Halo!

Dewi Tombak - Chapter 32

Memuat...
Dewi Tombak

Chapter 32

Gubuk ini adalah milikku sendiri, tetapi mengapa engkau hendak mengusir orang secara paksa dan bertindak melampaui batas kekuasaan orang yang berhak berbuat begitu?

Kini engkau hanya seorang yang kebetulan hendak lewat di sini, tetapi dalam kenyataan engkau telah berlaku begitu lancang, sehingga aku sebagai pemilik gubuk ini berhak untuk tidak menerima kedatanganmu!

Ayo, enyahlah kamu dari hadapanku!" Bersamaan dengan diucapkannya kata-kata itu, si nenek segera menggerakkan kedua telapak tangannya ke arah Siu Leng Siangjin yang seketika itu juga terdorong mundur beberapa kaki jauhnya.

Syukur juga ia mahir ilmu Cian-kin Tui yang dapat membuat tubuhnya menjadi sangat berat sehingga ia bisa menahan tenaga dalam nenek buta yang dahsyatnya bukan main itu.

"Hm! Engkau hendak menjajal ilmu kepandaianku, ya?" kata si biarawan tua sambil menyengir.

"Boleh, boleh! Nih, kau rasakan tongkatku!" Sambil berkata demikian, ia segera mengayunkan tongkatnya yang langsung dipukulkan ke arah ubun-ubun nenek buta itu.

Tapi... DAK!

"Haiya!" Bersamaan dengan terdengarnya suara-suara itu, Siu Leng Siangjin yang memukul si nenek buta, terpental dan jatuh menimpa Ciu Tek Seng yang berada di belakangnya, sehingga mereka berdua terguling bersamaan sekaligus.

"Dasar sialan!" si biarawan tua memaki si nenek buta yang saat itu tertawa terpingkal-pingkal dan menantang, "Ayo, kupersilakan engkau atau kalian boleh maju ke sini. Jika gentar untuk melawan aku satu lawan satu, boleh juga kalian maju serentak!"

"Kurang ajar!" kata Siu Leng Siangjin dengan penasaran. Tanpa menantikan sampai adik seperguruannya bangkit, ia kembali menerjang si nenek buta dengan menggunakan siasat Thay-san-Sapteng, atau Pegunungan Thay-san menindih puncak, dengan pukulan yang dahsyatnya bukan main.

Tapi, seperti biasa, si nenek meski matanya buta, pendengarannya sangat tajam dan tepat sekali. Begitu tongkat si biarawan melayang ke atas ubun-ubunnya, kedua tangan nenek itu yang seolah-olah bermata lantas menangkapnya sambil tertawa terbahak-bahak, kemudian dengan sekali bergerak saja, tongkat itu beserta Siu Leng Siangjin sendiri dilemparnya belasan kaki jauhnya, sehingga biarawan tua itu jatuh terlentang dengan mengeluarkan suara bagaikan kalong yang terbanting di dalam sangkarnya.

Nona Su Nio yang menyaksikan kelihaian nenek buta itu diam-diam sangat memuji dan bertanya di dalam hatinya, "Siapakah gerangan nenek buta ini?"

"Ayo! Engkau boleh maju pula dan keluarkan seluruh kepandaianmu!" Sambil berkata demikian, si nenek lalu menjumput beberapa buah batu kerikil yang terserak di hadapannya, dengannya ia menyambit ke arah si biarawan dan adik seperguruannya sambil membentak, "Hai, belum juga kalian berlalu dari sini? Ayo, enyah! Lekas!"

Karena dihujani batu, Siu Leng Siangjin dan Ciu Tek Seng kewalahan dan segera kabur secepat mungkin. Begitu paman dan kemenakan ini tidak terlihat batang hidungnya, Yo Su Nio segera menjura di hadapan nenek buta itu sambil memberi hormat dan berkata, "Nenek, aku mohon bertanya. Nenek ini orang bermarga apa? Siapa nama gelarmu, dan mengapa Nenek tinggal di sini seorang diri saja?"

Namun, bukannya menjawab pertanyaan, nenek buta itu tampak kurang senang dan lalu mengerutkan dahinya, mendelikkan mata putihnya dan membentak, "Aih, sungguh besar sekali nyalimu, sehingga engkau berani menggunakan siasat halus untuk memata-matai orang lain! Apakah kau sangka aku takut, sehingga aku mesti bersembunyi di sini?"

"Nenek, harap Nenek jangan lekas gusar dulu," kata Nona itu. "Karena terdorong oleh rasa kagum atas kepandaian Nenek yang begitu tinggi, maka aku telah mengajukan pertanyaan tentang marga Nenek yang mulia serta mengapa Nenek tinggal menyendiri di tempat sesunyi ini, sama sekali bukan bermaksud untuk memata-mataimu atau menganggapmu seorang penakut."

"Aih, sungguh pandai sekali engkau memutar kata!" kata si nenek sambil menghela napas. "Aku orang tua tak punya marga, tak punya nama gelar apa pun. Untuk menyebut namaku, cukup kau panggil nenek buta saja. Aku tinggal di sini atas kehendakku sendiri, bukan atas anjuran atau tekanan siapa pun. Itulah jawabanku atas pertanyaanmu itu. Siapakah engkau ini? Dan untuk maksud apa engkau memancing hwesio jahat dan kawannya itu datang ke sini, sehingga dengan demikian mereka mengetahui tempat kediamanku."

Su Nio kembali menjelaskan di hadapan nenek buta, bahwa ia telah dikejar-kejar oleh kedua orang itu, yang telah ia lawan bertempur karena merasa sangat benci, bahwa mereka adalah kaki tangan kaum penjajah asing. Akibatnya, karena sudah sangat terdesak, ia melewati daerah pegunungan itu. Namun sama sekali bukan karena ia sengaja memancing mereka datang ke situ.

Karena mendengar keterangan tersebut, barulah nenek itu tampak mengerti, hingga selanjutnya ia tidak lagi menyebut-nyebut persoalan yang baru saja terjadi.

Tanpa sengaja, si nenek meraba gagang tombak Nona yang berdiri di belakangnya. "Tombakkah yang kau pegang itu?" ia bertanya tiba-tiba.

Su Nio membenarkan.

"Barusan engkau mengatakan," kata nenek itu, "Bahwa engkau adalah seorang anak perempuan keluarga Yo di Ek-touw. Sekarang ada seorang pendekar wanita ahli tombak golongan muda, yang bermarga Yo, bernama Yo Su Nio. Ia begitu dikagumi orang dari kalangan Kangouw dengan julukan Dewi Tombak. Apakah kau mengenalnya? Atau masih tergolong keluargamu?"

Su Nio merasa gembira dan segera menjawab, "Ah, itu hanyalah nama julukan kosong yang diberikan orang kepadaku. Harap Nenek jangan anggap itu sebagai suatu kebanggaan."

"Apa? Kebanggaan?" Nenek itu tertawa terpingkal-pingkal, "Itu bukan suatu kebanggaan, Nak, melainkan sesuatu yang menerbitkan kekecewaan! Dewi Tombak! Hihihi! Dewi Tombak yang keok!"

Meski Su Nio bukan seorang yang suka dicela, tetapi ia tetap merasa tidak enak diejek demikian, sehingga wajahnya berubah merah seketika itu. Ia mengomel dalam hati, tetapi kenyataan membuat ia tidak berdaya untuk membantah nenek buta itu.

"Aku orang tua suka berkelakar dan mengecam orang terus terang!" kata nenek itu lagi, "Dari itu engkau jangan berkecil hati atau gusar padaku. Sekarang bolehlah engkau pertunjukkan ilmu tombakmu beberapa jurus untuk aku saksikan."

"Dapatkah Nenek melihatku bersilat, sementara kedua mata Nenek buta?" Kata-kata itu hendak diucapkannya, tatkala ia teringat akan sikap perempuan tua yang aneh dan mudah tersinggung itu, sehingga akhirnya ia terpaksa membisu dan siap sedia untuk memainkan ilmu tombaknya di muka gubuk yang halamannya cukup luas untuk ia mempertunjukkan kepandaiannya.

Maka setelah memberi hormat sebagai tanda mulai bersilat, Nona Su Nio lalu berkata, "Nenek, aku hendak mulai. Harap Nenek sudi memberi petunjuk!"

"Sungguh aneh sekali!" kata si nenek sambil tertawa. "Bagaimana aku dapat mengoreksi ilmu tombakmu pada bagian mana yang masih belum sempurna karena kedua mataku buta!"

Su Nio yang cerdik lalu terpikir siasat untuk mencoba menyindir nenek buta itu secara halus. "Nenek!" katanya, "Engkau seorang yang mahir thia-hong atau mendengar sesuatu tanpa perlu menyaksikannya dengan mata telanjang, cukup dengan hanya menggunakan pendengaran saja. Oleh karena itu, salahkah aku meminta petunjukmu?"

Nenek buta itu tertawa terkekeh-kekeh gembira, "Dasar anak pintar! Sekarang bolehlah engkau bersilat, tetapi jika kau mendengar aku menepuk tangan, itu berarti kau harus segera menghentikan permainan tombakmu. Itulah tandanya bahwa bagian permainan tombakmu itu harus dikoreksi."

Su Nio mengucapkan terima kasih dan lalu mulai memainkan tombaknya dengan sungguh-sungguh hati, sedangkan nenek buta itu duduk tegak di atas kursi batu memasang telinga dan mendengarkan gerak-gerik permainan tombak Nona itu dengan amat cermatnya.

Dari jurus pertama hingga jurus kesepuluh, si nenek masih mendengarkan dengan sangat asyik. Tetapi setelah Su Nio memainkan tombaknya belasan jurus, tiba-tiba nenek buta itu menepuk tangan sambil berkata, "Berhenti!"

Su Nio segera menarik tombaknya dan berdiri tegak untuk menerima pembetulan yang akan diutarakan oleh nenek buta. Namun, bukannya memberikan koreksi atas permainan tombaknya, sebaliknya, nenek itu segera bertanya, "Nak, aku punya pertanyaan yang hendak kuajukan kepadamu, dan kau harus menjawab pertanyaanku ini dengan sejujur-jujurnya!"

"Su Nio bersedia menjawab pertanyaan Nenek itu," sahut Nona itu.

"Siapakah gurumu, yang pernah mengajarimu ilmu tombak ini?" Pertanyaan ini diucapkan dengan kedua mata nenek itu yang putih bagaikan menatap wajah Nona Su Nio.

"Mungkin Nenek kenal nama guruku itu," kata Nona itu dengan roman gembira. "Ia bernama Liok Kong."

"Siapa? Liok Kong bangsat tua itu!" kata si nenek dengan rambut putihnya yang seketika berdiri bagaikan bulu landak. "Kukira dia sudah lama mati, tidak tahunya masih hidup sampai saat ini?"

"Nenek...!" Nona Su Nio terpikir untuk membujuknya serta menanyakan sebab-musabab mengapa ia begitu gusar pada gurunya. Tapi bukan saja ia tidak suka menghiraukan bujukan itu, malah sebaliknya semakin gusar dan membentak dengan suara nyaring, "Tutup mulutmu! Jika lebih awal aku tahu bahwa kau ini adalah murid tua bangka bangsat itu, niscaya sudah kuserahkan dirimu kepada kepala gundul itu untuk digantung! Tahukah kau bahwa gurumu membunuh murid kesayanganku?"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment