Chapter 22
Ketika kedua pemimpin itu mengundang kedua dara itu kembali ke atas gunung, Yo Sun Nio lalu menampik dengan manis, hingga Lie Cwan tampak murung dan bertanya, apa sebabnya mereka menampik undangan itu.
"Apakah karena pelayanan kami kurang memuaskan?" Demikian akhirnya ia mengakhiri pertanyaannya.
Tapi Su Nio hanya mengembang senyum dengan wajah yang memerah karena jengah, tapi tidak menjawab sepatah kata pun.
"Kami telah menerima undangan Kok Toako untuk melawanmu," sela Thio Siauw Giok sambil menoleh kepada Lie Cwan.
"Maka setelah kamu berdua saling maaf-memaafkan serta suka bekerja sama, apa faedahnya kita berlama-lama di atas gunung?" Kata-kata itu telah membuat Kok dan Lie menjadi bungkam, hingga Su Nio terpaksa mengomeli adiknya, "Engkau jangan bicara seenaknya saja!" "Apa yang dikatakan adik Siauw Giok itu," kata Kok An Yong sambil tertawa getir, "Memang bukan dusta."
"Maka kalau Su Nio tidak dapat memaafkan itu, kami pun tidak punya muka untuk menahanmu sekalian." Sesudah berkata demikian, lalu ditanggalkannya gelang emas di tangannya serta dilemparkan kepada Yo Su Nio sambil berkata, "Barang ini dapat engkau gunakan untuk segala keperluan selama perjalananmu." Tapi dengan tersenyum dingin Yo Su Nio segera melemparkannya kembali ke dalam telapak tangan Kok An Yong sambil berkata, "Aku tidak berani menerima pemberian orang lain, harap Kok Toako suka memaafkan penolakanku ini. Atas budi kebaikanmu ini, aku mengucapkan banyak terima kasih." Oleh karena itu An Yong pun terpaksa menerima gelang emasnya itu!
Setelah kedua pihak saling memberi hormat dan berpamitan, Su Nio menepuk punggung kudanya.
Setelah beberapa saat kemudian mereka mendengar ada orang yang memanggil-manggil.
Dan ketika mereka menoleh ke belakang, ternyata Lie Cwan tengah mendatangi sambil melambai-lambaikan tangannya.
Yo Su Nio segera menahan tali kekang kudanya dan bertanya, apa maksud Lie Cwan menyusul mereka berdua?
Mula-mula si pemuda hendak mengatakan sesuatu kepada nona Su Nio, ketika menoleh dan menatap wajah Siauw Giok, ia segera mengurungkan niatnya untuk berbicara.
"Jika ada sesuatu yang terkandung di dalam hatimu," kata si nona yang nakal itu, "Bolehlah engkau segera katakan tanpa malu-malu lagi, meskipun sekarang aku berada di sini. Karena bagaimanapun engkau menyampaikan sesuatu kepadanya tanpa sepengetahuanku, akhirnya Ciecie akan menyampaikan itu juga kepadaku!"
Lie Cwan tinggal diam terus, walaupun tangannya merogoh ke dalam sakunya serta mengeluarkan sebuah mainan yang dibuat daripada batu kumala hijau dalam bentuk seekor naga yang membelit seekor burung dewata, yang lalu dipersembahkannya kepada nona Su Nio sambil berkata, "Mainan ini adalah barang pusaka dari nenek moyangku, yang kini aku serahkan kepadamu sebagai suatu peringatan dari perasaan kagum atas keberanian dan kepandaian ilmu silatmu yang begitu lihai." Tapi ketika Su Nio menanyakan mengapa ia rela mempersembahkan barang pusakanya itu kepadanya, Lie Cwan tidak menjawab sepatah kata pun.
Lalu ia membalikkan kudanya dan memacu kudanya kembali ke atas gunung.
Sementara Siauw Giok yang merasa tertarik oleh mainan naga-nagaan membelit burung dewata itu, ia lantas tertawa dan berkata, "Aih, mainan ini sungguh indah sekali! Jika engkau tidak menyukainya, berikan saja itu kepadaku!"
Oleh karena nona Su Nio tidak menjawab pertanyaannya, maka Siauw Giok pun lalu mengambil mainan tersebut, yang lalu digantungkan di dadanya sendiri.
Setelah itu, mereka lalu menyusul Yo An Jie yang ditemani oleh Kie Hok menuju ke kota Ceng-hian-tien, tempat Lauw Yu yang berumah tangga di situ tengah menderita kecelakaan karena difitnah.
Soalnya, menurut keterangan Kie Hok, Cian-hu dari kota tersebut yang bernama Pek Tek Ceng telah bersekongkol dengan bangsa Kim untuk memeras harta Lauw Yu sebesar lebih dari 100 ribu tail perak.
Oleh karena Lauw Yu telah melakukan perlawanan dan tidak mau begitu saja diperlakukan semena-mena, maka akhirnya ia dikeroyok, ditangkap, disiksa, dan dijebloskan ke dalam penjara dengan tuduhan bersekutu dengan kaum pemberontak yang dikatakan hendak mengusir serta membasmi seluruh bangsa Kim yang datang mengacau ke Tanah Tionghoa.
Itulah sebabnya mengapa Kie Hok begitu bingung dan tergesa-gesa meminta pertolongan Yo Su Nio, yang semula disangkanya bermarga Lauw, berhubung ketika pertama kali menjumpainya di rumah pelacuran Lauw Heng-siu, nona itu pernah mengaku bermarga Lauw di hadapan Lauw Yu. Maka setelah duduk persoalan diketahui sejelas-jelasnya, tanpa menunda lagi ia mengajak Yo Su Nio dan kedua saudaranya untuk datang ke kota Ceng-hiang-tien. Di tempat itu mereka justru menyaksikan istri Lauw Yu tengah diseret oleh serombongan serdadu Kim yang garang dan hendak membawanya pergi dari situ secara paksa.
Tapi karena nyonya itu ternyata melakukan perlawanan dan memaki-maki membabi buta, maka para serdadu itu pun menjadi sangat gusar dan menyeret nyonya itu dengan cara yang lebih keras dan tidak mengenal perikemanusiaan.
Ia bergegas menghampiri serta menyela sambil membentak, "Apa yang telah kalian lakukan terhadap perempuan yang lemah? Rasakan tinjuku!"
Sambil berkata demikian, si nona yang garang itu mengayunkan tinjunya ke arah muka salah seorang serdadu Kim yang mencekal Nyonya Lauw, sehingga si serdadu menjerit keras dan jatuh tersungkur seketika itu.
Kemudian ia menggerakkan kaki dan tangannya untuk menghajar para serdadu itu, tanpa memedulikan bahaya apa yang akan menimpa dirinya selanjutnya.
Sementara Kie Hok yang tidak pandai menunggang kuda dan tidak berani memacu kuda tunggangannya secepatnya, sudah tentu saja baru tiba di situ ketika pertempuran antara si nona dan para serdadu Kim itu telah terjadi.
Maka begitu menyaksikan Nona Siauw Giok tengah melabrak musuh, ia berseru dengan hati berdebar-debar, "Nona, mereka itu adalah induk semangku, harap Nona segera menolongnya!"
Nona Siauw Giok yang mendengar keterangan demikian, tanpa menunda lagi segera melabrak mereka dengan sehebat-hebatnya, sehingga tujuh atau delapan orang musuh telah dibuat mencium tanah; hidung mereka berdarah atau beberapa buah gigi mereka memberi selamat tinggal kepada gusi masing-masing.
