Halo!

Dewi Tombak - Chapter 29

Memuat...
Dewi Tombak

Chapter 29

Karena jika ia memaksakan diri untuk berbicara, gerak-geriknya pasti akan membuat siasat palsunya terbongkar dengan terang-terangan oleh muridnya yang ternyata tidak bodoh itu.

Oleh karena itu, ia terpaksa membungkam saja sambil berpura-pura tersenyum untuk menyembunyikan sedikit kesalahannya.

Karena, sebagaimana kemudian baru diketahui, ketika biarawan tua itu meninggalkan perjamuan, ternyata dia tidak masuk tidur ke kamarnya, melainkan dengan cepat menyelinap ke belakang kamar tahanan Nona Siauw Giok. Dari sana, ia berhasil masuk setelah menotok jalan darah dua orang serdadu jaga yang bertugas menjaga tahanan di situ.

Keadaan di dalam kamar tahanan itu sedemikian gelap, sehingga sukar baginya untuk melihat sebelum membiasakan diri melihat dalam kegelapan seperti itu.

Tapi setelah berdiri di situ beberapa saat, ia pun dapat mengetahui di mana gadis jelita itu ditahan dengan kaki dan tangan diborgol.

Ketika biarawan tua menghampiri Nona yang hendak dijadikan korbannya, tiba-tiba Siauw Giok terkejut dan lalu mengamati dengan saksama orang laki-laki yang menghampirinya itu, bagaikan seorang pencuri.

Tapi begitu ia melihat Nona itu tersadar dari tidurnya, tiba-tiba ia terhenti dengan sikap yang agak ragu-ragu.

"Engkau siapa?" tanya Nona itu dengan suara keras.

"Seorang kawan!" sahut Siu Leng Siangjin dengan gerak-gerik gugup.

Nona Siauw Giok segera mengenali siapa orang itu.

"Apa maksudmu datang kemari pada malam buta begini?" tanyanya lagi dengan hati curiga.

"Aku hendak menolongmu," kata biarawan tua itu dengan jantung berdebar-debar.

Sambil berkata demikian, ia menghampiri lebih dekat lagi kepada Nona dengan maksud hendak memeluknya dan melakukan perbuatan yang tidak senonoh terhadap Siauw Giok yang masih tidak berdaya.

Tapi Siauw Giok yang mendapat firasat buruk, segera berusaha untuk mematahkan borgol tangannya sebelum hweeshio itu keburu menyentuhnya.

Sangat disayangkan, usahanya itu tidak berhasil, hingga ia tidak tahu bagaimana selanjutnya menolong dirinya sendiri. Sementara itu, Siu Leng Siangjin yang menyaksikan Siauw Giok tampak tidak berdaya, hatinya semakin girang dan percaya bahwa dalam beberapa detik lagi Nona manis itu pasti berhasil akan diganyangnya.

Oleh karena itu, ia maju menghampiri Nona sambil tertawa terbahak-bahak dengan sikap yang sangat menjijikkan.

Hal itu, tentu saja, telah membuat hati Nona Siauw Giok menjadi cemas bukan kepalang.

Untungnya, sebelum biarawan cerewet itu keburu bertindak, tiba-tiba di sebelah luar kamar tahanan terdengar suara Ciu Tek Seng yang sedang mendekat. Untuk menutupi perbuatannya yang kurang sopan itu, dengan cepat ia menarik kerah bajunya ke atas kepalanya, sehingga saat itu juga ia telah berubah menjadi tubuh tanpa kepala!

Maka saat itu, ia melompat untuk menakut-nakuti muridnya. Tek Seng yang penglihatannya agak kabur karena dipengaruhi oleh suasana gelap malam, tentu saja terkejut bukan kepalang dan segera kabur dari tahanan itu sambil berteriak, "Ada setan! Ada setan!" Tapi sesaat kemudian, setelah bertabrakan dengan seorang serdadu yang telah membuatnya muntah-muntah, Tek Seng barulah agak sadar dan lambat laun juga mengetahui siapa sebenarnya setan tanpa kepala itu, karena ia mengenali bahwa pakaian iblis itu kini justru telah dikenakan oleh susioknya!

Oleh sebab itu, tentu saja ia menjadi cemburu dan sangat kesal terhadap kejahilan susioknya itu, sehingga ia enggan menjawab pertanyaan yang dilakukannya secara pura-pura itu.

Tapi ketika Siu Leng Siangjin mengulangi pertanyaannya, dengan wajah cemberut dan hati kesal ia terpaksa menjawab, "Di mana pada zaman ini ada setan jika bukan buatan manusia?" Ia sebenarnya hendak menuduh Siu Leng Siangjin telah sengaja mengacau dan menggagalkan maksudnya mendekati Nona Siauw Giok, tapi rasa malunya mencegahnya untuk berbuat sekasar itu.

Sementara itu, Siu Leng yang merasa dirinya telah disindir oleh muridnya, ia pun terpaksa membungkam seribu bahasa meski dalam hati ia menggerutu, "Dasar sialan, daging yang sudah di mulut terpaksa harus dimuntahkan lagi karena gangguan manusia sial ini!" Demikian juga halnya dengan Ciu Tek Seng, yang telah memaki hweeshio cerewet yang telah menggagalkan impian muluknya.

Akhirnya mereka jadi saling tuding-menuding, saling tuduh-menuduh, kemudian membuka rahasia masing-masing dengan tertawa getir.

"Ini semua adalah salah kita berdua juga!" kata Siu Leng Siangjin akhirnya.

Tapi ketika mereka baru saja saling memaafkan, tiba-tiba seorang serdadu jaga masuk dengan tergesa-gesa serta melaporkan bahwa dua serdadu jaga yang bertugas menjaga tahanan telah ditotok jalan darahnya sehingga lumpuh, sedangkan Nona Siauw Giok yang ditahan di sana telah menghilang entah ke mana.

Ciu Tek Seng dan Siu Leng Siangjin yang mendengar laporan tersebut, tentu saja terkejut dan segera mengerahkan para serdadunya untuk pergi mencari dan melakukan pengejaran ke luar, sementara biarawan tua lalu membebaskan kedua serdadu jaga itu dari pengaruh totokan yang telah dilakukannya tadi. Dengan diam-diam ia menyesali perbuatannya yang terlalu gegabah, sehingga tidak pernah dipikirkannya pula tentang akibat perbuatannya yang telah diketahui oleh kedua orang yang telah ditotoknya itu.

Tapi beras yang sudah menjadi bubur pasti tidak akan dapat dikembalikan ke asalnya. Ia menyesal, tapi semua itu ternyata kini telah terlambat.

Sementara itu, di suatu jalan gunung yang sunyi tampak sesosok bayangan manusia yang menggendong seseorang di atas punggungnya, berlari dengan gerakan yang sangat gesit.

Sesampainya di bawah sebuah pohon yang rindang, orang itu menurunkan orang yang digendongnya itu ke tanah serta sekaligus membebaskannya dari totokan yang telah ia lakukan terhadap orang yang digendongnya itu.

Maka begitu cepat ia terbebas dari totokan yang telah dilakukan terhadapnya, orang yang ditolong itu terdengar bertanya, "Tuan ini siapa?" "Seorang sahabat," sahut orang itu sambil tertawa.

"Apakah Nona Siauw Giok tidak dapat mengenali aku?" Orang yang ditolong itu, yang ternyata tidak lain adalah Thio Siauw Giok, seketika itu juga segera mengenali tuan penolongnya, karena penolong itu pun tidak lain adalah Hap Nouw Siu Bun.

Hal itu membuat Nona mengeluh dalam hatinya.

Karena dengan demikian, dari bahaya ia kembali masuk ke bahaya lain yang lebih besar dan sulit.

"Untuk maksud apa engkau menolongku?" tanya Nona Siauw Giok dengan hati yang gelisah.

Tapi Hap Nouw Siu Bun segera memotong perkataannya sambil cengar-cengir, "Ini bukan suatu pertolongan," katanya. "Lebih tepat jika dikatakan sekadar mengambil kembali hakku yang telah diserobot orang lain. Aku telah menyusun rencana untuk menangkapmu, tapi siapa sangka rencanaku telah dirusak oleh orang she Ciu dan susioknya itu. Oleh sebab itu, dengan menyamar sebagai serdadu biasa, aku telah mengambil kesempatan merampas dirimu dari tangan mereka. Maka setelah kini engkau jatuh ke tanganku, dengan sendirinya engkau menjadi tawananku. Dengan demikian, akulah yang berhak menyerahkan dirimu kepada atasanku, tapi bukan orang she Ciu dan susioknya." Siauw Giok yang mendengar keterangan demikian, tentu saja amarahnya meluap-luap, hingga tanpa banyak bicara lagi ia melompat bangun dan menghantam dada Hap Nouw Siu Bun dengan telapak tangannya.

Pahlawan bangsa Kim yang menyaksikan Nona memukulnya dengan ilmu Cee-gwa Soan-hongciang, atau ilmu pukulan telapak tangan angin puyuh, yang asalnya dipelajari di luar perbatasan Tiongkok, segera mengetahui betapa lihainya pukulan tersebut, sehingga dengan cepat ia mengelakkan pukulan itu sambil berseru, "Sungguh lihai sekali seranganmu!" Tapi Siauw Giok yang tidak mau memberi kesempatan Hap Nouw Siu Bun untuk bernapas lega, segera untuk kedua kalinya ia menerjang dengan sangat dahsyat, sehingga pahlawan bangsa Kim itu kembali melompat mundur untuk menghindarkan pukulan Nona yang bersemangat jantan. Hap Nouw Siu Bun yang selalu didesak oleh Nona Siauw Giok, diam-diam timbul pikiran curang untuk memperoleh kemenangan tanpa mengeluarkan terlalu banyak tenaga.

Yakni, ketika Nona menghujani serangan kepadanya, pahlawan bangsa asing itu telah sengaja berpura-pura kewalahan, terdesak, hanya mampu menjaga serangan Nona itu tapi tidak dapat balas menyerang sebagaimana mestinya.

Sementara Nona Siauw Giok yang menganggap bahwa ia berada di atas angin, bukan saja tidak mengetahui siasat busuk pihak lawannya, tapi juga telah lupa mengambil kesempatan untuk kabur, selagi pihak musuh berada dalam kesibukan.

Oleh karena itu, selangkah demi selangkah ia telah masuk ke perangkap Hap Nouw Siu Bun, yang sambil sengaja berpura-pura terdesak, diam-diam telah mencari kesempatan untuk melancarkan serangan yang mematikan, sehingga dengan begitu ia dapat menawan kembali Nona itu tanpa mengeluarkan terlalu banyak tenaga.

Begitulah setelah melangsungkan pertempuran itu dengan siasat mundur-mundur udang, tiba-tiba Hap Nouw Siu Bun terdengar berseru dan segera terhuyung karena membentur akar pohon yang menonjol ke permukaan tanah, sehingga sesaat kemudian ia jatuh roboh bagaikan kundur yang gugur dari tangkainya.

Sementara Siauw Giok yang seharusnya segera kabur meninggalkannya, tiba-tiba timbul pikiran untuk membekuk pahlawan bangsa Kim itu, dengan harapan dapat mendirikan pahala bagi kaum Jaket Merah mereka.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment