Halo!

Dewi Tombak - Chapter 35

Memuat...
Dewi Tombak

Chapter 35

Pek Tin yang bersuamikan seorang saudagar keliling di kewedanaan Tiangceng, sejak menikah lalu berpindah tinggal ke kampung halaman suaminya. Beberapa tahun lamanya ia hidup beruntung dengan suaminya itu. Ia sangat dihormati oleh para tetangga sekampungnya karena Nyonya Pek Tin adalah seorang nyonya rumah yang ramah dan banyak beramal kepada orang-orang miskin. Pada suatu hari, Ong Ciang, suami Nona Pek Tin, diangkut pulang dalam sebuah tandu dengan menderita luka-luka parah.

Menurut keterangan Ciu Kong, seorang sahabatnya yang menolongnya membawa pulang serta berdagang bersama-sama, pada suatu malam mereka telah dirampok oleh sekawanan bajak di Sungai Oeyho.

Barang-barang mereka telah dirampok, sementara Ong Ciang yang hendak melindungi barang dagangannya telah dilukai parah.

Namun, Ciu Hong yang lebih mementingkan keselamatan dirinya daripada barang dagangannya, segera bersembunyi di antara timbunan layar usang dan koyak, sehingga ia terlolos dari bahaya maut.

Pek Tin yang menyaksikan suaminya menderita luka parah, segera memanggil tabib ahli untuk mengobatinya.

Namun, karena luka-lukanya terlampau berat, Ong Ciang pun meninggal dunia setelah hanya sehari berada di rumahnya sendiri.

Keluarganya tak perlu dikatakan lagi betapa besarnya kesedihan hati mereka, meski mereka semua percaya bahwa semua itu telah ditakdirkan oleh Thian Yang Maha Kuasa.

Setelah jenazah suaminya dikebumikan sebagaimana mestinya, Pek Tin seolah-olah mendapat firasat, bahwa kematian suaminya bukanlah terjadi karena perampokan sebagaimana yang telah dikatakan oleh Ciu Hong.

Namun, karena ia hanyalah seorang wanita yang lemah dan tak biasa bepergian ke mana-mana, sukarlah baginya mencari keterangan dari sumber yang tepat dan tepercaya. Hingga peristiwa yang menyedihkan itu berlalu tanpa ada orang yang mengetahui kebenarannya. Syukurlah Thian tidak buta, sehingga segala kejahatan dan kelicikan yang dilakukan oleh umat manusia, satu per satu telah mendapat ganjaran yang setimpal dan tidak berat sebelah.

Ketika Pek Tin masih berduka memikirkan peristiwa tersebut, tiba-tiba muncullah bintang penolong yang sama sekali tak pernah dipikirkannya.

Bintang penolong ini ternyata tidak lain adalah Tio Ceng, seorang kepercayaan Ciu Hong yang telah diusir oleh majikannya karena menolak melakukan suatu pekerjaan yang tidak halal dan bertentangan dengan hati nuraninya.

Tio Ceng yang kenal baik seseorang yang menjadi sahabat majikannya, tentu saja kenal pula pada Ong Ciang, suami Pek Tin.

Dan itu pun karena Ong Ciang inilah, sehingga Tio Ceng mengakhiri pengabdiannya kepada Ciu Hong.

Sebagaimana telah dikatakan sebelumnya, Ong Ciang dan Ciu Hong selain bersahabat akrab, juga hampir selalu berjualan keliling berdua. Setelah berdagang sendiri-sendiri setahun, kemudian mereka lalu bersama-sama berdagang barang kelontong dan berlangganan menyewa sebuah perahu yang biasa berlayar hilir mudik menyusuri desa-desa padat penghuni di tepi Sungai Oeyho.

Karena kerajinan dan keuletan kerja mereka, tak berapa lama perdagangan mereka telah bertambah maju dan memperoleh keuntungan besar. Ciu Hong yang masih bujangan segera berpikir untuk memperistri seorang gadis untuk menjadi kawan hidup dan pembantu utama di dalam rumah tangganya. Pikiran itu lalu diutarakannya di hadapan Ong Ciang, yang ternyata sangat setuju dengan niatan sahabatnya itu.

Kebetulan, si tukang perahu yang biasa mereka langgani, mempunyai seorang gadis berparas lumayan, yang telah sekian lamanya menjadi idaman Ciu Hong.

Sementara Ong Ciang yang juga diberitahu hal ini oleh Ciu Hong sendiri, tentu saja ia pun tak berani menghalanginya. Bahkan, ia menganjurkan sahabatnya untuk segera meminang gadis itu.

Begitulah, setelah Ciu Hong meminang dan kemudian melangsungkan pernikahannya dengan gadis itu, si tukang perahu itu lalu dipensiunkan oleh Ciu Hong dan mengganti pengayuh perahu itu dengan sepupu istrinya, yang selain usianya masih muda dan bertenaga kuat, juga menguasai sedikit ilmu silat.

Maka, selain menjadi tukang perahu, ia pun merangkap sebagai pelindung bagi kedua pedagang keliling itu.

Lama-kelamaan, karena perkongsian Ong Ciang dan Ciu Hong telah memperoleh keuntungan yang sangat besar, timbullah pikiran jahat dalam hati Thio Pin, si tukang perahu. Ia lalu menghasut Bie Kie, sepupu perempuan yang menjadi istri Ciu Hong, agar perkongsian dengan Ong Ciang itu dibubarkan.

Alasannya adalah, berdagang dengan berkongsi selain mengurangi keuntungan Ciu Hong, juga seolah-olah menunjukkan bahwa ia tak mampu berdagang jika tidak bekerja sama dengan Ong Ciang.

Semula Ciu Hong coba menolak saran yang diajukan oleh istrinya tanpa mengetahui bahwa itu semua didasari oleh hasutan Thio Pin.

Ia juga tak paham, bahwa Bie Kie telah menjadi kekasih Thio Pin. Namun, hingga saat itu belum ada kesempatan menyampaikan rasa kasih masing-masing, berhubung ayah Bie Kie, si tukang perahu itu, selalu berlaku "waspada" dan tidak mudah ditipu oleh anak perempuan atau kemenakannya.

Namun, setelah Bie Kie menikah dengan Ciu Hong, sang ayah, yang merasa bebas dari tanggung jawabnya serta tugasnya telah digantikan oleh Thio Pin, lalu pulang mudik dan hidup senang dengan mendapat pensiun dari menantunya.

Sementara Bie Kie selalu mengikuti Ciu Hong dan Ong Ciang berlayar untuk menyiapkan keperluan makan atau pekerjaan rumah tangganya di atas perahu. Di hadapan suami dan Ong Ciang, ia selalu berlaku sopan dan sangat hormat, hingga Ong Ciang pun turut merasa senang melihat sahabatnya mempunyai seorang istri yang demikian dan dapat menjadi kawan hidup yang tepat serta berharga.

Oleh karena itu, ia pun tak lupa untuk saban-saban memberi hadiah sebagai rasa terima kasih atas perawatan serta pelayanannya yang begitu baik.

Namun, perbuatan ini justru dianggap tidak benar oleh Thio Pin. Ia diam-diam merasa cemburu kepada Ong Ciang.

Dan itulah sebabnya mengapa ia telah menganjurkan Bie Kie untuk menghasut Ciu Hong membubarkan perkongsiannya dengan Ong Ciang.

Namun, Ciu Hong tidak lantas menuruti saja anjuran istrinya itu.

"Aku dan Ong Taoko telah berdagang bersama-sama sejak masih kecil hingga menjadi besar seperti sekarang ini," kata Ciu Hong.

"Oleh karena itu, bagaimana mungkin perkongsian ini hendak dibubarkan secara tiba-tiba tanpa sebab-musabab, setelah perdagangan kita mengalami kemajuan yang begitu pesat?

Aku sudah merasa senang berdagang dengan cara perkongsian ini, maka lebih baik engkau sebagai perempuan jangan mencampuri urusan perdagangan kami, tapi uruslah rumah tangga kita dengan sebaik-baiknya.

Aku sudah merasa puas dan berterima kasih atas bantuanmu yang berharga itu."

Namun, Thio Pin belum mau mengerti sebelum maksud kejinya terlaksana. Ia diam-diam telah memutar otak untuk membuat siasat yang akan membuat perkongsian antara Ong Ciang dan Ciu Hong menjadi berantakan, dan ia dapat menguasai keduanya sekaligus, seperti nelayan yang menangkap bangau dan kerang yang tengah berkutat dalam dongeng.

Tapi cara bagaimanakah siasat itu hendak diaturnya?

Setelah memutar otak, akhirnya ia memperoleh suatu siasat mengadu domba Ciu Hong dengan Ong Ciang. Siasat itu ialah dengan mempergunakan tenaga seorang pelacur yang menjadi kekasihnya, dengan perjanjian bahwa kelak jika siasat itu berhasil, pelacur itu akan dinikahinya sebagai istri resminya.

Pelacur bernama Ang Hoa itu, tentu saja telah menyanggupi, dan menantikan kesempatan untuk beraksi begitu saatnya tiba.

Begitulah, pada petang hari itu selagi berlabuh di tepi sebuah desa yang penduduknya agak padat, Bie Kie yang sejak siang telah mendapat petunjuk dari Thio Pin, telah memberi tahu Ciu Hong bahwa pada hari esok, berkenaan dengan hari ulang tahun sepupunya, ia berniat mengadakan suatu perjamuan kekeluargaan. Di antaranya akan diundang Ang Hoa, yang disebut-sebut sebagai salah seorang sahabat akrabnya, serta beberapa orang teman pria dan wanita yang menjadi sahabat Thio Pin dan Ciu Hong.

Namun, Bie Kie tidak mengetahui bahwa Ang Hoa itu adalah kekasih sepupunya, Thio Pin. Ia juga tidak tahu bahwa setelah menikah dengan Ciu Hong, ia (Bie Kie) sendiri telah menjalin hubungan yang akrab sekali dengan Ang Hoa.

Ciu Hong menyatakan sepakat, dan lalu menyediakan segala perbelanjaan seperlunya.

Maka, dengan menuruti segala petunjuk sepupunya itu, Bie Kie segera menyiapkan perjamuan tersebut sebagaimana mestinya.

Dalam perjamuan itu, Bie Kie memperkenalkan Ong Ciang pada Ang Hoa. Ang Hoa ternyata pandai sekali "membuang lagak", sehingga hati Ong Ciang langsung berdebar-debar keras.

Kepada Ong Ciang, Bie Kie memberi tahu secara taktis bahwa Nona Ang Hoa adalah seorang janda kembang yang hingga kini menjadi rebutan banyak orang. Namun, hingga saat itu lamaran-lamaran tersebut telah ditolaknya mentah-mentah karena Nona Ang Hoa tak mau mempunyai suami sembarangan.

Sementara Ong Ciang yang mendengar keterangan tersebut, diam-diam menjadi tertarik dan minta perantaraan Bie Kie untuk melamarnya sebagai istri kedua.

Namun, si pelacur yang sudah mendapat instruksi dari Thio Pin, mula-mula mencoba menolak. Tetapi, ketika dibujuk oleh Bie Kie yang mengatakan bahwa Ong Ciang adalah rekan usaha suaminya, barulah ia menurutinya.

Maka, di samping merayakan hari ulang tahun Thio Pin, pada petang hari itu pun juga dirayakan hari "perkenalan" antara Ong Ciang dan Ang Hoa.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment