Chapter 27
Namun, yang membuatnya heran adalah salah seorang dari kedua pemimpin itu berkepala gundul, seolah-olah ia seorang *hweeshio*. Siauw Giok tertegun sejenak dan bertanya-tanya dalam hati, siapakah gerangan orang itu? Jika benar ia seorang *hweeshio*, dari manakah asal-usulnya hingga ia mau berkomplot dengan kaum penjajah asing?
Belum sempat ia menemukan jawaban atas pertanyaannya, tiba-tiba ia mengenali pemimpin yang satunya lagi. Ia pernah bertempur melawan orang itu saat menyerbu gedung Cian-hu di Ceng-hiang-tien untuk membunuh pejabat lalim tersebut.
"Ah! Dia! Ternyata si bangsat yang hina dina itu!" kata si nona dengan perasaan gemas.
Sementara itu, orang yang juga mengenali sang nona tersenyum lalu melambai-lambaikan tangannya sambil berkata, "Ai, tidak kusangka kita bisa berjumpa lagi di sini?"
Siapakah gerangan kedua orang itu? Mereka tidak lain adalah Ciu Tek Seng dan Siu Leng Siangjin yang hendak menumpas kawanan berandal Ngo Sian Tie dan anak buahnya di pegunungan tersebut. Thio Siauw Giok, yang pantang mundur meski menghadapi musuh mana pun, dengan gagah menahan tali kekang kudanya sambil menggenggam sepasang kait *Houw-thauw-kauw* di tangannya.
"Kami datang membawa kabar baik untuk kalian semua," kata Ciu Tek Seng sambil menyeringai bagaikan kera yang keliru mencium terasi.
"Kabar baik?" Siauw Giok mengulanginya. "Coba katakan!"
"Soalnya adalah kalian harus takluk dahulu kepada kami," sahut orang bermarga Ciu itu. "Barulah akan kuberitahukan kabar baik apa yang tengah menunggu kalian semua!"
"Sialan kau!" omel si nona. "Tanyakan saja pada kaitku ini, apakah ia mau takluk atau tidak!"
Sambil berkata demikian, Siauw Giok segera memacu kudanya yang lantas melompat maju. Sepasang kait di tangannya dimainkan sambil ia tersenyum dingin dan berkata, "Ah, ternyata mereka tidak mau menyerah begitu saja! Silakan maju untuk menjemput kematian!"
Ciu Tek Seng, yang sudah menduga bahwa nona cerdik ini tidak akan mudah ditaklukkan, segera mengacungkan cambuk *Sampian* di tangannya dengan sikap menggertak dan berseru, "Sekarang jangan salahkan aku jika kabar baik itu tiba-tiba berubah menjadi kabar buruk!"
"Baik atau buruk," sahut si nona, "kaitku inilah yang akan memberikan jawabannya!"
Ia memacu kudanya dan menerjang Ciu Tek Seng, yang segera menangkis serangan Siauw Giok dengan cambuk berbuku tiga itu. Maka, mulailah pertempuran dahsyat antara keduanya.
Sementara itu, Siu Leng Siangjin yang merasa enggan membantu keponakan muridnya, terpaksa menonton dari pinggir sambil memperhatikan permainan kait sang nona yang sangat lincah. Ia merasa permainan itu tidak boleh dipandang remeh, sehingga ia berulang kali memperingatkan Tek Seng agar lebih berhati-hati dalam perlawanannya.
Hal itu tentu saja membuat Siauw Giok sangat jengkel. Ia pun mendamprat biarawan tua itu, "Hai, kepala gundul! Tidak perlu kau terus-menerus memberi petunjuk kepada kawanmu ini! Jika kau tidak tahan hanya menonton, mengapa tidak maju saja ke sini untuk membantunya?"
Siu Leng Siangjin tersenyum dan menjawab, "Kau ini hanya seekor tikus kecil di mataku, kau mengerti? Jadi, apa susahnya menaklukkanmu dalam waktu singkat?"
"Jika benar demikian, mengapa kau tidak segera menaklukkanku agar kawanmu ini tidak perlu bersusah payah melawanku?" ejek Siauw Giok sambil mengibaskan cambuk *Sampian* yang disabetkan Tek Seng ke arahnya.
Namun, begitu ia menggerakkan kait satunya untuk menusuk perut lawan, tiba-tiba dari sisi kiri pertempuran berkelebat sesosok bayangan yang maju menerjang sambil membentak, "Minggir!"
Orang itu adalah Siu Leng Siangjin. Siauw Giok tidak tampak gentar, ia justru tersenyum dingin dan berkata, "Nah, begitulah seharusnya jika kau memang ingin campur tangan! Aku bersedia melayanimu hingga ratusan jurus sampai kau letih dan mampus sendiri!"
Setelah berkata demikian, Siauw Giok segera meninggalkan Ciu Tek Seng untuk menerjang sang biarawan tanpa banyak bicara lagi. Siu Leng Siangjin segera menangkis sabetan nona itu dengan tongkatnya.
"Dasar tikus hutan!" bentak *hweeshio* tua itu. "Segala gerak-gerikmu tidak pernah dipertimbangkan dengan matang! Aku bukanlah tandingan yang setimpal untukmu, kau mengerti?"
Sambil berkata demikian, Siu Leng Siangjin memukul kait Siauw Giok hingga gadis itu merasakan telapak tangannya linu karena tidak sanggup menahan tenaga pukulan sang biarawan. Untuk sesaat, Siauw Giok tidak mampu melanjutkan perlawanannya. Beruntung tangan kirinya masih bertenaga penuh, sehingga ia memaksakan diri mengait ujung tongkat Siu Leng Siangjin sekuat tenaga.
Sang biarawan, yang hendak menjajal kekuatan tenaga si nona, sengaja tidak menarik tongkatnya, melainkan membiarkan genggamannya dikait oleh Thio Siauw Giok. Begitu tongkatnya terkait, tiba-tiba Siu Leng Siangjin menariknya kembali dengan sentakan kuat, membuat Siauw Giok terpelanting dari atas kuda dan jatuh ke tanah bagaikan buah kundur yang gugur dari tangkainya.
"Celaka!" kata si nona tanpa sadar.
Ciu Tek Seng tidak menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Ia segera melompat turun dari kudanya untuk membekuk si nona yang belum sempat bangkit. Dalam sekejap, Siauw Giok telah ditawan oleh Ciu Tek Seng yang membuatnya tak berdaya dengan menotok urat di bagian pinggangnya.
Nona Su Nio, yang diberitahu bahwa adik angkatnya telah ditawan musuh, segera memacu kudanya sambil membawa tombak untuk melakukan pengejaran. "Kembalikan adikku!" bentak Su Nio begitu melihat Siauw Giok dibekuk oleh Ciu Tek Seng yang didampingi oleh seorang *hweeshio* tua misterius.
"Susiok," kata si orang bermarga Ciu, "perempuan ini adalah orang yang melukaiku dengan senjata rahasia beracun itu!"
Mendengar hal itu, Siu Leng Siangjin menunjuk ke arah Su Nio sambil membentak, "Bagus sekali perbuatanmu! Adikmu sudah kutangkap, mengapa kau tidak segera menyerahkan diri saja untuk menyelamatkan nyawamu?"
Su Nio merasa geram. Ia memutar tombaknya sambil mendamprat, "Biarawan pengkhianat! Tidak kusangka orang yang seharusnya beribadah sepertimu masih gemar mencampuri urusan duniawi dan berkhianat kepada negara serta bangsamu sendiri. Kau bahkan menghasut kami untuk menyerah. Cobalah tanya pada dirimu sendiri, apakah ada manusia lain di dunia ini yang bermuka setebal dirimu?"
Siu Leng Siangjin sangat marah mendengar makian Su Nio. "Ternyata kau tidak bisa dikasihani!" bentaknya dengan mata melotot.
Sebelum ia selesai bicara, Su Nio sudah menggerakkan tombaknya untuk menusuk dada biarawan tua itu sambil balas membentak, "Siapa yang sudi dikasihani oleh seorang pengkhianat? Rasakan tombakku ini!"
Siu Leng Siangjin mengangkat tongkat untuk menangkis. Seketika itu juga mereka terlibat pertempuran sengit yang ditonton oleh Ciu Tek Seng dan anak buahnya. Su Nio, yang pernah mendengar kabar bahwa Ciu Tek Seng adalah murid Ceng Hie Siangjin dari puncak Eng-soat-hong di Pegunungan Thay-heng-san, segera menduga bahwa *susiok*-nya ini pastilah seorang biarawan dengan ilmu silat yang sangat tinggi. Ia menyadari bahwa sang biarawan bukan tandingan yang setimpal baginya. Namun, karena dorongan keinginan untuk menolong adik angkatnya, ia mengerahkan seluruh kemampuannya untuk melawan *hweeshio* tua tersebut.
Ciu Tek Seng, yang menyadari kemahiran ilmu tombak sang nona, segera memberi isyarat kepada anak buahnya untuk mengepung dari segala penjuru. Sementara itu, anak buah Ngo Sian Tie yang melihat tentara musuh mulai dikerahkan, segera maju menghadang dengan sorak-sorai. Dalam sekejap, pertempuran besar pecah di kaki gunung tersebut.
Menyaksikan kenekatan Su Nio dalam menyerang, Ciu Tek Seng membawa Thio Siauw Giok yang telah terikat ke tempat yang lebih aman. Setelah itu, ia maju membantu *susiok*-nya mengepung Yo Su Nio dengan cambuk *Sampian* di tangannya. Akibatnya, lama-kelamaan sang nona kewalahan dan terpaksa mundur ke atas gunung, diiringi sisa-sisa anak buahnya yang menderita luka-luka akibat pertempuran tersebut.
Kini kita mengikuti Siu Leng Siangjin dan Ciu Tek Seng yang kembali ke pesanggrahan mereka dengan membawa Siauw Giok sebagai tawanan dari hasil penyerbuan terhadap gerombolan Ngo Sian Tie. Pada hari itu juga, Ciu Tek Seng segera mengirim laporan kepada Cian-hu Pek Tek Ceng mengenai kemenangan mereka dan keberhasilan menangkap seorang panglima wanita penting dari kelompok pemberontak tersebut.