Halo!

Dewi Tombak - Chapter 19

Memuat...
Dewi Tombak

Chapter 19

Siauw Giok melihat hal itu, lalu mengerling ke arah Kwee Kin sambil bertanya dengan suara perlahan, "Bilakah engkau akan memberikan jaket merah itu kepadaku?"

"Jika ukuran tubuhmu sudah diketahui," kata Kwee Kin, "Besok juga jaket merah untukmu itu akan selesai digunting dan dijahit."

"Jangan sampai engkau lupa," sahut nona itu lagi. "Sebab kakakku juga akan pergi dari sini besok."

Kwee Liat yang mendengar percakapan itu tersenyum dan berkata, "Dengan susah payah kami mengundang kalian datang ke sini. Setelah kalian berada di sini, bagaimana mungkin kalian bisa pergi begitu saja?"

Dalam jamuan yang diadakan oleh Kok An Yong sebagai penghormatan atas kedatangan Yo Su Nio dan saudara-saudaranya, Lie Cwan bertindak sebagai tuan rumah. Hal itu membuat Kwee Kin mendongkol dan mengomel dalam hati atas kesombongan pemuda bermarga Lie tersebut. Sementara itu, Siauw Giok yang seolah-olah dapat menebak isi hati Kwee Kin berkata sambil tersenyum pelan, "Ini semua adalah kesalahan Kakak Kok sendiri. Dia memiliki begitu banyak anak buah yang setia, tetapi mengapa tidak segera mengusir pemuda marga Lie yang sendirian itu?"

Kwee Kin semakin jengkel mendengar perkataan Siauw Giok yang dianggapnya mencemooh dirinya. Namun, karena merasa tidak sanggup melawan Lie Cwan, timbullah pikiran dalam hatinya untuk memanas-manasi sang nona dengan berbisik, "Adik, mengapa engkau tidak menyarankan kakakmu untuk turun tangan menghajar Lie Cwan? Aku percaya, dengan kemahiran ilmu tombak kakakmu, Lie Cwan pasti dapat dikalahkan dengan mudah. Jika dia kalah, kedudukan pemimpin dapat dikembalikan kepada Kakak Kok, sedangkan kedudukan wakil pemimpin dapat diserahkan kepada kalian."

Siauw Giok tampak gembira mendengar penjelasan Kwee Kin. Namun, karena Su Nio tampak tenang dan tidak mudah diadu domba, ia harus berpikir masak-masak agar siasatnya tidak gagal. Ia terdiam sejenak mencari akal untuk memancing kemarahan kakaknya.

Setelah itu, barulah ia berkata, "Aku punya akal yang sangat baik. Mula-mula aku akan mencari alasan untuk bertanding dengan Lie Cwan, kemudian berpura-pura kalah dan mengajukan kakakmu sebagai lawannya. Dengan begitu, kakakmu pasti akan tampil ke depan untuk mempertahankan nama baikku, sekaligus memenuhi undangan Kakak Kok untuk melawan pemuda marga Lie yang sombong itu!"

"Aiii, siasatmu sungguh bagus sekali!" kata Kwee Kin dengan hati riang.

Begitulah, saat perjamuan masih berlangsung, tiba-tiba Siauw Giok mencabut sepasang gancunya dari punggung. Sambil memegang senjatanya, ia memberi hormat kepada para hadirin dan berkata, "Untuk menambah kegembiraan dalam perjamuan para pendekar ini, izinkanlah aku mempertunjukkan permainan gancuku yang buruk ini."

Usai berkata demikian, ia segera memutar sepasang gancunya bagaikan sepasang naga yang bermain di antara gelombang laut, diiringi suara angin yang menderu dahsyat. Lie Cwan dan para pendekar yang berkumpul di sana segera bersorak-sorai karena kagum. Sementara itu, Kok An Yong menoleh kepada Yo Su Nio sambil mengangkat tangan memberi hormat dan berkata, "Jika ilmu silat sang adik sehebat itu, pastilah berkat didikanmu juga."

Namun, Su Nio menjawab bahwa semua itu karena keuletan Siauw Giok yang giat berlatih, bukan karena jasanya. Padahal, ia sendiri tidak mengetahui bahwa ilmu permainan gancu Siauw Giok diperoleh dari ajaran seorang biarawati luar biasa di luar Tembok Besar, daerah Tiongkok Utara.

Saat bersilat hingga sampai di depan meja Lie Cwan, tiba-tiba Siauw Giok mengarahkan salah satu gancunya ke arah cangkir arak pemuda bermarga Lie tersebut. Ia bermaksud mencari alasan untuk menantang bertempur sesuai rencana yang disusun bersama Kwee Kin. Namun, Lie Cwan yang bermata jeli melihat gelagat buruk itu. Begitu gancu sang nona melayang ke arah cangkirnya, ia bergegas mengangkat cangkir tersebut dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya bergerak menjepit ujung gancu dengan dua jari. Sambil tertawa ia berkata, "Haha, ternyata permainan gancumu sungguh lihai sekali!"

Bersamaan dengan itu, ia mempererat jepitan jarinya sehingga Siauw Giok tidak mampu menggerakkan gancunya yang hendak disabetkan ke arah cangkir. Siauw Giok terkejut dan merasa menyesal dalam hati. "Lepaskan!" katanya sambil mencoba menarik gancu yang dijepit oleh Lie Cwan.

Namun, meski telah mengerahkan seluruh tenaga, ia tetap tidak sanggup melepaskan senjatanya. Ia pun berpura-pura tersenyum dan berkata, "Jika Kakak Lie sudi, marilah kita mencoba bermain beberapa jurus!"

"Kita semua adalah kawan," jawab Lie Cwan sambil tersenyum. "Rasanya tidak perlu lagi kita adu kekuatan di antara sesama teman."

"Jadi," Siauw Giok memotong pembicaraan, "Engkau menganggap kami bukan tandinganmu?"

"Bukan begitu," kata Lie Cwan. "Apa untungnya kita bertarung? Mungkin baik jika kita saling menjajaki kemampuan, tetapi untuk apa kita meributkan persoalan remeh?"

Siauw Giok yang bertabiat keras tiba-tiba membelalakkan matanya dan membentak, "Siapa bilang aku suka mengalah kepadamu? Tidak! Aku tidak mau menerima usulmu itu!"

Lie Cwan yang akhirnya merasa jengkel melihat sikap nona itu berkata dengan senyum getir, "Begini saja, aku mengalah kepadamu. Sebagai tanda kekalahanku, aku akan memberimu hadiah sebuah jaket merah."

"Bagaimana mungkin aku menerima tawaranmu," sela Siauw Giok, "Sedangkan aku sendiri belum mengetahui seberapa hebat ilmu tombakmu hingga engkau dijuluki si Tombak Sakti?"

"Itu semua hanya gelar kosong belaka!" kata Lie Cwan sambil tersenyum getir.

Sementara itu, Yo An Jie yang khawatir Siauw Giok akan menimbulkan keributan segera menengahi, "Mengapa sesama kita harus saling menguji kepandaian?"

"Jika tidak diuji," kata Siauw Giok lagi, "Bagaimana orang bisa mengetahui tenaga dan kepandaian masing-masing? Ayo, siapkan tombakmu!" Ia menoleh ke arah Lie Cwan. "Jika engkau tidak berani melawanku, aku akan mengundang kakakku, Yo Su Nio si Dewi Tombak. Engkau pasti tidak akan sanggup meladeninya. Karena itu, lebih baik bertempur denganku saja!"

Lie Cwan yang tidak rela dipandang rendah tentu saja merasa dongkol. Ia bangkit dari tempat duduknya dengan wajah kemerahan. "Jika engkau begitu mendesak," katanya, "Aku bersedia meladanimu atau siapa pun yang ingin beradu ilmu denganku!"

Mendengar kata-kata itu, semua mata, terutama Kok An Yong dan Kwee bersaudara, menoleh ke arah Yo Su Nio yang tampak tersinggung mendengar ucapan terakhir Lie Cwan. Sebelum Su Nio sempat bicara, Siauw Giok menoleh kepada kakaknya dan berkata, "Kakak, aku menantikan perintahmu! Apakah engkau yang akan maju melawan Kakak Lie, atau aku yang maju sebagai wakilmu?"

Su Nio berpikir sejenak. Jika ia menyuruh Siauw Giok melawan Lie Cwan, ia akan dicela dalam dua hal. Pertama, ia bisa dianggap takut melawan Lie Cwan sehingga menggunakan siasat melelahkan lawan melalui Siauw Giok. Padahal sudah jelas Siauw Giok bukan tandingan Lie Cwan. Kedua, ia akan dianggap pengecut oleh Kok An Yong dan Kwee bersaudara karena tidak berani menghadapi pemuda marga Lie itu sendiri.

Oleh karena itu, dengan perasaan ragu, ia memanggil Siauw Giok dan memberi isyarat, "Mundurlah dan ambilkan tombakku di sana!"

Jelaslah sudah bahwa Su Nio akan melawan sendiri Lie Cwan. Tanpa menunda lagi, Siauw Giok segera mengambil tombak Bunga Persik milik kakaknya yang terselip di pelana kuda. Dengan gembira ia menyerahkan senjata itu sambil berbisik, "Hantamlah pemuda sombong itu untuk mempertahankan nama baik kita!"

Su Nio hanya mengangguk tanda setuju. Karena pertandingan ini seolah-olah sudah diatur sejak awal, tidak ada seorang pun yang mencoba mencegahnya. Bahkan Kok An Yong, yang masih diakui sebagai pemimpin, memberi selamat kepada Lie Cwan dan Yo Su Nio dengan meminum secangkir arak. Setelah itu, mereka berdua dipersilakan berdiri di halaman luas agar dapat bertanding dengan leluasa, disaksikan oleh seluruh hadirin.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment