Chapter 21
Si Liauwlo berbisik kepada Yo An Jie bahwa ia mendengar Kwee Liat memberitahukan kepada Lie Cwan bahwa nona Su Nio pernah menjadi pelacur. Berita itu disampaikan kepada rekannya, Khouw Lo-sin, yang kemudian diketahui oleh Kok Toako. Kok Toako menjatuhkan hukuman rangket dan mengancam hukuman lebih berat jika kabar itu disiarkan lagi.
Yo An Jie terkejut dan berpikir bahwa persoalan adiknya yang tersiar akan mencoreng nama Su Nio seumur hidupnya dan ia sebagai kakaknya akan terseret. Untuk menghindari kabar buruk itu, ia memutuskan segera meninggalkan benteng gunung.
Saat memberitahukan hal ini kepada Su Nio dan Siauw Giok yang sedang mendengarkan Kie Hok bercerita tentang nasib induk semang mereka, mereka berdua juga terkejut dan bersiap pergi diam-diam. Keempatnya kemudian menunggang kuda dan meninggalkan markas besar kaum Jaket Merah, setelah Siauw Giok meninggalkan dua jaket dari Lie Cwan.
"Koko dan Kie Hok boleh berjalan lebih dulu," kata Yo Su Nic, "Sedang aku dan adik Siauw Giok akan mengikuti belakangan." An Jie setuju dan mengajak bujang Lauw Yu berangkat. Tak lama, mereka terpisah jauh dari kedua gadis itu.
Tiga jam setelah An Jie dan Kie Hok pergi, Su Nio dan Siauw Giok turun gunung. Di tengah jalan, mereka dihadang serombongan orang berkuda. "Apakah orang yang mendatangi itu bukan Kok Toako?" tanya Yo Su Nio.
Salah seorang dari rombongan itu menjawab ketus, "Siapa itu Kok Toako atau Kok Siauw-ko? Kami tidak kenal. Kami hanya tahu bahwa di sinilah sarangnya para bajingan pemberontak itu!"
Su Nio terkejut dan menahan kekangnya, bertanya, "Engkau siapa?" Tanpa banyak bicara, enam atau tujuh pria berkuda berbadan besar mengepung Su Nio dan kawan-kawan. Wan Gan Cek maju, menuding Su Nio dengan cambuknya, dan membentak, "Kali ini akan kulihat cara bagaimana kalian akan meloloskan diri dari dalam tanganku!"
Seorang pemuda bangsa Kim yang tampan dan kekar maju, membentak, "Hap Nouw Siu Bun ada di sini!"
Siauw Giok yang berdarah panas menghunus sepasang gaetannya dan berseru, "Engkau tak usah banyak bacot, Akulah akan menjadi lawanmu!"
Hap Nouw Siu Bun segera menghunus pedangnya dan menerjang maju. Keduanya bertempur dengan gagah berani, membuat semua orang kagum. Setelah beberapa jurus, Hap Nouw Siu Bun menebas pedangnya ke arah Thio Siauw Giok. Siauw Giok tidak berhasil menahan bacokan itu, gaetannya terpental dan jatuh ke tanah.
"Ha, ha, ha!" ejek pahlawan bangsa Kim itu. "Tidak tahunya hanya sebegitu saja kekuatanmu!"
Namun, Siauw Giok dengan lincah melompat turun dari kudanya, memungut gaetannya. Dengan kecepatan angin, ia kembali ke atas kuda dan membentak, "Tak usah engkau mencemoohkan orang! Ini gaetanku yang lainnya akan segera mendobrak uluhatimu!" Dengan cepat, Siauw Giok menggerakkan gaetannya ke arah dada Hap Nouw Siu Bun menggunakan ilmu Huw-hun-kauw. Pahlawan bangsa Kim itu terkesiap dan bertanya, "Nona ini orang pandai dari golongan mana?"
Siauw Giok tertawa mengejek dan menjawab, "Tak usah engkau banyak tanya menanya, karena aku lebih memerlukan kepalamu daripada segala pembicaraan yang tak ada manfaatnya!"
Melihat sikap ketus Siauw Giok, Hap Nouw Siu Bun segera menindas gaetan Siauw Giok. Siauw Giok menjerit dan berusaha mempertahankan gaetannya. Dengan cepat, ia mengayunkan gaetan di tangan kanannya, menusuk dada lawannya sekuat tenaga.
"Waspadalah dengan serangan gelap dari pihak musuh!" Wan Gan Cek memperingatkan kawannya. Namun, Hap Nouw Siu Bun tidak menghiraukan. Ia membiarkan gaetan Siauw Giok meluncur, lalu dengan gerakan cepat mengibaskan gaetan Siauw Giok yang sebelah kiri. Gaetan yang hendak mendobrak dadanya dikebut oleh pedangnya, membuat Siauw Giok terdorong mundur dan hampir jatuh dari kudanya.
Hap Nouw Siu Bun tertawa terbahak-bahak, "Ternyata kepandaianmu itu masih belum cukup untuk bertempur denganku!" ejeknya.
Su Nio mendongkol dan maju, memutar tombaknya. "Siauw Giok, lekas mundur!" katanya. Siauw Giok menurut, memundurkan kudanya sambil menuding Hap Nouw Siu Bun, "Sekarang engkau boleh jaga baik-baik kepalamu dalam pertempuran dengan kakakku!"
Su Nio menepuk punggung kudanya yang melompat maju secepat anak panah. Tak lama, keduanya bertempur. Hap Nouw Siu Bun terkejut mendapat lawan tangguh, karena Su Nio tidak mundur sedikit pun. Rasa putus asa mulai timbul, namun ia tidak menunjukkannya.
Su Nio tidak memberi kesempatan, ia maju mendesak dan menghujani tusukan bertubi-tubi ke arah Hap Nouw Siu Bun. Wan Gan Cek menjadi cemas, lalu menyerukan anak buahnya bahwa siapa pun yang dapat menangkap hidup nona mempesona itu akan diberi hadiah besar dan naik pangkat. Para pengawal bangsa Kim itu semakin giat mengepung, sehingga Su Nio tidak berdaya meloloskan diri sendirian.
Saat Su Nio menerjang ke kiri kanan, tiba-tiba ia terjerat tambang-tambang yang dilontarkan serentak oleh pengawal Wan Gan Cek. Begitu jatuh dari kudanya, ia mendengar Wan Gan Cek berseru, "Lekas tangkap dan ringkus dirinya!"
Tanpa diperintah dua kali, Hap Nouw Siu Bun menubruk dan menangkap nona Su Nio. Tapi Siauw Giok tidak mau membiarkan kakaknya ditawan, ia menerjang Hap Nouw Siu Bun dengan gaetan Houw-kauw-kauw, membentak, "Jangan raba tubuh kakakku! Ni, kau boleh rasakan gaetanku!"
Hap Nouw Siu Bun hampir terluka jika para pengawal Wan Gan Cek tidak mengerubuti Siauw Giok. Siauw Giok terpaksa melawan mereka dengan amarah berkobar.
Syukurlah, saat keselamatan mereka tergantung di ujung rambut, dua orang berkuda datang bagaikan terbang. Mereka berseru, "Awas tombak!"
Siauw Giok segera mengenali Kok An Yong dan Lie Cwan. Ia tidak perlu lagi melawan Hap Nouw Siu Bun dan anak buah Wan Gan Cek, melainkan segera mengangkat Su Nio dan mengambil tombaknya yang jatuh.
Karena musuh berjumlah lebih banyak, Su Nio dan Siauw Giok tidak membiarkan Kok An Yong dan Lie Cwan dikeroyok. Dengan memegang senjata dan menunggang kuda, kedua dara pendekar itu membantu kawan-kawan mereka melabrak musuh.
Wan Gan Cek, khawatir terjebak kaum Hong-auw-kun, akhirnya terpaksa kabur diikuti Hap Nouw Siu Bun dan kawan-kawannya. Yo Su Nio melihat Cian-hu bangsa Kim dan anak buahnya melarikan diri, lalu memberi hormat kepada Kok An Yong dan Lie Cwan, menyampaikan terima kasih atas pertolongan mereka.