik kembali, sehingga Su Nio jadi terkejut dan diam-diam menyesalkan sikap adik angkatnya yang begitu semberono.

Bersamaan dengan itu, tiba-tiba dari sebelah muka jalan telah terdengar suara derap kaki kuda yang agak riuh, hingga Yo Su Nio dan kawan-kawan terkejut dan segera menoleh ke arah suara tersebut. Sedang si tukang kayu yang khawatir dirinya akan terlibat kedalam peristiwa tidak enak yang tengah dialami oleh orang-orang itu, buru-buru meminta diri dan segera berlalu dengan tindakan yang agak tergesa-gesa.

Tatkala rombongan penunggang kuda itu telah tampak dari kejauhan, Yo Su Nio dan kawan-kawan segera dapat mengenali bahwa seorang pemuda yang berkuda dan berjalan paling depan dengan mencekal sebatang tombak Hongkek di tangannya, bukan lain daripada Chungcu dari Hee kee Chung yang bernama Hee Cwan Hoa itu. Maka Yo Su Nio yang kini telah tidak bersenjata pedang lagi seperti di hari kemarin, segera kaburkan kudanya ke tengah jalan untuk mencegatnya sembil melintangkan tombak Lee-hoa-chio di tangannya dan membentak, "Tahan dulu!" Hee Cwan Hoa segera menahan tali kekang kudanya sambil balas membentak, "Engkau siapa? dan apa maksudnya engkau mencegat kami?"

Seketika itu juga Su Nio melihat ada sebuah gerobak pesakitan yang ditarik oleh kuda dan mengikuti di arah belakang si orang she Hee. Maka sambil mehunjuk kepada gerobak itu ia bertanya, "Itu pesakitan yang berada di dalam gerobak, siapa namanya? Dan engkau hendak bawa kemana?" "Dia itulah kaki tangan pemberontak Jaket Merah yang hendak kuserahkan ke asrama pasukan perang kaisar!" sahut orang yang Su Nio segera ketahui, bahwa pesakitan itu tentulah bukan lain daripada Kwee Kin adanya.

Oleh karena itu, ia lalu menuding ke arah gerobak itu dan berkata dengan suara nyaring, "Aku tidak berkeberatan untuk kalian lewat di sini, asalkan orang tawanan itu engkau serahkan kepadaku!" "Oh, jadi engkau inipun komplotan berandal Jaket Merah itu juga?" kata Hee Cwan Hoa sambil tersenyum dingin. "Bagus, sekali! Jika engkau mampu mengalahkan diriku, barulah engkau boleh terima dia sebagai barang taruhan, kalau tidak, engkau boleh pergi persetan! Tengok tombakku ini!" Dengan tidak banyak bicara pula, Hee Cwan Hoa segera putar tombaknya, dengan apa ia lalu menusuk dada si nona dengan kecepatan laksana angin.

Tapi Yo Su Nio yang juga bermata sangat jeli, buru-buru mengangkat tombaknya buat menangkis, sehingga dilain saat suatu pertempuran di atas kuda dan sama-sama bersenjatakan tombak telah terjadi di tepi jalan gunung yang sunyi itu. Sedang Yo An Jie dan kawan-kawan yang merasa tak enak akan tinggal memeluk tangan saja, merekapun segera maju ke medan pertempuran untuk melawan anak semang Hee Cwan Hoa yang jumlahnya jauh lebih banyak daripada mereka.

Begitulah pertempuran yang ramai itu telah terbagi menjadi dua rombongan, yakni Yo Su Nio melawan Hee Cwan Hoa, sedang Yo An Jie bertiga merampas Kwee Kin dari dalam gerobak pesakitan dengan sekaligus melawan bertempur para penjaganya. Tapi karena rombongan Su Nio ternyata lebih unggul meski jumlah orangnya lebih sedikit, maka tidak heran jika pertempuran itu lekas berakhir.

Karena begitu Kwee Kin dapat dirampas oleh Yo An Jie dan kawan-kawan para penjaganyapun dapat dipukul mundur dan dibuat lari pontang-panting, hingga akhirnya hanya ketinggalan Hee Cwan Hoa seorang yang sudah kembang kempis karena tidak sanggup bertempur melawan Yo Su Nio. Ia sebetulnya masih juga hendak memaksakan diri untuk mempertahankan dirinya. Maka setelah tombaknya dibikin terpental dan ujung tombak Su Nio telah siap ditujukan untuk memanggang ulu hatinya, barulah terdengar she Hee berteriak "Tahan dulu!" Dan untuk mempertahankan selembar jiwanya ia mengangkat kedua tangannya.

"Aku mengakui ilmu tombakmu lebih unggul daripada diriku! Oleh karena itu aku rela menyerahkan orang tawananku kepadamu. Tapi sebelum kita saling berpisahan, aku mohon tanya she dan namamu nona?" "Aku inilah Yo Su Nio dari Ek-touw!" sahut si nona dengan singkat. Hee Cwan Hoa tampak terkejut dan segera mengulangi, "Apakah bukan Yo Su Nio yang diberi orang nama julukan Dewi Tombak?" "Jika kau sudi menyebut namaku begitu, bolehlah engkau menyebut tanpa ada orang yang berani melarang!" kata si nona sambil membalikkan kudanya dan meninggalkan Hee Cwan Hoa dan anak semangnya dalam keadaan kemekmek bagaikan orang-orang yang terkesima.

Dalam perjalanan menuju ke San-yang, Kwee Liat yang menyaksikan permainan tombak Yo Su Nio melawan Hee Cwan Hoa jadi sangat kagum memuji, bahwa kalau nanti ia berhadapan dengan Sin-chio Lie Cwan, niscaya pemuda sombong itu akan dapat dikalahkannya dengan mudah, hingga diam-diam Su Nio jadi girang juga mendengar pujian yang muluk itu. Tatkala itu karena Kwee Kin telah terluka ketika ia ditawan, maka Kwee Liat menganggap perlu untuk beristirahat beberapa hari lamanya untuk merawat luka adiknya, kemudian baru melanjutkan perjalanan mereka ke San-yang.

Oleh sebab itu, lalu dicarinya sebuah rumah penginapan di suatu tempat di luar kota, yang begitu dapat dicari, segera ia menghadap kepada pemiliknya untuk minta disediakan dua buah kamar yang sebuah dengan dua ranjang, tapi yang lainnya boleh hanya dengan sebuah saja. Tapi si pemilik kedai berikut rumah penginapan yang ingin menarik lebih banyak keuntungan lalu menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Aii, sangat menyesal tuan-tuan telah datang terlambat. Semua kamar sudah penuh, hingga kalian perlu mencari kamar di lain rumah penginapan."

"Tapi kini hari sudah malam," kata Kwee Liat, "Sedang kami di sini membawa seorang sakit. Oleh karena itu, harap supaya Tiamcu, sudi berlaku murah hati untuk menyediakan kamar bagi kami berlima." Si pemilik kedai berikut rumah penginapan itu baru saja menggelengkan kepalanya hendak menolak permintaan orang, ketika Siauw Giok yang bertabiat aseran segera menggebrak meja dengan mata mendelik dan membentak, "Tiam-cu! Apakah engkau menganggap kami tak mampu membayar sewa kamar, sehinga tanpa memeriksa pula apakah kamar yang kami minta itu masih ada atau tidak, engkau segera menolak dengan getas permintaan kami? Ini uang sewanya kami berikan dahulu kepadamu! Sisanya kurang atau lebih engkau boleh perhitungkan pula nanti! Apakah sepotong perak ini cukup untuk membayar sewa kamar dan makanan kami berlima untuk beberapa hari lamanya?"

Si pemilik kedai yang melihat Siauw Giok meletakkan sepotong perak yang agak berat dihadapannya, sudah barang tentu jadi cengar-cengir dan manggut-manggut dengan laku yang hormat sekali. Oleh karena mengingat bahwa diantara kalian ada seorang-orang yang sakit," katanya, "Maka kami rela memberikan kamar sendiri untuk tuan-tuan dan nona-nona sekalian. Hanya kamar-kamar itu terlampau sederhana, hingga tuan-tuan dan nona-nona jangan buat celaan." Kemudian ia pergi mengantarkan para tamunya itu ke kamar belakang, yang sebenarnya bukanlah kamar tidurnya sendiri, tapi bukan lain daripada kamar-kamar yang memang sengaja disediakan untuk para tamu yang berani membayar dengan sewa mahal.

Di situ Kwee Liat minta si Tiam-cu (pemilik kedai) untuk menyuruh para pelayannya pergi membawa kuda-kuda mereka ke istal untuk diberi air dan rumput, kemudian minta antarkan air hangat untuk mencuci luka Kwee Kin. Si Tiam-cu menyanggupi dan lekas-lekas menyuruh seorang pelayan untuk melayani segala keperluan kelima orang itu. Tatkala Kwee Liat menanggalkan baju luarnya dan tampak jaketnya yang berwarna merah di sebelah dalamnya, si pelayan jadi sangat terkejut dan dengan diam-diam segera meninggalkan kamar itu untuk melaporkan kepada induk semangnya, hal apa yang telah disaksikannya dengan sikapnya yang tergesa-gesa.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment