Halo!

Dewi Tombak - Chapter 28

Memuat...
Dewi Tombak

Chapter 28

Namun, untuk menunggu hingga ada pihak berandal yang tertawan, panglima wanita itu untuk sementara waktu ditahan dahulu dalam pesanggrahan mereka.

Cian-hu Pek Tek Ceng menjadi sangat girang dan lalu melanjutkan laporan tersebut kepada Ban-hu Cin Nie Lok Ko, seorang pembesar bangsa Kim yang menjadi atasannya.

Maka berdasarkan laporan itu, Ban-hu Lo-ya segera memberikan banyak hadiah untuk Siu Leng Siangjin dan Ciu Tek Seng yang dianggap berjasa besar dalam usaha pembasmian para pemberontak itu.

Tetapi, karena hadiah-hadiah itu telah dikirimkan ke tangan Pek Tek Ceng sebelum diserahkan kepada orang-orang yang berhak menerimanya, maka pembesar korup itu mendapat kesempatan terbaik untuk terlebih dahulu membagi dua hadiah itu untuk dirinya sendiri, kemudian baru dikirimkan kepada orang bermarga Ciu dan susioknya. Mereka segera menyampaikan terima kasih melalui tangan Pek Tek Ceng, sehingga Cian-hu dapat mengubah jumlah angka hadiah yang diterima mereka menurut caranya sendiri.

Sementara Ciu Tek Seng dan Siu Leng Siangjin, yang merasa sangat bangga atas kemenangan mereka dan berhasil menangkap nona Siauw Giok yang cantik, diam-diam muncul pikiran untuk "memiliki" nona itu sebagai jasa jerih payah masing-masing. Keduanya mencoba mencari cara agar dapat memilikinya, tanpa yang satu menyadari siasat yang dilakukannya di luar pengetahuan kawan lainnya.

Begitulah, pada petang hari itu mereka berdua duduk makan-minum dengan hati gembira, sementara masing-masing menyembunyikan akal bulus untuk mencari "kemenangan" dengan mendahului turun tangan selagi yang lain lengah.

"Petang ini kita mesti makan-minum sepuas-puasnya," kata Ciu Tek Seng sambil menuangkan arak berulang-ulang ke dalam cawan susioknya.

Ia sangat mengharapkan agar susioknya menjadi lekas mabuk dan lupa daratan, sehingga ia dapat memiliki nona Siauw Giok tanpa disadari oleh biarawan tua itu, yang hatinya masih gemar pada perempuan cantik.

Namun, Siu Leng Siangjin, yang ternyata bukan orang bodoh yang mudah diperdayakan dengan minuman keras, berpura-pura tersenyum lalu berkata, "Aduh, perlu apa harus begitu, Sutit? Kita berdua adalah orang dari satu golongan. Apa perlunya engkau berlaku hormat sampai berlebihan begitu? Ayo, mari kita minum bersama-sama. Engkau secawan, aku secawan, untuk mengetahui siapa yang dapat minum paling kuat dan banyak!" Dalam hati ia mengomel, "Sialan engkau! Sekarang akan kulihat siapa di antara kita yang akan tergeletak dan kecanduan minum saat ini!" Meskipun demikian, ia tidak lupa diam-diam berpikir untuk menelan beberapa butir pil anti mabuk agar merasa aman dan tidak khawatir mabuk karena minum terlalu banyak arak.

Sayangnya, kesempatan itu belum diperoleh, hingga otaknya berputar untuk mencari akal.

Sementara itu, Ciu Tek Seng, yang juga bukan orang bodoh, selalu mengintai kelengahan susioknya dan di mana ada kesempatan untuk turun tangan. Ia segera berniat memasukkan obat tidur ke dalam poci arak di hadapan mereka.

Justru itu, entah disengaja atau tidak, Siu Leng Siangjin tiba-tiba meminta permisi untuk pergi ke kamar kecil. Hati Ciu Tek Seng menjadi sangat girang dan ia berpura-pura hendak pergi menyertai. Namun, biarawan itu mencegahnya sambil berkata, "Tidak usah menyusahkan Sutit, aku dapat pergi sendiri tanpa diantar siapa pun." Setelah berkata demikian, ia pergi ke kamar kecil untuk menelan beberapa pil anti mabuk yang selalu disimpan di saku bajunya.

Sedangkan Ciu Tek Seng, di lain pihak, dengan cepat memasukkan obat tidur ke dalam poci arak. Maka, ketika keduanya saling mengadu minum, keduanya telah berhasil turun tangan untuk saling mengalahkan.

Dalam keadaan demikian, anak buah Ciu Tek Seng saling berbisik, "Sungguh aneh sekali! Seumur hidupku baru kali ini aku tahu ada hweeshio yang tidak pantang minum minuman keras dan makan ikan serta daging. Hweeshio apa ini namanya?" "Inilah yang dinamakan hweeshio Tie Ko Chia-hweeshio siluman babi jantan!" sahut seseorang sambil tertawa terbahak-bahak. "Karena selain gemar arak dan makan barang-barang haram, ia juga gemar pada paras cantik!" "Apa benar begitu?" tanya yang lain dengan ragu. "Coba saja kau tanyakan kepada Lo Samko, dia pasti akan menjawab demikian kepadamu," jawab orang kedua.

Sementara mereka berbicara berbisik-bisik, di suatu sudut nampak seorang serdadu jaga yang bersandar pada tiang bagai orang mengantuk. Padahal, telinganya terbuka lebar dan memperhatikan segala pembicaraan para tetua itu. Matanya yang tajam, dan ternyata hanya mengantuk belaka, selalu ditatapkan ke arah biarawan tua dan Ciu Tek Seng yang saling mengatur siasat untuk menjatuhkan masing-masing, tanpa mereka sadari ada seseorang yang mengintai mereka dari kejauhan.

Baik orang yang memasukkan obat tidur ke dalam arak maupun orang yang hendak dijatuhkan dengan pengaruh obat tersebut, tidak tampak ada tanda-tanda bahwa salah seorang di antara mereka akan mengalami kekalahan mentah-mentah. Terlebih lagi, keduanya telah menelan obat untuk menghilangkan pengaruh obat tidur. Hal ini tentu membuat mereka berdua menggerutu dalam hati, yang satu mengomel pada yang lain secara diam-diam.

Ketika beberapa poci arak telah diminum hingga kering, tiba-tiba Siu Leng Siangjin mendapat akal bagus dan berpura-pura sinting. Ia pergi tidur tanpa meminta izin kepada Ciu Tek Seng, hingga si sutit ini girang dan berkata dalam hati, "Hm! Sekarang dia kena batunya! Dia pasti belum sadar sebelum lewat 43 jam lamanya! Ha, ha, ha!" Ia tertawa sendirian.

Para serdadu anak buahnya, yang melihat ia tertawa terbahak-bahak, segera menyangka induk semang itu berbicara dalam keadaan mabuk. Mereka lekas-lekas memburu dan berniat mengantarnya tidur. Namun, Ciu Tek Seng yang punya maksud lain berkata, "Poci arak belum tentu dapat memabukkanku, kamu mengerti? Ha, ha, ha! Hi, hi, hi!" Setelah tertawa geli sendirian, ia berjalan terhuyung-huyung menuju ke kamar tahanan. Anak buahnya, yang tetap menganggap ia sinting dan keliru melihat kamar tahanan sebagai kamar tidurnya sendiri, lantas memburu sambil berkata, "Lo ya, itulah kamar tahanan, bukan kamar tidurmu!" Tetapi Ciu Tek Seng kembali membelalakkan matanya sambil membentak sengit, "Diam! Apakah kamu menganggap otakku miring? Hm?" Kemudian dengan langkah lebar ia masuk ke dalam kamar tahanan itu.

Para anak buahnya tertegun sejenak. "Celaka!" kata salah seorang di antara mereka. Mula-mula mereka lupa bahwa di dalam kamar tahanan itu justru tengah dipenjarakan seorang gadis jelita. Tetapi ketika teringat akan hal itu, mereka berbisik satu sama lain dengan tatapan curiga. Orang yang pertama membuka mulut itu seketika itu juga mendusin dan menggerutu, "Dasar manusia sialan! Banyak sekali akal bulusnya yang bersarang di dalam otaknya yang keji itu!" Sambil memasang telinga, mereka menunggu mendengarkan apa yang akan terjadi selanjutnya di dalam kamar tahanan itu dengan hati berdebar-debar.

VII.

Tetapi begitu terdengar suara teriakan tertahan dari sebelah dalam kamar tahanan, Ciu Tek Seng segera menyusul memperdengarkan suara jeritannya yang nyaring, "Ada setan! Ada setan!" Para serdadu jaga itu menjadi sangat terkejut dan segera memburu masuk ke dalam kamar tahanan tersebut.

Hampir bersamaan dengan itu, Ciu Tek Seng telah berlari keluar dengan tersipu-sipu, sehingga kedua pihak bertabrakan tak dapat dicegah. Seorang serdadu yang berlari paling depan justru membentur perut Ciu Tek Seng yang hendak berlari keluar dari dalam kamar tahanan itu. Ia menjerit keras dan terus jatuh tersungkur. Selain merasa kesakitan, kepala dan sekujur badannya menjadi basah kuyup dengan muntah yang muncrat dari mulut induk semangnya. Tek Seng sendiri jatuh terlentang bagaikan buah kundur yang gugur tertiup angin besar.

Tidak lama kemudian, entah sejak kapan masuknya, dari dalam kamar tahanan itu muncullah Siu Leng Siangjin yang lalu bertanya dengan sikap tergesa-gesa dan dibuat-buat, "Ada apa ini ribut-ribut? Siapakah yang telah nekat membuat ribut di sini!" Namun, Tek Seng, yang baru saja memahami permainan sandiwara yang dimainkan oleh susioknya saat itu, hanya bisa mendongkol dalam hati, tetapi tak dapat mengatakannya. "Sungguh satu bajingan yang ulung sekali si kepala gundul ini!" omelnya diam-diam. Tetapi di mulut ia tak menjawab sepatah kata pun atas pertanyaan susioknya itu.

Sementara Siu Leng Siangjin, yang terlebih dahulu telah menduga bahwa perbuatannya yang berpura-pura itu akhirnya diketahui juga oleh Ciu Tek Seng, dalam hatinya merasa geli bagai dikitik-kitik, hingga sesaat lamanya ia pun tak dapat berkata-kata.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment