Chapter 31
Ciu Tek Seng yang timbul kembali keberaniannya karena dorongan semangat susioknya, membentak, "Jangan lari!" Namun, Su Nio yang napasnya terengah-engah karena sangat letih karena pertempuran itu, kabur terus tanpa meladeni bentakan si orang she Tek itu.
"Kejar terus!" Kemudian Tek Seng menganjurkan kepada anak buahnya. Maka pengejaran atas diri nona itu dilakukan dengan amat hebat dari segala jurusan, sehingga nona Su Nio hampir putus asa karena tak melihat ada jalan untuk meloloskan diri.
Syukur juga, selagi pengepungan dilakukan, tiba-tiba muncul dua pasukan liauwlo yang maju dari kiri kanan dan serentak untuk memotong para serdadu yang mengepung Yo Su Nio bagaikan rombongan pemburu yang sedang mengepung binatang buruan mereka.
Dan begitu pasukan kedua pihak saling berhadapan, dua orang laki-laki yang bersenjatakan golok besar dari pihak kedua rombongan liauwlo itu terdengar berseru, "Adik Nio! Kami datang untuk membebaskanmu!" Dan bersamaan dengan diucapkannya seruan itu, kedua orang pemimpin rombongan liauwlo itu, yang ternyata bukan lain daripada An Jie dan Ngo Sian Tie, segera menerjang masuk ke dalam pasukan serdadu Ciu Tek Seng, sehingga dalam waktu sekejap saja, rombongan kedua pihak itu telah jadi bertempur dengan tidak banyak bicara pula.
Tapi nona Su Nio yang sedang dikejar-kejar oleh Ciu Tek Seng dan susioknya, tak dapat berhubungan dengan kakak dan kawannya, meski bala bantuan tengah bertempur dengan amat serunya di sekitar daerah pegunungan itu. Maka sambil melawan menempur, nona itu terpaksa mundur untuk mencari kesempatan ia dapat menggabungkan diri dengan kawan-kawannya sendiri, sedang Ciu Tek Seng yang seolah-olah dapat memahami maksud Yo Nio disaat itu, ia sama sekali hampir tak memberi kesempatan untuk nona itu mencari jalan keluar dari kepungannya dan susioknya berdua.
"Kali ini selain engkau menyerah kepada kami," kata orang she Ciu itu, "Jangan harap akan kau dapat meloloskan diri secara mudah!" Tapi Su Nio masih saja melakukan perlawanan terus tanpa menghiraukan segala ejekan yang keluar dari mulut pihak lawannya.
Pada suatu waktu ketika nona itu terdesak sehingga di tepi jurang, Tek Seng yang merasa pasti bahwa Su Nio takkan dapat meloloskan diri pula dari dalam tangannya, maka dengan semangat yang menyala-nyala, diajaknya Siu Leng Siangjin untuk maju menerjang dengan serentak, sehingga Su Nio yang betul-betul tak dapat jalan untuk meloloskan dirinya, terpaksa terjun ke bawah jurang yang dalamnya mencapai lebih kurang beberapa belas kaki, sedangkan Ciu Tek Seng sama sekali tak menduga bahwa nona itu akan mengambil tindakan yang begitu nekat.
Maka si orang she Ciu yang telah menyaksikan kenekatan nona Su Nio disaat itu, mau tak mau jadi menepuk dadanya sambil berkata, "Sungguh tidak kunyana bahwa budak perempuan itu mempunyai nyali yang begitu besar!" Tapi syukur juga nona itu telah terjun ke arah tanah yang agak rata, hingga dengan meringankan tubuhnya, ia telah tiba di bawah jurang itu dengan selamat dan tidak kurang suatu apapun.
"Selamat!" kata nona Su Nio di dalam hatinya. Tapi Tek Seng dan susioknya yang belum mau sudah sampai di situ saja, lekas-lekas turut melompat turun ke bawah jurang untuk melanjutkan pengejaran tersebut.
Tidak berapa jauh dari bawah jurang itu, terdapat sebuah jalan kecil satu-satunya untuk turun ke bawah gunung. Tapi anehnya, di situ terdapat sebuah gubuk di tengah-tengah jalan tersebut, sehingga orang tak dapat turun gunung tanpa memasukinya. Sedang pemiliknya, seorang perempuan tua yang kedua matanya telah buta, tampak duduk bersila di muka pintu, yang merupakan jalan satu-satunya yang dapat dilalui orang untuk turun ke bawah gunung.
Oleh sebab itu, dengan meletakkan tombaknya di tanah, Su Nio lalu memberi hormat sambil berkata, "Nenek, mohon kiranya nenek mengijinkan untukku lewat di sini disaat ini juga!" Tapi si nenek, meski tampaknya mendengar dan paham akan kata-kata nona itu, ia sama sekali tidak menjawab atau suka mengalah untuk mengasih jalan kepadanya, hingga dengan sikap tergesa-gesa, Yo Su Nio terpaksa telah mengulangi permintaannya itu.
Kemudian dengan sikap yang acuh tak acuh, si nenek telah mengomel, "Ada-ada saja engkau ini! Aku tidak ada urusan denganmu! Ayoh, enyah dari sini!" "Nenek," kata si nona, "Jika engkau sudi mengijinkan lewat di sini, aku pasti takkan lupa atas kebaikan hatimu itu." "Ada apa sih yang telah membuatmu tampak begitu kesusu?" kata si nenek sambil menepuk pahanya sehingga bersuara nyaring sekali.
Su Nio yang merasa tidak guna untuk mengulur-ulur waktu dengan jalan tanya-jawab dengan perempuan tua itu, segera menuturkan dengan serba singkat bahwa dia kini tengah dikejar-kejar oleh dua orang musuhnya, sehingga dengan demikian, ia mohon permisi untuk meloloskan diri dengan jalan melalui gubuk tersebut.
Sementara si nenek yang mendengar keterangan begitu, dengan lantas ia tersenyum dingin dan berkata, "Hm! Sungguh tak berguna sekali engkau ini! Jika engkau mesti lari pontang-panting karena menghadapi dua orang musuh saja, cara bagaimana engkau mampu menghadapi musuh yang jumlahnya jauh lebih banyak daripada itu?" "Nenek!" Su Nio terpaksa mengambil sikap lunak untuk menutupi rasa cemas dan malunya untuk bertempur dengan musuh umumnya tak pernah aku mesti kabur serupa ini.
"Siapakah mereka itu?" kata si nenek tidak sabaran. "Mereka berdua adalah kaki tangan kaum penjajah," sahut Su Nio, "Yang seorang tidak membuat aku gentar, tapi yang seorang pula seorang hweeshio sesungguhnya mempunyai ilmu kepandaian yang lihay sekali." Sebelum si nona selesai berbicara, si nenek sudah lantas hantamkan telapak tangannya ke atas sebuah batu gunung yang dipergunakannya sebagai alas kakinya, sehingga batu itu terbelah dua dengan mengeluarkan suara bagaikan tertumbuk oleh sebuah godam besi yang berat sekali.
"Apakah kepala si gundul itu lebih keras daripada batu ini?" tanya nenek itu dengan suara bangga. Yo Su Nio yang melihat ada kesempatan untuk memanaskan hati si nenek yang gila hormat itu, dengan lantas ia menjawab, "Ah, telapak tanganmu itu sungguh hebat sekali, sehingga si kepala gundul itu masih tepat untuk menjadi cucu muridmu!" "Apakah omonganmu itu bukan berarti mengumpak-umpak belaka?" kata si nenek sambil tersenyum gembira.
"Jika nenek tak percaya omonganku," kata Yo Su Nio, "Nenek boleh coba sendiri sampai dimana kelihayannya si hweeshio itu." "Ya, baiklah," kata perempuan tua yang buta itu, "Sekarang engkau boleh berdiri di belakangku, dan berdiam di situ sehingga para pengejarmu datang kesini!" Su Nio yang mendapat kenyataan bahwa si nenek itu bukan seorang perempuan sembarangan, dengan lantas ia menuruti omongannya dan berdiri di belakangnya dengan tombak Lee-hoa-chio miliknya selalu dicekal di tangannya.
Tidak antara lama, betul saja Ciu Tek Seng dan susioknya telah tiba juga di hadapan perempuan tua yang buta itu. Tapi karena si nenek duduk bersila di situ bagaikan sebuah patung, maka berhentilah untuk mereka mengejar nona Su Nio yang berdiri di belakang nenek itu dengan tegak dan tanpa berkata-kata barang sepatahpun.
Hal mana telah membuat kedua orang susiok dan sutit itu jadi saling lihat-lihatan dengan sikap ragu-ragu untuk melanjutkan pengejaran mereka atas diri nona Su Nio yang kini hendak dilindungi oleh perempuan tua yang tampaknya tolol, tapi sesungguhnya tidak setolol apa yang diduga mereka berdua. Maka mereka tak berani sembarangan maju dengan secara semberono.
Tek Seng terpaksa memberi hormat kepadanya sambil berkata, "Nenek, sudikah kiranya engkau mengijinkan akan kami melewati jalan ini untuk turun ke bawah gunung?" Si nenek mengeluarkan suara bentakan dari lobang hidungnya, berkata, "Hm! Untuk maksud apa engkau lalu di sini? Cobalah engkau terangkan dengan sejujur-jujurnya!" Tek Seng menatap wajah nona Su Nio sambil mulutnya menyahut, "Kami hendak menolong adik perempuanku yang sedang dikejar-kejar oleh pihak musuhnya..." Tapi begitu selesai Tek Seng berbicara, si nenek segera mendorongkan telapak tangannya sambil membentak, "Bohong! Engkau sendirilah musuh yang sedang mengejar-ngejar nona itu! Ayoh, enyahlah engkau dari sini!"
Bersamaan dengan itu, Ciu Tek Seng merasakan ada suatu tenaga tidak kelihatan yang telah mendorongnya mundur sehingga punggungnya bertubrukan dengan dada Siu Leng Siangjin yang berdiri di belakangnya. "Aduh!" kata mereka dengan suara yang hampir berbareng, "Sungguh edan sekali si nenek buta itu!" mengomel si orang she Ciu itu.
Tapi begitu mulutnya tertutup, tiba-tiba si nenek membentak dengan suara nyaring, "Enyahlah kalian dari hadapanku!" Dan berbareng dengan gerak kedua tangannya, Ciu Tek Seng segera merasakan tubuhnya jadi terdorong mundur dan hampir saja ia jatuh telentang, jika susioknya tidak lekas menahannya dari arah belakang.
Siu Leng Siangjin yang melihat sikap si nenek buta yang jumawa itu, dengan lantas ia tampil kemuka sambil membentak, "Hai, engkau ini siluman dari mana, yang tanpa angin atau hujan segera mengambil sikap bermusuhan terhadap kami berdua?" "E-eh, engkau ini kepala gundul dari mana yang telah kesasar dan datang ke rumah tangga orang tanpa permisi dahulu kepada orang yang menjadi nyonya rumahnya!" balas si nenek buta dengan suara ketus.
Siu Leng Siangjin yang mendengar ejekan itu, sudah barang tentu jadi sangat mendongkol dan lalu menuding orang dengan tongkatnya sambil mendamprat, "Tua bangka siluman! Jika engkau tak mau menyingkir dan memberi kesempatan untuk kami menangkap si budak perempuan, yang hina dina itu, janganlah engkau katakan aku keterlaluan. Gubukmu ini berikut dirimu juga, akan kusapu dari sini, sehingga berantakan dan masuk ke dalam jurang itu!" Tapi si nenek buta yang digertak begitu, bukan saja tidak menjadi jeri atau takut, malah sebaliknya lantas tertawa terkekeh-kekeh dan balas memaki, "Ah-ha, mentang-mentang lidah tidak bertulang, sehingga engkau berani mengucapkan kata-katamu dengan seenaknya saja!