Halo!

Dewi Tombak - Chapter 26

Memuat...
Dewi Tombak

Chapter 26

Setelah beristirahat beberapa hari lamanya, Cian-hu yang selalu merasa tidak aman sebelum Yo An Jie dan kawan-kawannya dapat dibasmi, pada suatu hari mengusulkan agar Ciu Tek Seng dan Siu Leng Siangjin segera bersiap-siap untuk menyerbu sarang Ngo Sian Tie. Sarang itu kini menjadi pusat gerakan Yo An Jie dan kawan-kawannya untuk mengacau, membuat ia dan para pembesar lainnya tidak tenang makan atau tidur.

"Jika perbuatan mereka tidak segera ditindas," kata Cian-hu yang sengaja hendak memanaskan hati Ciu Tek Seng dan susioknya itu, "Niscaya kedudukan kita di sini bukan saja akan menjadi lemah, melainkan kepercayaan rakyat atas diri kita pun akan berkurang."

"Terlebih lagi jika kita mengingat bahwa kita di sini disebut sebagai salah satu kewedanaan yang penting, tetapi toh tak mampu menjaga tata tertib serta kesejahteraan sebagaimana layaknya. Tidakkah kita di sini akan menjadi bahan tertawaan kewedanaan-kewedanaan lain yang kecil dan tergolong dalam wilayah ini?" Ciu Tek Seng yang mendengar perkataan induk semangnya, diam-diam harus mengakui kebenarannya.

Untuk menunjukkan bahwa dia pun bukan seorang yang lemah, dia lantas mengepalkan tinjunya yang segera dipukulkan ke atas meja di hadapannya. Meja yang terbuat dari kayu cendana itu pun akhirnya bolong karena tak tahan menerima pukulan itu, sementara dari mulut orang bermarga Ciu itu terdengar geraman nyaring yang menandakan ketidakmauan untuk mengalah, "Hm!" "Cian-hu Tayjin, janganlah Tuan hamba mengucapkan kata-kata yang dapat melemahkan pihak sendiri, tetapi justru membuat pihak musuh jadi semakin kolokan dan meremehkan pihak kita."

"Aku Ciu Tek Seng, jika tak sanggup membasmi kawanan berandal bermarga Yo kakak beradik berikut anak semangnya sekali, aku bersumpah takkan menjadi manusia!"

"Cobalah Cian-hu Tayjin pikirkan," ia melanjutkan, "Apakah batok kepala mereka semua lebih keras daripada kayu cendana ini?" "Aku pun percaya bahwa kepala mereka tidak sekeras itu," kata Pek Tek Ceng sambil tertawa.

"Tetapi apakah artinya kekerasan tinjumu itu jika engkau tidak mempergunakannya untuk melabrak mereka?"

"Buktinya, hingga kini mereka semua masih bisa leluasa mengganggu daerah kita, tanpa ada seorang pun yang berani menghalanginya!" Ciu Tek Seng yang mendengar perkataan induk semangnya, wajahnya memerah karena sangat dongkol, lalu ia berkata, "Cian-hu Tayjin, dengan seizinmu, besok juga akan kuajak susiokku untuk bersama-sama menggempur sarang berandal itu hingga rata dengan tanah!" "Nah, itulah baru tindakan seorang hohan, seorang gagah berani di zaman ini!" kata Pek Tek Ceng sambil mengacungkan kedua ibu jarinya.

Dengan demikian, dada Ciu Tek Seng seakan-akan membusung karena bangga dengan pujian yang muluk itu.

"Tayjin boleh saksikan, cara bagaimana akan kami ringkus semua kaum pemberontak itu sehingga tiada seorang pun yang akan dapat lolos!" katanya, disusul gelak tawanya yang terbahak-bahak.

"Untuk kehormatan Siangjin dan engkau berdua," kata Cian-hu itu, "Petang hari ini akan kuadakan perjamuan sederhana sebagai tanda selamat atas kemenangan perang yang akan datang!" Hal ini telah membuat Siu Leng Siangjin sangat girang dan merasa tidak kecewa telah mengikuti Ciu Tek Seng turun gunung untuk membantu Pek Tek Ceng yang memangku jabatan Cian-hu dari bangsa Kim yang menjajah tanah Tionggoan pada masa itu.

Oleh karena hari telah menjelang senja, rombongan Yo An Jie dan Ngo Sian Tie menginap di sebuah rumah penginapan untuk beristirahat. Dua atau tiga orang anak buah sengaja ditinggalkan di belakang untuk menyambut Nona Su Nio dan Siauw Giok, sehingga mereka tidak mengalami kesulitan untuk menyusul rombongan besar yang telah berangkat terlebih dahulu.

Tetapi siapa sangka, selagi mereka berunding untuk membalas dendam terhadap Cian-hu dari Cenghiang-tien dan memusnahkan kota kecil itu dengan cara melakukan pembakaran secara besar-besaran, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara derap kaki kuda yang datang dari kejauhan, bagaikan air bah yang hendak mendobrak tanggul.

Su Nio dan kawan-kawan yang segera mengetahui bahwa itu tidak lain adalah pasukan bangsa Kim yang dipimpin oleh Hap Nouw Siu Bun, dengan serentak bersiap-siap dan melompat ke atas kuda masing-masing dengan senjata terhunus dan siap digunakan untuk melawan musuh.

"Rupanya musuh telah mengetahui bahwa kita berada di sini!" kata Yo An Jie. "Oleh sebab itu, sebaiknya kita mendahului menyerang mereka, sebelum mereka melancarkan pengepungan yang teratur!" Tatkala ia mencoba mengintai keluar dari celah-celah jendela, benar saja di sana-sini tampak banyak serdadu berkerumun di sekitar rumah penginapan itu. Oleh karena itu, mereka pasti sulit lolos jika tidak mencoba meloloskan diri dari kepungan itu dengan sekuat tenaga.

"Kita bisa menyerang keluar secara berpencar," usul Yo An Jie. "Kemudian kita berkumpul di jalan gunung yang sunyi." Semua orang sepakat dengan usul itu.

"Sekarang engkau bisa menyerang terlebih dahulu," kata Yo Su Nio. "Aku dan Siauw Giok akan mengikuti belakangan." "Mari kita menyerang dengan serentak!" kata Yo An Jie pula sambil menepuk punggung kudanya.

Begitulah, dengan mempergunakan siasat menyerang serentak dan berpencar menjadi beberapa rombongan, Yo An Jie, Ngo Sian Tie, dan yang lainnya segera keluar menyerang dengan nekat. Sementara itu, Su Nio dan Siauw Giok yang menyerang dari samping kiri, tiba-tiba dihadang oleh seorang pahlawan bangsa Kim yang bersenjatakan pedang panjang. Ia membentak, "Jangan lari! Hap Nouw Siu Bun menantikan kalian di sini!"

Su Nio yang telah mengetahui betapa lihainya ilmu pedang pahlawan bangsa Kim itu, cepat-cepat menyuruh Siauw Giok mundur. Sementara itu, ia sendiri sambil memutarkan tombaknya, segera maju meladeninya bertempur.

"Lagi-lagi kita saling bertemu!" kata Hap Nouw Siu Bun sambil tertawa. Tetapi tanpa banyak bicara lagi, Su Nio lalu menyerang musuhnya, menjadikan dagu orang itu bulan-bulanan ujung tombaknya yang runcing.

Hap Nouw Siu Bun yang bermata cukup jeli, segera mengelakkan tubuhnya sambil mencoba menangkis ujung tombak Nona itu. Akibatnya, Su Nio terpaksa menarik tali kekang kudanya dengan sebelah tangannya, sehingga binatang itu mundur dengan cepat untuk mengelakkan tebasan musuhnya.

Dalam pada itu, Siauw Giok yang menyerang bagaikan seekor harimau betina haus darah, dalam sekejap saja telah membuat beberapa serdadu Hap Nouw Siu Bun terpelanting, terluka, atau terpaksa lari pontang-panting karena tidak sanggup melawan Nona itu yang bersenjatakan sepasang gaetan Houw-thauw-kauw.

Kemudian ia memajukan kudanya untuk membantu Su Nio mengepung pahlawan bangsa Kim itu. Tetapi Su Nio yang tidak bernafsu untuk bertempur lebih lama lagi, cepat-cepat memberi isyarat kepada adik angkatnya untuk mundur sambil berkata, "Ayo, mari kita mundur saja!" Sesudah berkata demikian, Nona itu segera memutar tombaknya sambil membalikkan kudanya dan kabur, diikuti oleh Siauw Giok dan dikejar oleh Hap Nouw Siu Bun yang lalu membentak, "Jangan harap kalian dapat meloloskan diri dari tanganku!"

Tetapi sebelum kata-kata terakhir terucapkan dari mulut pahlawan bangsa Kim itu, tiba-tiba tiga buah benda berkilauan menyambar ke arahnya, bagaikan tiga buah bintang sapu yang sedang berkejar-kejaran.

"Aiii," pahlawan itu terdengar berseru kaget. Cepat-cepat ia memutar pedangnya bagaikan baling-baling yang berputar cepat, dengan tujuan melindungi dirinya dari sambitan Tok-bweekwie yang dilakukan oleh Nona Su Nio. Dua dari tiga senjata rahasia itu berhasil ditangkis sehingga terpental jauh sekali.

Tetapi yang satu lagi menancap tepat pada kembang goyang yang tersemat di atas topinya. Hal ini membuatnya berseru, "Sungguh berbahaya sekali!" Kemudian ia terpaksa mundur karena khawatir masuk ke dalam perangkap musuh.

Dengan didobraknya kepungan Hap Nouw Siu Bun dan anak buahnya, Yo An Jie dan kawan-kawannya pun berhasil melarikan diri dengan hanya menderita kerugian ringan.

Pada hari berikutnya, selagi Ngo Sian Tie berunding dengan Yo An Jie dan kedua saudaranya, tiba-tiba seorang pembawa berita datang melaporkan ke atas gunung bahwa dari kejauhan tampak sepasukan serdadu bangsa Kim sedang datang.

"Celaka!" kata Yo An Jie. "Jika mereka telah mengetahui tempat persembunyian kita, sudah pasti mereka selanjutnya akan mengirim pasukan perang yang berjumlah sangat banyak, dan kita takkan sanggup lagi melawan dengan mengandalkan tenaga kawan-kawan yang jumlahnya tidak seberapa ini."

"Tetapi dalam keadaan terdesak seperti ini," kata Thio Siauw Giok yang selalu bersikap tabah. "Hanya ada satu jalan untuk meladeni mereka, yaitu melawan dan bertempur! Mari, kalian boleh saksikan bagaimana aku akan menghantam mereka semua!" Sambil berkata demikian, ia lantas bangkit hendak mengambil kuda dan gaetannya.

Tetapi Su Nio cepat mencegahnya sambil berkata, "Tunggu dulu! Engkau tidak boleh sembarangan bergerak sebelum mengetahui kekuatan pihak musuh!"

"Cici, jangan khawatir!" kata Siauw Giok dengan tidak sabar. "Gaetanku ini akan meladeni dan mengetahui sampai sejauh mana kekuatan pihak musuh itu!" Kemudian ia melompat ke atas kudanya yang segera dilarikan menuruni gunung dengan diiringi oleh beberapa puluh anak buah terpilih.

Di sana, sambil mengamati dari kejauhan, Nona itu menyaksikan ada dua orang yang datang memimpin sepasukan serdadu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment