Halo!

Dewi Tombak - Chapter 33

Memuat...
Dewi Tombak

Chapter 33

"Aih, sungguh keterlaluan sekali si tua bangka itu!"

"Nenek," kata Su Nio yang berusaha meredakan kegusaran si nenek, "mungkin kejadian itu hanya salah paham belaka karena guruku tidak akan bertindak sembarangan membunuh orang yang tidak bersalah. Harap Nenek..."

"DIAM!" bentak nenek itu. "Karena gurumu tidak ada di sini, maka tidak ada alasan bagiku untuk berdebat dengannya. Namun, sudah menjadi dalil yang pasti bahwa utang nyawa harus dibayar dengan nyawa pula! Engkau telah mengatakan bahwa gurumu tidak sembarangan membunuh orang. Tapi tahukah engkau, karena perbuatannya itulah dia sampai dihukum buang ke tempat lain?"

Bahwa gurunya pernah dihukum buang memang benar pernah didengar Su Nio dari penuturan gurunya sendiri, tetapi ia tidak tahu-menahu mengenai duduk persoalan hingga sang guru harus menjalani hukuman tersebut. Selain tidak mengenal pribadi dan asal-usul gurunya, ia pun tak pernah menyangka bahwa persoalan gurunya bisa memiliki sangkut-paut yang sedemikian rumit.

Untuk membantu meredakan suasana yang tampaknya akan berkepanjangan itu, Su Nio terpaksa berlaku tenang dalam menghadapi si nenek buta yang mudah naik darah tersebut. Setelah berpikir sejenak, lekas-lekas ia memotong pembicaraan itu sambil berkata, "Nenek, harap jangan gusar dahulu. Aku sama sekali tidak tahu-menahu tentang duduk persoalan ini. Karena itu, sudikah kiranya Nenek memberitahukan kepadaku asal mula insiden yang terjadi antara muridmu dan guruku?"

"Tidak perlu banyak bicara!" bentak si nenek. "Gurumu berani membunuh muridku tanpa mengindahkan aku sebagai gurunya. Apa salahnya jika aku membalas perbuatannya dengan membunuhmu sebagai pengganti nyawa muridku yang telah tewas di tangannya?"

"Nenek!" Su Nio menjerit kaget.

Tanpa banyak bicara lagi, si nenek buta segera melompat ke depan bagaikan anak panah yang melesat ke arah Nona Su Nio. Gadis itu terpaksa melompat mundur dengan tergesa-gesa dan gugup untuk mengelakkan pukulan telapak tangan si nenek yang sangat dahsyat.

*Ser!*

*Dak!*

Sambil menukik, si nenek melancarkan pukulannya bagaikan sinar kilat yang menyambar gunung. Batu karang yang berdiri tidak jauh dari tempat Su Nio menghindar hancur berantakan bagaikan dihantam godam besi yang besar dan berat.

"Sungguh lihai sekali!" seru si nona dalam hati dengan perasaan terkesiap.

"Jangan lari!" bentak si nenek lagi, sambil melesat ke udara untuk memukul Yo Su Nio dengan sikap penuh nafsu amarah.

"Nenek, ampunilah aku!" Su Nio terpaksa meratap untuk meredakan amarah yang membakar hati si nenek. Namun, si nenek buta tidak menghiraukannya. Ia terus mengejar dengan mengandalkan pendengaran untuk melacak gerak-gerik Yo Su Nio yang berlari dan menyelinap ke sana kemari demi menyelamatkan diri.

Saat mereka berdua sedang berkejaran, tiba-tiba muncul sesosok bayangan manusia dari balik semak-semak dan berseru, "Suhu, sabar dahulu! Nona itu adalah orang kita sendiri!"

Mendengar seruan itu, si nenek terpaksa menghentikan pengejarannya sejenak. Ia menengadah dan memasang telinga, lalu bertanya, "Siauw Giok! Engkau dari mana? Dan siapa sebenarnya budak perempuan murid musuh kakakmu ini?"

"Dialah *Hoa-chio* Yo Su Nio!" kata orang yang baru datang itu. Ia ternyata adalah Thio Siauw Giok yang berhasil kabur dari tawanan Hap Nouw Siu Bun dengan menyamar sebagai serdadu pasukan bala tentara Kim di kota Ceng-hiang-tien. "Dia adalah orang baik-baik dan nona penolongku. Aku harap Suhu tidak salah paham."

"Kurang ajar!" omel si nenek buta yang ternyata adalah guru Thio Siauw Giok. "Tahukah kau bahwa kakak seperguruanmu telah dibunuh oleh guru bocah marga Yo ini? Dengan demikian, dia terhitung sebagai musuh besarmu!"

"Suhu, dengarkanlah dahulu keterangan murid mengenai Yo *Cie-cie* ini," kata Thio Siauw Giok sambil membungkukkan badan memberi hormat di hadapan gurunya. Dengan berbuat demikian, ia seakan bersedia mengorbankan diri jika gurunya melancarkan pukulan maut kepada Yo Su Nio.

Setelah itu, ia menceritakan riwayat perjalanannya kepada sang guru, sejak turun gunung hingga bertemu dan mengangkat saudara dengan Yo Su Nio dan yang lainnya. Semua dituturkan dengan sejelas-jelasnya.

Si nenek buta tampak terharu mendengar penuturan itu, tetapi sikapnya tetap keras dan bermusuhan terhadap Yo Su Nio.

"Suhu," kata Siauw Giok lagi, "mengenai kematian Kakak yang terbunuh di tangan guru Yo *Cie-cie*, itu bukanlah tanggung jawabnya!"

"Apa katamu? Engkau berpihak kepada murid musuh yang telah membunuh kakak seperguruanmu sendiri?" bentak si nenek dengan suara menggelegar. "Sungguh keterlaluan perbuatanmu itu!"

"Suhu," Thio Siauw Giok yang sudah lama mengetahui tabiat keras gurunya mencoba membujuk, "Yo *Cie-cie* dan gurunya memang memiliki hubungan erat sebagai murid dan guru, tetapi mereka tidak memiliki sangkut-paut dalam perbuatan atau tanggung jawab masing-masing. Jika gurunya membunuh orang, apakah ada aturan bahwa muridnya juga harus dihukum?"

Mendengar hal itu, diam-diam si nenek buta mengakui kebenaran ucapan muridnya. Namun, secara lahiriah ia tetap tidak mau menunjukkan kelemahan atau mengalah begitu saja, meskipun kenyataannya guru Yo Su Nio telah dijatuhi hukuman buang oleh pembesar yang berwenang.

"Selain itu, murid memiliki alasan kuat untuk membela Yo *Cie-cie*!" Siauw Giok melanjutkan.

Tetapi pembicaraannya segera dipotong oleh bentakan gurunya, "Coba jelaskan alasanmu, mengapa engkau menganggap bocah marga Yo ini tidak berdosa atau setidaknya tidak turut bertanggung jawab atas perbuatan gurunya!"

"Suhu jangan lupa," kata Siauw Giok tenang, "bahwa Yo *Cie-cie* baru berguru kepada Liok Kong *Lo-cianpwee* setelah peristiwa tersebut terjadi!"

"Kentut!" bentak si nenek buta sambil menepukkan telapak tangannya pada sisi batu di dekatnya. Batu itu hancur dan pecahannya berserakan ditiup angin. "Engkau menyebut si bangsat Liok Kong itu dengan sebutan *Lo-cianpwee*? Apakah kau pikir tingkat kepandaian gurumu kalah jauh dengan tua bangka keji itu?"

"Suhu!"

"Tutup mulut!" bentak si nenek. "Hari ini juga aku harus mengambil keputusan untuk menuntut balas!"

Pada saat itu, entah sejak kapan datangnya, seorang laki-laki lanjut usia mendadak muncul di hadapan si nenek dan kedua gadis itu.

"Pek Tin, tak usah engkau mengumbar amarah yang tidak keruan!" kata si kakek sambil tertawa. "Jika engkau masih menganggap aku keji dan berdosa, ajukanlah tuntutan itu kepadaku sendiri. Tidak sepatutnya engkau melimpahkannya kepada muridku yang sama sekali tidak berdosa dan tidak tahu-menahu mengenai persoalan ini!"

Jika ada suara guntur di telinga si nenek buta pun, ia mungkin tidak akan sekaget saat mendengar suara si kakek itu. Dengan badan menggigil karena marah, ia membentak nyaring, "Binatang tua! Sudah sekian lama aku mencarimu tanpa hasil, tapi hari ini tanpa dicari engkau datang sendiri mengantarkan nyawa! Ayo, mari kita tentukan siapa di antara kita yang lebih unggul kepandaiannya dan patut menerima sebutan *Lo-cianpwee*!"

Bagaikan anak panah yang melesat dari busurnya, dalam sekejap si nenek buta menyerang si kakek. Gerakannya lincah layaknya orang yang dapat melihat dengan leluasa, dan serangannya diarahkan tepat ke bagian-bagian tubuh yang berbahaya.

"Ah, sungguh dahsyat seranganmu itu!" kata si kakek sambil tertawa terbahak-bahak. Ia menghindar dari tusukan dua jari si nenek yang mengarah ke matanya dengan jurus silat lihai bernama *Thian-tha* atau "Raja Langit Menyangga Mercu".

Meskipun diserang sedemikian rupa, si kakek tidak membalas dengan serangan jahat. Begitu berhasil mengelakkan tusukan jari si nenek, ia segera melompat mendekati dinding gunung dengan punggung bersandar di sana, seolah membiarkan dirinya menjadi sasaran serangan si nenek selanjutnya.

"Kali ini kalau bukan aku, tentulah engkau yang binasa!" kata si nenek dengan gemas, lalu menerjang sambil melompat di udara. Serangan ini bernama *Pek-eng* atau "Kilat dan Guntur Sambut-menyambut", yang gerakannya sangat dahsyat tetapi bisa membahayakan penyerangnya sendiri jika lawan paham cara mematahkannya.

Yo Su Nio, yang segera mengenali bahwa kakek itu adalah gurunya sendiri, Liok Kong, merasa jantungnya mencelos dan berteriak, "Suhu!"

Namun, Liok Kong yang tengah menghadapi bahaya maut tentu tidak sempat menyahuti panggilan muridnya. Dengan kecepatan yang hampir tak terlihat mata, ia melesat ke atas sambil membalikkan tubuh dan berjungkir balik hingga dadanya mendekap dinding gunung. Ia diam di sana dengan posisi kepala menghadap ke bawah dan ujung sepatunya dikaitkan pada batu yang menonjol di dinding gunung tersebut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment