Chapter 17
Oleh karena salah seorang antaranya mengenakan jaket merah, bisik pelayan itu kepada induk semangnya, maka sudah barang tentu yang lain-lainnya pun kawan-kawannya juga. Coba mari kita perhatikan sekali lagi, kata si Tiam-cu ragu-ragu.
Begitu Tiam-cu dan si pelayan masuk ke dalam, seorang tamu yang rupanya kenal baik dengan semua pelayan di situ, lalu dengan iseng-iseng menghampiri dan bertanya, Soal apa sih yang baru saja dibicarakan oleh kawanmu itu dengan induk semangmu? Si pelayan yang kebetulan berada dekat serta mendengar juga soal apa yang dibicarakan oleh kawan dan induk semangnya tadi, dengan suara pelan lalu menjawab, Para tamu tadi ternyata bukan lain daripada orang-orang dari rombongan Hong-auw-kun! Apa betul omongan kawanmu itu? kata tamu itu ragu-ragu.
Coba saja kita lihat apa yang akan terjadi selanjutnya, kata pelayan itu yang juga belum mau percaya akan laporan kawannya tadi.
Demikianlah dari satu ke lain mulut orang berbisik-bisik tentang kedatangan rombongan orang-orang Jaket Merah itu ke rumah penginapan tersebut, sehingga berita itu sangat menarik perhatian para tamu yang justeru berkumpul di situ sambil mengobrol dan makan minum.
Sementara itu si Tiam-cu dan pelayan yang terlebih siang telah melihat jaket Kwee Liat yang buah bajunya dua baris dan digantungkan pada paku di dinding tembok, dengan lantas menerobos masuk sambil memberi hormat dan berkata, Ji-thauw-nia, maafkanlah kepadaku. Barusan aku tidak mengetahui bahwa tuan-tuan dan nona-nona sekalian adalah dari rombongan Hong-auw-kun, hingga aku minta maaf sebesar-besarnya, jika barusan aku telah berlaku kurang hormat.
Dan bersamaan dengan itu sepotong perak yang barusan aku telah terima dari nona itu, sambil menunjuk kepada Siauw Giok, Dengan ini aku kembalikan sambil menyampaikan ucapan maafku, karena semula tidak mengetahui kepada siapa aku sedang berhadapan. Si Tiam-cu mengetahui tingkat Kwee Liat sebagai Ji-thauw-nia karena syarat buah bajunya yang dua baris itu.
Orang yang tidak mengetahui, sudah barang tentu tak dapat dipersalahkan, kata Kwee Liat sambil tersenyum. Tapi perak potongan itu engkau boleh terima sebagai pengganti ongkos-ongkos dan hadiah para pelayan yang bertugas melayani kami sekalian. Si Tiam-cu manggut-manggut kemudian memerintahkan beberapa orang pelayan akan menyajikan hidangan untuk kelima orang itu bersantap.
Sudah itu ia memberitahukan kepada Kwee Liat, bahwa pada beberapa waktu itu Kok Toako Kok An Yong tidak lagi menjadi pemimpin besar di San-yang, tapi kedudukan itu kini telah diduduki oleh Sin-chio Lie Cwan yang telah mengalahkannya.
Hal mana, sudah barang tentu telah membuat si orang she Kwee jadi kemek-mek. Ia rela menyerahkan kedudukan itu pada orang lain, sebelum orang yang diundangnya menjajal dahulu sampai dimana kelihayan pemuda sombong itu? nyeletuk Thio Siauw Giok dengan perasaan tidak enak. Hm, sungguh tak berguna sekali si orang she Kok itu! Kemudian ia menoleh kepada Yo Su Nio sambil melanjutkan bicaranya, Jika demikian gelagatnya, paling benar kita batalkan saja kepergian kita ke San-yang! Aku sungguh tidak mengerti apa maksudmu, kata Yo Su Nio.
Tanpa menimbang segala kesukaran dan bahaya kita telah menerima undangan si orang she Kok! gerutu Thio Siauw Giok, Kita bertekad mengalahkan si orang she Lie untuk mempertahankan kedudukannya sebagai pemimpin besar negara, tapi tidak tahunya dia sendirilah yang begitu tak berguna, sehingga mau menyerah mentah-mentah secara pengecut! Sementara Yo Su Nio yang mendengar demikian dan menganggap bahwa omongan adik angkatnya itu benar juga, lalu dengan perasaan kurang senang bangkit dari tempat duduknya sambil berkata, Ya, benarlah apa katamu. Paling benar kita segera berkemas-kemas dan berangkat hari ini juga ke lain tempat!
Kwee Liat jadi gugup lalu dengan tersenyum coba membujuk sambil berkata, Toa-moy moy, engkau jangan menimpakan semua kesalahan itu atas diri Kok Toako. Ada kemungkinan karena keadaan yang sangat memaksa, maka ia telah menyerahkan kedudukannya kepada Lie Cwan. Oleh karena itu, aku memohon kepada Toa moy-moy, agar engkau suka bermurah hati dan jangan menunda perjalanan ini sebelum tiba ke tempat yang dituju itu. Lagi pula perjalanan ke San-yang sudah tidak berapa jauh lagi dari sini. Maka baik atau buruk, aku mohon supaya Toa-moy-moy jangan membuat aku kehilangan muka terhadap Kok Toako di sana.
Kemudian Kwee Kin yang merasa sakitnya telah menjadi kurang setelah dibalut dan dipakaikan obat luka, tiba-tiba timbul pikiran untuk memanaskan hati Yo Su Nio tatkala mendengar omongan Siauw Giok tadi, hingga dengan memaksakan diri tersenyum ia berkata, Ah, apakah barangkali Toa-moy-moy merasa gentar terhadap si orang she Lie, sehingga mengambil keputusan untuk mundur teratur secara mendadak? Jika benar demikian sudah barang tentu kitapun tak berani memaksa orang yang sudah takut untuk bertempur. Karena meski bagaimana dipaksa juga, hasilnyapun tak akan menjadi lain daripada keok juga! Tapi Siauw Giok yang mendengar kata-kata Kwee Kin yang dianggapnya agak menghina kepada kakaknya itu, karuan saja jadi mendongkol dan lalu membelalakkan matanya dan membentak, Siapa bilang kakakku takut dengan segala anak bawang seperti si Lie Cwan itu! Hmm sungguh menjemukan sekali! Engkau sendiri tidak punya kemampuan apa-apa untuk melawan bertempur musuh itu, kini sekarang hendak berbalik menghasut kakak kami. Apakah itu bukan perbuatan yang tak tahu malu!
Kwee Kin hanya mengganda tersenyum dan berlaku tenang waktu mendengar kata-kata si nona selanjutnya. Beranikah engkau bertaruh denganku, kata Siauw Giok pula, Bahwa kakakku tak mampu mengalahkan orang she Lie itu? Mengapakah tidak? sahut Kwee Kin. Kalau aku kalah bertaruh, akan kubayar taruhanku itu dengan sebuah jaket merah! Siauw Giok yang teringat bahwa jaket merah itu menjadi lambang kaum Hong-auw-kun, diam-diam menyangka bahwa Kwee Kin hendak membayar taruhannya itu dengan jaket merah miliknya sendiri, sehingga sambil menjebilkan bibirnya ia berkata, Hm siapa kesudian menerima bayaran taruhan dengan jaketmu yang bau asam! Bukan jaket yang dikenakannya sendiri, sela Kwee Liat sambil tertawa, Tapi jaket yang lainnya dan masih baru, yang dimaksudkan oleh adikku itu. Kalau begitu, baiklah, Siauw Giok menerima baik pertaruhan itu. Jika ternyata kakakku kalah dalam pertempuran dengan si Lie Cwan, akan kubayar taruhanku dengan sepasang gaetanku ini! Akur? Akur! sahut Kwee Liat dan Kwee Kin dengan suara yang hampir berbareng.
Oleh karena itu, maka batallah maksud Su Nio untuk berkemas-kemas dan sekarang berbalik menantiken saat untuk bertempur dengan Sin-chio Lie Cwan di San-yang nanti.
Sesudah dahar nasi, Yo An Jie, Kwee Liat dan Kwee Kin bercakap-cakap di dalam kamar, sedang Siauw Giok yang tidak biasa tinggal berdiam saja lalu mengajak Su Nio makan angin di luaran. Di waktu mereka berdua membeli kue kering pada seorang pedagang yang berjualan di tepi jalan, diam-diam dari kejauhan ada seorang yang mengintai kepada mereka berdua, tapi segera menyelinap begitu Su Nio menoleh ke jurusannya.
Setelah balik kembali ke dalam kamar beberapa saat lamanya, mereka mendengar suara Kwee Liat tengah menghardik seorang di luar kamar sambil berkata, He, diam kamu setan! Di sini hanya ada perempuan baik-baik, tapi bukan perempuan jahat sebagaimana katamu tadi, kau mengerti! Tatkala Yu Su Nio menjenguk keluar, di sana ia melihat seorang pelayan kecil tengah diancam hendak dipukul oleh Kwee Liat, jika dia tak mau lekas-lekas berlalu dari situ. Tapi si pelayan kecil dengan menangis tetap mengatakan, Aku tidak berdusta, barusan aku melihat Lauw Heng-siu yang bernama Su Nio masuk ke situ. Aku tidak keliru lihat!
Kurang ajar! bentak Kwee Liat pula dengan sengit. Syukur juga Yo An Jie keburu datang, kalau tidak, niscaya bocah itu sudah ditempiling oleh Kwee Liat. Ada apa ini ribut-ribut? katanya. Bocah ini sungguh kurang ajar sekali, kata Kwee Liat, Barusan ia telah mengatakan bahwa ada Lauw Heng-siu yang masuk kesini. Entahlah siapa yang dimaksudkan, atau dia telah salah mata mengenali orang. Yo An Jie yang teringat akan halnya Su Nio yang pernah mengaku she Lauw kepada Lauw Hengsiu di Pek-hoa-tien, diam-diam jadi mendongkol kepada adiknya yang pernah datang ke rumah pelacuran mucikari she Lauw di sana, tapi sudah barang tentu ia merasa tidak enak untuk membentangkan persoalannya sebenarnya di hadapan Kwee Liat, maka dengan gusar iapun lantas membentak kepada bocah itu, Engkau gila! Kami di sini adalah orang-orang she Yo, baik kaum laki-laki atau perempuan, maka dimanakah ada orang bernama keluarga Lauw itu? Ayoh, enyahlah kamu dari sini! Kalau tidak, akan kuhantam kepalamu dengan bangku ini! An Jie mengancam sambil mengangkat sebuah bangku.
Su Nio yang mendengar suara ribut-ribut yang mempunyai sangkut paut dengan dirinya sendiri, diam-diam jadi sangat menyesal dan lalu berniat akan keluar dari dalam kamarnya, tatkala An Jie yang tampak gusar berjalan masuk dan berpapasan dengan Thio Siauw Giok sambil berkata, Nah, sekarang kalian boleh saksikan, apa jadinya dengan perbuatan kalian yang telah lampau itu! Su Nio yang semula merasa bersalah, tiba-tiba jadi naik darah ketika mendengar kakaknya menyesali perbuatannya dulu. Jika engkau takut kecipratan dengan kesalahanku yang telah lampau itu, katanya sengit, Biarlah aku berangkat seorang diri saja untuk menjauhkan diri dari kamu sekalian! Tapi An Jie yang khawatir adiknya akan marah sungguhan, terpaksa tersenyum dan berkata, Apa mau dikata. Aku hanya merasa tidak enak bahwa orang lain berani menuduhmu dengan seenaknya saja! Tapi dia sekarang telah kuusir setelah makan telapak tanganku! kata Siauw Giok sambil tertawa. Siapakah gerangan bocah itu? Diam-diam Su Nio bertanya di dalam hatinya.