Halo!

Dewi Tombak - Chapter 18

Memuat...
Dewi Tombak

Chapter 18

AN JIE yang rasa dongkolnya belum reda, menoleh ke arah Siauw Giok sambil berkata, "Alih-alih membantu memberi penjelasan, kau justru sebaliknya, malah memperkeruh suasana!" "Siapa bilang aku membuat keadaan jadi semakin rusuh?" balas Nona Siauw Giok dengan membelalakkan matanya.

"Sudah, sudah! Jangan membuat keributan. Semua ini juga karena kesalahanku!" Su Nio memotong pertengkaran kedua orang itu. "Kakak tidak salah!" kata Siauw Giok.

"Kita semua adalah orang baik-baik. Oleh sebab itu, siapakah yang rela dimaki sebagai perempuan jahat? Lagipula, seandainya ada perempuan jahat bernama Su Nio, itu bukan karena dia bermarga Yo atau lainnya, melainkan siapa pun boleh menggunakan nama itu tanpa larangan!" "Apa kata Kakak Jie itu memang benar sekali," celetuk Kwee Liat.

"Sekarang kita tidak perlu bertengkar lagi. Barang siapa berani menghina Kakak Sulung dan Kakak Jie dengan kata-kata tidak pantas itu, nanti akan kubeset mulutnya hingga terbelah dua!" Hal itu membuat Su Nio yang merasa jengah sekaligus geli di dalam hatinya, akhirnya berkata, "Sudahlah, mari kita tidur siang. Besok kita perlu berangkat ke San-yang untuk menjumpai Kakak Kok dan mewakilinya bertempur melawan orang bermarga Lie itu!" Dengan demikian, pertengkaran itu pun berakhir sampai di situ.

Pada keesokan harinya, sesudah sarapan dan membayar sewa kamar serta harga makanan — yang semula ditolak oleh pemilik kedai dan rumah penginapan itu — Yo Su Nio dan keempat orang lainnya segera berniat menuju San-yang, dengan Kwee Liat kakak beradik bertindak sebagai penunjuk jalan.

Begitu Su Nio dan kawan-kawan keluar dari rumah penginapan tersebut, tiba-tiba seseorang mencekal kuat-kuat tali kekang kudanya sambil berseru, "Lauw Su Nio, sudah beberapa kali aku mencarimu, tapi baru kali ini aku dapat menjumpaimu!" Tak pelak lagi, semua orang terbengong menyaksikan sikap aneh bocah itu.

Bahkan Su Nio sendiri hatinya mencelos ketika mendengar kata-kata yang diucapkan bocah tersebut.

Yo An Jie, Thio Siauw Giok, dan Kwee Liat kakak beradik menjadi sangat gusar melihat sikap keras kepala bocah itu. Lalu mereka hendak mengusirnya, bahkan memukulnya jika ia tak mau menyingkir. Namun, Su Nio lekas menyabarkan mereka sambil menggoyang-goyangkan tangannya, "Nanti dulu! Kalian bersabarlah sementara aku menanyakan kepadanya sepatah dua kata untuk meminta keterangan serta sebab musabab ia mencariku." Oleh karena itu, Yo An Jie dan yang lainnya terpaksa menatap wajah bocah itu dengan sorot mata gusar dan bersiap memukulnya, jika ternyata ia berani mengucapkan kata-kata yang dapat memalukan Su Nio dan mereka semua. "Yo Su Nio," kata bocah itu lagi, "Engkau tentunya tak pernah lupa akan kebaikan serta kemurahan hati induk semangku, ketika engkau melayaninya minum arak di rumah pelesiran Lauw Heng-siu.

Namaku Kie Hok, dan aku tak pernah lupa kepadamu, sejak aku melihatmu di Pek-hoa Tien di rumah pelesiran Lauw Heng-siu itu. Apakah barangkali engkau sudah lupa akan semua itu?" Yo Su Nio tercengang. Dalam keadaan demikian, ia pun teringat akan Lauw Yu, karena dialah satu-satunya orang yang pernah dilayaninya minum arak, ketika Su Nio berada dalam kesulitan untuk menolong Siauw Giok yang pada waktu itu belum sembuh dari luka yang pernah dideritanya dalam pertempuran dengan anak buah Lauw Lo Houw.

Oleh karena itu, dengan perasaan jengah ia bertanya, "Siapakah induk semangmu itu?" "Dialah Lauw Yu, yang aku pastikan engkau pun tentu belum lupa," sahut Kie Hok. "Kali ini engkau harus menolongnya! Engkau harus ingat akan budi kebaikannya yang pernah dilimpahkannya kepadamu!" Mendengar kata-kata bahwa ia harus "menolongnya" itu, Su Nio terbengong sejenak karena, "Aku bukan bermarga Lauw, tetapi bermarga Yo. Coba terangkan kepadaku apa yang telah menimpa induk semangmu?" "Tempo hari ketika Su Nio tengah melayani induk semangku minum arak di Pek-hoa Tien," terang Kie Hok, "apa mau dikata, telah terjadi keributan karena kedatangan beberapa orang mabuk yang mengacau di sana, sehingga akhirnya mereka lari pontang-panting setelah dilabrak olehmu.

Namun siapa sangka, di antara mereka ada seorang berpangkat Cian-hu, Pek Tek Ceng, yang mempunyai hubungan erat dengan tentara Kim, hingga dengan mudah ia mengadukan induk semangku kepada pembesar militer di kampung halamannya, yang segera menangkap dan menahan induk semangku hingga sekarang ini. Sanak saudara dan handai taulan saya telah berusaha berdaya upaya untuk menolongnya, namun hingga kini mereka belum juga dapat menolongnya. Oleh sebab itu, induk semangku pernah mengatakan kepadaku, bahwa selain Su Nio seorang, pasti tidak akan ada orang kedua yang dapat menolongnya. Itulah sebabnya aku mencari Su Nio ke sana kemari, dan syukurlah aku masih berumur panjang dapat berjumpa denganmu di sini, jika tidak, entahlah bagaimana jadinya induk semangku itu, yang mengharapkan pertolonganmu bagaikan orang yang mengharapkan hujan di musim kemarau!" Dan tatkala Su Nio mendengar keterangan demikian, ia tak kuasa menahan air mata sambil menundukkan kepalanya seolah sedang berpikir keras.

Sementara itu, Kwee Kin yang membenci bangsa Kim dan kaki tangannya bagaikan binatang-binatang liar atau ular-ular berbisa, lantas menghunus pedangnya dan menebas batang pohon di tepi jalan sehingga putus menjadi beberapa potong. "Basmi semua bangsa Kim untuk membebaskan negeri kita dari penjajahan!" serunya. "Akur!" menyetujui yang lainnya. Sementara Su Nio sendiri lalu menebas batu dengan pedang mustikanya sehingga terbelah menjadi dua potong. "Jika aku tak dapat menolong Lauw Siangkong," katanya, "Aku bersumpah tidak akan mau menjadi manusia!" Namun setelah mengetahui bahwa Yo Su Nio pernah menjadi heng-siu, diam-diam Kwee Liat kakak beradik menjadi dingin sikapnya terhadap nona itu.

Sementara Thio Siauw Giok yang semula hanya berdiam diri, tiba-tiba tak kuasa menahan diri untuk bertanya kepada Yo Su Nio, "Tempo hari ketika kita masih berada di Pek-hoa Tien, pada waktu petang kami mendengar orang menyebutmu heng-siu. Apa maksud kata-kata itu? Dan siapakah orang yang kau sebut Lauw Siangkong itu?" Wajah Su Nio memerah karena jengah, kemudian ia menghela napas dan menjawab, "Aku akan menjawab pertanyaanmu secara singkat, bahwa kita berdua telah menerima budi Lauw Siangkong yang tidak kecil. Oleh karena itu, kita harus menolongnya dengan segala cara yang dapat kita lakukan!" Siauw Giok yang mudah tersinggung segera menjawab, "Jika ia adalah tuan penolong kita, sudah barang tentu kita harus menolongnya. Ayo, mari kita pergi menolongnya seketika itu juga!" Kwee Liat yang melihat sikap spontan kedua kakak beradik itu, sontak menjadi amat gugup dan lalu mencekal tangan Su Nio seraya berkata, "Nanti dulu! Pegunungan yang kita tuju sudah berada di depan mata, tapi mengapa serta-merta kau lantas mau menjauhkannya untuk menolong orang di tempat lain yang letaknya tidak dekat itu?" Oleh karena permintaan Kwee Liat yang begitu mendesak, Su Nio terpaksa menunda permintaan Kie Hok untuk menolong induk semangnya. Namun, ia memberi jaminan kepada bujang kecil itu, bahwa lambat atau cepat ia akan melaksanakan pertolongan itu juga, walaupun dirinya bisa binasa karena melaksanakan tugas suci itu.

Dengan demikian, Kie Hok pun baru merasa puas dan tidak kecewa mencari Su Nio sekian lamanya untuk menyampaikan permintaan tolong induk semangnya, yang memang pernah memberikan budi baik kepada Su Nio dan adik angkatnya Siauw Giok.

Begitulah pada waktu Kwee Liat kakak beradik melaporkan tentang kedatangan Yo Su Nio, An Jie, serta adiknya kepada Kok An Yong di benteng gunung dalam wilayah San-yang, pemimpin pemberontak itu lalu mengajak Sin-Chio Lie Cwan dan anak buahnya untuk menyambut serta mempersilakan mereka semua naik ke gunung.

Ternyata nama Yo An Jie sebagai seorang pembuat pelana telah cukup terkenal di mana-mana, terlebih lagi adiknya, Yo Su Nio, yang selain memang sudah terkenal di kalangan Kang-ouw sebagai Dewi Tombak, ditambah lagi ia kerap digembar-gemborkan namanya oleh Liok Kong, yang menjadi gurunya, hingga tidak heran jika banyak orang merasa gentar sebelum bertemu muka dan menyaksikan sendiri ilmu kepandaian main tombak nona itu.

Begitulah setelah kedua pihak saling bertemu dan memberi hormat sebagaimana layaknya tuan rumah dan tamunya. Kok An Yong dan kawan-kawan segera mengajak Yo Su Nio bertiga bersaudara naik ke gunung, di mana dengan cermat ia memperhatikan usia dan perawakan tuan rumah dan anak buahnya. Untuk mempersingkat cerita, di sini kita hanya perlu memperkenalkan dua orang penting yang merupakan peran utama dalam cerita kita ini. Yang pertama adalah Kok An Yong, seorang laki-laki berusia paruh baya, berwajah persegi, beralis tebal, dengan mata besar. Ia bertubuh agak jangkung dan mengenakan pakaian berlengan lebar, sehingga ia tampak lebih mirip seorang pelajar daripada seorang ahli silat. Sementara Sin-Chio Lie Cwan yang usianya masih muda belia, rambut di ubun-ubunnya disanggul siput dengan memakai paku konde emas. Ia berpakaian biru muda, bertubuh kekar, dan berwajah tampan. Sikapnya lebih mirip seorang pemuda keturunan bangsawan daripada seorang pendekar muda yang hidup di kalangan Rimba Hijau. Oleh karena itu, Su Nio tampak agak memandang rendah kepada pemuda itu.

Selain kedua orang tersebut, semua orang yang berkumpul di situ mengenakan jaket merah yang bentuknya mirip dengan yang dikenakan oleh Kwee Liat kakak beradik.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment