Chapter 30
Tanpa disadari, Hap Nouw Siu Bun telah bersiap siaga lebih awal. Begitu melihat si nona hendak menyergapnya, ia segera mempergunakan siasat *Yauwsin* atau alap-alap membalikkan badan dengan cara berguling, lalu melompat ke atas. Dalam sekejap, ia telah berbalik berada di posisi atas.
Sebelum Siauw Giok sempat menghindarkan diri, dua jari tangan Hap Nouw Siu Bun telah menotok jalan darahnya hingga ia tak berdaya. Sesaat kemudian, ia jatuh terkulai dan kembali menjadi tawanan pahlawan bangsa Kim tersebut.
Sambil memanggul Nona Siauw Giok, Hap Nouw Siu Bun dengan gembira membawanya ke pesanggrahan di bawah kaki gunung. Dari sana, rencananya nona itu akan diangkut menggunakan gerobak tahanan menuju Ban-hu Cin Nie Lok Ko yang menjadi atasannya.
Pada saat Nona Siauw Giok tertawan oleh Hap Nouw Siu Bun, Yo Su Nio yang merasa sangat khawatir akan nasib adik angkatnya justru sedang menuju ke pesanggrahan Ciu Tek Seng secara diam-diam. Ia berharap dapat menolong serta membebaskannya selagi pihak musuh tidak berjaga-jaga.
Namun, setibanya di suatu tempat yang masih termasuk dalam daerah penjagaan orang bermarga Ciu tersebut, tiba-tiba ia dikejutkan oleh kedatangan para serdadu yang dikerahkan oleh Ciu Tek Seng dan Siu Leng Siangjin untuk mengejar Nona Siauw Giok.
Su Nio yang tidak mengetahui bahwa adik angkatnya telah dilarikan orang dari dalam kamar tahanan segera menduga bahwa kedatangannya telah diketahui oleh mata-mata pihak Ciu. Ia mengira rencana penyerbuan kilatnya telah terbongkar sehingga pihak lawan melakukan pengepungan sebelum ia sempat bergerak.
Karena keadaan sudah terlanjur demikian, apa boleh buat, Su Nio segera menggunakan tombaknya untuk melawan para serdadu itu. Saat itu juga terjadilah pengeroyokan yang sangat ramai terhadap dirinya.
Sementara itu, Ciu Tek Seng dan Siu Leng Siangjin yang mendengar laporan tentang serbuan si Dewi Tombak ke pesanggrahan mereka merasa sangat terkejut. Mereka bergegas keluar untuk membekuk nona yang baru datang itu.
"Orang yang kurang penting telah kabur," kata Ciu Tek Seng kepada pamannya. "Tetapi seseorang yang sangat penting sekarang telah datang ke mari untuk menjadi pengganti tahanan kita itu. Harap Paman lekas tangkap gadis yang dahulu pernah melukai diriku dengan *Tok-bwee-kwie* itu!"
"Oh, ini dia gadis yang bernama Yo Su Nio alias si Dewi Tombak itu!" kata Siu Leng Siangjin dengan angkuh. "Engkau jangan khawatir! Dalam waktu singkat, akan kuringkus dia hidup-hidup!"
Kemudian ia keluar dari pesanggrahan dengan diiringi oleh Ciu Tek Seng. Begitu menyaksikan kegagahan Yo Su Nio, diam-diam sang biarawan merasa kagum dan tergerak hatinya.
Melihat Su Nio sangat mahir memainkan tombak, Siu Leng Siangjin terpana sejenak bagaikan orang yang terkesima. Ia menghela napas sambil berkata di dalam hati, "Aku yang telah sekian lama berdiam di tempat sunyi yang jauh dari pergaulan umum, baru sekarang menyaksikan dunia yang seramai ini beserta wanita yang begitu cantik jelita. Jika aku bisa mendapatkan nona ini sebagai pengganti gadis manis yang telah kabur itu, sungguh aku tidak menyesal meninggalkan pertapaanku untuk menjalani kehidupan sebagai manusia biasa!"
Ciu Tek Seng yang melihat sikap pamannya dan dapat menerka rahasia hati biarawan tua itu segera menyeringai gemas sambil berkata, "Paman, bukannya segera membekuk Su Nio, mengapa engkau malah terpaku menonton para serdadu yang sedang mengepungnya? Apakah engkau gentar melawannya bertempur?"
Siu Leng Siangjin yang tidak kehilangan akal segera membelalakkan matanya sambil membentak, "Engkau selalu bicara tanpa berpikir terlebih dahulu! Tahukah engkau bahwa aku sedang mengatur siasat agar dapat membekuk gadis itu tanpa perlu mengeluarkan terlalu banyak tenaga? Saksikan saja hasilnya nanti, baru kau akan tahu bahwa perkataanku bukan omong kosong belaka!"
Ciu Tek Seng hanya menyambut kata-kata itu dengan senyum sinis tanpa memberi komentar lebih lanjut.
Setelah itu, barulah Siu Leng Siangjin maju sambil menudingkan tongkatnya ke arah Su Nio yang sedang dikepung oleh anak buahnya. Ia membentak, "Hai gadis, bukankah engkau Yo Su Nio yang pernah melukai keponakanku dengan *Tok-bwee-kwie*? Lihat, hari ini akan kuringkus dirimu bagaikan mengikat bacang!"
Sambil berkata demikian, ia segera maju ke medan pertempuran dan menyuruh para serdadu menyingkir. Ia sendiri mulai meladeni si Dewi Tombak dengan memutar tongkatnya secepat baling-baling.
Su Nio yang seumur hidupnya baru kali ini menghadapi lawan seorang *hweeshio*, diam-diam merasa terkejut. Menurut ketentuan dalam rimba persilatan, ada tiga kaum yang harus disegani dan tidak boleh dipandang ringan, yakni anak-anak, perempuan, dan kaum rohaniwan (pertapa, *hweeshio*, *toocu*, atau *nikho*).
Namun, karena tujuannya adalah menolong adik angkatnya yang tertawan, ia mengabaikan hal itu dan maju menjumpai biarawan tua itu sambil berkata, "Siangjin, antara engkau dan aku tidak pernah ada permusuhan apa pun. Oleh karena itu, aku mohon bebaskanlah adik perempuanku yang telah kau tangkap!"
Siu Leng Siangjin tertawa terbahak-bahak mendengar permintaan itu. "Engkau hanya bicara enak untuk dirimu sendiri," katanya. "Kalian adalah kaum pemberontak, sedangkan kami adalah orang pemerintah yang bertugas membasmi kalian yang berani melawan. Bagaimana mungkin engkau mengatakan bahwa kita tidak terikat permusuhan? Mengenai permohonanmu agar adikmu dibebaskan, aku bersedia mengabulkannya asalkan engkau menerima tiga permintaanku."
"Apa permintaanmu? Cepat katakan!" kata Su Nio dengan wajah berang.
"Yang pertama," kata Siu Leng Siangjin, "hentikanlah perlawanan terhadap pemerintah yang berwenang saat ini. Kedua, ajaklah kawan-kawanmu yang bersembunyi di gunung dan hutan belantara. Ketiga, kalian semua harus takluk kepada pemerintah kami."
"Cukup, cukup! Jangan banyak bicara!" kata si Dewi Tombak. "Semua permintaanmu kutolak mentah-mentah! Jangan pernah ucapkan lagi di hadapanku! Sekarang mari kita bertempur untuk menentukan siapa di antara kita yang lebih unggul! Lihat tombak ini!"
Tanpa menunggu jawaban Siu Leng Siangjin, Yo Su Nio segera memutar tombaknya dan menerjang dengan ganas. Biarawan tua itu menangkis serangan Su Nio dengan tongkat di tangannya.
Siu Leng Siangjin yang baru pertama kali ini berhadapan dengan Yo Su Nio mulanya agak memandang rendah. Namun, setelah pertempuran berlangsung beberapa jurus, ia mengakui bahwa julukan "Dewi Tombak" bukanlah nama kosong belaka. Setiap tusukan serangan yang dilancarkan oleh Yo Su Nio secara bertubi-tubi membuat hati Siu Leng Siangjin tergetar. Jika ia sedikit saja kurang cekatan dalam menangkis, niscaya ia sudah roboh dengan luka parah. Karena khawatir dikalahkan oleh pesilat muda, Siu Leng Siangjin menjadi semakin berhati-hati dalam memberikan perlawanan.
Sementara itu, Ciu Tek Seng yang merasa tidak sabar hanya menonton dari kejauhan segera mencabut senjata dari punggungnya. Ia maju mengepung Su Nio sambil membentak, "Gadis hina! Sekarang aku kembali untuk membalas dendam kepadamu!"
Ia melancarkan pukulan bertubi-tubi ke arah Yo Su Nio. Dikepung oleh dua lawan sekaligus dari depan dan belakang, Su Nio menjadi sangat sibuk dan memutar tombaknya secepat baling-baling yang menerjang angin topan.
Begitu dahsyat ia memutar tombaknya hingga tubuhnya hampir tidak kelihatan karena tertutup kilatan senjata. Biarpun Ciu Tek Seng mendesak dengan sekuat tenaga, ia tetap tidak mampu membuat Su Nio mundur setapak pun dari medan pertempuran.
Siu Leng Siangjin yang menyaksikannya memuji di dalam hati, "Sungguh tidak salah jika orang menamakannya Dewi Tombak! Bahkan aku yang sejak muda pernah menyaksikan kepandaian beberapa ahli tombak, tidak ada seorang pun yang permainannya semahir dan selincah Yo Su Nio ini!"
Karena itu, kekerasan hati biarawan tua itu mendadak melumer. Ia melompat mundur ke pinggir dan berdiri menonton di situ, membiarkan keponakannya bertempur sendirian melawan Su Nio.
Namun, setelah pertempuran berlangsung beberapa jurus lagi, Ciu Tek Seng menarik kesimpulan bahwa ia tidak akan memperoleh kemenangan tanpa bantuan pamannya. Dengan menanggung malu, ia berteriak, "Paman, tolong!"
Siu Leng Siangjin tampak agak ragu, tetapi akhirnya ia terpaksa turun tangan kembali karena Tek Seng berulang-ulang berteriak meminta pertolongan. Dengan majunya kembali biarawan tua itu ke medan pertempuran, Su Nio kembali kewalahan dan akhirnya terpaksa melarikan diri.