Chapter 36
Setelah perjamuan bubar, handai tolan Bie Kie dan Thio Pin berpamitan untuk pulang ke rumah masing-masing. Namun, Ang Hoa sengaja ditahan oleh Bie Kie untuk bermalam di perahunya yang besar dan berperabotan mewah, serupa dengan kamar tidur di daratan. Di sana, Ong Ciang kembali dijamu oleh Bie Kie dan Thio Pin serta diberi selamat atas "nasib baik" yang telah diperolehnya.
Saat itu, Ciu Hong yang telah dicekoki minuman hingga mabuk berat diantar ke kamar tamu dan tertidur lelap. Sementara itu, Ong Ciang yang juga telah mabuk berat setelah dicekoki arak, dibaringkan di atas ranjang Ciu Hong. Secara diam-diam, Bie Kie menyuruh Ang Hoa melayaninya dengan mengenakan pakaian sehari-hari dan berpesan agar ia melakukan rencana tertentu jika nanti Ciu Hong terbangun dari mabuknya. Ang Hoa berjanji akan menjalankan peran itu dengan sebaik-baiknya.
Menjelang fajar, Ciu Hong terbangun dari mabuknya dan merasa heran mendapati dirinya terbaring di kamar tamu. Ia keluar dari ruangan itu dengan kepala yang masih terasa agak pusing. Begitu keluar, tiba-tiba ia menyaksikan Ang Hoa—yang disangkanya istrinya—pergi ke bagian belakang perahu dengan cara yang sangat mencurigakan. Ciu Hong segera menyusulnya, tetapi saat sampai di buritan, ia hanya menemukan pakaian Bie Kie yang terselip di belakang ranjang kayu, tempat Ang Hoa tengah tertidur dengan sangat nyenyak.
"Sungguh mengherankan!" pikir Ciu Hong. "Barusan aku melihat Bie Kie masuk ke sini, tetapi mengapa tiba-tiba ia bisa menghilang entah ke mana?" Ciu Hong terhenti sejenak dan membatalkan niatnya untuk membangunkan Ang Hoa, meskipun di belakang ranjang itu ia melihat pakaian yang dikenakan Bie Kie saat masuk ke sana dengan tergesa-gesa.
"Apakah aku melihat setan?" pikirnya masih tidak mengerti. "Atau aku masih mabuk sehingga penglihatanku kabur dan mengira Ang Hoa sebagai Bie Kie? Namun, bagaimana mungkin pakaian Bie Kie ada di sini?" Sambil berpikir demikian, ia bergegas kembali ke kamar tidurnya di tengah perahu. Di sana, ia menyaksikan Ong Ciang tengah tidur mendengkur di atas ranjang yang biasa ia gunakan bersama istrinya.
Ciu Hong merasa tidak tenang. Ia menunggu hingga Ang Hoa terbangun dan pergi ke belakang. Dengan cepat, ia menyambar pakaian Bie Kie yang ada di situ dan memeriksanya dengan teliti. Pada baju istrinya tidak ditemukan hal yang mencurigakan, tetapi pada bagian celana terdapat noda yang memastikan bahwa istrinya memang telah berani berkhianat. Rasa gusar timbul di hatinya, tetapi ia tidak berani bertindak sembarangan sebelum memperoleh bukti yang cukup.
Diam-diam ia pergi menjumpai Thio Pin untuk menanyakan keberadaan Bie Kie. Ternyata istrinya yang sedang dicari itu juga berada di sana. Dengan wajah gusar ia berniat memaki, tetapi Thio Pin dan Bie Kie segera memberi isyarat agar Ciu Hong bersabar dan mendengar penjelasan mereka terlebih dahulu. Ciu Hong terpaksa menahan diri meski dengan raut wajah tidak sabar.
"Telah beberapa kali kukatakan padamu," kata Thio Pin kepada Ciu Hong, "supaya persekutuanmu dengan Ong Ciang dibubarkan saja, tetapi engkau selalu memberi alasan ini-itu dan tidak mau mendengarkan nasihatku. Sebagai iparmu, aku sudah lama melihat ada gejala tidak baik dalam hati marga Ong itu. Kini maksud kejinya hampir saja tercapai jika Bie Kie tidak cerdik dan sedia payung sebelum hujan."
Kemudian dengan suara berbisik, ia melanjutkan bahwa peran Bie Kie malam itu diam-diam telah digantikan oleh Ang Hoa yang memang direncanakan akan menjadi istri kedua Ong Ciang. Oleh sebab itu, Ong Ciang tidak sadar bahwa ia tidur dengan Ang Hoa yang disangkanya sebagai Bie Kie.
"Agar perbuatan ini tidak terulang lagi," kata si tukang perahu yang licik itu, "maka sedapat mungkin engkau harus memisahkan diri atau menyingkirkannya dengan segala cara yang bisa kita lakukan. Jika dia dibiarkan terus di sini, itu sama saja dengan memelihara binatang liar yang ganas di antara kita. Hal itu sangat berbahaya!"
Ciu Hong mulai percaya bahwa Ong Ciang berani berbuat kurang ajar. Sejak saat itu, hatinya menjadi dingin dan ia selalu mencari jalan untuk membubarkan persekutuan mereka dengan cara bermalas-malasan mengurus dagangan. Ong Ciang terpaksa menegurnya secara halus agar sahabatnya itu tidak tersinggung. Namun, Ciu Hong yang memang telah berencana untuk bekerja sendiri tidak menghiraukan teguran itu hingga akhirnya hubungan kedua sahabat tersebut retak.
Ketika Ang Hoa melalui perantara menanyakan kapan ia akan diambil sebagai istri, Ong Ciang yang sedang bingung menghadapi masalahnya dengan Ciu Hong menjadi semakin tertekan. Diam-diam ia merasa menyesal telah menjalin hubungan dengan Ang Hoa yang kemudian diketahuinya bukan perempuan baik-baik. Saat ia dengan gusar meminta agar urusan pernikahan itu dibatalkan, Thio Pin secara rahasia memberi instruksi kepada Ang Hoa agar meminta ganti rugi sebesar 5.000 tail perak. Jika tidak dibayar, Ang Hoa mengancam akan menyebarkan perbuatan Ong Ciang dan mengadukannya kepada pejabat berwajib atas tuduhan pencemaran kehormatan saat sedang mabuk berat.
Permintaan ganti rugi itu awalnya ditolak mentah-mentah oleh Ong Ciang yang tidak gentar menghadapi pejabat mana pun. Namun, karena takut perbuatannya diketahui oleh istrinya yang tua, Ong Ciang akhirnya menyanggupi dan membayar jumlah tersebut. Hal ini di luar dugaan Thio Pin. Si tukang perahu yang keji itu kemudian mendapat pikiran jahat untuk melenyapkan Ong Ciang dengan menyewa pembunuh bayaran agar urusan menjadi beres.
Sementara itu, Ciu Hong yang terus dihasut oleh Bie Kie kian membenci Ong Ciang. Ia akhirnya menyanggupi untuk menyuruh seorang pengawal pribadinya mencelakai Ong Ciang secara diam-diam. Namun, orang itu yang bernama Tio Ceng menyatakan keberatan untuk melakukan perbuatan keji tersebut, terlebih karena ia mengenal Ong Ciang sebagai orang baik yang suka menolong. Karena itu, Ciu Hong memecat Tio Ceng dan memerintahkannya segera meninggalkan perahu.
"Jika engkau berani membantah," ancam Ciu Hong dengan marah, "engkau harus menanggung sendiri akibatnya!" Namun, sambil tertawa, Tio Ceng balas mengancam bahwa jika terjadi sesuatu yang buruk pada Ong Ciang, dialah yang akan bertindak sebagai saksi di hadapan pejabat berwajib. Ia pun berlalu tanpa memedulikan makian mantan majikannya.
Akhirnya, Ong Ciang dianiaya oleh Thio Pin sendiri yang pada suatu malam menyamar sebagai perampok dan mencelakai marga Ong itu hingga meninggal dunia. Mengetahui bahwa Ong Ciang sudah tidak dapat berbicara untuk menjelaskan peristiwa yang dialaminya, Ciu Hong berpura-pura mengantarkannya pulang dan menyampaikan bela sungkawa kepada keluarga di Pek-kee-chung.
Saat istri almarhum masih berduka, muncul Tio Ceng yang segera menerangkan kepada Nona Pek Tin tentang kecelakaan yang sebenarnya menimpa Ong Ciang. Sang istri kemudian mengajukan dakwaan kepada pejabat berwajib dan menuduh Ciu Hong sebagai pembunuh suaminya berdasarkan keterangan Tio Ceng. Tio Ceng sendiri pun turut memperkuat tuduhan tersebut.
Namun, karena Thio Pin bertindak sebagai pengatur dan mengenal banyak petugas serta pengawal di kantor pejabat, serta Ciu Hong yang tidak sayang membuang uang untuk menyuap, Ciu Hong akhirnya bebas dari tuduhan. Sebaliknya, Nona Pek Tin dinyatakan telah mengajukan pengaduan palsu untuk mencelakai orang baik, sehingga laporannya ditolak mentah-mentah.