Halo!

Dewi Tombak - Chapter 20

Memuat...
Dewi Tombak

Chapter 20

Setelah kedua pihak saling memberi hormat dan memilih tempat, Lie Cwan yang menjadi tuan rumah mempersilakan Su Nio membuka serangan terlebih dahulu. Su Nio tidak menolak lalu menggerakkan tombak Lee-hoa chio di tangannya sambil berkata, "Tengok tombakku!" Sin-chio Lie Cwan yang menyaksikan serangan si nona tidak dapat menganggapnya main-main. Ia segera mengangkat tombaknya sendiri untuk menangkis dengan gerakan secepat kilat. Dalam sekejap, ia yang semula diserang berbalik menjadi pihak yang menyerang.

Meskipun Su Nio menghujani serangan-serangan berbahaya, ia tetap berhasil mengelakkannya dengan sigap. Bagaikan baling-baling yang ditiup angin topan, pemuda bermarga Lie itu mencoba membalas mendesak lawannya. Syukurlah, Su Nio tidak mudah gugup. Saat melihat Lie Cwan balas menyerang, ia segera mengubah siasat perlawanannya dengan mempergunakan ilmu tombak Lie Kong yang terdiri dari tiga belas jurus. Jurus-jurus itu ternyata dapat berubah-ubah sedemikian rupa sehingga mampu meladeni pertempuran selama ratusan jurus tanpa henti.

Dalam pertempuran babak pertama hingga ketiga, Lie Cwan masih berhasil mempertahankan dirinya. Namun, begitu pertempuran menjelang babak keempat, tiba-tiba pandangan Lie Cwan menjadi kabur. Selain harus menghindarkan diri dari serangan-serangan Yo Su Nio yang seakan-akan berubah menjadi beberapa orang, ia juga mendapat firasat akan mendapat malu besar karena dikalahkan oleh si nona. Tanpa menunda lagi, ia segera melompat keluar dari arena pertempuran, tidak peduli jika dengan cara itu ia dianggap kalah. Baginya, keluar dari medan pertempuran sebagai orang yang hanya separuh kalah lebih baik daripada benar-benar roboh karena dikalahkan secara total oleh lawannya.

Celaka, ketika baru saja ia hendak mengubah siasat perlawanannya, tiba-tiba Su Nio meluncurkan tusukan kilat ke arah uluhatinya. Lie Cwan terkesiap dan lekas-lekas mencoba menghindarkan diri dari tusukan tersebut. Syukurlah ia cukup gesit. Bajunya hanya tersangkut sedikit dan robek di bagian dada karena ujung tombak si nona, tetapi dirinya sendiri selamat dan tidak kurang suatu apa pun. Diiringi sorak-sorai yang riuh, Lie Cwan mengangkat tangan memberi hormat kepada Yo Su Nio sambil memuji keahlian permainan tombak si nona itu. Su Nio yang menyaksikan Lie Cwan berlaku sportif dan mengaku kalah tanpa menunjukkan rasa gusar atau dendam dalam hati merasa sangat gembira. Ia menyambut pemberian hormat pemuda itu dengan paras muka berseri-seri.

"Semuanya ini adalah Lie Toako yang berlaku mengalah kepadaku," katanya, "Tetapi bukanlah karena engkau sesungguhnya kalah bertempur denganku." Setelah itu, Kok An Yong segera menggenggam tangan mereka berdua dan mengajak mereka kembali ke meja perjamuan. Sementara itu, Kwee Liat dan Kwee Kin, yang ternyata juga hadir, adalah orang-orang gagah yang sportif. Mereka segera melupakan segala ganjalan hati terhadap Sin-chio Lie Cwan yang kini telah dikalahkan oleh Yo Su Nio. Selain girang karena Lie Cwan telah mengakui kekalahannya, mereka pun tidak merasa kecewa telah bersusah payah mengundang Yo Su Nio serta kakak dan adiknya datang ke markas besar kaum Jaket Merah di pegunungan San-yang.

Setelah perjamuan ditutup, Lie Cwan kembali ke kamarnya dengan hati bimbang. Sejak bertemu Yo Su Nio, hatinya terpesona oleh kecantikan nona yang kini menjadi pemenangnya, bukan hanya dalam permainan tombak, tetapi juga dalam perang asmara yang diam-diam terjadi di dalam hatinya. Oleh karena itu, pada petang hari itu ia tidak dapat tidur nyenyak. Duduk salah, bangun pun sama saja. Bayangan si nona yang bertubuh langsing dan bergerak lincah seolah sukar dihapus dari ingatannya.

Saat ia duduk melamun sendirian, tiba-tiba ia melihat di luar jendela, sesosok bayangan manusia berkelebat dan bergerak lincah bagaikan burung kepinis. Hal itu tentu saja membuatnya terkejut. Ia lekas bangkit dari kursinya sambil membentak, "Siapa?" Namun, orang itu tidak menyahut. Ia lekas menghampiri jendela, di mana tampak seorang wanita bertubuh kecil molek berdiri tegak sambil menopang pinggang dan menyampirkan sepasang gaun di bahunya. Lie Cwan segera mengenali bahwa nona itu tidak lain adalah Thio Siauw Giok.

Sebelum ia membuka mulut untuk menanyakan maksud kedatangannya, Nona Siauw Giok berkata dengan suara yang menandakan ketidakpuasan, "Setelah engkau dikalahkan oleh kakakku, sekarang rupanya engkau hendak menipuku!" Lie Cwan, yang tidak mengerti maksud kata-kata si nona, tersenyum dan berkata, "Oh, tidak tahunya adik Siauw Giok yang datang berkunjung kemari. Marilah masuk dan duduk-duduk di sini."

"Aku hanya datang untuk menagih janji," katanya singkat, namun terdengar merdu di telinga pemuda itu. "Engkau telah kalah bertaruh denganku, apakah engkau sekarang hendak mengingkari janjimu itu?" Lie Cwan terdiam sejenak, namun kemudian ia tersenyum dan menjawab, "Cobalah engkau katakan."

Siauw Giok mendengus dari lubang hidungnya. "Hm!" katanya, "Mana jaket merah yang menjadi pembayaran taruhanmu?" Mau tidak mau Lie Cwan tertawa terbahak-bahak. "Jaket merah itu ada di sini," katanya sambil membuka peti pakaiannya dan mengeluarkan dua helai jaket merah yang lalu diserahkannya kepada si nona sambil berkata, "Inilah pembayaran taruhanku. Harap adik sudi terima dan jangan menjadi gusar atas kelalaianku!"

Ketika dicoba diukur, ternyata jaket itu pas sekali dengan ukuran tubuhnya. Dengan gembira Siauw Giok hendak membawanya pergi, tetapi Lie Cwan memanggilnya kembali dan bertanya, "Adik Siauw Giok, aku ada sepatah dua kata yang hendak ditanyakan kepadamu."

"Baiklah," kata si nona. "Engkau mau menanyakan apa? Cepat katakan, karena aku tidak punya waktu untuk berbincang-bincang, terutama pada waktu malam buta begini."

"Apakah kakakmu itu sudah mempunyai suami?" tanya pemuda bermarga Lie itu dengan suara perlahan.

"Kakakku adalah seorang yang masih suci," sahut Thio Siauw Giok dengan ketus, "Apa maksudmu berani mengucapkan kata-kata demikian?" Lie Cwan menjadi merah wajahnya karena jengah. Nona Thio segera berlalu tanpa banyak bicara pula.

Pemuda itu berdiri di luar kamarnya. Tidak lama kemudian tampak Kwee Liat yang sedang berpatroli berjalan. Ia bertanya, "Siapa?" ketika melihat ada bayangan manusia yang berdiri di luar kamar Lie Cwan.

"Kwee Thauw-nia," panggil pemuda itu, "Marilah dahulu dan duduk-duduk di dalam kamarku."

Begitu Kwee Liat menghampiri dan segera mengambil tempat duduk, Lie Cwan bertanya dengan sikap malu-malu, "Ilmu tombak nona bermarga Yo itu sungguh lihai sekali. Aku ada suatu urusan dan hendak meminta bantuanmu."

Kwee Liat menatap Lie Cwan sambil berkata, "Lie Toako ada urusan apa sehingga memerlukan bantuanku?"

Paras Lie Cwan tiba-tiba menjadi merah, tetapi ia lantas menyahut, "Kwee Thauw-nia, apakah kau ketahui bahwa nona bermarga Yo itu belum bersuami?"

Kwee Liat ragu-ragu mendengar pertanyaan itu dan berdiam sejenak. Ia tidak berkeberatan menjadi perantara dalam soal pernikahan, tetapi setelah mendengar kabar bahwa Su Nio pernah datang ke rumah pelacuran, hatinya menjadi gamang dan tidak tahu apa yang harus diperbuat selanjutnya. Ketika Lie Cwan mendesaknya meminta keterangan tentang diri Yo Su Nio, Kwee Liat terpaksa mengulangi apa yang pernah didengarnya dari Kie Hok saat masih berdiam di rumah penginapan di Soan-hoa-tien. Akibatnya, Lie Cwan merasa kecewa dan mengakhiri pembicaraannya sampai di situ saja. Kwee Liat pun segera meminta diri untuk melepaskan diri dari tanggung jawab selanjutnya.

Sementara itu, Yo Su Nio justru sedang menanyakan perihal Lauw Yu kepada Kie Hok. Sejak pertemuan pertama hingga perpisahan mereka, semuanya telah dituturkan dengan selengkap-lengkapnya oleh bujang itu sambil tak henti-hentinya mengucurkan air mata. Sedang Yo An Jie yang merasa kesal duduk menganggur di dalam rumah, lalu keluar berjalan-jalan seorang diri. Sambil memandangi rembulan yang menyinari bumi dari udara yang cerah, ia berpikir di mana ia dapat menumpang dengan aman.

Ketika baru saja ia berada di luar, tiba-tiba ia mendengar suara Kok An Yong mencaci maki seorang liauwlo sambil memukulinya dengan sengit. Kok An Yong berkata, "Jika omongan itu sampai keluar, akibatnya pasti akan memalukan sekali! Maka kalau aku tidak memberi hukuman seperti ini, pasti liauwlo yang lainnya akan ikut-ikutan menyiarkan kabar buruk itu dengan seenaknya saja." Kata-kata itu terdengar dibarengi suara sabetan cambuk yang bertubi-tubi, hingga liauwlo itu meratap-ratap dan berkata terputus-putus, "Ampun, Cee cu-ya, lain kali aku pasti tidak berani bicara sembarangan lagi!"

Oleh karena itu, An Jie lekas-lekas menerobos masuk dan menolong liauwlo yang dihukum tersebut oleh Kok An Yong sambil menanyakan sebab musababnya. Namun, karena jawaban Kok An Yong agak samar dan sukar dimengerti, ia sebagai tamu tidak dapat memaksakan diri meminta keterangan lebih jauh. Seketika itu juga ia meninggalkan Kok An Yong di asramanya. Diam-diam An Jie mengikuti liauwlo yang telah dihukum itu untuk menanyakan mengapa ia mengalami hukuman tersebut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment