Chapter 34
Keadaan Liok Kong saat itu lebih mirip kelelawar atau cecak yang hinggap tenang di dinding tembok. Su Nio dan Siauw Giok takjub menyaksikan kepandaian kakek itu.
Nenek buta yang menyadari serangannya gagal, tidak sempat menarik kedua telapak tangannya. Dengan suara "DAK" keras, kedua tangannya tertancap di dinding gunung seperti sepasang golok di talenan.
"Jika sepasang telapak tangan itu menancap di tubuhku, jiwaku pasti sudah melayang ke alam baka!" kata Liok Kong dari atas dinding sambil tertawa terbahak-bahak. Nenek buta kesal dan menarik tangannya dari dinding sambil mengomel, "Engkau berani mengejekku?"
"Bukan begitu, nyonya besar," balas kakek itu. "Aku tidak mengejekmu, tapi engkau sendiri yang terburu nafsu. Pikirkan sendiri, apakah tubuhku ini lebih keras daripada batu di dinding gunung ini?"
"Kalau begitu," kata nenek itu tak sabaran, "Dengan syarat bagaimanakah pertandingan ini ingin kau lakukan? Cepat terangkan padaku!"
"Pek Tin," kata kakek itu membujuk dengan sabar, "Lebih baik kita sudahi pertengkaran ini. Aku bosan setiap bertemu muka kita selalu bertengkar."
"Boleh, boleh," kata nenek itu sambil menyeringai, "Asalkan engkau suka menerima salah dan meminta maaf, serta mengaku kalah padaku!"
"Aku merasa tak pernah berbuat salah kepadamu," kata kakek itu. "Lagipula apa perlunya aku minta maaf? Dan mengapa aku, Butek-sinkun atau tinju sakti yang tak terkalahkan, harus mengaku kalah padamu, sedangkan aku sendiri hampir setengah abad berkelana di kalangan Kang-ouw belum pernah dikalahkan orang! Gunakan pikiranmu yang sehat! Aku belum pernah dikalahkan olehmu, lalu bagaimana aku rela mengaku kalah?"
"Hm, kalau begitu, engkaulah yang tidak mengerti hubungan persaudaraan di kalangan Kang-ouw, sehingga selalu mencari perkara untuk menerbitkan dongkolku!" bentak nenek itu sambil mundur beberapa langkah, lalu melompat ke atas untuk memukul Liok Kong yang mendekap di dinding gunung.
"Jika engkau mengerti hubungan persaudaraan di kalangan Kang-ouw, engkau pasti tidak akan berbuat begini!" kata Liok Kong sambil menghindar dari pukulan nenek itu dengan berpindah tempat dan mendekap di atas batu di dinding gunung.
Mengetahui serangannya kembali gagal, nenek itu meniru Liok Kong, mendekap di dinding dan menghajar batu tempat kakek itu berada. Batu itu gugur, bersama Liok Kong yang terjatuh ke dalam jurang sedalam puluhan kaki.
"Celaka!" seru Su Nio dan Siauw Giok hampir bersamaan.
Nenek buta segera turun ke tepi jurang sambil menggerutu, "Mampus kau!"
"Sampai kita bertemu lagi!" terdengar suara kakek dari dalam jurang mengejek.
Nenek itu segera mengetahui bahwa kejatuhan itu tidak membuat kakek menderita sesuatu yang hebat. "Dasar sialan kau!" katanya, masih gusar dan mendongkol.
Saat nenek itu berniat turun untuk mengejar kakek yang dianggap mengejeknya, tiba-tiba dari bawah gunung tampak sepasukan serdadu yang dikepalai dua perwira bertubuh tinggi besar. Salah satu dari mereka menjinjing golok besar di tangannya. Su Nio dan Siauw Giok yang melihat itu segera melambai-lambaikan tangan sambil memanggil, "Toako kami berdua ada di sini! Toako, kami berdua berada di sini!"
"Siapakah gerangan pemimpin pasukan itu?" tanya nenek buta yang mendengar seruan kedua anak dara itu, seolah matanya melihat siapa saja yang berada di bawah gunung.
Su Nio heran dan bertanya, "Nenek, matamu sudah jelas tidak dapat melihat, tapi bagaimana engkau mengetahui kedatangan seseorang ke gunung ini?"
Nenek buta tertawa terbahak-bahak. "Dasar anak goblok!" katanya. "Mataku memang buta, tapi kecerdasan otakku, penciuman, dan pendengaranku sudah cukup memberi firasat untuk mengetahui siapa saja yang akan datang ke sini dalam jarak sepuluh li!"
DEWI TOMBAK HOA-CHIO YO SU NIO Jilid IV
Namun, Yo Su Nio hanya menganggap nenek buta itu membual. Jika nenek itu bisa mengetahui sesuatu dari jarak sepuluh li, mengapa ia tidak mengetahui kedatangan Liok Kong yang tiba-tiba? Lagipula, dengan peristiwa luar biasa ini, nona Su Nio teringat pengakuan adik angkatnya, Thio Siauw Giok, yang pernah mengatakan bahwa gurunya adalah seorang biksuni di luar Tembok Kota Besar. Mengapa sekarang ia mendadak berubah menjadi nenek buta? Hal ini membuat nona Su Nio tidak mengerti. Namun, ia merasa ini bukan saatnya menanyakan hal itu kepada Thio Siauw Giok. Ia lekas-lekas berlari ke tepi jurang sambil melambai-lambaikan tombak di tangannya ke arah Yo An Jie dan seorang kawan yang sepertinya baru pertama kali ia temui. "Toako, kami ada di sini!" katanya.
Dari arah sana, Yo An Jie melambai-lambaikan goloknya sambil menjawab, "Aku mendatangi untuk menyambutmu!"
"Siapakah orang-orang yang mendatangi itu?" tanya nenek itu tiba-tiba.
"Kakakku beserta anak buahnya," sahut nona Su Nio.
"Apakah engkau sengaja mengundangnya untuk mengepungku di sini? Boleh, boleh!" kata nenek itu sambil menunjukkan sikap tak mau mengalah. "Ayoh, panggillah dia kemari, cepat!"
"Nenek," kata nona itu, "Selama aku masih di sini, bagaimana aku bisa mengundangnya dengan cepat? Harap nenek anggap ini sebagai kejadian kebetulan saja, karena aku sendiri tidak tahu bagaimana ia bisa mengetahui aku berada di sini."
Nenek itu menjadi sabar kembali setelah menganggap perkataan nona itu masuk akal. Ketika Yo An Jie dan anak buahnya sampai di atas gunung dan turun dari kuda masing-masing, Su Nio dan Siauw Giok segera menghampiri mereka sambil menuturkan pengalaman mereka secara singkat. "Toako, rupanya engkau tengah mencari kami, bukan?"
Yo An Jie mengangguk membenarkan. "Jika demikian," kata nona Su Nio pula, "Marilah engkau menjumpai nenek penolongku ini!" Ia memperkenalkannya kepada nenek buta.
Yo An Jie, setelah mendengar keterangan adik perempuannya, segera maju memberi hormat kepada nenek buta sambil berkata, "Nenek, aku Yo An Jie mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas pertolongan yang sangat berharga yang telah kau berikan kepada adikku Su Nio ini."
Sementara Siauw Giok yang berdiri di sampingnya berkata, "Suhu, inilah kakak angkatku Yo An Jie, yang bersamanya kami berjuang membasmi bangsa Kim yang menjajah tanah air kita."
Nenek buta tampak girang mendengar keterangan itu, "Ya, ya, itulah memang tugas kalian orang-orang muda," katanya. "Hingga aku yang sudah tua hanya bisa menantikan hasil perjuanganmu yang gilang-gemilang itu. Hancurkanlah musuh-musuh kita, berikut para pengkhianat bangsa yang hanya mengingat keuntungan diri sendiri saja, tetapi seakan-akan rela diperbudak dan tanah air dipukang serta diperintah sebagai negara jajahan."
"Kata-kata nenek itu sesungguhnya merupakan semboyan yang sangat penting bagi negeri yang agung," puji Yo An Jie terus terang, membuat nenek buta merasa sangat senang.
"Sayang aku sudah tua," kata nenek itu pula. "Jika aku masih muda seperti kalian, ah! Tak dapat kukatakan bagaimana jadinya!"
"Para pejuang masa ini jika memiliki separuh saja dari semangat perjuangan yang bergelora seperti yang dimiliki nenek itu," kata Yo An Jie yang mendadak pandai memuji orang, "Niscaya tanah air kita tidak sampai menjadi jajahan bangsa asing seperti ini!"
"Tetapi segala apa masih belum terlambat untuk diperbaiki," kata nenek itu seolah menghibur. "Bergiatlah dalam segala hal, pakailah pedoman, bersatu teguh, bercerai runtuh adalah hal yang paling manjur untuk menghadapi pihak musuh!"
"Kita harus berpegang kepada pedoman yang dianut nenek yang harus kita junjung tinggi ini!" kata Yo An Jie kepada seluruh anak buahnya, yang menyambut anjuran itu dengan tepuk riuh. Kemudian ia menghampiri nenek buta sambil membungkuk memberi hormat dan berkata, "Nenek yang baik, sudilah kiranya nenek memberitahukan nama dan margamu, agar kami semua dapat menjadikan dirimu sebagai semboyan gerakan pembebasan tanah air kami yang masih muda ini?"
Nenek buta tertawa terkekeh-kekeh karena merasa sangat senang mendengar pujian-pujian Yo An Jie yang muluk itu. Akhirnya ia tidak berkeberatan menuturkan riwayat hidupnya yang "ramai" dan banyak seginya, yang akan diceritakan di bawah ini. Sebuah keluarga di desa Pek-kee-chung memiliki tiga orang anak yang masing-masing bernama Pek Tin, Giok Tin, dan Hui Tin. Ketiga anak dara itu, meski tidak terbilang cantik, namun terlahir dalam keluarga berada. Soal perjodohan tentu bukan masalah sukar bagi mereka. Begitulah, ketika ketiganya mencapai usia dewasa, seorang demi seorang keluar pintu dan berumah tangga dengan pasangan pilihan orang tua mereka. Giok Tin dan Hui Tin menetap di desa Pek-kee-chung, karena suami mereka berasal dari desa itu.