Salah seorang di antara para serdadu itu adalah seorang Han, hingga si nona dengan perasaan gemas segera mencekal leher bajunya sambil dihujani pukulan dan makian, "Pengkhianat! Jika bangsa Kim menista dan berlaku kejam terhadap seorang Han, itu kuanggap bukan soal yang aneh, berhubung mereka adalah berlainan suku. Tapi, seorang Han yang membantu bangsa lain untuk menindas serta mempersulit sesama bangsanya sendiri, itulah merupakan suatu perbuatan yang sangat rendah dan tidak dapat diampuni lagi! Nah, ini kau rasakan tinju dan telapak tanganku!"
Begitulah, bersamaan dengan berakhirnya kata-kata itu, Siauw Giok segera memukul batok kepala serdadu Han kaki tangan bangsa Kim itu sehingga jatuh tersungkur di tanah dengan otak remuk dan menghembuskan napasnya yang terakhir seketika itu.
Kemudian ia melabrak yang lain sehingga mereka menderita luka-luka dan lari pontang-panting bagaikan sekawanan lebah yang sarangnya tiba-tiba dibakar. Yo Su Nio dan Yo An Jie yang melihat Siauw Giok telah menerbitkan keonaran besar, tentu saja sangat terkejut dan segera mengajak Lauw Toa-nio menyingkir ke lain tempat.
Tapi karena mengingat bahwa suaminya masih berada dalam tahanan dan mungkin juga akan disiksa lebih hebat karena perbuatan Nona Siauw Giok yang dianggapnya terlampau ceroboh itu, mula-mula ia hendak menolak ajakan Nona Su Nio itu. Tapi setelah si nona berjanji akan menolong Lauw Yu yang pernah menjadi penolongnya dengan segala cara yang bisa dilakukannya, maka Lauw Toa-nio barulah mau menurut dan lalu dinaikkan ke atas kuda nona itu, yang telah melindunginya dengan tombak Li-hoa-chio di tangannya.
"Barang siapa yang berani mencelakai dirimu," si nona berkata dengan suara mantap, "Maka akulah yang akan menjadi lawannya. Akan kupertaruhkan nyawaku jika keadaan meminta!"
Tidak lama kemudian dari kejauhan tampak debu yang bergulung-gulung naik ke udara, suatu tanda bahwa di muka perjalanan mereka ada sepasukan serdadu yang sedang mendekat.
Hanya tidak diketahui apakah mereka khusus dikirim oleh pemerintah untuk menangkap mereka, atau kejadian itu hanya merupakan suatu kebetulan saja. Hingga Kie Hok yang lebih dahulu dapat menyaksikan gelagat yang tidak baik itu, dengan wajah pucat ia lantas berkata, "Celaka! Di muka perjalanan kita ada sepasukan serdadu Kim sedang mendekat!"
Semua orang menjadi sangat terkejut, tapi Lauw Toa-nio yang sudah lebih dulu mengetahui pasukan siapa itu yang sedang mendekati mereka segera berkata dengan nada gembira, "Mereka bukan serdadu Kim, tapi sepupuku beserta anak buahnya, karena bendera yang dipakai adalah bendera hitam. Aku kenali dia karena ciri benderanya itu."
Sepupu Lauw Toa-nio yang bernama Ngo Sian Tie itu, ternyata semula membuka perusahaan angkutan atau pio-hang, tapi karena kemudian ia telah mengalami bentrokan dengan kaum berpangkat, maka akhirnya ia terpaksa kabur untuk menyelamatkan diri dengan menjadi berandal dan bersembunyi di daerah pegunungan yang jarang dikunjungi orang.
Kali ini ia telah mengajak anak buahnya turun gunung untuk menolong keluarga Lauw yang kabarnya telah difitnah oleh Cian-hu di kota Ceng-hian-tien.
Tapi tidak disangka ia telah datang pada waktu yang tepat sekali, sehingga ia dapat menolong Lauw Toa-nio dari kejaran musuh.
Maka dengan menangis sedih Lauw Toa-nio telah menuturkan kepada Ngo Sian Tie, kecelakaan apa yang telah terjadi dalam rumah tangganya.