Halo!

Dewi Tombak - Chapter 25

Memuat...
Dewi Tombak

Chapter 25

Ong Thian Sim, yang saat itu bertugas melindungi gurunya, mendengar suara yang mencurigakan. Tatkala ia berlari masuk, ia melihat kakak misan Cu Thian In yang bernama Yo Kim Ko telah menyelinap ke belakang rumah.

Oleh karena Souw Thian Lun merasa kurang senang karena Cu Thian In kerap bertemu dengan Yo Kim Ko, diduga orang bermarga Yo tersebut menaruh dendam kepada gurunya dan diam-diam melakukan pembunuhan. Demikianlah persangkaan Ong Thian Sim.

Sementara itu, Cu Thian In yang khawatir kakak misannya takkan mampu menghadapi pertarungan melawan saudara seperguruannya, segera menyusul dari belakang dengan perasaan cemas. Namun, di tengah jalan ia melihat seseorang yang berpakaian mirip dengan Yo Kim Ko jatuh pingsan di atas salju. Tanpa membuang waktu, Thian In segera membopongnya untuk dibawa menyingkir ke tempat lain yang lebih aman.

Begitulah, selagi kedua orang saudara seperguruan itu tengah bertempur, Ciu Tek Seng yang tidak mengetahui duduk persoalan sebenarnya lalu berseru, "Hai, kalian anggap kapan aku bertemu dengan gurumu?" Kedua orang yang sedang bertarung itu tentu saja terkejut saat mendengar kata-kata orang bermarga Ciu tersebut.

Tatkala mengenali bahwa orang itu bukan Yo Kim Ko, Thian In bertanya, "Engkau siapa?" Ciu Tek Seng yang melihat mereka berdua masih dalam keadaan gusar berpikir lebih baik jika ia bersikap taktis. Sebab, jika ia sampai keliru memberi keterangan sedikit saja, bahaya akan segera menimpanya saat itu juga.

Syukurlah ia lantas teringat akan gurunya, Ceng Hie Siangjin, yang berada di Pegunungan Thay-heng-san. Ia percaya bahwa setiap orang yang berdiam di daerah pegunungan itu pasti mengenal baik nama biarawan yang sudah tidak asing tersebut. Oleh karena itu, Tek Seng lekas menjawab, "Kini aku sedang menuju ke Puncak Eng-hoat-hong untuk berobat kepada guruku di sana."

"Apakah engkau mencari Ceng Hie Siangjin?" Cu Thian In segera bertanya. Ciu Tek Seng, yang melihat nona itu tidak bermaksud jahat, lantas mengangguk sebagai jawaban. Kemudian, ia menanyakan nama kedua orang saudara seperguruan itu.

Cu Thian In yang mengetahui bahwa Ceng Hie Siangjin mempunyai hubungan yang sangat baik dengan gurunya tentu saja tidak berani mempersulit Ciu Tek Seng. Namun, bersamaan dengan itu, ia tampak gugup dan seolah bertanya kepada diri sendiri, "Jika demikian halnya, ke manakah perginya kakak misanku itu?"

Sementara itu, Ong Thian Sim menoleh kepada Ciu Tek Seng sambil berkata, "Aku memberikan kelonggaran kepadamu!" Kemudian, ia meninggalkan mereka berdua dengan langkah tergesa-gesa. Cu Thian In yang mengetahui bahwa saudara seperguruannya hendak mengejar kakak misannya, segera mengikuti dari belakang tanpa menghiraukan Ciu Tek Seng yang terbaring di tanah bagaikan orang lumpuh yang tak berdaya.

Hal tersebut tentu saja membuat Tek Seng ketakutan akan mati kedinginan, lalu ia meratap, "Nona Cu, jika engkau berniat menolong orang, berikanlah pertolongan sepenuhnya. Jika engkau sudi membawaku sampai ke tempat kediaman guruku, niscaya kebaikan hatimu takkan kulupakan seumur hidup."

Thian In yang saat itu berniat menolong kakak misannya sebenarnya hendak meninggalkan Tek Seng tanpa banyak bicara. Namun, setelah berpikir bahwa Ceng Hie Siangjin mungkin akan menganggapnya keterlaluan jika tidak menolong muridnya yang sedang menderita sakit, terpaksa ia membopong orang bermarga Ciu itu untuk dibawa ke tempat kediaman Ceng Hie Siangjin.

Di tengah jalan, Thian In menuturkan kesulitannya kepada Ciu Tek Seng. Ia meminta agar sesampainya mereka di tempat kediaman sang guru nanti, Tek Seng sudi memberitahukan masalahnya kepada Ceng Hie Siangjin sehingga paderi itu dapat mendamaikan persoalan rumit yang dihadapi Thian In.

Namun, Tek Seng merasa ragu bahwa gurunya akan mau mengobati luka bekas sambitan Tok-bwee-kwie Yo Su Nio karena ia telah melanggar pesan orang tua itu. Ia segera berubah pikiran dan berkata, "Nona Cu, sudah sekian lama aku tidak kembali ke atas gunung sehingga aku tidak tahu apakah guruku ada di sana atau tidak. Agar engkau tidak membuang tenaga sia-sia, tolong bawa aku ke rumah yang terletak di arah kiri itu saja. Di sana aku bisa bertanya terlebih dahulu kepada paman seperguruanku."

Thian In yang berhati jujur mengabulkan permintaan itu dan mengantarkannya ke tempat kediaman Siu Leng Siangjin. Kemudian, dengan tergesa-gesa ia pamit dan berlalu tanpa menoleh lagi.

Siu Leng Siangjin yang melihat keadaan Ciu Tek Seng yang begitu menyedihkan merasa heran dan menanyakan penyebabnya. Sambil menangis sedih, Tek Seng menerangkan maksud kedatangannya. Tanpa banyak bicara, biarawan itu segera menanggalkan ikat pinggang kain yang dikenakannya. Tek Seng meratap, "Paman, ampunilah aku!" Namun, Siu Leng Siangjin tidak menghiraukannya.

Ia menyeret Tek Seng ke bawah sebuah pohon, lalu menggantungnya hidup-hidup menggunakan seutas tambang yang kuat dan panjang. Setelah itu, ia memukulinya dengan cambuk bambu. Tek Seng menjerit tiada henti hingga suaranya serak. Dengan nekat ia berkata, "Paman, jika engkau hendak membunuhku, segeralah bunuh aku sekarang! Tapi janganlah menyiksaku seperti ini!" Namun, Siu Leng Siangjin tetap tidak menghiraukan dan terus memukulinya sekuat tenaga.

Pukulan itu kian lama kian keras hingga dari mulut Tek Seng keluar cairan terus-menerus, dan akhirnya ia tak sadarkan diri. Setelah itu, barulah biarawan tua itu menurunkan Ciu Tek Seng dan membaringkannya di bawah kaki tembok. Ia memasukkan sebutir pil secara paksa ke dalam mulut Ciu Tek Seng.

Beberapa saat kemudian, Tek Seng siuman. Ia merasakan luka bekas senjata rahasia Su Nio yang beracun tidak lagi terasa sakit, meskipun sekujur badannya terasa sangat letih. Barulah ia menyadari bahwa paman seperguruannya telah membebaskannya dari pengaruh racun Tok-bwee-kwie Yo Su Nio yang sangat berbahaya itu.

Dengan memaksakan diri untuk bangun, Tek Seng mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas pertolongan sang paman. Namun, Siu Leng Siangjin segera mencegahnya dan berkata, "Jangan bergerak! Tariklah napas dalam-dalam untuk memusnahkan sisa racun yang masih bekerja di dalam tubuhmu!" Oleh karena itu, Tek Seng membatalkan niatnya untuk bangun dan hanya menganggukkan kepala sebagai tanda terima kasih.

Tatkala Siu Leng Siangjin menanyakan penyebab ia terkena racun, Ciu Tek Seng menceritakan segala peristiwa yang dialaminya tanpa ada yang ditutup-tutupi. Siu Leng Siangjin menghela napas dan berkata, "Gurumu sangat marah karena engkau kabur dengan melarikan bubuk obat beracun miliknya yang bernama Tua-hun-san. Syukurlah engkau dibawa orang ke tempat kediamanku ini. Jika tidak, entah bahaya apa yang akan menimpamu."

Tek Seng kembali berterima kasih serta memohon agar sang paman sudi melindunginya. "Engkau tentunya heran melihat sikapku tadi," kata biarawan tua itu sambil tertawa. "Hal itu terpaksa dilakukan karena aku tidak punya obat lain yang cukup mujarab untuk mengeluarkan racun dari tubuhmu. Setelah racun itu keluar, aku memberimu pil bernama Ciang-pian pi-seat kie-tok-wan agar engkau terhindar sepenuhnya dari racun senjata rahasia itu dalam waktu tiga hari. Jika engkau tidak datang menemuiku, niscaya nyawamu sudah menghadap Raja Neraka saat ini!"

Tek Seng lagi-lagi mengucapkan terima kasih. Setelah itu, ia tidur selama dua hari dua malam dan bangun dalam keadaan sehat walafiat. Selanjutnya, karena Ciu Tek Seng telah mengenal baik sifat pamannya, diam-diam ia menghasut Siu Leng Siangjin agar mau mengikutinya turun gunung untuk membantu Pek Tek Ceng. Ia menjanjikan bahwa sang paman akan mendapatkan pangkat besar jika menuruti petunjuknya.

Siu Leng Siangjin, yang memang sudah lama merasa tidak puas dengan sikap kakak seperguruannya, Ceng Hie Siangjin—yang jujur, patriotik, serta tidak mau tunduk kepada penjajah asing yang zalim—akhirnya berjanji kepada Ciu Tek Seng untuk meninggalkan Gunung Thay-heng-san secara diam-diam.

Sebagaimana perkataan Ciu Tek Seng, Pek Tek Ceng merasa sangat gembira. Ia segera memberikan pangkat Hok-kok Siangjin atau Biarawan Pelindung Negara kepada Siu Leng Siangjin ketika Ciu Tek Seng kembali dari Gunung Thay-heng-san dan membawanya menghadap. Hal ini tidak hanya membuat sang komandan semakin percaya diri menghadapi Yo An Jie dan kawan-kawannya, tetapi ia juga merasa kedudukannya semakin kuat dengan kedatangan Siu Leng Siangjin yang kini mengabdi kepadanya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment